buku

Simbol bernama Syekh Yasin

"Kita mempunyai satu musuh dan kita akan berperang serta melawan hingga mendapatkan kembali tanah air kita," kata Syekh Ahmad Yasin.

25 April 2015 07:09

Tubuhnya ringkih. Pendengaran dan penglihatannya lemah. Hampir semua kegiatan dilakukan dari atas kursi roda.

Namun kebesaran namanya bisa dibilang melebihi Yasir Arafat. Dia berhasil menciptakan citra positif bagi Hamas sebagai organisasi religius sekaligus sosial. Sedangkan Fatah bentukan Arafat dipandang korup dan egois, seperti dikutip dari buku Gaza: Simbol Perlawanan dan Kehormatan karya Faisal Assegaf (terbitan Hamaslovers, Agustus 2014)

Lisannya bagai mantra bisa menyihir jutaan rakyat Palestina. Kekuatan kata-katanya mampu mendorong banyak orang berani mengangkat senjata melawan Israel. Bahkan ada juga yang nekat menjadi pengebom bunuh diri.

Ketika tiba kembali di rumahnya, Kota Gaza, awal Oktober 1997, Syekh Ahmad Yasin disambut bagai pahlawan. Dia bebas untuk kedua kalinya setelah menjadi alat pertukaran tawanan dengan dua anggota Mossad gagal membunuh Khalid Misyaal. Beberapa di antara pengagumnya menyamakan Syekh Yasin dengan Ayatullah Khomeini, pemimpin Revolusi Islam Iran menumbangkan rezim Pahlevi pada 1979.

Padahal dia baru menjalani delapan tahun dari hukuman kurungan seumur hidup di penjara Kfar Yona, kota kecil berjarak 15 kilometer sebelah barat Tulkarim, Tepi Barat. Pengadilan militer Israel memvonis dia bersalah atas sembilan dakwaan, termasuk memerintahkan menculik dan membunuh dua tentara Israel serta membentuk pasukan keamanan Hamas. Ketika ditahan pertama kali karena memiliki senjata secara tidak sah, dia juga lepas sebab menjadi bagian dari pertukaran tahanan. Saat itu dia baru menjalani setahun dari vonis 13 tahun penjara.

Syekh Yasin bebas setelah ditukar dengan dua anggota Mossad gagal membunuh Kepala Biro Politik Hamas Khalid Misyaal di Ibu Kota Amman, Yordania, akhir September 1997. Perundingan berlangsung alot. Raja Husain dari Yordania menolak bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dia benar-benar marah karena Mossad berani melaksanakan misi rahasia di negaranya. Apalagi insiden itu berlangsung baru tiga tahun setelah kedua negara meneken perjanjian damai.

Tiga hari setelah kejadian, pada Ahad malam, 28 September, Netanyahu bersama Menteri Pertahanan Yitzhak Mordechai, Ariel Sharon (saat itu menjabat menteri infrastruktur), dan sejumlah pejabat terbang menggunakan helikopter dari Yerusalem ke Amman. Karena Raja Husain menolak bertemu, rombongan diterima Putera Mahkota Pangeran Hasan dan Kepala Departemen Intelijen Jenderal Samih Battikhi, seperti ditulis Gilad Sharon dalam buku Sharon: The Life of a Leader.

Beberapa hari kemudian, Ali Syukri (sekretaris pribadi Raja Husain) menelepon salah satu penasihat Sharon, Letnan Kolonel Majalli Wahabi, lelaki Arab dari sekte Druze. Dia memberitahu Raja Husain tidak mempercayai Netanyahu dan meminta Sharon langsung menangani masalah itu. Majalli dan Sharon lantas menemui Netanyahu di kediaman resminya di Yerusalem.

"Biarkan saya mengurus hal ini," kata Sharon kepada Netanyahu.

"Bagaimana saya bisa membiarkan kamu melakukan itu?" tanya Netanyahu.

"Majalli satu-satunya orang bisa berunding dengan mereka."

"Saya mau bicara dengan raja (Raja Husain)," ujar Netanyahu kepada Majalli.

Majalli lalu menghubungi istana dan diberitahu, "Raja sedang tidur. Dua hari ini dia marah sekali. Dia tidak mau berbicara dengan perdana menteri."

"Netanyahu akhirnya sepakat ayah saya menangani kasus ini," ujar Gilad Sharon.

Singkat cerita, Netanyahu bersama Majalli tiba di istana Raja Husain. Sesuai permintaan Sharon, Majalli menjadi penerjemah keduanya karena dia juga fasih berbahasa Ibrani. Ketegangan terasa. Netanyahu siap membayar tebusan agar dua agen Mossad itu dibebaskan. Namun Raja Husain mengajukan daftar berisi nama orang Yordania dan Palestina di penjara Israel.

Netanyahu akhirnya bersedia melepaskan mereka, termasuk Syekh Ahmad Yasin. "Mereka mendapatkan Yasin. Itu lebih dari yang mereka impikan. Selama ini mereka berpikir hanya akan melihat dia dalam peti mayat," ujar Sharon seperti dikutip Gilad.

Suasana mulai mencair setelah Raja Husain mengetahui Sharon bakal menghentikan pertemuan untuk sekadar membaca pesan anak lembu peliharaannya telah lahir. "Benarkah?" tanya Raja Husain dengan nada tidak percaya. Sharon membenarkan dan bercerita mengenai hewan ternaknya.

Sharon mesti diberitahu kapan saja ada anak sapi lahir dan bagaimana ceritanya. Bahkan saat dia sedang memimpin atau menghadiri rapat penting sekalipun. Asisten pribadinya harus menyelipkan kertas berisi berita jenis kelamin bayi sapi atau seberapa deras hujan turun hari itu. Di dapur rumahnya Sharon juga menggantung poster berbagai jenis hewan ternak di seluruh dunia.

Rupanya kedua pemimpin ini sama-sama penyayang binatang. "Saya suka kuda dan unta," ujar Raja Husain. "Saya memiliki peternakan dan putri saya, Hayyah, yang mengurus. Dia seperti saya, mencintai hewan."

Obrolan santai berlanjut ke makan malam dengan menu antara lain daging kambing dan nasi bumbu. "Katakan kepada Jenderal Sharon buat menolong dirinya sendiri. Saya makan seperti orang Arab Badui, cepat dan sedikit. Selalu sedikit. Karena itulah tubuh saya kecil," kata Raja Husain.

"Katakan jangan khawatir," balas Sharon. "Saya lapar dan akan makan."

Pertemuan itu berlangsung empat jam dan rampung pukul dua dini hari. Setelah 12 hari ditahan, dua agen Mossad gagal dalam misi membunuh Misyaal bebas. Syekh Yasin juga dipulangkan ke Gaza.

Rakyat Palestina begitu mencintai Syekh Yasin. Tengoklah waktu dia berkeliling Gaza. Tetabuhan drum dan teriakan slogan islami dan nasionalis memenuhi atmosfer. Pelajar putri berpakaian serba putih menari. Para pemuda berparade membawa spanduk-spanduk bergambar Syekh Yasin dan pahlawan-pahlawan Hamas lainnya.

Demikian pula ketika dia berpidato di kampus Universitas Islam Gaza, tiga pekan setelah kepulangannya. "Rakyat kita harus memilih jalan perang suci (jihad) karena jika kita tidak berjuang rakyat kita akan mati. Situasi ini hanya memahami bahasa kekuatan," katanya di hadapan sekitar lima ribu mahasiswa. "Saya telah berkali-kali mengatakan kita mempertahankan diri menghadapi penjajahan. Penjajahan terus berlangsung sehingga perjuangan berlanjut."

Dia menghalalkan serangan bunuh diri karena itu senjata pamungkas warga Palestina melawan tank-tank Israel. Dia percaya membunuh warga sipil Israel dibenarkan sebagai balasan atas tewasnya penduduk sipil Palestina.

Syekh Yasin memiliki perhitungan sendiri soal kapan konflik bakal berakhir. Dia meyakini siklus 40 tahun. Dimulai dari berdirinya Israel pada 1948, kemudian intifadah pertama pada 1987. Jadi dia menyimpulkan perjuangan membebaskan Palestina dari penjajahan Israel akan selesai pada 2027. "Kita mempunyai satu musuh dan kita akan berperang serta melawan hingga mendapatkan kembali tanah air kita. Tidak ada gencatan senjata! Sebuah bangsa tanpa jihad tidak akan pernah terwujud!"

Dua bocah perempuan tengah melintas di depan tembok sebuah rumah bolong-bolong terkena peluru Israel di Jabaliya, Jalur Gaza, 27 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Sokongan Mesir dan Iran

"Iran sangat berkomitmen terhadap Hamas. Mereka membiayai sayap militer dan pemerintahan Hamas," kata Ahmad Yusuf, penasihat Ismail Haniyah.

Putra dari Jamal, nelayan di Kota Gaza, ini tengah menikmati sarapan berupa roti isi ikan sardencis kecil dan terasa pahit di sebuah pantai di Kota Gaza, Kamis, 25 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Masa depan Gaza

Ada lima faktor utama menentukan masa depan Gaza: komitmen dan soliditas Hamas, rekonsiliasi nasional, blokade Israel, sokongan Mesir dan Iran, serta perubahan tatanan global.

Abdul Ghani, putra dari mendiang Syekh Ahmad Yasin, di rumahnya di Kota Gaza, 24 Oktober 2012, menunjukkan jubah dipakai saat Syekh Yasin tewas terkena hantaman peluru kendali Israel. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Jasa Israel dalam pembentukan Hamas

Negara Bintang Daud ini meyakini Syekh Yasin hanya mengajarkan soal Al-Quran, bukan mengajak warga Gaza melawan Israel.

Pendiri sekaligus pemimpin senior Hamas di Jalur Gaza Mahmud Zahar tengah memegang senapan AK-47 milik mendiang putranya, Husam, di rumahnya, Kota Gaza, Rabu, 24 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Terlahir di tengah intifadah

Dalam pertemuan malam itu, ketujuh pemimpin Al-Ikhwan mengambil keputusan bersejarah mengubah organisasi itu menjadi gerakan perlawanan disebut Harakat al-Muqawamah al-Islamiyah atau disingkat Hamas.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Bekerja lagi untuk Pangeran Misyari

Mark Young tidak bisa merayakan Natal bersama keluarganya pada 1982 karena harus menemani Pangeran Misyari membeli vila di Marbella.

09 Juni 2018

TERSOHOR