buku

Klaim bangsa Yahudi atas Gaza

Menurut pemuka agama Yahudi termasyhur Rabbi Yaakov Emden, Gaza adalah bagian hakiki dari warisan bangsa Yahudi.

18 April 2015 16:38

Gaza sudah berulang kali berganti penguasa sejak ribuan tahun lalu. Mulai dari bangsa Kanaan, kekaisaran Bizantium, Romawi, Kerajaan Hasmonean, hingga Inggris setelah Kekhalifahan Usmaniyah jatuh pada Perang Dunia Pertama.

Napoleon Bonaparte dari Prancis dan Alexander Agung dari Kerajaan Makedonia juga termasuk yang kesengsem dengan Gaza. Wilayah ini menjadi rebutan lantaran posisi strategisnya. Ketika masih dikuasai bangsa Kanaan, Gaza terkenal sebagai pusat dagang bagi saudagar-saudagar dari Asia, Eropa, dan Afrika Utara, seperti dikutip dari buku Gaza: Simbol Perlawanan dan Kehormatan karya Faisal Assegaf (terbitan Hamaslovers, Agustus 2014).

Bahkan pengamat Timur Tengah Gary Fitleberg dalam opini berjudul Gaza’s History and the Jews menulis Gaza bersama Tiberias dan Zoar menjadi tempat berziarah semasa Kerajaan Bizantium. Gaza juga terkenal subur dan kaya akan tanaman buah-buahan, gandum, dan kebun anggur. Ketika bangsa Romawi berkuasa, Gaza termasuk satu dari tiga pasar malam terbesar. Gaza berkembang pesat di masa Kekhalifahan Usmaniyah.

Seperti wilayah Palestina lainnya, Gaza juga diperebutkan oleh bangsa Arab dan Israel. Bangsa Arab mengklaim sebagai pemilik sah Gaza karena mereka keturunan bangsa Filistin, sekarang ini disebut Palestina.

Namun Fitleberg menegaskan bangsa Palestina ada sekarang tidak sama dengan Filistin di masa lalu. Mereka telah punah. Nama Palestina berasal dari kata Filistia, nama diberikan oleh bangsa Romawi buat mengejek Yudah, sebuah suku Yahudi tinggal di Yudea. Dalam bahasa Ibrani, Gaza disebut Azza. Dari sinilah dongeng legendaris Samson dan Delilah berasal.

Dia lantas menyampaikan sejumlah fakta sejarah. Pada abad kesebelas, Rabbi Ephraim asal Gaza menjadi pemuka masyarakat di Fustat (Kairo kuno). Peziarah asal Italia Rabbi Meshulam Da Volterra menemukan 60 keluarga Yahudi tinggal di Gaza. Dia menyatakan semua anggur dari Gaza buatan orang Yahudi.

Ketika melawat ke Gaza pada 1488, Rabbi Obadiah Ben Abraham mencatat Moses asal Praha, Ceko, menjadi kepala rabbi di Gaza. Dia datang ke wilayah ini dari Yerusalem. Masyarakat Yahudi di Gaza terus berkembang dan sejahtera selama abad ke-16 dan 17. Samuel Ben David menemukan sebuah sinagoge di sana pada 1641. Di Gaza juga terdapat sebuah bet din (pengadilan agama Yahudi) dan satu yeshiva (sekolah seminari Yahudi). Para petani diwajibkan pula menjalankan ajaran-ajaran Torah.

Di akhir abad ke-16 keluarga Najara mengirim beberapa rabbi ke Gaza. Israel Najara, putra Rabbi Moses Najara dari Suriah, merupakan kepala rabbi Gaza. Dia juga menjabat ketua bet din pada pertengahan abad ke-17. Rabbi Moses Najara adalah penulis Zemirot Yisrael berisi lagu-lagu pujian dan doa. Kitab ini dipakai kaum Yahudi sedunia saban merayakan Sabbath.

Gaza menjadi pusat gerakan juru selamat ketika Rabbi Sabbatai Zevi berkunjung ke Gaza pada 1665. Dia mengklaim sebagai Juru Selamat diutus Tuhan buat menyelamatkan umat Yahudi. Dalam usia 40 tahun, Sultan Mehmet IV dari Kekhalifahan Usmaniyah memaksa dia masuk Islam. Para pengikut, termasuk 300 kerabatnya, akhirnya menganut agama dibawa Nabi Muhammad itu.

Menurut pemuka agama Yahudi termasyhur Rabbi Yaakov Emden, Gaza adalah bagian hakiki dari warisan bangsa Yahudi. “Gaza dan wilayah sekitarnya mutlak bagian dari Tanah Israel. Tidak ada keraguan itu adalah sebuah mitzvah (perintah sekaligus anugerah) buat tinggal di sana, seperti daerah lainnya di Tanah Israel.”

Di abad ke-19 perekonomian di Gaza menurun. Masyarakat Yahudi di wilayah ini kebanyakan menjadi pedagang barley (semacam gandum buat bahan baku bir). Mereka memperoleh barley lewat barter dengan kaum Arab gurun. Saudagar-saudagar Yahudi ini kemudian mengekspor barley mereka ke perusahaan-perusahaan bir di Eropa.

Gaza menjadi basis pertahanan Turki pada Perang Dunia Pertama. Inggris dua kali gagal menaklukkan  wilayah ini pada 1916-1917. Sukses baru dicapai setelah Kekhalifahan Usmaniyah tumbang. Inggris pun mendapat mandat dari Liga Bangsa-Bangsa atas Palestina. Warga Yahudi terakhir meninggalkan Gaza pada 1929 setelah terjadi konflik berdarah dengan kaum Arab.

Model asal Israel Orly Weinerman, mantan kekasih Saiful Islam al-Qaddafi. (Facebook)

Berdarah Yahudi

Di Kota Netanya, Israel, terdapat alun-alun bernama Qaddafi Plaza

Anak-anak Gaza tengah bermain sepak bola di jalanan di kamp Syati, Gaza, Rabu, 24 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Perubahan tatanan global

Amerika paling getol menggunakan hak veto terhadap resolusi-resolusi mengecam Israel. Sejak 1972 hingga kini, Washington telah 42 kali memakai hak veto terkait isu Israel.

Dua bocah perempuan tengah melintas di depan tembok sebuah rumah bolong-bolong terkena peluru Israel di Jabaliya, Jalur Gaza, 27 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Sokongan Mesir dan Iran

"Iran sangat berkomitmen terhadap Hamas. Mereka membiayai sayap militer dan pemerintahan Hamas," kata Ahmad Yusuf, penasihat Ismail Haniyah.

Putra dari Jamal, nelayan di Kota Gaza, ini tengah menikmati sarapan berupa roti isi ikan sardencis kecil dan terasa pahit di sebuah pantai di Kota Gaza, Kamis, 25 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Masa depan Gaza

Ada lima faktor utama menentukan masa depan Gaza: komitmen dan soliditas Hamas, rekonsiliasi nasional, blokade Israel, sokongan Mesir dan Iran, serta perubahan tatanan global.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Bekerja lagi untuk Pangeran Misyari

Mark Young tidak bisa merayakan Natal bersama keluarganya pada 1982 karena harus menemani Pangeran Misyari membeli vila di Marbella.

09 Juni 2018

TERSOHOR