buku

Firasat syahid Jabari

Setelah pembebasan Gilad Shalit, panglima Brigade Al-Qassam Ahmad al-Jabari selalu berbicara soal mati syahid.

04 Juli 2015 03:29

Kibbutz Karem Shalom pantas buat tempat berkemah saat liburan. Dihiasi deretan kebun kurma dan pepohonan hijau lainnya, komunitas pertanian Yahudi ini berskala kecil. Penghuninya cuma 30 orang dewasa dan 25 anak.

Wilayah di pojokan Israel ini sangat strategis. Karem Shalom – orang Palestina menyebut Karim Abu Salim – menjadi titik temu antara Israel, Mesir, dan Jalur Gaza. Israel hanya mengizinkan semua barang perdagangan atau bantuan kemanusiaan keluar masuk Gaza melalui perlintasan Karem Shalom sehingga mudah diawasi secara ketat, seperti dikutip dari buku Gaza: Simbol Perlawanan dan Kehormatan karya Faisal Assegaf (terbitan Hamaslovers, Agustus 2014).

Karena posisinya di perbatasan, negara Zionis itu membangun tembok perbatasan dan pos militer dilengkapi menara pemantau dan pelbagai alat pengintai berteknologi mutakhir. Konon perlengkapan intelijen Israel bisa memastikan siapa saja keluar masuk tiap rumah di seantero Gaza. Namun peralatan mata-mata canggih Israel gagal mendeteksi kegiatan tidak lazim berlangsung beberapa pekan dan mungkin hitungan bulan di sekitar sebuah bangunan tak dikenal dekat perbatasan.

Peringatan bakal ada serangan diterima Shin Beth (dinas rahasia dalam negeri Israel) dari jaringan informan mereka di Gaza. Meski disebutkan ada penggalian terowongan, saat disampaikan ke unit pasukan perbatasan, pesan itu dianggap tidak penting.

Memang benar. Hamas bekerja sama dengan Komite Perlawanan Rakyat dipimpin Jamal Abu Samhadana dan milisi lainnya tengah menggali sebuah terowongan untuk misi sangat penting. Hamas menyewa sebuah tim khusus biasa menggali terowongan menghubungkan Gaza dan Mesir.

Namun tugas mereka kali ini membangun terowongan hingga masuk ke dalam wilayah Israel. Dalamnya sampai delapan meter, mereka harus menggali sejauh 366 meter untuk sampai ke pagar pembatas. Mereka terus menggali sampai tepi kibbutz Karem Shalom sepanjang 274 meter. Terowongan itu harus cukup lebar untuk dilewati orang dewasa dan persenjataan.

Langit masih gelap menjelang subuh, 25 Juni 2006. Delapan pejuang Palestina berseragam loreng menyusup ke dalam terowongan itu dengan sekotak amunisi dan senjata. Sekitar pukul 5:30 mereka muncul tepat di belakang sebuah tank Israel.

Empat serdadu berada dalam tank itu. Sejumlah tentara lainnya di atas menara pengintai setinggi hampir 23 meter. Sebuah truk pengangkut pasukan sengaja diparkir sebagai perangkap kalau ada serangan.

Delapan orang itu lantas menyebar menjadi tiga kelompok. Kemudian terdengar suara tembakan saat dua pejuang Palestina menyerbu menara pengawas, dua lainnya menyasar truk pengangkut personel, dan empat lagi menyerbu tank memakai granat tangan. Unit tempur lainnya dari pagar batas sebelah Gaza menembakkan roket anti-tank.

Dua tentara Israel, Letnan Hanan Barak dan Sersan Staf Pavel Slutzker, terbunuh dan yang ketiga cedera setelah sejumlah granat tangan meledak dalam tank. Kru tank keempat, Kopral Gilad Shalit, 19 tahun, ditangkap setelah keluar dari dalam tank dengan kedua tangan diangkat ke atas. Dua pejuang Palestina tewas.

Mereka yang tersisa bergegas menyeret Shalit ke pagar batas. Bahu dan tangan kirinya luka, tapi dia masih mampu berjalan ke arah lubang pagar pembatas akibat diledakkan. Enam pejuang Palestina dengan Shalit sebagai tawanan berhasil kembali ke Gaza. Operasi militer itu berjalan hanya enam menit.

Israel tidak sekadar syok dan histeris, tapi juga murka. Para pejabat senior negara itu mengancam tidak akan memaafkan Hamas sampai mereka melepaskan Shalit dalam keadaan selamat.

Sejumlah nama muncul sebagai sasaran pembunuhan, termasuk komandan Brigade Izzudin al-Qassam Ahmad al-Jabari. Bahkan namanya sudah masuk dalam target serangan setengah tahun sebelum Shalit diculik.

Lelaki kelahiran Kota Gaza pada 1960 ini diyakini bertanggung jawab terhadap peningkatan kekuatan militer Hamas. Dia adalah orang yang membantu Brigade Al-Qassam memperoleh roket dan mendorong anak buahnya untuk kian meningkatkan serangan roket ke Israel.

Jabari berganti haluan dari Fatah ke Hamas saat mendekam 13 tahun di penjara Israel. Di dalam sana, sarjana sejarah lulusan Universitas Islam Gaza ini bertemu sejumlah pentolan Hamas, seperti  Abdul Aziz Rantisi, Ismail Shanab, Nizar Rayyan, dan Salah Syihadah kemudian menjadi mertuanya.

Menurut Yoav Galant, ditunjuk sebagai kepala Komando Wilayah Selatan akhir 2005, Jabari merupakan target masuk akal. Dia adalah orang pertama menyodorkan rencana membunuh Jabari. Usulan itu dia sampaikan pertama kali kepada panglima militer Israel Letnan Jenderal Dan Halutz, lalu kepada penggantinya Gabi Ashkenazi.

Beberapa tahun sebelum Shalit ditawan, Jabari bukan hanya ancaman bagi Israel. Dia juga menjadi duri untuk sayap politik Hamas. Ismail Haniyah, Mahmud Zahar, dan pemimpin Hamas lainnya sedikit lambat menyadari Jabari memiliki agenda sendiri.

Dia tidak mau berkonsultasi dengan mereka sebelum membuat keputusan penting, seperti gencatan senjata dan penculikan serdadu Israel. Ketika berusia 46 tahun atau tiga tahun setelah memimpin Brigade Al-Qassam, Jabari biasa disapa Abu Muhammad menjadi orang paling berkuasa di Gaza.

Penangkapan Shalit bisa saja digagalkan kalau pasukan khusus Israel tidak menunda sehari rencana menangkap aktivis Hamas Mustafa Muammar dan kakaknya di kediaman mereka, sebelah timur Rafah. Shin Beth meyakini Muammar mempunyai informasi penting mengenai rencana Hamas dalam waktu segera.

Sehabis dibekuk Sabtu pagi, Muammar diserahkan ke Shin Beth. Besoknya, beberapa jam sesudah Shalit dicokok, dia memberitahu penyidik akan ada misi menculik tentara Israel di perbatasan. Sayang, pengakuan ini kadung terlambat.

Ahad pagi, tidak lama setelah Shalit ditangkap, Galant bersama kepala intelijen militer Amos Yadlin tiba di perlintasan Karem Shalom. Komandan Divisi Gaza Brigadir Jenderal Aviv Kochavi juga sudah ada di sana. Galant mengatakan kepada para peserta rapat, Haniyah dan Zahar harus segera dibunuh tanpa diberi peringatan. Yadlin tidak sepakat, namun Galant terus mendesak idenya itu kepada Halutz melalui telepon. Halutz juga menolak proposal ini meski Galant meyakinkan pesan harus segera dikirim kepada Hamas soal harga mesti dibayar atas penculikan serdadu Israel.

Galant berulang kali menyuarakan gagasan itu. Para pemimpin politik Hamas dan pentolan Brigade Al-Qassam, seperti Muhammad Sinwar, Raid al-Attar, Marwan Isa, dan tentu saja Jabari, harus menjadi target serangan. Sejumlah pejabat senior Shin Beth, termasuk Yitzhak Ilan, berpihak kepada Galant.

Gabi Ashkenazi kemudian ditunjuk sebagai panglima militer Israel menggantikan Dan Halutz pada awal 2007. Sebagian menilai dia kurang suka dengan misi membunuh para pemimpin Hamas. "Dia ingin damai dan tenang," kata seorang pejabat senior militer Israel. Namun yang lain menilai Ashkenazi kerap memerintahkan operasi rahasia berisiko tinggi buat mencari tahu lokasi penyekapan Shalit.

Setelah Hamas berkuasa penuh di Gaza pertengahan Juni 2007, perundingan untuk membebaskan Shalit dihentikan. Kepala intelijen Mesir Umar Sulaiman selama ini menjadi perantara memutuskan memboikot Hamas setelah tempat menginap delegasi intelijen Mesir diserbu. Tapi di saat yang sama, Shin Beth akhirnya memperoleh dua petunjuk penting soal Jabari dan tempat penahanan Shalit.

Kelemahan Jabari adalah dua istrinya. Dia kerap mengunjungi istrinya di rumah. Namun dia tidak memperhitungkan risiko keselamatannya lantaran menganggap situasi cukup aman sehabis tercapainya tahadiya atau kesepakatan gencatan senjata pada pertengahan 2008. Dia tidak mau dikawal pasukannya buat menghindari kecurigaan mata-mata Israel. Dia memilih naik mobil pribadi bersama satu atau dua pengawal.

Petunjuk penting kedua adalah mengenai keberadaan Shalit. Sejak Shalit ditawan, Shin Beth mencurigai beberapa tempat dijadikan lokasi penyanderaan. Tapi sebagian besar pejabat Shin Beth meyakini sebuah rumah. Saking yakinnya, selama perang 22 hari berakhir Januari 2009, jet-jet tempur Israel tidak membombardir areal di mana rumah itu berada.

Dalam wawancara pertama setahun setelah dibebaskan, Shalit mengungkapkan kepada stasiun televisi Israel Channel 10, dia disekap dalam sebuah ruangan tanpa jendela di satu flat kecil. Dia bisa mendengar kebisingan jalan dan kadang terlalu berisik sehingga mampu membangunkan dia dari tidur.

Buat mengisi hari-harinya, menggunakan pulpen dan kertas pemberian penyekap, dia menulis daftar tim olahraga favorit dan orang-orang tinggal di kotanya. Kadang dia bermain bola basket memakai sepasang kaus kaki dan kotak sampah.

Dia mengakui para penculiknya itu memperlakukan dia dengan baik. Mereka bermain catur bareng. Dia juga dibiarkan menonton pertandingan sepak bola dan mendengarkan siaran radio. Dalam beberapa kesempatan Shalit dan anggota Hamas penyekapnya – berjenggot dengan senapan AK-47 – bahkan tertawa bersama. "Saya pernah ngobrol dengan mereka. Ada momen-momen kami berbincang dan tertawa," kata Shalit.

Dia mengatakan pernah dilatih menghindari upaya penculikan, namun dia tidak menganggap serius ancaman itu. "Saya berpikir tidak seorang pun bisa masuk ke dalam tank dan menculik saya."

Israel memiliki alasan kuat kenapa mereka tidak melancarkan misi buat membebaskan Shalit dari rumah itu. Gaza dikenal sebagai basis anti-Israel sejak intifadah pertama. Di sana juga terdapat ribuan pejuang bersenjata anggota pelbagai organisasi.

Selain itu, permukiman padat dengan jalan selebar satu mobil bakal menyulitkan tim kabur dari sana. "Operasi militer dalam kamp pengungsi tidak hanya berakhir pada kematian Shalit, tapi juga membahayakan keselamatan tentara Israel," ujar wartawan senior Avi Issacharoff.

Apalagi Israel pernah memiliki pengalaman buruk saat membebaskan Nachshon Wachsman dari sekapan Hamas pada 1994. Serdadu dari Brigade Golani itu tewas bersama Kapten Nir Poraz. Tiga anggota Hamas juga terbunuh. Wachsman ditawan enam hari setelah diculik di simpang Bnai Atarot, Israel Tengah.

Ashkenazi akhirnya menyetujui gagasan Galant menculik Jabari pada 2008. Seorang pejabat Israel ikut dalam rapat membahas rencana penculikan Abu Muhammad mengakui itu bukan keputusan mudah. "Tidak ada jaminan dia bisa ditangkap dalam keadaan hidup. Kalaupun bisa, dia mungkin tidak akan buka mulut. Dia pernah mendekam di penjara Israel," tuturnya. Menteri Pertahanan Ehud Barak dan Perdana Menteri Ehud Olmert menyokong misi itu.

Setelah intelijen militer bersama Shin Beth mengumpulkan semua informasi diperlukan, tentara-tentara pilihan diambil dari berbagai unit pasukan elite dikumpulkan. Mereka kemudian mulai menjalani simulasi. D, komandan unit, bakal memimpin operasi dari sebuah titik tertentu di Gaza. D yang lain menjadi komandan lapangan.

Menurut sejumlah pejabat membantu menyusun rencana menangkap Jabari, kemungkinannya tinggi untuk membekuk sasaran. "Kami mempunyai semua peralatan militer buat memastikan dia tetap hidup saat disergap. Kami juga mampu membunuh para pengawalnya jika memang dibutuhkan," katanya.

Perintah menjalankan misi keluar. Namun ketika pasukan baru mulai bergerak, mereka disuruh balik ke Israel karena ada masalah. Beberapa hari kemudian operasi itu benar-benar dilaksanakan. Seluruh pejabat militer Israel berkumpul dalam ruang operasi Shin Beth di Ibu Kota Tel Aviv. Di antaranya Galant sebagai penanggung jawab misi, Kepala Staf Angkatan Udara Nimrod Shefer, Barak, Ashkenazi, dan Direktur Shin Beth Yuval Diskin.

Pasukan itu tiba di Gaza pukul sembilan malam. Jabari tidak berlaku aneh malam itu. Galant memerintahkan operasi dilanjutkan. Jabari diperkirakan tiba di lokasi penyergapan dalam beberapa menit. Ketegangan memuncak di Tel Aviv. Barak dan Ashkenazi kelihatan berharap-harap cemas.

Mobil ditumpangi Jabari mendekati tempat pasukan Israel menunggu. Rupanya sang sopir berbalik arah dan mengambil rute lain sehingga menjauh dari tim penculik Jabari. Misi itu gagal. Pasukan Israel pulang selamat.

Frustasi tidak ada perkembangan dalam pembahasan pertukaran tawanan, dua tahun kemudian Israel mengirim pesan ultimatum kepada Jabari lewat dua anggota senior Hamas di tahanan, yakni Yahya Sinwar (kakak dari Muhammad Sinwar, salah satu komandan Brigade Al-Qassam) dan Syekh Hasan Yusuf. Isinya jika Hamas tetap pada tuntutan mereka, tidak akan ada perjanjian pertukaran tawanan.

Jabari menyerah. Dia menghapus orang-orang dianggap teroris paling berbahaya oleh Israel, seperti Marwan dan Abdullah Barghuti, serta Abbas as-Sayid, dari daftar tawanan Palestina mesti dilepas. Hamas dan Israel akhirnya sepakat bertukar tawanan: Gilad Shalit dengan 1.027 orang Palestina. Namun berkali-kali Mahmud Zahar meyakinkan saya tawanan Palestina dilepaskan berjumlah 1.050.

Setelah 1.941 hari dalam sekapan, Gilad Shalit kembali ke kediaman orang tuanya, Selasa, 18 Oktober 2011. "Saya senang jika semua tawanan Palestina bebas sehingga mereka bisa pulang ke orang-orang tercinta, tanah air, dan keluarga mereka. Saya sangat gembira bila ini terwujud," kata Shalit dalam wawancara pertamanya setelah bebas. "Saya berharap kesepakatan akan membantu tercapainya perdamaian antara Israel dan Palestina serta kerja sama kedua pihak bakal kuat."

Harapan Shalit hampa. Ahmad al-Jabari dianggap bertanggung jawab atas penculikannya mati setahun kemudian. Dengan berkemeja lengan pendek, celana jins, dan kaca mata di kantong baju, dia ikut mengantar Shalit ke perbatasan Rafah. Itu kemunculan pertamanya di hadapan publik. Sejak saat itu foto dan rekaman video dirinya tersebar luas.

Padahal, menurut sejumlah orang kepercayaannya, lelaki beristri dua dan beranak dua lusin ini sangat memperhatikan keselamatannya. "Dia bergerak sangat hati-hati tanpa pengawalan atau konvoi. Dia tidak memiliki telepon seluler," ujar seorang teman dekatnya kepada kantor berita AFP.

Bagi Jabari, kesepakatan itu seperti vonis mati bagi dirinya. "(Setelah itu) dia selalu berbicara soal mati syahid, namun dia merasa Israel menunggu hingga Shalit dibebaskan," ujar seorang ajudannya kepada kantor berita Reuters.

Menurut cerita seorang wartawan di Gaza, maut itu datang pada Selasa, pertengahan November 2012, saat Honda Civic abu-abu dia tumpangi bersama putranya melaju di Jalan Bioskop, Kota Gaza, sekitar pukul lima sore. Rupanya mobil itu sudah dalam bidikan jet tempur Israel.

Dalam hitungan detik, rudal meluncur dan menghantam sasaran. Ledakan hebat terjadi. Mobil nahas itu hancur dan dua penumpangnya tewas di lokasi. Mayat mereka langsung dilarikan ke Rumah Sakit Syifa.

Jabari memang menjalani hidup seperti syuhada menunggu maut.

Dua bocah perempuan tengah melintas di depan tembok sebuah rumah bolong-bolong terkena peluru Israel di Jabaliya, Jalur Gaza, 27 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Sokongan Mesir dan Iran

"Iran sangat berkomitmen terhadap Hamas. Mereka membiayai sayap militer dan pemerintahan Hamas," kata Ahmad Yusuf, penasihat Ismail Haniyah.

Seorang perempuan melewati poster Syekh Ahmad Yasin (pendiri Hamas) dan Yasir Arafat (pendiri Fatah) di sebuah jalan di Kota Gaza. Kedua faksi ini masih berseteru. (www.haaretz.com)

Rekonsiliasi nasional

"Mereka (Fatah) adalah penghambat bagi perjuangan untuk membebaskan semua wilayah Palestina dari penjajahan Israel," kata Mahmud Zahar.

Putra dari Jamal, nelayan di Kota Gaza, ini tengah menikmati sarapan berupa roti isi ikan sardencis kecil dan terasa pahit di sebuah pantai di Kota Gaza, Kamis, 25 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Masa depan Gaza

Ada lima faktor utama menentukan masa depan Gaza: komitmen dan soliditas Hamas, rekonsiliasi nasional, blokade Israel, sokongan Mesir dan Iran, serta perubahan tatanan global.

Kepala Biro Politik Hamas Khalid Misyaal saat diwawancarai Faisal Assegaf dari Albalad.co di Ibu Kota Kuala Lumpur, Malaysia, November 2013. (faisal assegaf/albalad.co)

Tumbal demokrasi Palestina

Israel bersama Amerika Serikat menolak kemenangan Hamas dalam pemilihan umum 25 Januari 2006.





comments powered by Disqus