buku

Melepas kematian syuhada

Suasana siap berjihad kian terasa saat jenazah Abu Jarad ditutupi kain hijau bertulisan kalimat tauhid mulai ditandu meninggalkan masjid.

28 Maret 2015 07:05

Suhail, sopir taksi langganan saya, khusyuk menyimak perkembangan serangan udara Israel terhadap wilayah-wilayah pinggiran Jalur Gaza lewat radio dalam taksi Mercedesnya. Rabu pagi itu, penyiar melaporkan berita gempuran udara berlangsung semalam di Kota Bait Lahiya, utara Gaza, menewaskan dua anggota Brigade Izzudin al-Qassam (sayap militer Hamas).

Salah satu korban bernama Yusuf Abu Jarad.  Dia terbunuh bersama rekannya setelah menembakkan roket Qassam ke arah selatan Israel dari Bait Hanun. Serbuan jet-jet tempur negara Zionis ini hari itu menyasar Rafah dan Khan Yunis di selatan Gaza serta Bait Lahiya, seperti dikutip dari buku Gaza: Simbol Perlawanan dan Kehormatan karya Faisal Assegaf (terbitan Hamaslovers, Agustus 2014).

Saya meminta Suhail menginjak pedal gas dalam-dalam untuk menyaksikan gempuran di Bait Lahiya. Dalam hitungan menit kami mendekati lokasi, asap tebal membubung tampak dari kejauhan. Namun dengan alasan keamanan, Suhail menolak mengantarkan saya lebih mendekat lagi ke sasaran serangan. Meski saya paksa, ayah sembilan anak ini tidak mau berbuat nekat. Gempuran itu membuat para pelajar berseragam serba biru pulang lebih cepat. Sekolah diliburkan.

Saya lantas memutuskan ke Rumah Sakit Kamal Udwan di Jabaliya untuk menengok jenazah Abu Jarad dan temannya. Ketika tiba di sana, antrean panjang pasien terlihat di teras rumah sakit. Mereka duduk di bangku kayu panjang menunggu panggilan untuk diobati. Seorang kakek bergamis coklat berjalan tertatih sendirian ditopang tongkat kayu di tangan kiri.

Saya jadi terbayang betapa malangnya sekitar 1,6 juta warga Gaza sejak Israel mengisolasi wilayah mereka lima tahun lalu. Akibatnya obat-obatan menipis dan listrik sering padam lantaran pasokan bahan bakar buat satu-satunya pembangkit listrik di Gaza juga sangat dibatasi. Sejumlah laporan menyebutkan pasien-pasien kritis tidak dapat dioperasi karena tidak tersedia obat bius. Kalau pun ingin dirawat di luar Gaza, izin keluar dari sana tidak gampang.

Seorang penjaga kamar mayat mengizinkan saya masuk untuk melihat dari dekat jenazah Abu Jarad dan temannya. Kedua mayat dibungkus kain kafan putih ini ditarik keluar dari dalam lemari pendingin. Tidak tampak bekas luka di bagian wajah. Hanya bercak-bercak darah telah mengering masih kelihatan.

Seperempat jam kemudian rombongan kerabat korban serangan Israel tiba di Rumah Sakit Kamal Udwan. Tidak jelas, apakah keluarga Abu Jarad atau kerabat mayat satunya lagi. Seorang perempuan berusia lebih dari setengah abad berabaya dan berjilbab hitam berjalan dipapah dua perempuan. Dia dipastikan ibu dari salah satu jenazah.

Mereka berteriak dan menggedor-gedor pintu besi kamar mayat sebab penjaga menolak membiarkan masuk. Setelah beradu mulut sekitar sepuluh menit, mereka dibolehkan melihat jenazah. Tangis dan teriakan histeris langsung pecah dari mulut seorang perempuan. Bisa jadi itu tangis ibu atau istrinya.

Menurut rencana, jenazah Abu Jarad akan dikebumikan selepas salat zuhur di sebuah pemakaman di Bait Lahiya. Di kota ini terdapat pekuburan terbesar di seantero Gaza bernama Syuhada. Di sana ada pusara Yahya Abdul Latif Ayyasy, salah satu pentolan Hamas dijuluki bapak pembuat bom. Saya sempat menziarahi kuburnya.

Lelaki kelahiran Rafat, Tepi Barat, 22 Februari 1966, ini merupakan pemimpin Brigade Izzudin al-Qassam di Tepi Barat. Karena kemampuannya membuat bahan peledak, dia mendapat julukan Al-Muhandis (insinyur). Lulusan Universitas Birzeit di Kota Ramallah ini kerap menggunakan campuran aseton (zat pembersih kutek) dan deterjen buat meracik bom. Gabungan dua bahan ini menghasilkan aseton peroksida dengan daya ledak dahsyat sehingga disebut Ibu Setan.

Shin Beth (dinas rahasia dalam negeri Israel) akhirnya berhasil menghentikan Ayyasy setelah menaruh bahan peledak, termasuk RDX biasa digunakan oleh militer dan industri, dalam telepon seluler milik Usamah Hamad, kawan karibnya sejak kecil tinggal di Kota Gaza. Semua ini lantaran pengkhianatan Kamil Hamad, paman Usamah.

Ajal itu datang sekitar pukul delapan pagi pada 5 Januari 1996. Bom diledakkan lewat alat pengendali jarak jauh ketika Ayyasy sedang berbicara lewat telepon dengan ayahnya. The Militant, majalah mingguan komunis internasional, melaporkan sekitar seratus ribu rakyat Palestina mengantar jenazah Ayyasy ke liang lahat.

Saya akhirnya memutuskan melihat bekas pengeboman jet-jet tempur Israel di Kota Al-Zaitun. Sasarannya tidak jauh dari Masjid Imam Ali bin Abi Thalib. Saya cuma sepuluh menit di sana dan kemudian balik arah menuju rumah mendiang Abu Jarad. Kerabat, tetangga, dan teman-teman Abu Jarad sudah tumplek saat saya tiba di kediaman Abu Jarad. Keluarga mendirikan tenda dan menyediakan bangku plastik berwarna hijau. Rupanya jenazah sudah disemayamkan di masjid berjarak sekitar 50 meter dari rumah duka. Karena diyakini mati syahid, mayat Abu Jarad tidak dimandikan dan dikafani. Almarhum tetap mengenakan pakaian berlumuran darah dia pakai saat meninggal.

Memang terdapat perbedaan pendapat soal mensalatkan jenazah mati syahid. Sebagian besar ulama bermazhab Syafii, Maliki, dan Hanbali menyatakan mayat mati syahid tidak perlu disalatkan. Namun sebagian ulama dari mazhab Syafii dan Hanafi menyatakan jenazah mati syahid perlu disalatkan.

Mayat Abu Jarad ditaruh di atas sebuah keranda dan diletakkan di pojok kanan dari pintu masjid. Ruang dalam masjid sudah penuh sesak, termasuk anak-anak ikut masuk. Orang-orang menyimak pidato penuh semangat disampaikan oleh juru bicara Hamas Musyir al-Masri. Pria kelahiran Bait Lahiya pada 1976 ini juga mengajar di almamaternya, Universitas Islam Gaza. Dia kuliah jurusan syariah Islam hingga lulus dari kampus itu pada 1999.

Orang-orang berebut ingin memotret jenazah Abu Jarad lewat kamera telepon seluler mereka. Sebagian lagi mencium keningnya sebagai tanda perpisahan. Saya pun ikut salat zuhur berjamaah. Saf-saf sangat rapat. Selepas itu, mayat Abu Jarad diletakkan di depan mimbar untuk disalatkan.

Suasana siap berjihad kian terasa saat jenazah Abu Jarad ditutupi kain hijau bertulisan kalimat tauhid mulai ditandu meninggalkan masjid. Teriakan takbir dan tauhid dipandu lewat empat pengeras suara di atas bak mobil terbuka langsung bergema dari sedikitnya 500 orang mengantar ke pemakaman. Diselingi kecaman terhadap kekejaman Israel atas bangsa Palestina.

Terasa sangat emosional. Beberapa orang menitikkan air mata. Mereka berjalan kaki sekitar setengah kilometer menuju  kompleks pekuburan berupa tanah berpasir. Jiwa saya pun bergolak. Marah dan sedih bercampur menjadi satu.

Brigade Al-Qassam akui tawan empat warga Israel

Termasuk dua mayat tentara Israel tewas dalam perang 2014.

Muhammad Isytawi, komandan senior Brigade Izzudin Al-Qassam, dieksekusi mati pada Ahad, 7 Februari 2016, karena menjadi informan Israel. (Twitter)

Komandan senior Hamas dieksekusi mati karena jadi informan Israel

Muhammad Isytawi berwenang mengawasi penggalian terowongan. Dia dekat dengan Muhammad Daif.

Dua bocah perempuan tengah melintas di depan tembok sebuah rumah bolong-bolong terkena peluru Israel di Jabaliya, Jalur Gaza, 27 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Sokongan Mesir dan Iran

"Iran sangat berkomitmen terhadap Hamas. Mereka membiayai sayap militer dan pemerintahan Hamas," kata Ahmad Yusuf, penasihat Ismail Haniyah.

Seorang perempuan melewati poster Syekh Ahmad Yasin (pendiri Hamas) dan Yasir Arafat (pendiri Fatah) di sebuah jalan di Kota Gaza. Kedua faksi ini masih berseteru. (www.haaretz.com)

Rekonsiliasi nasional

"Mereka (Fatah) adalah penghambat bagi perjuangan untuk membebaskan semua wilayah Palestina dari penjajahan Israel," kata Mahmud Zahar.





comments powered by Disqus