buku

Tanah intifadah

Intifadah pertama menewaskan sekitar 1.087 warga Palestina dan hanya 160 orang Israel terbunuh.

02 Mei 2015 03:16

Selasa sore pada pekan kedua Desember 1987. Sebuah truk angkut militer Israel menabrak antrean mobil berisi warga Palestina baru pulang bekerja dari Israel. Kecelakaan di perlintasan Bait Hanun, Jalur Gaza, ini menewaskan empat orang Palestina, tiga di antaranya dari kamp pengungsi Jabaliya. Tujuh orang lainnya luka serius. Kejadian ini disaksikan ratusan pekerja Palestina.

Sekitar sepuluh ribu orang menghadiri pemakaman mereka. Demonstrasi besar-besaran segera meletup. Selentingan beredar di Jabaliya, peristiwa itu disengaja sebagai balasan terhadap kematian Shlomo Sakal dua hari sebelumnya. Pedagang plastik asal Israel ini ditusuk hingga meninggal saat berbelanja di Gaza. Unjuk rasa diwarnai
lemparan batu dan bom molotov terus berlanjut. Intifadah (dalam bahasa Arab berarti pemberontakan) pertama pecah, seperti dikutip dari buku Gaza: Simbol Perlawanan dan Kehormatan karya Faisal Assegaf (terbitan Hamaslovers, Agustus 2014).

Di depan Rumah Sakit Syifa, Kota Gaza, para pemuda Palestina menelanjangi seorang serdadu Israel hingga hanya mengenakan celana dalam. Dia lantas disuruh kembali ke pasukannya. Di bagian lain, seorang pemuda Palestina berhasil merebut senapan tentara Israel, kemudian dipatahkan dan dikembalikan.

Protes berlangsung rusuh itu akhirnya menelan syuhada pertama intifadah di Jabaliya. Seorang pemuda berusia 17 tahun ditembak mati setelah melempar bom molotov. Protes menyebar ke seantero Gaza dan Tepi Barat. Rakyat Palestina marah melempar batu, membakar ban, dan memblokade jalan.

Anak-anak juga terlibat. Musab, putra salah satu pendiri Hamas, Syekh Hasan Yusuf, masih ingat betul pengalamannya melempari batu ke arah serdadu Israel dan pemukim Yahudi. Di tahun kedua intifadah, dia baru genap berumur sepuluh tahun.

Ceritanya begini. Menjelang magrib, Musab bersama seorang temannya berencana melempari bus pemukim Yahudi biasa lewat di Al-Bireh, kembaran Kota Ramallah, Tepi Barat. “Karena bus lebih besar ketimbang mobil dan gampang kena,” kata Musab mengenang.

Para pemukim itu tinggal di balik bukit. Permukiman mereka dikelilingi tembok tinggi dilengkapi menara penjaga. Banyak dari mereka bersenjata senapan otomatis dan enteng saja menembaki warga Palestina jika merasa terancam.

Keduanya lantas bersembunyi di semak-semak agak jauh dari jalan. Musab dan rekannya masing-masing sudah menyiapkan dua batu. Ketika azan berkumandang, bunyi mesin diesel terdengar. Mereka lantas melompat sambil melempar peluru mereka ke arah sasaran. Kena.

Ternyata menjadi korban adalah kendaraan militer Israel penuh tentara. Mereka lantas berusaha mencari pelaku. Karena tidak ketemu, mereka menembak asal-asalan ke udara. Musab dan temannya bergegas menyelinap masuk ke dalam barisan salat.

Dalam hitungan detik setelah salat magrib usai, kendaraan militer Israel berhenti di luar masjid. Gerombolan tentara Zionis lantas masuk ke dalam dan menyuruh semua orang keluar. Mereka diperintahkan bertiarap dan kartu identitas tiap orang diperiksa. Satu-satu ditanyai siapa barusan melempar batu. Setelah beberapa jam, interogasi selesai dan tidak ada yang ditahan. Musab dan rekannya juga tidak ketahuan.

Setelah kejadian itu, keduanya makin berani dan tertantang untuk melakoni lagi. “Saya benar-benar senang,” ujar Musab

Sepanjang intifadah, militer Israel membalas lemparan batu, bom molotov, dan blokade jalan dengan tembakan peluru tajam. Hukuman kolektif juga diberlakukan. Pasokan air, listrik, dan bahan bakar dihentikan. Kampus-kampus di Tepi Barat ditutup hampir selama enam tahun intifadah berlangsung. Di tahun pertama, jam malam diterapkan lebih dari 1.600 kali dan sekolah-sekolah diliburkan setahun. Seribu rumah dihancurkan atau diblokade. Hasil pertanian rakyat Palestina dilarang dijual. Keluarga ketahuan anggotanya melempar batu dikenai denda tinggi.

Intifadah ini merupakan puncak kekesalan rakyat Palestina terhadap tekanan oleh penjajah Israel, termasuk pembunuhan serampangan, penangkapan besar-besaran, penghancuran rumah, dan deportasi. Frustasi kian menggunung lantaran Israel membatasi izin membangun rumah dan lahan pertanian. Alhasil, kepadatan penduduk
meningkat. Pengangguran juga meroket. Ketika itu hanya satu dari delapan sarjana Palestina bisa bekerja.

Sebaliknya, Israel terus memperluas wilayah permukiman Yahudi di Jalur Gaza dan Tepi Barat serta mengembangkan perekonomian di kawasan itu. Benny Morris menyebut dalam buku Righteous Victims: A History of the Zionist-Arab Conflict, 1881-2001, intifadah adalah akibat dari semua penghinaan dilakukan Israel terhadap bangsa Palestina.

Israel menerjunkan 80 ribu serdadu buat memadamkan intifadah dengan kebijakan “patahkan tulang rakyat Palestina”. Intifadah pertama ini menewaskan sekitar 1.087 warga Palestina dan hanya 160 orang Israel terbunuh.

Sebuah sepeda motor terbakar setelah dihantam serangan udara Israel ke Jalur Gaza, Palestina, 10 Mei 2021. (Telegram)

Kabinet keamanan Israel setujui pengeboman besar-besaran terhadap Gaza

Israel menetapkan keadaan darurat khusus bagi wilayah Israel dalam radius 0-80 kilometer dari perbatasan Gaza, termasuk Ibu Kota Tel Aviv dan Yerusalem.

Muhammad Abdullah Fadhi, pejabat Hamas terbunuh akibat serangan udara Israel ke Jalur Gaza pada 10 Mei 2021. (Twitter)

Serangan udara Israel ke Gaza tewaskan sembilan orang, termasuk pejabat senior Hamas

Korban terbunuh dari pihak Hamas itu adalah Muhammad Abdullah Fayyadh.

Seorang pengawal pemimpin Hamas memasuki terowongan di perbatasan Rafah,  tembus dari Jalur Gaza ke Mesir, Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Mata-mata Gaza

Dua putra pemimpin Hamas juga ada yang menjadi informan Israel.

Suasana dalam terowongan menghubungkan Mesir dan Jalur Gaza di perbatasan Rafah, 21 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Pemimpin Hamas akui satu anggotanya membelot ke Israel

Para pejabat Hamas mengklaim awal bulan ini, mereka telah membekuk jaringan informan Israel di Gaza ingin melancarkan sabotase.





comments powered by Disqus