buku

Wilayah rebutan

Ketika Israel menginvasi Gaza, akhir Oktober 1948, enam negara anggota Liga Arab – Mesir, Suriah, Libanon, Irak, Arab Saudi, dan Yaman - langsung mengakui negara Palestina.

11 April 2015 13:59

Jalur Gaza tadinya bakal menjadi negara berdaulat, terpisah dari Tepi Barat. Keyakinan ini muncul setelah Perang Arab-Israel berakhir. Pada 22 September 1948, Liga Arab membentuk Pemerintahan Umum Palestina di Kota Gaza. Presidennya adalah Amin al-Husaini (mufti Yerusalem) dengan Perdana Menteri Ahmad Hilmi.

Delapan hari kemudian, Dewan Nasional Palestina diketuai Amin al-Husaini berkumpul di Gaza. Mereka menghasilkan sejumlah resolusi. Puncaknya, 1 Oktober 1948, mereka mendeklarasikan sebuah negara mencakup seluruh wilayah Palestina dengan Yerusalem sebagai ibu kota, seperti dikutip dari buku Gaza: Simbol Perlawanan dan Kehormatan karya Faisal Assegaf (terbitan Hamaslovers, Agustus 2014).

Meski begitu, negara baru ini tidak memiliki pemerintahan, uang, pegawai, dan angkatan bersenjata resmi. Husaini membentuk pasukan Jihad al-Muqaddas (Perang Suci) buat membebaskan seluruh wilayah Palestina. Sebanyak 12 menteri dilantik Husaini semuanya tinggal di luar Palestina. Bendera dipakai juga bendera perlawanan Arab terhadap Yahudi sudah digunakan sejak 1917. Bendera ini bikinan diplomat Inggris Marks Sykes buat menciptakan perasaan sesama Arab.

Ketika Israel menginvasi Gaza, akhir Oktober 1948, enam negara anggota Liga Arab – Mesir, Suriah, Libanon, Irak, Arab Saudi, dan Yaman - langsung mengakui negara Palestina. Transyordania dan negara lain tidak mau mengakui. Husaini dan anggota kabinetnya kemudian mengungsi ke Mesir. Dari sanalah dia menjalankan pemerintahan di bawah kontrol Mesir.

Pemerintahan Umum Palestina sebenarnya dibentuk untuk menghadang pengaruh Transyordania telah menguasai Tepi Barat. Raja Abdullah I dari Transyordania menganggap Husaini memberontak. Sehari setelah meneken gencatan senjata dengan Israel, pada 1 Desember 1948 Abdullah menggelar kongres di Kota Jericho, Tepi Barat. Sejumlah tokoh Palestina hadir, termasuk  Wali Kota Hebron Al Jabri, Sulaiman Tuqan dari Nablus, Ahmad al-Khalil asal Haifa, dan Wali Kota Jaffa Yusuf Haikal.

Kongres ini mengangkat Abdullah sebagai Raja Palestina Bersatu. Dia diberi kewenangan buat menyelesaikan masalah Palestina melalui perang atau perdamaian. Kongres menuding pemerintahan di Gaza rezim palsu.

Israel lantas mencaplok Gaza dan Semenanjung Sinai setelah menang dalam Perang Arab-Israel 1956. Namun negara Zionis ini akhirnya mundur dari Gaza lantaran tekanan masyarakat internasional. Presiden Mesir Jamal Abdul Nasir kemudian pada 1959 membubarkan Pemerintahan Umum Palestina karena tidak mampu menyelesaikan persoalan Palestina. Mereka tidak bisa mandiri dan terlalu bergantung kepada Mesir. Apalagi ketika itu Amin al-Husaini telah pindah dari Mesir ke Libanon.

Gaza pun terus berada di bawah kekuasaan Mesir dan diperintah oleh seorang gubernur militer.  Meski begitu, status penduduk Gaza saat itu tidak jelas. Mesir tidak pernah memberikan kewarganegaraan bagi mereka. Lantaran dicap pemberontak, mereka juga tidak diakui oleh Kerajaan Transyordania menguasai Tepi Barat. Paspor warga Gaza keluaran Pemerintahan Umum Palestina cuma diakui oleh Mesir, Suriah, Libanon, Irak, Arab Saudi, dan Yaman tadinya mendukung negara semu itu.

Hingga akhirnya Israel menguasai lagi Gaza setelah menang dalam Perang Enam Hari, Juni 1967. Tiga puluh delapan tahun kemudian, Perdana Menteri Ariel Sharon mengejutkan dunia. Israel secara sepihak mundur dari Gaza.

Anak-anak Gaza tengah bermain sepak bola di jalanan di kamp Syati, Gaza, Rabu, 24 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Perubahan tatanan global

Amerika paling getol menggunakan hak veto terhadap resolusi-resolusi mengecam Israel. Sejak 1972 hingga kini, Washington telah 42 kali memakai hak veto terkait isu Israel.

Dua bocah perempuan tengah melintas di depan tembok sebuah rumah bolong-bolong terkena peluru Israel di Jabaliya, Jalur Gaza, 27 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Sokongan Mesir dan Iran

"Iran sangat berkomitmen terhadap Hamas. Mereka membiayai sayap militer dan pemerintahan Hamas," kata Ahmad Yusuf, penasihat Ismail Haniyah.

Putra dari Jamal, nelayan di Kota Gaza, ini tengah menikmati sarapan berupa roti isi ikan sardencis kecil dan terasa pahit di sebuah pantai di Kota Gaza, Kamis, 25 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Masa depan Gaza

Ada lima faktor utama menentukan masa depan Gaza: komitmen dan soliditas Hamas, rekonsiliasi nasional, blokade Israel, sokongan Mesir dan Iran, serta perubahan tatanan global.

Seorang lelaki berjalan melewati mural pengingat peristiwa Nakbah menjelang beridirnya negara Israel di Kota Gaza, Senin, 22 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Hengkang dari Gaza

David Ben Gurion pernah bilang, "Gaza tidak akan bisa kita kuasai meski kita serbu seribu kali."





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Rusaknya Aston Martin milik Pangeran Mansur bin Saud

"Allah telah menghukum Pangeran Mansur lantaran telah mengeluarkan pernyataan menghina kepada saya ketika saya sudah menolong korban kecelakaan di pantai," kata Mark Young.

29 September 2018

TERSOHOR