buku

Intifadah kedua

Dalam wawancara khusus dengan stasiun televisi Dubai TV, Desember 2012, Suha menyatakan mendiang suaminya memang telah merencanakan intifadah.

09 Mei 2015 07:04

Syekh Hasan Yusuf, salah satu pendiri Hamas dan pemimpin organisasi ini di Tepi Barat, sudah mencium bakal terjadi intifadah kedua. Sebab itu dia berusaha menemui Sekretaris Jenderal Fatah Marwan Barghuti sehari sebelum lawatan pemimpin oposisi Israel dari Partai Likud Ariel Sharon ke kompleks Masjid Al-Aqsa, Yerusalem Timur.

Barghuti pemimpin muda karismatik. Dia sangat membenci korupsi dan pelanggaran hak asasi oleh Otoritas Palestina dan pasukan keamanan Yasir Arafat. Lelaki ini senang tampil santai, sering bercelana jins. Dia dijagokan menjadi presiden Palestina di masa depan, seperti dikutip dari buku Gaza: Simbol Perlawanan dan Kehormatan karya Faisal Assegaf (terbitan Hamaslovers, Agustus 2014).

Selepas salat subuh, Musab mengantar ayahnya itu ke kediaman Barghuti di Kota Ramallah. "Sharon dijadwalkan mengunjungi Masjid Al-Aqsa besok dan Otoritas Palestina percaya ini kesempatan bagus untuk melancarkan intifadah," tulis Musab dalam buku Son of Hamas. Namun tuan rumah tidak bisa ditemui lantaran masih tidur.

Besoknya, beberapa menit sebelum Sharon tiba, Hasan Yusuf dan Musab sudah berada di sana. Kamis pagi itu, 28 September 2000, situasi masih tenang. Seratusan warga Palestina telah selesai salat subuh di Al-Aqsa.

Sharon bersama rombongan partainya datang di waktu kunjungan pelancong. Mereka dikawal hampir seribu polisi antihuru-hara. Para pemuda Palestina memprotes lawatan itu. Mereka bertakbir, beberapa orang berupaya menerobos pengamanan polisi Israel. Mereka juga melempari batu. Bentrokan tak terhindarkan. Tiga warga Palestina cedera, termasuk Menteri Urusan Yerusalem Faisal Husaini.

Sharon datang ditemani pula oleh putra bungsunya, Gilad. Keduanya berangkat dari kawasan peternakan mereka di Gurun Negev, selatan Israel, menuju kantor intelijen di Yerusalem. Di sana keduanya bertukar mobil. Rombongan kemudian berangkat menuju kompleks Al-Aqsa. Rony Schayak, saudara angkat Gilad dari Yerusalem, ikut bergabung. Konvoi Sharon memasuki Haram asy-Syarif melalui Gerbang Mugrabi.

"Kunjungan ke Kuil Bukit itu merupakan ekspresi penolakan ayah saya terhadap kesiapan Barak menyerahkan tempat itu (menjadi milik Palestina)," kata Gilad Sharon dalam buku Sharon: The Life of a Leader. Itu juga bukan lawatan pertama Sharon ke kompleks Al-Aqsa. Dia sudah beberapa kali ke sana sejak Israel menang Perang Enam Hari, Juni 1967. Untuk pertama kali pula selama berabad-abad, orang-orang Yahudi boleh memasuki kawasan itu.

Dalam perundingan dengan Presiden Otoritas Palestina Yasir Arafat di Camp David dan Taba, beberapa bulan sebelum pecah intifadah, Perdana Menteri Israel Ehud Barak berjanji mengembalikan Yerusalem Timur, termasuk kompleks Al-Aqsa, kepada Palestina. Komitmen ini membuat gusar Sharon dan sebagian besar warga Israel. "Rakyat atau Knesset tidak setuju dengan konsesi ditawarkan Barak itu. Sebagai bukti, ayah saya menang besar dalam pemilu 2001 dengan mengalahkan Barak," ujar Gilad Sharon.

Sharon memang tidak memasuki Masjid Al-Aqsa atau Masjid Kubah Batu seperti disyaratkan oleh kepala keamanan Palestina di Tepi Barat Jibril Rajub. Dia juga tidak berdoa. Namun tetap saja lawatan itu merupakan tindakan provokatif. "Al-Aqsa adalah masjid kita dan Sharon tidak ada urusannya berada di sana. Kita tidak boleh membiarkan ini," Hasan Yusuf menegaskan.

Kompleks Al-Aqsa atau Haram asy-Syarif merupakan tempat paling sensitif dalam konflik Palestina-Israel. Bagi kaum muslim, Al-Aqsa merupakan tempat paling suci ketiga setelah Masjid Al-Haram di Kota Makkah dan Masjid Nabawi di Kota Madinah. Kaum Yahudi juga mengklaim itu tempat keramat mereka karena pernah berdiri Kuil Sulaiman.

Meski statusnya masih di bawah hukum internasional, Israel secara sepihak mengklaim Yerusalem sebagai ibu kota abadi mereka dan tidak dapat dibagi dua dengan Palestina. Klaim ini diperkuat dengan Hukum Dasar Yerusalem disahkan Knesset (parlemen Israel) pada September 1980. Padahal bangsa Palestina bercita-cita ibu kota negara mereka di Yerusalem Timur.

Kunjungan Sharon itu bermotif politik menjelang pemilihan umum Maret 2001. Dia paham tindakannya itu bisa memicu kekerasan. Tapi rencana itu tetap dilaksanakan buat menarik sokongan pemilih. Menurut juru bicara Likud Ofir Akunis, lawatan Sharon untuk menunjukkan di bawah pemerintahan Likud mendatang, Kuil Sulaiman tetap dalam wilayah kedaulatan Israel.

Sharon dengan kalem membantah telah melakukan provokasi. "Saya datang ke sini sebagai orang percaya koeksistensi antara Yahudi dan Arab," katanya kepada wartawan menunggu di dekat Tembok Ratapan. "Saya yakin kita bisa membangun dan maju bersama-sama. Ini kunjungan damai. Apakah ini sebuah anjuran bagi Yahudi Israel buat datang ke tempat paling suci mereka?"

Lawatan ini berlangsung sepuluh hari setelah rakyat Palestina mengenang 18 tahun pembantaian Sabra dan Shatila. Tragedi ini berlangsung di kamp pengungsi Palestina Sabra dan Shatila di Ibu Kota Beirut, Libanon, pada 16 September (pukul enam malam) hingga 18 September (jam delapan pagi). Serbuan oleh milisi Kristen ini menewaskan 762-3.500 warga sipil, kebanyakan orang Palestina dan Syiah Libanon.

Israel membentuk komisi buat menyelidiki pembantaian itu pada 28 September 1982. Komisi ini diketuai oleh Ketua Mahkamah Agung Yitzhak Kahan dan beranggotakan hakim agung Aharon Barak serta pensiunan Mayor Jenderal Yona Efrat.

Pada 8 September 1983 Komisi Kahan melansir hasil penyelidikannya. Mereka menyimpulkan milisi Falangis Gemayel dipimpin Fadi Frem bertanggung jawab atas tragedi Sabra dan Shatila. Tidak ada orang Israel bertanggung jawab langsung dalam insiden ini.

Meski begitu, Menteri Pertahanan Ariel Sharon dinyatakan bersalah karena mengabaikan ada bahaya pembantaian dan balas dendam. Dia juga tidak mengambil tindakan tepat buat mencegah. Sharon menolak berhenti dan Perdana Menteri Menachem Begin tidak mau memecat dia.

Dia baru kehilangan jabatannya setelah terjadi protes damai. Unjuk rasa ini menewaskan Emil Grunzweig, prajurit tempur cadangan dan pegiat perdamaian, serta melukai enam orang lainnya setelah sebuah granat dilemparkan ke arah demonstran.  Tapi Sharon tetap berada dalam pemerintahan dengan posisi menteri tanpa portofolio.

Sehari setelah Sharon ke Masjid Al-Aqsa, bentrokan meluas ke seantero Tepi Barat dan Jalur Gaza selepas salat Jumat. Intifadah kedua ini menandai babak baru perjuangan Palestina menghadapi Israel. Rakyat Palestina tidak lagi melawan dengan sekadar melempar batu dan bom molotov. Mereka mulai menembakkan roket dan serangan bunuh diri gencar dilakukan. Hasilnya tidak mengecewakan. Korban tewas dari pihak Israel sekitar seribu orang dan diperkirakan tiga ribu warga Palestina terbunuh.

Tapi selama lima tahun intifadah, Palestina harus kehilangan empat pemimpin akibat serangan udara Israel. Mereka adalah Sekretaris Jenderal PFLP (Barisan Rakyat bagi Pembebasan Palestina) Abu Ali Mustafa (Agustus 2001), komandan Brigade Izzudin al-Qassam Salah Mustafa Muhammad Syihadah (Juli 2002), serta dua pemimpin Hamas Syekh Ahmad Yasin (Maret 2004) dan Abdul Aziz Rantisi (April 2004).

Tidak semua orang setuju intifadah kedua ini meletup lantaran kunjungan Sharon ke Al-Aqsa. Sebagian meyakini hal itu memang telah dirancang oleh pemimpin PLO (Organisasi Pembebasan Palestina) Yasir Arafat. Pemimpin senior Hamas di Gaza Mahmud Zahar mengungkapkan Arafat memerintahkan Hamas melancarkan serangan terhadap Israel karena kecewa dengan hasil perundingan Camp David Juli 2000.

"Presiden Arafat menyuruh Hamas melaksanakan serangkaian operasi militer ke pusat-pusat entitas Zionis setelah dia merasa perundingan-perundingan dengan pemerintah Israel gagal," kata Zahar saat memberikan kuliah umum di Universitas Islam Gaza, Kota Gaza. Namun dia tidak memberitahu kapan dan bagaimana Arafat mengeluarkan perintah itu.

Zahar mengklaim keputusan Arafat tetap berunding dengan Israel merupakan salah satu sebab dia dibunuh. Dia menilai kebijakan semacam itu merupakan kesalahan sangat besar dan taktik salah.

Dalam wawancara khusus dengan stasiun televisi Dubai TV, Desember 2012, Suha menyatakan mendiang suaminya memang telah merencanakan intifadah. Dia mendapat penjelasan itu di Paris sepulang Arafat dari perundingan Camp David. Arafat meminta Suha tetap tinggal di Paris. "Karena saya akan memulai intifadah. Mereka ingin saya mengkhianati bangsa Palestina. Mereka mau saya menyerah atas prinsip-prinsip kita dan saya tidak akan melakukan itu," kata Suha mengutip pernyataan Arafat.

"Saya tidak mau teman-teman Zahwa (putri Arafat) nanti mengatakan Yasir Arafat telah menyerah terhadap nasib dan prinsip bangsa Palestina. Saya mungkin mati syahid, tapi saya akan mewariskan sejarah ini kepada Zahwa dan anak-anak Palestina."

Kepada surat kabar Al-Hayat, 29 September 2001, Marwan Barghuti mengakui intifadah memang direncanakan. Dia bercerita malam sebelum lawatan Sharon ke Al-Aqsa, dia menjadi pembicara dalam sebuah diskusi di sebuah stasiun televisi Palestina. Dia menggunakan kesempatan itu buat menyerukan seluruh rakyat Palestina datang ke Al-Aqsa besok pagi. Dia menyatakan Sharon tidak boleh sampai menjejakkan kaki di Haram asy-Syarif dan meninggalkan tempat itu dengan tenang.

Besok paginya Barghuti tiba di Al-Aqsa. Dia mengakui bentrokan saat lawatan Sharon gagal karena ada perbedaan pendapat di antara tokoh-tokoh Palestina hadir di sana. Setelah Sharon meninggalkan kompleks Al-Aqsa, Barghuti tetap di sana dua jam buat membahas langkah selanjutnya dan bagaimana agar semua kota di Palestina bereaksi, tidak hanya di Yerusalem.

Para tokoh itu, termasuk Barghuti, kemudian menghubungi semua faksi. "Saya tahu akhir September adalah masa terakhir sebelum terjadi ledakan. Namun ketika Sharon mencapai Masjid Al-Aqsa, ini saat paling tepat buat melaksanakan intifadah," ujar Barghuti.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Pelesiran ke Puerto Banus bareng Pangeran Misyari

Dekat merkusuar, terdapat Shaf, kapal pesiar milik Pangeran Salman bin Abdul Aziz (sejak Januari 2015 menjadi Raja Arab Saudi). Saya juga pernah bekerja untuk dia. Pangeran Salman juga mempunyai enam atau tujuh vila dalam sebuah kompleks besar di belakang masjid, dekat dengan vila kepunyaan Pangeran Mansur.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Berlatih tarung dengan Pangeran Faisal

Saya kemudian mengangkat kaki kiri saya dan melakukan setengah lusin tendangan ke beragam arah.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Bualan karate Pangeran Faisal

Setelah semua bagasi dibereskan, John memperkenalkan saya dengan kedua pangeran itu: Pangeran Faisal bin Yazid dan Pangeran Misyari bin Saud. Saya ditugaskan mengawal ibu dari Pangeran Faisal.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Liburan musim panas Pangeran Faisal

Saya jadi yakin Marbella dalam bahasa Inggris dieja "FULUS!"





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Pelesiran ke Puerto Banus bareng Pangeran Misyari

Dekat merkusuar, terdapat Shaf, kapal pesiar milik Pangeran Salman bin Abdul Aziz (sejak Januari 2015 menjadi Raja Arab Saudi). Saya juga pernah bekerja untuk dia. Pangeran Salman juga mempunyai enam atau tujuh vila dalam sebuah kompleks besar di belakang masjid, dekat dengan vila kepunyaan Pangeran Mansur.

19 Mei 2018
Raja Khalid wafat
21 April 2018

TERSOHOR