buku

Uang darah warisan syuhada

Arab Bank dituduh suka menyantuni keluarga pengebom bunuh diri Palestina.

23 Mei 2015 07:02

Pagi indah pada pertengahan Mei 2003 di Kota Hebron, Tepi Barat. Bassam Takruri tampil rapih berseragam sekolah dengan sepatu mengkilat. Pukul sepuluh dia pamit kepada ayahnya memberi dia bekal sepuluh shekel. Segalanya berjalan normal.

Pemuda 18 tahun itu berambisi menjadi insinyur. Ayahnya menyebut dia sebagai putra terbaik. Malam terakhir sebelum bertindak, Bassam menghabiskan waktu di luar rumah. Ini merupakan kebiasaan para calon pengebom bunuh diri buat mengurangi tekanan dan rasa gugup, seperti dikutip dari buku Gaza: Simbol Perlawanan dan Kehormatan karya Faisal Assegaf (terbitan Hamaslovers, Agustus 2014).

Besok paginya, Bassam sudah berada di bagian utara Yerusalem. Dia menyamar menjadi orang Yahudi dari kelompok ultra-ortodoks. Dia mengenakan kippah dan jas panjang berwarna hitam. Dia berlari mengejar bus nomor 6 baru saja meninggalkan halte bus French Hill. Sang sopir menghentikan laju kendaraannya dan membukakan pintu buat Bassam.

Polisi bekas anggota unit antiteror di kantor kepolisian Yerusalem, Steve Averbach, langsung mencurigai Bassam lantaran jenggot palsunya terlalu tipis. Dia bergegas bangkit dari tempat duduk dan berjalan menghampiri Bassam. Bassam jauh lebih gesit. Dia segera meledakkan bom terlilit di pinggangnya. Bassam terbunuh dan Averbach luka serius.

Beberapa pekan setelah kejadian itu, seorang lelaki menghubungi rumah orang tua Bassam. Dia mengaku dari Muassafat Usar asy-Syuhada atau Organisasi Keluarga Syuhada. Dia mengatakan kepada ibunya Bassam, mereka mendapat santunan dikirim lewat Arab Bank.

Pihak keluarga bingung dengan kabar itu, namun mereka mengerjakan juga perintah penelepon. Setelah membuka rekening di bank itu, uang dijanjikan diterima. Selama lebih dari setahun kemudian, mereka mendapat transfer US$ 200 saban bulan.

Arab Bank termasuk lembaga keuangan terbesar dan terpenting di dunia Arab. Bank swasta berkantor pusat di Ibu Kota Amman, Yordania, ini memiliki lebih dari 600 cabang di 30 negara. Keluarga Abdul Hamid Shoman merupakan pendiri masih menguasai 40 persen saham.

Bank ini sudah lama dicurigai mendanai para pejuang di Palestina dan memberikan asuransi bagi keluarga pengebom bunuh diri. Besarnya santunan hingga US$ 5 ribu. Kerabat cukup menunjukkan surat kematian di kantor cabang Arab Bank di Palestina. Selepas itu dana santunan bakal mereka terima tiap bulan. Calon pengebom bunuh diri juga bisa mempersiapkan lebih dulu soal ini sebelum melaksanakan misi mereka. Mulai surat kematian hingga rekening Arab Bank.

Serangan bunuh diri oleh Bassam Takruri terbilang dahsyat saat itu. Dia membawa beberapa kilogram bahan peledak di pinggangnya. Kekuatan bom itu melontarkan bus dari jalanan. Tujuh orang meninggal dan 20 lainnya cedera.

Menurut Gary Osen, pengacara asal Kota New Jersey, Amerika Serikat, uang darah ini biasa dikumpulkan di Arab Saudi lalu dikirim ke Tepi Barat dan Gaza lewat kantor Arab Bank cabang New York. Dana santunan ini kebanyakan dari Komite Intifadah Al-Quds, lembaga amal dipimpin Pangeran Nayif. “Komite ini tidak lebih dari organisasi penyandang dana buat menyokong perlawanan Palestina,” katanya. Osen bekerja di sebuah firma hukum mewakili 200 klien warga Amerika tewas akibat serangan di Israel.

Namun seorang juru bicara komite itu menampik tuduhan mereka menyokong pengebom bunuh diri. Mereka mengaku bekerja sama dengan organisasi resmi di Palestina dan sejumlah kementerian terkait.

Keterangan ini terbantahkan oleh iklan di surat kabar Palestina Al-Quds terbitan November 2001. Dalam pariwara ini, Komite Intifadah Al-Quds menampilkan daftar orang Palestina cedera, di penjara Israel, dan nama-nama pengebom bunuh diri. Keluarga mereka diminta membuka rekening di kantor cabang Arab Bank terdekat buat menerima sumbangan dari lembaga itu.

Iklan serupa muncul tiga bulan kemudian di koran Al-Hayat al-Jadidah. Pihak kerabat disuruh mendatangi kantor Arab Bank untuk menerima total santunan US$ 5.316 tiap keluarga. Komite mengeluarkan US$ 1.594.980 bagi sekitar 300 keluarga Palestina.

Pihak bank mengaku tidak mengetahui ada transaksi buat keluarga pengebom bunuh diri Palestina. “Bank kami tidak ada hubungannya dengan pendanaan teror,” ujar Bob Chlopak, juru bicara Arab Bank di Amerika Serikat.

Dalam beberapa penyisiran di Tepi Barat pada 2003, pasukan Israel menemukan bukti sejumlah organisasi di Saudi memakai Arab Bank buat mentransfer dana ke Hamas dan Jihad Islam. Menurut dokumen Arab Bank ditemukan dalam penyerbuan itu, bantuan fulus ini dikirim melalui kantor Arab Bank New York ke Tulkarim Charitable Society memiliki hubungan dengan Hamas.

Jamal Takruri, ayah Bassam, tengah duduk di sofa ruang tamu rumahnya di kawasan Ras al-Jura, Hebron, saat ditemui Der Spiegel. Lelaki mungil ini berwajah ramah. Di dinding tergantung foto Bassam.

Sejak Bassam meledakkan diri, keluarganya menetap di sebuah apartemen kecil. Israel merobohkan rumah mereka beberapa pekan setelah peristiwa itu. Apartemen ini pemberian dari Organisasi Keluarga Syuhada.

Jamal tidak pernah mempersoalkan apakah dia memang seharusnya menerima uang asuransi dikirim lewat Arab Bank itu. “Kami memerlukan duit itu,” katanya seraya menyalakan rokok. “Kami tidak mempunyai rumah lagi.”

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Ditolak masuk diskotek karena tidak mau beri tip

Di dua kunjungan berikutnya ke klub malam Regine's, saya tidak memberikan uang dan di lawatan ketiga, kami dilarang masuk dengan alasan ada pesta tertutup.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Tawaran seks dari Puteri Sita

Puteri Sita, anak dari mendiang Raja Saud bin Abdul Aziz, menawarkan seks kepada pengawal pribadinya tapi ditolak.

Pangeran Misyari bin Saud bin Abdul Aziz bersama putranya, Pangeran Turki, di resor ski Megeve, Prancis. (Mark Young/Saudi Bodyguard)

Pangeran Misyari menjadi pelit

Pangeran Misyari meminta Mark menurunkan gajinya 30 persen dan dia setuju. Dua tahun kemudian, Mark minta kenaikan gaji tapi ditolak.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Jam tangan Cartier hadiah dari Pangeran Misyari

"Saya tidak dapat menghitung lagi sudah berapa banyak dia bercinta dengan gadis-gadis muda."





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Ditolak masuk diskotek karena tidak mau beri tip

Di dua kunjungan berikutnya ke klub malam Regine's, saya tidak memberikan uang dan di lawatan ketiga, kami dilarang masuk dengan alasan ada pesta tertutup.

02 Maret 2019

TERSOHOR