buku

Hengkang dari Gaza

David Ben Gurion pernah bilang, "Gaza tidak akan bisa kita kuasai meski kita serbu seribu kali."

18 Juli 2015 05:31

Di sinilah gagasan penarikan sepihak Israel dari Jalur Gaza muncul. Ide itu dilontarkan Gilad, putra bungsu dari Perdana Menteri Israel Ariel Sharon, dalam pertemuan sambil makan malam di kawasan peternakan keluarga Sharon, selatan Israel, Oktober 2003. Gilad duduk di samping ayahnya. Hadir pula Reuven Adler, Dubi Weissglass, Eyal Arad, Yoram Raved, dan Omri (kakak kandung Gilad).

Menurut Gilad, alasan keamanan – serangan roket, mortir, bom pinggir jalan, dan penembak runduk - menyebabkan rakyat Israel membenci Gaza. Mereka tidak mau tinggal di sana, menolak ditugaskan di sana, tidak ingin menanggung risiko untuk mempertahankan Gaza. "Dalam jangka panjang kita atau mereka tidak akan hidup di sana. Kita tidak bisa hidup bersama," kata Gilad kepada ayahnya, seperti dikutip dari buku Gaza: Simbol Perlawanan dan Kehormatan karya Faisal Assegaf (terbitan Hamaslovers, Agustus 2014).

Dia melanjutkan perlu sebuah pendekatan unilateral tanpa memperhitungkan apakah itu bagus atau buruk bagi rakyat Palestina. "Yang penting baik buat kita." Sharon tertarik dengan pendapat Gilad dan meminta dia menuangkan pemikiran itu dalam sebuah tulisan.

Dubi Weissglass, kepala staf Sharon sekaligus penanggung jawab atas hubungan dengan Amerika Serikat, kelihatan tertarik dengan usulan penarikan sepihak dari Gaza itu. Namun Eyal Arad buru-buru menyergah. "Anda mungkin bisa melakukan itu, tapi tidak dengan pemerintahan (Israel) sekarang."

Ketika menjabat menteri pertanian dan ketua Komite Permukiman, Sharon menawarkan kepada para pemukim Yahudi di Gaza pindah ke Gurun Negev di selatan Israel. Dia telah menyiapkan areal sangat luas dengan pasokan jutaan meter kubik air. Alhasil, rencana memindahkan pemukim Yahudi sudah lama ada dalam pikiran Sharon. Yang baru adalah proyek itu dilakukan sepihak tanpa perlu persetujuan Palestina.

Kurang dari sebulan kemudian, Gilad dua kali menyampaikan usulan tertulisnya. Yang terakhir lebih rinci. Sharon memberikan komentar dan menulis sejumlah pertanyaan di pinggiran kertas.

Tiga hari berselang, 17 November 2003, Sharon melawat tiga hari ke Italia. Sharon mengundang Elliot Abrams, pejabat senior di Dewan Keamanan Nasional Amerika, bertemu secara rahasia di hotel tempat dia menginap. Dia membahas rencana penarikan mundur dari Gaza untuk pertama kali. Sharon lantas mengirim Weissglass ke Washington D.C. untuk bertemu penasihat keamanan nasional Amerika Condolezza Rice dan Abrams.

Hasilnya Amerika percaya gagasan itu tidak akan bertentangan dengan Peta Jalan Damai bikinan kuartet (Amerika, Rusia, Perserikatan Bangsa-Bangsa, Uni Eropa) atau mengganggu proses perdamaian di masa depan. "Rencana itu bakal meningkatkan posisi Israel (di mata masyarakat internasional)," tulis Gilad dalam buku Sharon: The Life of a Leader.

Sharon mengumumkan rencana penarikan mundur itu setelah menjelaskan pentingnya Peta Jalan Damai dalam Konferensi Herzliya. "Tujuan dari rencana ini adalah untuk mengurangi serangan teror sebanyak mungkin dan menjamin keamanan tingkat maksimal bagi warga Israel...serta meminimalkan konflik antara Israel dan Palestina," kata Sharon.

Para pemimpin dunia menyambut positif gagasan mundur dari Gaza itu. Sepekan setelah serangan bunuh diri di atas sebuah bus di Yerusalem, awal Februari 2004, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Kofi Annan menelepon Sharon. "Saya tahu ini isu kontroversial tapi saya percaya inisiatif ini akan membantu memecahkan kebuntuan dalam proses perdamaian dan bakal mendorong semua pihak kembali ke meja perundingan."

Dua bulan kemudian giliran Perdana Menteri Inggris Tony Blair menghubungi Sharon sehabis berbicara dengan Presiden George Walker Bush melalui telepon. "Setelah Anda umumkan rencana itu di Washington, semua orang akan menyokong dan mendesak Palestina menjamin sektor keamanan," ujar Blair.

Tibalah saatnya bagi Sharon mengumumkan secara resmi kepada dunia soal ide penarikan itu pada pertengahan April 2004 setelah bertemu Bush. Kedua pemimpin saling bertukar surat. Selain menyatakan dukungan terhadap rencana Sharon ini, Bush menegaskan tiga hal: menolak hak pulang bagi pengungsi Palestina, pengakuan atas permukiman Yahudi di Tepi Barat, dan menolak ide kembali ke garis gencatan senjata 1949.

Presiden Otoritas Palestina Mahmud Abbas bersama Perdana Menteri Ahmad Quraia sama-sama kecewa dengan sikap Bush itu. "Bush adalah presiden pertama mengakui permukiman (Yahudi di Tepi Barat) sah," tutur Abu Alaa, sapaan Quraia. Padahal menurut PBB, semua permukiman Yahudi di sana melanggar hukum internasional.

Selang sebulan, Amerika, Rusia, PBB, dan Uni Eropa menyatakan dukungan terhadap proposal penarikan sepihak Israel dari Gaza. Meski begitu, Sharon menerima penolakan keras dari dalam partainya. Hasil referendum menunjukkan 59 ribu anggota Likud menolak rencana itu dan 40 ribu mendukung.

Setelah disetujui kabinet, Knesset (parlemen Israel) mengadakan pemungutan suara atas rencana itu pada akhir Oktober 2004. Benjamin Netanyahu ikut menyusun proposal bersama tiga menteri lainnya – Limor Livnat, Yisrael Katz, dan Dani Naveh – tiba-tiba mengajukan syarat. Harus ada referendum nasional, kalau tidak mereka menolak rencana penarikan mundur ini.

Netanyahu mengajak Sharon bertemu buat membahas ultimatum itu, namun Sharon menolak. "Setelah pemungutan suara," kata Sharon kalem.

Ketika voting akan dimulai, Netanyahu bersama tiga pendukungnya itu keluar dari ruangan. Dia berdiri di koridor dan dikerubuti wartawan. Dia kelihatan gelisah dan berkeringat. Sedangkan Sharon duduk dengan percaya diri mendengarkan pendapat dari anggota Knesset. Netanyahu bersama tiga rekannya baru masuk di pemungutan suara putaran kedua. Mereka lantas mendukung rencana Sharon itu. "Inilah karakter Netanyahu sebenarnya. Dia pemberontak dan pengecut," tulis Gilad.

Knesset akhirnya mengesahkan rancangan penarikan mundur dari Gaza. Sebanyak 67 anggota menyetujui, 45 menolak, dan delapan politikus dari partai Arab abstain. Pelaksanaannya, diwarnai bentrokan dengan para pemukim Yahudi, berlangsung pada pertengahan Agustus 2005.

Barangkali Sharon meyakini pernyataan mendiang David Ben Gurion, perdana menteri pertama Israel, dalam sidang kabinet pertengahan Desember 1948. "Kita mungkin bisa untung kalau menaklukkan Jalur Gaza," katanya. "Tapi bagi saya jelas, Gaza tidak akan bisa kita kuasai meski kita serbu seribu kali."

Belakangan, saat memberikan sambutan dalam konferensi organisasi-organisasi Yahudi, Menteri Ekonomi Israel sekaligus pemimpin Partai Bayit Yehudi (Rumah Yahudi) Naftali Bennett menyesalkan keputusan Sharon itu. "Saya seorang pebisnis. Saya bisa katakan kepada Anda kerugian ekonomi karena Israel meninggalkan Gaza seribu kali lebih besar ketimbang Israel tetap di Gaza," ujarnya. Dia menjelaskan kerugian dimaksud adalah masyarakat menjadi sasaran serangan ribuan roket, ongkos membangun sistem pertahanan antirudal Iron Dome, dan korban tewas akibat serangan dari Gaza.

Lima bulan setelah penarikan itu, Sharon terserang stroke hingga terbaring koma dan akhirnya mengembuskan napas terakhir pada Januari 2014. Sedangkan Hamas kian perkasa sehabis menang pemilihan umum.

Anak-anak Gaza tengah bermain sepak bola di jalanan di kamp Syati, Gaza, Rabu, 24 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Perubahan tatanan global

Amerika paling getol menggunakan hak veto terhadap resolusi-resolusi mengecam Israel. Sejak 1972 hingga kini, Washington telah 42 kali memakai hak veto terkait isu Israel.

Dua bocah perempuan tengah melintas di depan tembok sebuah rumah bolong-bolong terkena peluru Israel di Jabaliya, Jalur Gaza, 27 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Sokongan Mesir dan Iran

"Iran sangat berkomitmen terhadap Hamas. Mereka membiayai sayap militer dan pemerintahan Hamas," kata Ahmad Yusuf, penasihat Ismail Haniyah.

Putra dari Jamal, nelayan di Kota Gaza, ini tengah menikmati sarapan berupa roti isi ikan sardencis kecil dan terasa pahit di sebuah pantai di Kota Gaza, Kamis, 25 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Masa depan Gaza

Ada lima faktor utama menentukan masa depan Gaza: komitmen dan soliditas Hamas, rekonsiliasi nasional, blokade Israel, sokongan Mesir dan Iran, serta perubahan tatanan global.

Pendiri sekaligus pemimpin senior Hamas di Jalur Gaza Mahmud Zahar tengah memegang senapan AK-47 milik mendiang putranya, Husam, di rumahnya, Kota Gaza, Rabu, 24 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Terlahir di tengah intifadah

Dalam pertemuan malam itu, ketujuh pemimpin Al-Ikhwan mengambil keputusan bersejarah mengubah organisasi itu menjadi gerakan perlawanan disebut Harakat al-Muqawamah al-Islamiyah atau disingkat Hamas.





comments powered by Disqus