buku

Terlahir di tengah intifadah

Dalam pertemuan malam itu, ketujuh pemimpin Al-Ikhwan mengambil keputusan bersejarah mengubah organisasi itu menjadi gerakan perlawanan disebut Harakat al-Muqawamah al-Islamiyah atau disingkat Hamas.

13 Juni 2015 07:05

Rabu malam, 9 Desember 1987. Tujuh pemimpin senior Al-Ikhwan al-Muslimun di Jalur Gaza berkumpul di rumah Syekh Ahmad Yasin, Distrik Sabra, Kota Gaza. Selain tuan rumah, ada Abdul Aziz Rantisi, Salah Mustafa Syihadah, Abdul Fatah Dukhan, Muhammad Syam’ah, Ibrahim al-Yazuri, dan Isa an-Nashar.

Paginya mereka menyuruh seluruh staf dan mahasiswa Universitas Islam Gaza, salah satu lembaga milik kelompok Al-Ikhwan, berunjuk rasa. Kumpulan orang dalam jumlah sangat besar kemudian muncul di sekitar Rumah Sakit Syifa. Hingga malam, banyak yang masih antre buat mendonorkan darah mereka, seperti dikutip dari buku Gaza: Simbol Perlawanan dan Kehormatan karya Faisal Assegaf (terbitan Hamaslovers, Agustus 2014).

Sehari sebelumnya demonstrasi diwarnai bentrokan pecah di seantero Gaza.  Tentara Israel menembaki rakyat Palestina melempari mereka dengan batu, botol, dan bom molotov. Intifadah pertama pecah setelah tiga warga Gaza tewas dan tujuh lainnya cedera akibat ditabrak truk militer negara Zionis itu.

Dalam pertemuan malam itu, ketujuh pemimpin Al-Ikhwan mengambil keputusan bersejarah mengubah organisasi itu menjadi gerakan perlawanan disebut Harakat al-Muqawamah al-Islamiyah (Gerakan Perlawanan Islam) atau disingkat Hamas. Menurut bahasa Arab, Hamas berarti taat dan semangat di jalan Allah. Rantisi mengumumkan ke publik soal pembentukan Hamas lima hari kemudian.

Musab, putra pemimpin senior Hamas di Tepi Barat Syekh Hasan Yusuf, memiliki kisah berbeda mengenai sejarah pembentukan Hamas. Menurut dia, organisasi ini didirikan pada 1986 dalam sebuah pertemuan rahasia dan bersejarah di Kota Hebron, Tepi Barat. Rapat itu dihadiri oleh Syekh Ahmad Yasin, Muhammad Jamal an-Natshih dari Hebron, Jamal Mansyur (Nablus), Syekh Hasan Yusuf, Mahmud Muslih (Ramallah), Jamil Hamami (Yerusalem), dan Aiman Abu Taha (Gaza).

Mereka sepakat untuk melancarkan perlawanan sipil dengan melempar batu dan membakar ban bekas. "Tujuan mereka buat membangkitkan, menyatukan, menggerakkan rakyat Palestina, serta membuat mereka memahami pentingnya kemerdekaan di bawah panji Allah dan Islam," katanya.

Pemimpin senior Hamas di Gaza Mahmud Zahar menegaskan cerita versi Musab itu keliru. "Dia itu pengkhianat. Ceritanya bohong dan itu hanya propaganda Israel. Hamas dibentuk pada Desember 1987," ujarnya.

Bagi rakyat Palestina, khususnya Hamas, Musab memang pengkhianat. Dia menjadi informan Shin Beth (dinas rahasia dalam negeri Israel) selama 1997-2007. "Saya menjelaskan kepada dia (Syekh Hasan Yusuf), saya pernah bekerja buat Shin Beth sepuluh tahun," tutur Musab saat berbicara dengan ayahnya lewat telepon. Syekh Hasan saat itu mendekam di Penjara Ketziot, Gurun Negev, selatan Israel.

Bahkan dia sudah berpindah agama menjadi pemeluk Nasrani. Dia kini tinggal di Amerika Serikat dan mengubah namanya menjadi Joseph. "Saya memberitahu mengenai hal ini kepada wartawan Haaretz Avi Issacharoff menulis artikel mengenai saya akhir Juli 2008."

Perubahan dari Al-Ikhwan menjadi Hamas bukan tiba-tiba. Ketujuh pemimpin senior Al-Ikhwan itu telah merintis selama sepuluh tahun. "Meski begitu, mereka sebelumnya tidak memberi ancang-ancang apa yang mereka rencanakan begitu lama akan dilaksanakan pada waktu atau momen saat itu," tulis Azzam Tamimi dalam buku Hamas: A History from Within.

Penderitaan rakyat Palestina di Gaza kian berat sejak 1977, setelah Juni tahun itu, Partai Likud berhaluan keras berkuasa di Israel buat pertama kali. Apalagi Presiden Mesir Anwar Sadat lima bulan kemudian berkunjung ke Yerusalem dan berpidato di depan Knesset (parlemen Israel). Ini merupakan pukulan telak bagi bangsa Palestina mengharapkan saudara tua mereka, Mesir, berperan menyelamatkan mereka dari penindasan dan membebaskan seluruh wilayah Palestina dari jajahan Israel.

Jauh sebelum Sadat berkuasa, kebanyakan rakyat Palestina telah memperkirakan Mesir akan membebaskan mereka seperti janji pendahulu Sadat, Jamal Abdul Nasir. Komitmen itu dilanggar setelah Perjanjian Camp David ditandatangani pada 1979. Mesir ternyata hanya ingin menguasai lagi Semenanjung Sinai telah direbut Israel sejak 1956. Sinai kembali menjadi hak Mesir tiga tahun setelah perjanjian damai pertama antara Israel dan negara Arab itu berlaku.

Yang terjadi memang bertolak belakang. Setelah Israel mencaplok Gaza pada 1967, perekonomian daerah ini berkembang pesat. Para pekerja Palestina bebas melintasi Israel. Mereka memperoleh bayaran memuaskan. Di sisi lain, banyak warga Israel datang ke Gaza buat berbelanja. Barang-barang di sana bebas pajak dan tidak terkena bea masuk. Warga Gaza dan Tepi Barat juga mudah saling mengunjungi. Orang-orang Israel keturunan Arab tidak dipersulit memasuki kedua daerah itu. Ini sering dimanfaatkan buat reuni keluarga.

Namun lama-lama Israel mulai menampakkan belang aslinya sebagai penjajah. Setelah Likud naik ke tampuk kekuasaan, mereka membangun permukiman Yahudi pertama di Gaza. Setelah frustasi dengan netralitas Mesir dalam konflik Arab-Israel, penduduk Gaza membayar mahal harga perdamaian antara Mesir dan Israel.

Sehabis mundur dari Sinai, Israel menempatkan pasukan mereka dalam jumlah besar di Gaza. Sebab Gaza telah menjadi perbatasan antara Israel dan Mesir. Para pekerja Palestina, termasuk dari Gaza, mulai menerima perlakuan diskriminatif dan terhina oleh Israel. Ketika Ariel Sharon menjadi menteri pertahanan Israel pada 1981, dia menerjunkan pasukan parasut – oleh rakyat Palestina disebut baret merah – dengan perintah mengintimidasi dan menghina warga Palestina membantu gerakan perlawanan.

Sudah menjadi kebiasaan, pasukan Israel membangun pos-pos pemeriksaan untuk menghentikan para pengguna kendaraan dan pejalan kaki, terutama pelajar dan mahasiswa. Mereka ditodong dan menjadi sasaran penghinaan secara fisik dan lisan tanpa alasan jelas.

Gaza akhirnya menjadi sebuah penjara raksasa. Warganya tidak bisa bebas ke Mesir atau Tepi Barat. Israel juga membatasi jumlah pekerja asal Gaza boleh mencari nafkah di negara itu. Bahkan lebih memalukan lagi, banyak warga Gaza terpaksa menjadi kuli bangunan untuk mendirikan permukiman-permukiman warga Yahudi di wilayah itu.

Faktor-faktor inilah memicu meletupnya intifadah pertama. "Namun bukan faktor menyebabkan kemunculan Hamas meski dua kejadian ini berlangsung bersamaan," ujar Azzam Tammi. Para pemimpin Al-Ikhwan di Gaza hanya memanfaatkan rasa frustasi dan kemarahan rakyat Palestina telah menumpuk akibat perlakuan semena-mena Israel.

Menurut Tamimi, hanya sedikit anggota Al-Ikhwan mengetahui keputusan perubahan menjadi Hamas ini telah berlaku satu dasawarsa sebelumnya. "Bahkan lebih sedikit lagi yang sadar keputusan itu hasil koordinasi dengan pelbagai sayap Al-Ikhwan Palestina di Gaza, Tepi Barat, Yordania, dan diaspora lainnya."

Al-Ikhwan al-Muslimun dibentuk oleh guru sekolah dasar Hasan al-Banna pada 1928 di Kota Ismailiya, Mesir. Gerakan ini berkembang pesat. Setahun kemudian, Al-Ikhwan memiliki empat cabang di Mesir, 15 cabang pada 1932. Jumlahnya melonjak enam tahun berselang menjadi 300 dan lebih dari dua ribu kantor cabang di seantero Negeri Piramida itu pada 1948. Di Mesir saja sampai 1945, Al-Ikhwan memiliki sejuta anggota aktif. Antara 1946 hingga 1948, kantor Al-Ikhwan dibuka di Palestina, Sudan, Irak, dan Suriah.

Al-Ikhwan mempunyai dua tujuan jangka panjang, yakni membebaskan seluruh negara berpenduduk mayoritas muslim dari penjajahan Barat, kemudian mendirikan negara Islam di negara-negara itu. Soal nilai moral dan intelektual, Al-Banna banyak dipengaruhi oleh pemikiran Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Rida. Soal kolonialisme, dia terinsipirasi oleh Jamaluddin al-Afghani, Mustafa Kamil, dan Syakib Arsalan.

Organisasi ini akhirnya membuka beberapa cabang di Gaza, Jaffa, dan Haifa, sedangkan kantor pusat Al-Ikhwan Palestina diresmikan di Kota Yerusalem pada 6 Mei 1946. Berdirinya negara Israel membuat Al-Ikhwan terpecah dua: satu di Gaza di bawah kendali rezim militer Mesir dan satu lagi di Tepi Barat dikontrol oleh Kerajaan Transyordania.

Seiring bertambahnya cabang di Palestina, Al-Ikhwan menggelar konferensi di Yerusalem, akhir Maret 1946. Pertemuan ini bertujuan menyatukan dan mengkoordinasi semua upaya menghadapi proyek Zionis. Dalam konferensi kedua di Kota Haifa, Oktober 1947, mereka mengumumkan akan memakai segala cara dan bekerja sama dengan semua pihak melawan upaya Zionis mendirikan negara di wilayah Palestina.

Para pemimpin Al-Ikhwan di Gaza sadar ketidakpedulian dan kurangnya komitmen terhadap Islam merupakan ancaman terbesar bagi masyarakat. Cuma moralitas berdasarkan Islam membuat penduduk Gaza tanpa pekerjaan dan fulus bisa menolak tawaran kehidupan nyaman, pekerjaan bagus, izin keluar negeri buat bekerja atau belajar asal mau bekerja sama dengan Israel.

"Israel tidak akan bisa mengontrol wilayah jajahannya tanpa bersekongkol dengan sejumlah warga Palestina," kata Azzam Tamimi. Negara Zionis ini memang memiliki kebijakan menjadikan sebanyak mungkin orang Palestina sebagai informan dan mata-mata mereka. Jerat biasa digunakan buat merekrut para pengkhianat Palestina berupa uang, narkotik, seks, dan intimidasi.

Dua bocah perempuan tengah melintas di depan tembok sebuah rumah bolong-bolong terkena peluru Israel di Jabaliya, Jalur Gaza, 27 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Sokongan Mesir dan Iran

"Iran sangat berkomitmen terhadap Hamas. Mereka membiayai sayap militer dan pemerintahan Hamas," kata Ahmad Yusuf, penasihat Ismail Haniyah.

Putra dari Jamal, nelayan di Kota Gaza, ini tengah menikmati sarapan berupa roti isi ikan sardencis kecil dan terasa pahit di sebuah pantai di Kota Gaza, Kamis, 25 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Masa depan Gaza

Ada lima faktor utama menentukan masa depan Gaza: komitmen dan soliditas Hamas, rekonsiliasi nasional, blokade Israel, sokongan Mesir dan Iran, serta perubahan tatanan global.

Kepala Biro Politik Hamas Khalid Misyaal saat diwawancarai Faisal Assegaf dari Albalad.co di Ibu Kota Kuala Lumpur, Malaysia, November 2013. (faisal assegaf/albalad.co)

Tumbal demokrasi Palestina

Israel bersama Amerika Serikat menolak kemenangan Hamas dalam pemilihan umum 25 Januari 2006.

Anak-anak Gaza berkeliling menggunakan gerobak keledai saat perayaan Idul Adha di Kota Gaza, Jumat, 26 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Sahabat pena dari Gaza

Berbeda pandangan soal konflik Palestina dan Israel namun sama-sama menyukai karya Shakespeare.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Rusaknya Aston Martin milik Pangeran Mansur bin Saud

"Allah telah menghukum Pangeran Mansur lantaran telah mengeluarkan pernyataan menghina kepada saya ketika saya sudah menolong korban kecelakaan di pantai," kata Mark Young.

29 September 2018

TERSOHOR