buku

Bom bunuh diri

“Jika kami sudah memiliki pesawat tempur dan peluru kendali, baru kami mengubah cara pertahanan diri diakui."

16 Mei 2015 07:02

Bom bunuh diri pernah begitu populer di Palestina selama intifadah kedua. Puncaknya pada 2002, terdapat 44 kali serangan bunuh diri. Menurut sebuah studi pada 2007, terjadi setidaknya 120 kali bom bunuh diri dilakoni warga Palestina. Hasilnya: sekitar 652 orang tewas dan 2.267 lainnya luka. Angka ini belum termasuk pelaku juga meninggal.

Ada empat fakta mengenai latar belakang para pengebom bunuh diri. Pertama, mereka berusia antara 17-53 tahun dengan angka median 22 tahun. Kedua, 38 persen pelaku lulusan SMA, mahasiswa, atau baru saja menjadi sarjana saat melaksanakan misinya. Hanya 28 persen gagal menamatkan SMA.

Ketiga, kebanyakan pengebom bunuh diri memiliki banyak saudara kandung: 81 persen berasal dari keluarga mempunyai sedikitnya delapan anak, enam di antaranya lelaki. Empat, hampir semua pengebom bunuh diri adalah bujangan, seperti dikutip dari buku Gaza: Simbol Perlawanan dan Kehormatan karya Faisal Assegaf (terbitan Hamaslovers, Agustus 2014).

Para pelaku meyakini mereka mati syahid dan surga menjadi balasannya. Namun ulama berbeda pendapat: ada yang menghalalkan dan mengharamkan tindakan itu.

Bom bunuh diri halal lantaran tidak berimbangnya kekuatan antara rakyat Palestina dengan penjajah Israel. Seperti kata pendiri Hamas Syekh Ahmad Yasin: “Jika kami sudah memiliki pesawat tempur dan peluru kendali, baru kami mengubah cara pertahanan diri diakui. Tapi sekarang kami hanya bisa menghadapi serangan dengan tangan terbuka dan mengorbankan diri kami.”

Yang mengharamkan beralasan pelaku membunuh diri sendiri dulu untuk menewaskan musuh mereka. Syekh Abdul Aziz bin Abdullah Bin Baz menegaskan bom bunuh diri tidak benar dengan landasan Alquran surat An-Nisa ayat 29: “Dan janganlah kalian membunuh diri kalian.”

Nabi Muhammad bersabda: “Siapa membunuh dirinya dengan sesuatu maka dia akan diazab dengan itu di hari kiamat.”

Kenyataannya, 22 kali bom bunuh diri bersifat konyol. Tidak ada warga apalagi tentara Israel terbunuh kecuali pelaku. Yang pasti, pengebom bunuh diri telah membuat istri mereka menjadi janda dan anak mereka menjadi yatim atau suami menduda dan anak piatu.

Ada empat alasan kenapa bom bunuh diri digunakan: • Operasi ini mudah dan murah (tidak memerlukan jalan untuk melarikan diri atau misi penyelamatan). • Bom bunuh diri bisa mengakibatkan korban dalam jumlah besar dan kerusakan hebat (pelaku bisa menentukan lokasi, waktu, dan jenis bahan peledak dipakai). • Tidak ada kekhawatiran pelaku akan membocorkan rahasia kepada musuh (tujuan utama pengebom bunuh diri adalah mati). • Memperoleh perhatian luas dari masyarakat dan media.

Yang mengejutkan, motif pengebom bunuh diri lelaki dan perempuan sama: mereka benar-benar percaya mereka adalah pahlawan. Mereka juga yakin yang mereka lakukan bagian dari kewajiban agama. Di luar itu, keluarga pengebom bunuh diri menerima bayaran dalam jumlah besar dan status mereka terpandang. Pelaku juga dikagumi. Foto-foto mereka dalam posisi heroik dipajang di pelbagai tempat dan dipakai buat rekrutmen.

Paling menarik, sepuluh pelaku adalah perempuan. Ayat al-Akhras menjadi pengebom bunuh diri termuda. Dia baru 18 tahun saat beraksi, laporan lain menyatakan usianya 16 tahun. Ada pula Fatimah Umar Mahmud Najar, janda 64 tahun sekaligus nenek 70 cucu. Dia merupakan wanita paling tua melakukan bom bunuh diri.

Simaklah pandangan Hiba, 28 tahun, ibu lima anak peserta pelatihan bom bunuh diri. “Saya harus mengatakan kepada dunia jika mereka tidak membela kami, kami harus harus mempertahankan diri kami sendiri dengan satu hal kami punya, yakni tubuh kami. Badan kami satu-satunya alat untuk melawan.”

Pada Januari 2002, Wafa Idris dari Brigade Syuhada Al-Aqsa (sayap militer Fatah) menjadi perempuan Palestina pertama melakukan serangan bunuh diri. Bahan peledak seberat 9,98 kilogram berisi paku dan logam lain melilit tubuhnya menewaskan seorang kakek berusia 81 tahun dan mencederai lebih dari seratus orang. Anggota paramedis ini meledakkan diri di sebuah pusat belanja.

Dari kelompok Jihad Islam, ada Hiba Daraghmih, mahasiswi berumur 19 tahun. Dia meledakkan bom melekat di tubuhnya di sebuah mal, membunuh tiga orang. Disusul pengacara 29 tahun, Hanadi Jaradat. Sebanyak 21 orang terbunuh dalam kejadian pada Oktober 2003 ini.

Hamas mengikuti jejak dua kelompok itu pada 14 Januari 2004. Rim Riyasyi, 22 tahun, meledakkan diri di sebuah pos pemeriksaan tentara Israel. Insiden ini menewaskan empat serdadu. Dia meninggalkan seorang suami dan dua anak: putra berusia tiga tahun dan putri berumur setahun.

Syekh Ahmad Yasin tadinya menolak perempuan menjadi pengebom bunuh diri. Namun setelah tindakan Rim Riyasyi, pikirannya berubah. Menurut dia, perempuan lebih mudah mendekati sasaran karena tidak terlalu dicurigai. “Perempuan seperti pasukan cadangan. Ketika dibutuhkan, kita bisa menggunakan mereka.”

Pada Agustus 2001, Dewan Tinggi Islam Arab Saudi mengeluarkan fatwa. Mereka mendorong perempuan Palestina melakukan serangan bunuh diri. Ulama Syiah dari Libanon Syekh Muhammad Husain Fadlallah menyatakan, “Memang benar Islam tidak mengharuskan perempuan berjihad, tapi jika diperlukan perempuan boleh melaksanakan operasi militer atau bom bunuh diri.”

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Rusaknya Aston Martin milik Pangeran Mansur bin Saud

"Allah telah menghukum Pangeran Mansur lantaran telah mengeluarkan pernyataan menghina kepada saya ketika saya sudah menolong korban kecelakaan di pantai," kata Mark Young.

Seorang pengawal pemimpin Hamas memasuki terowongan di perbatasan Rafah,  tembus dari Jalur Gaza ke Mesir, Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Milisi Jihad Islam pilih pemimpin baru

Pada 1997, Nakhlah ditunjuk menjadi Wakil Sekretaris Jenderal Jihad Islam setelah Mossad membunuh Fathi Syiqaqi di Malta.

Kantor PLO (Organisasi Pembebasan Palestina) di Ibu Kota Washington DC, Amerika Serikat. (plodelegation.org)

Amerika tutup kantor PLO di Washington

Penutupan kantor PLO ini terjadi sehari setelah peringatan 25 tahun penandatanganan surat pengakuan antara PLO dan Israel.

Pangeran Misyari bin Saud bin Abdul Aziz bersama putranya, Pangeran Turki, di resor ski Megeve, Prancis. (Mark Young/Saudi Bodyguard)

Girangnya bekerja dengan Pangeran Misyari

Saudara-saudara kandung Pangeran Misyari bin Saud iri karena mereka tidak memiliki pengawal pribadi seperti saya.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Rusaknya Aston Martin milik Pangeran Mansur bin Saud

"Allah telah menghukum Pangeran Mansur lantaran telah mengeluarkan pernyataan menghina kepada saya ketika saya sudah menolong korban kecelakaan di pantai," kata Mark Young.

29 September 2018

TERSOHOR