buku

Rekonsiliasi sebatas gambar

Bandar Udara Yasir Arafat di Gaza sudah tidak bisa dipakai lagi sejak dibom Israel pada 2001.

03 Januari 2015 07:21

Saya akhirnya tiba di Rafah, Jalur Gaza, dan langsung menaiki taksi telah menunggu di luar mulut terowongan. Uang sewa taksi berupa Mercedes usang ini seratus shekel atau sekitar US$ 30. Kami bergegas melaju menuju Kota Gaza.

Luas Jalur Gaza hanya setengah lebih sedikit ketimbang Jakarta. Membentang sekitar 36 kilometer dari Rafah (selatan) hingga Erez (utara). Dari barat ke timur lebarnya sepuluh kilometer. Wilayah berpenduduk  hampir 1,7 juta jiwa ini berbatasan dengan Mesir di bagian barat daya serta Israel di sebelah utara dan timur, seperti dikutip dari buku berjudul Gaza: Simbol Perlawanan dan Kehormatan karya Faisal Assegaf (terbitan Hamaslovers, Agustus 2014).

Sepanjang setengah jam perjalanan melintasi Jalan Salahuddin, kami melewati Bandar Udara Internasional Yasir Arafat. Sebelumnya bernama Bandara Internasional Gaza dan Bandara Internasional Dahaniya. Menurut situs gazaairport.com, Lapangan terbang dibangun dengan anggaran US$ 86 juta ini diresmikan pada November 1988. Namun 13 tahun kemudian, Israel menggempur Bandara Yasir Arafat sehingga tidak bisa dipakai lagi.

Bandara Yasir Arafat melayani 700 ribu penumpang saban tahun. Sebanyak enam maskapai, termasuk Palestinian Airways, pernah beroperasi di sana. Perusahaan milik Otoritas Palestina dan beroperasi sejak 1937 ini membuka 70 rute penerbangan. Bahkan hingga Bangkok (Thailand) serta Washington D.C. dan New York (Amerika Serikat).

Saya juga melewati poster mendiang pemimpin PLO (Organisasi Pembebasan Palestina) sekaligus Presiden Otoritas Palestina Yasir Arafat. Barangkali ini satu-satunya lambang terkait Fatah – musuh bebuyutan Hamas – masih tersisa. Gambar Arafat ini dilengkapi pula slogan bertulisan, “Mimpi saya belum lengkap tanpa kamu, Yerusalem.”

Setelah revolusi meletup di Mesir, Februari 2011, demonstrasi pecah di Gaza menuntut dua faksi terbesar di Palestina itu berdamai. Sejumlah penggiat politik muda membikin sebuah poster bergambar pemimpin Hamas almarhum Syekh Ahmad Yasin berdampingan dengan Arafat. Gambar ini didirikan sekitar tiga kilometer dari poster Arafat. Namun hingga kini, sejumlah perundingan ditengahi Mesir masih mandek. Gambar serupa juga terlihat di sebuah jalan di Kota Gaza.

Di sisi Jalan Salahuddin juga berdiri papan iklan produk-produk buatan Amerika, seperti Coca Cola dan Pepsi Cola. Minuman ringan ini dan terakhir – makanan cepat saji Kentucky Fried Chicken – masuk ke Gaza diselundupkan lewat terowongan. Masih di jalan yang sama, pinggiran Kota Gaza, terpampang foto besar mantan Emir Qatar Syekh Hamad bin Khalifah, kini digantikan putranya, Syekh Tamim bin Hamad.

Syekh Hamad menjadi pemimpin Arab pertama melawat ke Gaza sejak wilayah ini diblokade. Dia berkunjung ke sana buat meresmikan beberapa proyek bantuan Qatar senilai US$ 400 juta. Di antaranya rekonstruksi Jalan Salahuddin, pembangunan rumah sakit dan sejumlah perumahan murah buat warga miskin. Dia datang Oktober 2012.

“Kunjungan ini akan dan seharusnya mendorong pemimpin Arab lain buat datang, khususnya Presiden Mesir (Muhammad Mursi), untuk memberikan pengaruh buat mendobrak blokade dilancarkan Israel dan Amerika Serikat setelah kami menang pemilihan umum Januari 2006,” kata pemimpin sekaligus salah satu pendiri Hamas Mahmud Zahar.

Saya kemudian sampai di Hotel Al-Mathaf telah dipesan oleh Zahar. Tarif per kamar US$ 80 tiap malam. Namun karena saya dianggap tamu resmi Hamas, dapat diskon US$ 30. Tamu saat itu tidak banyak, rata-rata relawan asing dan wartawan. Bedanya dengan kebanyakan hotel di Jakarta, Al-Mathaf tidak dilengkapi masjid, apalagi musala. Hotel tanpa kolam renang ini milik Jawdat N. Khoudari, salah satu saudagar paling tajir di seantero Gaza. Dari perusahaan konstruksinya saja, Saqqa & Khoudary, dia meraup pendapatan US$ 15 juta saban tahun.

Kamar saya tempati nyaman dengan fasilitas seperti penginapan berbintang lima: kamar mandi dilengkapi bak berendam dan pancuran, penyejuk udara, ranjang empuk muat dua orang, meja kerja, televisi layar datar berukuran 29 inchi, lemari pakaian. Pemandangan sangat indah lantaran jendela kamar saya menghadap ke arah pantai. Dari sini saya bisa melihat surya terbit dan terbenam, serta Masjid Al-Khalidi sedang dibangun.

Masjid ini milik Abdul Aziz al-Khalidi, termasuk orang terkaya di Gaza. Rumahnya persis di depan Al-Mathaf, juga di seberang pantai. Jika dibanding kebanyakan bangunan flat dan rumah di sana, kediaman dua lantai kepunyaan Khalidi persis istana. “Mungkin masjid ini selesai dibangun tahun depan (2013),” kata seorang pekerja saya temui di sana.

Al-Mathaf hanya berjarak sekitar 200 meter dari Al-Mashtal, hotel berbintang lima pertama di Gaza. Bangunan sepuluh lantai dan terdiri dari 270 kamar ini mulai beroperasi Juli 2011. Tarif rata-rata tiap kamar US$ 100. Emir Qatar Syekh Hamad bin Khalifah bersama rombongan datang ke Gaza menginap di sana.

Seperti hotel-hotel lainnya di Gaza, Al-Mashtal  juga tidak menyediakan minuman beralkohol. Hotel ini memiliki sebuah kolam renang. Tamu lelaki dan perempuan memiliki jadwal terpisah untuk berenang di sana.

Dua bocah perempuan tengah melintas di depan tembok sebuah rumah bolong-bolong terkena peluru Israel di Jabaliya, Jalur Gaza, 27 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Sokongan Mesir dan Iran

"Iran sangat berkomitmen terhadap Hamas. Mereka membiayai sayap militer dan pemerintahan Hamas," kata Ahmad Yusuf, penasihat Ismail Haniyah.

Putra dari Jamal, nelayan di Kota Gaza, ini tengah menikmati sarapan berupa roti isi ikan sardencis kecil dan terasa pahit di sebuah pantai di Kota Gaza, Kamis, 25 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Masa depan Gaza

Ada lima faktor utama menentukan masa depan Gaza: komitmen dan soliditas Hamas, rekonsiliasi nasional, blokade Israel, sokongan Mesir dan Iran, serta perubahan tatanan global.

Kepala Biro Politik Hamas Khalid Misyaal saat diwawancarai Faisal Assegaf dari Albalad.co di Ibu Kota Kuala Lumpur, Malaysia, November 2013. (faisal assegaf/albalad.co)

Tumbal demokrasi Palestina

Israel bersama Amerika Serikat menolak kemenangan Hamas dalam pemilihan umum 25 Januari 2006.

Abdul Ghani, putra dari mendiang Syekh Ahmad Yasin, di rumahnya di Kota Gaza, 24 Oktober 2012, menunjukkan jubah dipakai saat Syekh Yasin tewas terkena hantaman peluru kendali Israel. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Jasa Israel dalam pembentukan Hamas

Negara Bintang Daud ini meyakini Syekh Yasin hanya mengajarkan soal Al-Quran, bukan mengajak warga Gaza melawan Israel.





comments powered by Disqus