buku

Berkuasa di Gaza

Menurut seorang peneliti Jerman, Hamas tersohor di kalangan rakyat Palestina karena kerja profesional dan berintegritas.

30 Mei 2015 06:33

Seorang juru kamera stasiun televisi Al-Jazeera memperingatkan saya agar tidak berbicara sembarangan. "Kamu jangan bertanya di mana markas dan tempat latihan Brigade Izzudin Al-Qassam. Bisa-bisa kamu ditangkap," katanya usai meliput Emir Qatar Syekh Hamad bin Khalifah meresmikan proyek pembangunan rumah sakit di Kota Gaza, akhir Oktober 2012. "Di sini banyak intel Hamas."

Hamas kian menancapkan kekuasaannya di Jalur Gaza setelah pemerintahan bersama dengan Fatah bubar pertengahan Juni 2007. Awal tahun sebelumnya, kelompok garis keras ini memenangkan pemilihan umum kedua sejak Otoritas Palestina berdiri. Hamas meruntuhkan dominasi partai bikinan mendiang Yasir Arafat telah berkuasa empat dekade itu, seperti dikutip dari buku Gaza: Simbol Perlawanan dan Kehormatan karya Faisal Assegaf (terbitan Hamaslovers, Agustus 2014).

Perebutan kekuasaan di Gaza antara Hamas dan Fatah melalui pertumpahan darah berbulan-bulan. Dalam laporan tahunannya, the Palestinian Independent Commission for Citizens’ Rights menyebutkan sejak Hamas menang pemilu, 616 orang terbunuh dalam pertempuran antara dua faksi terbesar di Palestina itu.

Perang saudara ini tidak hanya terjadi di Gaza. Saling serang, tangkap, dan jarah juga berlangsung di Tepi Barat, wilayah memang dikontrol Fatah. Hamas akhirnya benar-benar berkuasa penuh di Gaza pada Kamis, 14 Juni 2007, setelah pasukan keamanan mereka menduduki kantor Presiden Otoritas Palestina Mahmud Rida Abbas dan mengusir kepala keamanan Gaza Muhammad Dahlan.

Seorang anggota Brigade Izzudin al-Qassam bercanda dengan berlagak menelepon ke Amerika Serikat dari meja kerja Abbas. "Halo Condoleezza Rice (menteri luar negeri Amerika Serikat). Anda harus berunding dengan saya sekarang, Abu Mazin (sapaan Mahmud Abbas) tidak ada lagi di sini," ujar lelaki bertopeng dan bersenjatakan AK-47 ini.

Di hari itu, Khalid Misyaal bersama sejumlah pejabat Hamas lainnya di Ibu Kota Damaskus, Suriah, gigih berupaya menghubungi para pentolan Hamas di Gaza. Namun usaha mereka gagal. Mungkin telepon para pemimpin Hamas di Gaza tidak aktif. "Untuk pertama kali selama menjabat kepala biro politik Hamas, Misyaal merasa kehilangan kontrol sama sekali," tulis Azzam Tamimi dalam buku Hamas: A History from Within. Misyaal benar-benar terkejut. Dia tidak mempercayai apa yang sedang terjadi. Tidak ada keputusan atau rencana buat mengambil alih Gaza.

Bagi Hamas, sekarang saatnya mengakhiri ketiadaan hukum, kejahatan, korupsi, dan campur tangan Amerika di Gaza. Hamas dan para pengikutnya menyebut dengan istilah "Al-Hasym" berarti ketegasan. Namun Fatah bersama dua negara sponsor mereka, Amerika dan Israel, menuding Hamas telah melakukan kudeta (Al-Inqilab) terhadap pemerintahan sah.

"Kami mengatakan kepada rakyat kami, era lama telah berakhir dan tidak akan kembali," tutur Islam Syahawan, juru bicara Hamas. "Zaman keadilan dan hukum Islam telah tiba."

Sejak saat itu, pemerintahan Perdana Menteri Ismail Haniyah pelan-pelan menerapkan syariat Islam. Menurut Hiba Ziad, warga Kota Gaza, semua perempuan, mulai gadis remaja, mesti mengenakan busana muslimah saat berada di luar rumah. Kebanyakan berabaya hitam dipadu jilbab warna putih atau lainnya. Hamas melarang diskotek, bar, bioskop, dan kolam renang. Pelacuran, narkotik, dan minuman beralkohol juga diharamkan.

Kaum hawa juga tidak boleh mengendarai motor atau dibonceng oleh lelaki bukan muhrim. Sekolah mulai dipisah antara kelas lelaki dan perempuan, demikian pula guru mengajar. Pertunjukan musik dibedakan pula: lelaki hanya boleh menyaksikan penyanyi pria dan penonton perempuan cuma bisa melihat penampilan penyanyi perempuan. Wanita tidak boleh pula mengisap syisya di tempat-tempat umum. Tukang cukur lelaki tidak boleh melayani perempuan.

Aturan berpakaian secara islami juga berlaku di pantai. Wanita tetap harus menutup aurat dan lelaki dewasa mesti mengenakan celana hingga di bawah lutut. Bahkan ada aturan pria tidak boleh berambut gondrong. Hamas menerjunkan polisi syariah untuk mengawasi pelaksanaan syariat Islam itu.

Pihak-pihak tidak suka dengan penerapan syariat Islam di Gaza menuding Hamas menekan masyarakat dan menghalangi kebebasan individu. Jonathan Schanzer, ahli Timur Tengah dari lembaga riset the Foundation for Defence of Democracies, menulis dua tahun setelah Hamas berkuasa penuh, Gaza seperti wilayah dikuasai Taliban.

Menurut Mukhaimar Abusada, professor ilmu politik dari Universitas Al-Azhar, Kota Gaza, Hamas bisa memaksakan konsep mereka kepada semua orang. "Islamisasi masyarakat selalu menjadi bagian dari strategi Hamas," katanya.

Namun yang saya saksikan syariat Islam versi Hamas tidak serupa dengan konsep diterapkan Taliban. Milisi Islam radikal pernah berkuasa di Afghanistan ini melarang perempuan bersekolah atau bekerja. Awal Oktober 2012, milisi Taliban berupaya membunuh pelajar putri Pakistan Malala Yousafzai karena berani mengecam kebijakan mereka.

Sedangkan perempuan-perempuan Gaza masih bebas berkegiatan, termasuk ke sekolah atau bekerja di lingkungan berbaur dengan lelaki. Meski berabaya, gadis-gadis remaja tetap bisa tampil modis dengan riasan wajah, celana jins, dan sepatu kets. Kebanyakan generasi muda Gaza juga akrab dengan media sosial, seperti Facebook dan Twitter.

Pemimpin senior Hamas di Gaza Mahmud Zahar menegaskan tidak ada yang salah dengan penerapan syariat Islam. Alasannya, Islam mengatur segala sendi kehidupan masyarakat demi terciptanya keamanan, ketertiban, dan kesejahteraan. Dia membantah pemerintah Hamas memaksakan pula hukum-hukum Islam terhadap kaum minoritas Nasrani. "Saya malah heran kenapa Indonesia sebagai negara berpenduduk Islam terbesar dan dipimpin seorang muslim tidak menerapkan syariat Islam," ujarnya.

Zahar tidak asal bicara. Hamas memang berupaya memerintah dengan baik dan melayani masyarakat. Sejak organisasi ini berdiri, mereka telah aktif membangun masjid, panti yatim, sekolah, sarana olah raga, permukiman, klinik, dan rumah-rumah sakit. Pada 2012, anggaran belanja Hamas, kata ketua komite anggaran parlemen Jamal Nasar, berjumlah US$ 769 juta, naik seperempat ketimbang tahun sebelumnya.

Amerika Serikat dan Israel boleh saja mencap Hamas sebagai organisasi radikal dan teroris. Namun tiap organisasi bantuan internasional memuji kinerja Hamas dalam membantu kaum papa di Gaza. Helga Baumgarten, pengajar di Universitas Birzeit, Kota Ramallah, Tepi Barat, mengungkapkan laporan tahunan the International Crisis Group pada 2003 memberikan angka sempurna bagi kerja Hamas.

Dia yakin ada dua faktor mempengaruhi keberhasilan Hamas, yakni kerja profesional badan-badan sosial Hamas dan integritas mereka. "Dalam kenyataannya, semua penelitian menyimpulkan Hamas beroperasi tanpa jejak korupsi," tutur Baumgarten. "Ini membuat penduduk menghargai dan menghormati mereka bertahun-tahun."

Itidal Sinati, janda tujuh anak dari kamp Jabaliya, termasuk yang merasakan kasih sayang Hamas. Kisahnya bermula di satu malam pada Maret 2003. Sejumlah helikopter tempur Israel menggempur wilayah itu. Suaminya, Muhammad, bersama beberapa tetangga pria keluar buat melihat kerusakan akibat serangan udara itu. Ternyata misi negara Zionis itu belum selesai. Muhammad menjadi korban tewas selanjutnya.

"Suami saya bukan pendukung Hamas, dia penyokong Fatah," kata Itidal saat ditemui di kediamannya, sebuah gubuk terdiri dari dua kamar tidur. Di pojok ruangan, seorang pamannya sakit jiwa kadang tertawa sendiri dan menarik selimut menutupi kepala. "Namun tanpa Hamas kami tidak bisa selamat. Bahkan dengan dukungan mereka pun, kami hidup serba kesulitan."

Hamas memberikan santunan bagi janda syuhada (orang Palestina dibunuh oleh militer Israel) 100 euro saban tiga bulan. Untuk sebuah keluarga besar di Gaza, bantuan ini tidak cukup buat hidup sehari-hari. "Jadi Hamas mengadopsi anak-anak saya," ujar Itidal.

Dia mendapat tambahan 15 euro per bulan untuk tiap anaknya. Mereka juga belajar gratis di sekolah bikinan Hamas. "Saya memilih bulan sabit pada pemilihan Januari," tuturnya merujuk pada pemilu 25 Januari 2006 dimenangkan Hamas. Bulan sabit adalah lambang Hamas.

Putra sulungnya telah mencoba seragam pasukan keamanan Fatah milik mendiang ayahnya. Tapi dia ingin membela Hamas lantaran selama ini membantu keluarganya. "Saya belum akan mengizinkan dia bergabung dengan milisi. Usianya baru 15 tahun. Dia bisa melakukan itu ketika berumur 20 tahun," kata Itidal.

Bukan sekadar santunan buat membantu janda-janda korban keganasan Israel. Hamas kerap menggelar pernikahan massal gratis bagi mereka atau pasangan dari keluarga miskin. Pada pertengahan Juli 2009, acara ini dilangsungkan di sebuah pantai di Kota Gaza.

Kawin massal ini berjalan sederhana. Tidak ada tenda mewah atau hiburan. Hiasan terlihat cuma spanduk berlambang Hamas. Maklum, seluruh ongkos perhelatan itu ditanggung oleh At-Taisir, lembaga sosial bentukan Hamas. Bahkan tiap mempelai lelaki memperoleh US$ 2.800.

Para janda Gaza itu juga tidak memakai busana pengantin. Mereka hanya mengenakan abaya dan jilbab serba hitam. Kebanyakan sudah memiliki anak ikut mendampingi bersama kerabat dan kenalan lainnya. Anak lelaki mengenakan setelan hitam dan perempuan bergaun putih. Para pengantin massal ini masih muda, paling tua berusia seperempat abad.

Seratus janda itu dinikahi oleh adik ipar mereka alias turun ranjang. "Saya percaya saya memang orang harus merawat istri kakak saya dan anak-anak mereka," ujar seorang pengantin pria menolak ditulis namanya kepada surat kabar the Gulf Times.

At-Taisir dibentuk pada 2007 juga bertindak seperti biro jodoh. Institusi ini membantu kaum perempuan mencari pasangan. "Ini adalah visi dari kerja kemanusiaan kami," tutur Direktur At-Taisir Wail Zard. "Ini membuat rakyat dekat kepada Hamas dan bikin Hamas akrab dengan rakyat."

Kebanyakan perempuan ikut program kontak jodoh ini merahasiakan hal itu dari pihak keluarga. Sebab yang mereka lakukan melanggar tradisi. Sesuai kebiasaan di Gaza dan kebanyakan orang Arab, perempuan menikah dengan jalan dijodohkan oleh orang tua.

Tahani termasuk dalam 287 wanita mendaftar di At-Taisir pada 2008. Ketika itu usianya sudah 29 tahun, terbilang perawan tua buat ukuran masyarakat Gaza. Ibunya meninggal ketika dia masih remaja. Tapi tidak ada satu pun kerabatnya mau membantu mencarikan suami buat dirinya. "Saya menatap semua lelaki di jalan dan berpikir, 'Ya Allah, tidak adakah satu pria untukku?'" tutur perempuan berkulit gelap dan bermata coklat madu ini.

Biaya mencari idaman hati ini antara US$ 10-US$ 70, tergantung kualitas daya tarik mereka. Perempuan di bawah 25 tahun ongkosnya lebih murah ketimbang yang telah berumur kepala tiga. Mereka harus mengisi semua data dan menerangkan secara rinci soal penampilan fisik mereka.

Ada satu pertanyaan mematikan: "Apakah menurut Anda, Anda cantik sesuai standar Gaza?" Pria Gaza menyukai perempuan bertubuh tinggi, berkulit coklat muda, bermata biru atau hijau, dan berambut pirang. Namun kebanyakan wanita Gaza berkulit sawo matang dan berambut hitam.

Bukan sekadar kerja sosial membikin pamor Hamas kian terangkat. Prinsip tidak mau mengakui Israel dan bahkan berambisi melenyapkan negara Bintang Daud itu kerap mendatangkan acungan jempol dari warga Gaza. Tembakan roket ke wilayah Israel atau bahkan perang dilakoni Hamas seolah bukti rakyat Palestina belum habis meski selama ini ditindas dan dihina.

Popularitas Hamas naik menjadi 37 persen setelah berhasil mencapai kesepakatan pertukaran tahanan dengan Israel pada Oktober 2011. Meski begitu, menurut jajak pendapat dibuat oleh the Palestinian Centre for Policy and Survey Research, jika pemilu digelar hari itu, Fatah akan menang dengan perolehan suara 43 persen. Sedangkan perkiraan suara Hamas tetap 29 persen sesuai survei sebelumnya.

Kesepakatan ini menjadi tamparan besar buat Israel karena sejak negara itu berdiri baru kali ini mereka berkorban banyak. Satu serdadu, Gilad Shalit, telah disekap lebih dari lima tahun, ditukar dengan 1.027 tahanan Palestina. Namun pemimpin senior Hamas di Gaza Mahmud Zahar berkali-kali meyakinkan saya, tawanan Palestina dibebaskan berjumlah 1.050.

Kesohoran Fatah menanjak lantaran sebulan sebelumnya Presiden Otoritas Palestina Mahmud Rida Abbas membuat gebrakan membikin geram Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Abbas meminta kepada Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengakui Palestina sebagai negara.

Bagi Amerika dan Israel, kemerdekaan dan kedaulatan Palestina hanya boleh dicapai lewat perundingan. Boleh jadi Abbas sudah frustasi lantaran tidak ada kemajuan dalam pembicaraan damai selama ini. Upayanya itu berhasil setahun kemudian. Sidang Majelis Umum PBB pada akhir November 2012 memberi pengakuan terhadap negara Palestina.

Gambaran lain terlihat dalam perang delapan hari berlangsung pada pertengahan November 2012. Untuk pertama kali roket M-75 bikinan Hamas berhasil mencapai Ibu Kota Tel Aviv dan dekat Yerusalem. Ada kebanggaan akan hal itu. Harkat dan martabat penduduk Gaza terangkat dengan kemampuan M-75. Rudal ini memiliki jarak tembak 75 kilometer.

Sampai-sampai selepas perang, parfum berlabel M-75 laris di Gaza. Parfum ini tersedia dalam aroma jeruk, jeruk limun, dan wangi lainnya asli dari Gaza. Berat tiap botol dua ons (tersedia warna hitam dan hijau) seharga US$ 13, sepersepuluh dari pendapatan bulanan rata-rata warga Gaza. "Wanginya enak dan menarik seperti rudal-rudal para pejuang Palestina, khususnya M-75," kata Shadi Adwan, pemilik Stay Stylish, perusahaan kosmetik pembuat minyak wangi M-75, kepada surat kabar Ar-Risalah.

Tidak hanya berkuasa penuh di Gaza, Mahmud Zahar mengklaim Hamas begitu tersohor di sana. "Kalau kamu bertanya kepada orang Fatah, pasti mereka jawab tidak. Tapi jika kamu menanyakan warga di jalan, mereka akan bilang mencintai Hamas."

Dua bocah perempuan tengah melintas di depan tembok sebuah rumah bolong-bolong terkena peluru Israel di Jabaliya, Jalur Gaza, 27 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Sokongan Mesir dan Iran

"Iran sangat berkomitmen terhadap Hamas. Mereka membiayai sayap militer dan pemerintahan Hamas," kata Ahmad Yusuf, penasihat Ismail Haniyah.

Putra dari Jamal, nelayan di Kota Gaza, ini tengah menikmati sarapan berupa roti isi ikan sardencis kecil dan terasa pahit di sebuah pantai di Kota Gaza, Kamis, 25 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Masa depan Gaza

Ada lima faktor utama menentukan masa depan Gaza: komitmen dan soliditas Hamas, rekonsiliasi nasional, blokade Israel, sokongan Mesir dan Iran, serta perubahan tatanan global.

Pendiri sekaligus pemimpin senior Hamas di Jalur Gaza Mahmud Zahar tengah memegang senapan AK-47 milik mendiang putranya, Husam, di rumahnya, Kota Gaza, Rabu, 24 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Terlahir di tengah intifadah

Dalam pertemuan malam itu, ketujuh pemimpin Al-Ikhwan mengambil keputusan bersejarah mengubah organisasi itu menjadi gerakan perlawanan disebut Harakat al-Muqawamah al-Islamiyah atau disingkat Hamas.

Kepala Biro Politik Hamas Khalid Misyaal saat diwawancarai Faisal Assegaf dari Albalad.co di Ibu Kota Kuala Lumpur, Malaysia, November 2013. (faisal assegaf/albalad.co)

Menantang kuasa Hamas di Gaza

Gerakan Tamarod di Gaza gagal menggelar unjuk rasa besar-besaran anti-Hamas.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Bekerja lagi untuk Pangeran Misyari

Mark Young tidak bisa merayakan Natal bersama keluarganya pada 1982 karena harus menemani Pangeran Misyari membeli vila di Marbella.

09 Juni 2018

TERSOHOR