buku

Masa depan Gaza

Ada lima faktor utama menentukan masa depan Gaza: komitmen dan soliditas Hamas, rekonsiliasi nasional, blokade Israel, sokongan Mesir dan Iran, serta perubahan tatanan global.

25 Juli 2015 04:28

Ancaman sekaligus peringatan itu muncul lewat laporan the United Nations Country Team akhir Agustus 2012. Jalur Gaza tidak layak lagi dihuni paling lambat dalam delapan tahun mendatang. Pada 2020, jumlah penduduk di sana bakal bertambah setengah juta orang.

Sebanyak 80 persen dari 1,6 juta warga Gaza saat ini menggantungkan hidup mereka dari bantuan kemanusiaan. Hanya seperempat dari air limbah bisa diolah, sisanya mengalir ke Laut Mediterania. "Tindakan perlu diambil sekarang terhadap aspek mendasar dari kehidupan: sanitasi air, listrik, pendidikan, kesehatan, dan bidang lainnya," kata koordinator kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa Maxwell Gaylard.

Dia menegaskan Gaza membutuhkan perdamaian dan keamanan agar bisa mengerek kualitas hidup warganya. "Itu berarti mengakhiri blokade, isolasi, dan konflik."

Saya melihat ada lima faktor utama mampu mencegah kesuraman membekap Gaza, yakni komitmen dan soliditas Hamas, rekonsiliasi nasional, blokade Israel, sokongan Mesir dan Iran, serta perubahan tatanan global, seperti dikutip dari buku Gaza: Simbol Perlawanan dan Kehormatan karya Faisal Assegaf (terbitan Hamaslovers, Agustus 2014).

Komitmen dan Soliditas Hamas

Barangkali wajar kita menyebut Gaza adalah Hamas dan Hamas adalah Gaza. Sebab Hamas lahir dan besar di daerah itu. Pengaruh mereka mencapai puncaknya setelah menang dalam pemilihan umum Januari 2006 dan setahun kemudian mendepak rezim Fatah keluar dari sana.

Hamas muncul dari ketidakpuasan atas Fatah bikinan mendiang Yasir Arafat dikenal korup, egois, dan hanya mementingkan diri sendiri. Seorang diplomat telah malang melintang di Timur Tengah bercerita Presiden Palestina sekaligus pemimpin Fatah Mahmud Abbas dikenal bergaya hidup mewah. Dia memiliki lima rumah mentereng. "Salah satunya rumah seharga US$ 1 juta di Amman (ibu kota Yordania)," katanya.

Seperti dilansir surat kabar the Sunday Times, Uni Eropa dalam laporannya menyebutkan korupsi dalam Otoritas Palestina telah menyebabkan hilangnya dana bantuan sekitar dua miliar euro ditransfer ke Tepi Barat dan Jalur Gaza selama 2008-2012. "Ini bukan laporan pertama mengenai korupsi di tubuh Otoritas Palestina karena tuduhan korupsi ini sudah muncul sejak otoritas ini didirikan." Banyak pejabat Otoritas Palestina terseret kasus korupsi selama masa kepemimpinan mendiang Yasir Arafat dan rezim saat ini dipimpin Mahmud Abbas.

Pada 15 Agustus 2003, koran Al-Quds al-Arabi menulis penasihat keuangan Arafat memiliki investasi senilai US$ 2 miliar. Dia kemudian memutuskan semua hubungan dengan Arafat dan menolak mengembalikan uang itu.

Bank Dunia melansir laporan tiga bulan kemudian berdasarkan data dari Dewan Legislatif Palestina dan Kementerian Keuangan Palestina. Mereka mencatat Arafat sejak menjabat presiden Otoritas Palestina pada 1994 mengalokasikan anggaran US$ 74 juta sesuai keinginannya dan kepada pihak mana saja dia pilih. Selama 1995-2000 sebanyak US$ 900 juta telah dikirim kepada pihak tidak diketahui dan Kementerian Keuangan Palestina tidak diberitahu bagaimana dana itu dipakai.

Pada 2004 harian Le Canard Enchaine menulis pengadilan di Prancis sedang menyelidiki sumber dana sembilan juta euro disimpan dalam dua rekening bank di Ibu Kota Paris atas nama Suha at-Tawil, istri Arafat.

Lantas pada Februari 2005 surat kabar Ar-Rai menuding Arafat mengirim fulus ke sejumlah rekening bank di luar negeri. The Sunday Times menyebutkan setelah suaminya wafat, Suha Arafat menerima kiriman 13 juta pound sterling dari Perdana Menteri Ahmad Quraia. Dana ini dia peroleh sebagai uang pensiun sebab dia bekerja di kantor Arafat sebelum keduanya menikah. Suha berhak atas fulus pensiun 300 ribu pound sterling saban tahun seumur hidup.

Dalam jumpa pers Februari 2006, Jaksa Agung Otoritas Palestina Ahmad al-Mughani menyatakan tengah menyelidiki 50 kasus manipulasi duit rakyat senilai US$ 700 juta, termasuk kasus penggelapan uang US$ 300 juta. Mereka yang terlibat adalah para pejabat senior Otoritas Palestina dan PLO (Organisasi Pembebasan Palestina).

Di bulan yang sama, sebuah media melaporkan penangkapan seorang pejabat senior Kementerian Keuangan Palestina ketika berusaha kabur ke Yordania membawa fulus US$ 100 juta. Istrinya juga dibekuk di perlintasan Rafah karena membawa lari duit dalam jumlah sangat besar.

Simak baik-baik komentar sumbang dua perempuan di Gaza sehari menjelang pelaksanaan pemilu kedua di Palestina. Menurut Nyonya Muhammad, selama sepuluh tahun bercokol di Otoritas Palestina, Fatah tidak berbuat banyak buat meningkatkan kesejahteraan rakyat di Tepi Barat dan Gaza. "Kami ingin memilih orang miskin seperti kami, yang perhatian terhadap kami," ujarnya. "Kami mesti mencoba Hamas. Kami tidak bisa mengatakan mereka lebih baik, tapi kami harus jajal."

Seorang ibu tujuh anak menolak ditulis namanya juga berpendapat serupa. "Saya muak dengan Fatah. Ada begitu banyak korupsi (selama mereka berkuasa)," tutur perempuan 35 tahun ini.

Sedari awal penggagas dan pendiri Hamas Syekh Ahmad Yasin menegaskan komitmennya untuk melayani rakyat Palestina serta membebaskan bangsa dan seluruh wilayah itu dari penjajahan Israel. Dimulai dengan dakwah dari masjid ke masjid, dia menyerukan penduduk Gaza kembali ke nilai-nilai Islam. Dia percaya moral dan kesalehan menjadi landasan utama dalam perjuangan jangka panjang menghadapi gerakan Zionis.

Namun Syekh Yasin tidak berhenti di situ. Dia mengupayakan kehidupan lebih baik bagi warga Gaza lewat layanan sosial, kesehatan, dan pendidikan gratis bagi warga Gaza. Dalam tiga dasawarsa saja sejak Al-Mujamma al-Islami berdiri, Hamas mampu membuat 16 taman kanak-kanak, 30 sekolah pendidikan Alquran, dan memasok fulus, pakaian, serta makanan bagi ribuan keluarga.

Pusat kegiatan Islam ini juga menyantuni lima ribu anak yatim. Anggaran tahunan mereka US$ 1 juta. "Kesederhanaan dan kejujuran adalah prinsip sangat bernilai dalam Islam," kata Direktur Al-Mujamma al-Islami Nidal Syabana.

Hamas juga menjadi pilihan membanggakan bagi rakyat Palestina. Mereka berhasil menegakkan harga diri bangsa Palestina di mata Israel lantaran tidak mau berkompromi seperti Fatah. Hamas yakin Israel tidak pernah serius untuk berunding. Kenyataannya memang begitu. Israel terus membunuh, menangkap, merampas tanah dan rumah warga Palestina, serta membatasi kegiatan mereka dengan membangun pos pemeriksaan, blokade jalan, tembok pemisah di Tepi Barat.

Hamas memang tidak mau mengulangi kesalahan Fatah berulang kali berunding dengan Israel tanpa hasil. "Kami tidak akan mengulangi proses setan itu karena Israel tidak berniat memberikan hak-hak rakyat Palestina," ujar salah satu pendiri sekaligus pemimpin senior Hamas di Gaza Mahmud Zahar. "Berunding dengan Israel bukan gaya kami."

Sebab, tujuan akhir mendirikan negara Palestina merdeka selalu terganjal pada tiga isu utama: batas wilayah, status Yerusalem Timur, dan pemulangan pengungsi Palestina. Israel selalu menolak tuntutan Palestina soal batas wilayah sebelum Perang Enam Hari, Juni 1967. Artinya negara Zionis itu bakal kehilangan wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza, termasuk Yerusalem.

Israel juga tidak akan melepaskan Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara Palestina. Ini bukan lantaran alasan sejarah atau agama terus menjadi perdebatan.

Israel sangat sadar Yerusalem Timur memiliki nilai ekonomi sangat tinggi. Karena itu, Israel secara sepihak telah mengklaim Yerusalem sebagai ibu kota abadi mereka dan tidak dapat dibagi dua dengan Palestina melalui Hukum Dasar Yerusalem disahkan Knesset (parlemen Israel) pada 1980. Di sini terdapat pusat ziarah bagi tiga agama, yakni Islam (Masjid Al-Aqsa), Yahudi (Tembok Ratapan), dan Nasrani (Gereja Makam Yesus).

Posisinya mirip Makkah dan Madinah bagi kaum muslim. Karena itu, jutaan orang saban tahun dipastikan berkunjung ke Yerusalem tanpa harus gencar berpromosi. Sebagai gambaran, menurut survei Kementerian Pariwisata Israel, sekitar 66 persen dari 3,45 juta pelancong asing ke negara itu pada 2010 berniat berziarah dan 76 persen tumplek di Yerusalem.

Israel juga tidak bakal rela lebih dari lima juta pengungsi Palestina kembali ke wilayah-wilayah kini menjadi kedaulatan Israel. Karena ini bakal mengancam dominasi warga Yahudi di negara Bintang Daud itu. Persoalan kian ruwet kalau para pengungsi Palestina ini menuntut balik hak atas tanah, rumah, dan harta dirampas saat peristiwa An-Nakbah.

Sebab itu, sangatlah wajar Hamas mengambil prinsip bakal terus melawan penjajahan Israel. Bahkan mreka bersumpah tidak akan pernah mengakui Israel dan akan melenyapkan negara itu. Lewat Al-Jazeera pada 1999, Syekh Yasin mengumumkan kepada masyarakat internasional, Hamas memerangi Yahudi bukan karena rasis. "Kami memerangi mereka (Yahudi) lantaran mereka menyerang kami, membunuh kami, merampas tanah dan rumah kami, menyerang anak-anak dan perempuan kami, mengusir kami. Kami hanya ingin hak-hak kami, tidak lebih."

Menurut Mahmud Zahar, perlawanan secara militer terhadap Israel merupakan prinsip Hamas. "Kami sampai sekarang membicarakan soal perlawanan bersenjata dan bukan berunding untuk melenyapkan Israel," ujarnya.

Kepala Biro Politik Hamas Khalid Misyaal percaya kebiadaban Israel tidak bakal mengendorkan perjuangan bangsa Palestina, malah makin memperkuat keyakinan dan semangat rakyat Palestina buat melawan. Dia bahkan memperingatkan bakal ada intifadah ketiga. "Rakyat Palestina tahu kapan waktu pas untuk memulai intifadah ketiga," tuturnya.

Dia menekankan perlawanan satu-satunya cara menghadapi Israel. Hamas tidak akan pernah mengakui negara Israel. "Kami tidak bakal melepaskan sejengkal pun wilayah kami. Penjajahan Israel tidak sah dan tak akan langgeng."

Prinsip ini sebenarnya sudah menjadi perdebatan saat Hamas masih dalam rintisan. Generasi muda Al-Ikhwan al-Muslimun terinspirasi oleh perjuangan bersenjata dilancarkan oleh Saraya al-Jihad al-Islami mulai mempertanyakan kenapa organisasi mereka tidak ikut berjuang dengan cara militer menghadapi penjajah.

Saraya dibikin oleh anggota-anggota Fatah berhaluan Islam buat menghidupkan lagi perlawanan bersenjata terhadap Israel. Mereka kecewa pimpinan PLO lebih meyakini bakal tercapai perdamaian dengan negara Zionis itu.

Sejatinya, Syekh Yasin sangat berhasrat melancarkan perlawanan bersenjata sejak 1967. Namun niat itu diurungkan lantaran situasi tidak memungkinkan dan sumber daya belum memadai.

Perbedaan ini membuat Fathi Ibrahim asy-Syiqaqi, satu dari beberapa murid perintis Syekh Yasin – Salah Syihadah, Ismail Abu Syanab, Ibrahim al-Maqadmah, Abdul Aziz al-Audah, Isa an-Nashar, dan Musa Abu Marzuq – keluar dari kelompok Al-Ikhwan lantas mendirikan Jihad Islam pada 1980-an. Syiqaqi kecewa lantaran Al-Ikhwan tidak mengutamakan masalah Palestina sebagai pusat dari gerakan Islam. Dia yakin Al-Ikhwan telah meninggalkan salah satu tanggung jawab utama mereka: berjihad membebaskan Palestina.

Baru pada 1983 digelar konferensi bersejarah di Amman dihadiri perwakilan Al-Ikhwan dari Jalur Gaza, Tepi Barat, Yordania, Kuwait, Arab Saudi, negara Teluk Persia lainnya, Eropa, dan Amerika Serikat. Pertemuan rahasia ini menghasilkan keputusan bulat untuk memberikan dukungan logistik dan dana bagi Al-Ikhwan di Palestina buat melancarkan jihad.

Hanya Syekh Yasin dan lingkaran sangat dekatnya tahu soal proyek global untuk Palestina ini. Anggota Komite Eksekutif Al-Ikhwan di Gaza tidak diberitahu. Di luar Palestina, cuma mereka terlibat dalam Komite Palestina tahu rencana jihad itu.

Komite ini berperan memasok anggaran dan memfasilitasi pelatihan militer bagi warga Gaza di Yordania. Syekh Yasin menyiapkan dua cara buat membeli senjata, yakni secara resmi dan lewat pasar gelap di Israel.

Untuk melaksanakan Resolusi Amman, Al-Ikhwan Palestina di Kuwait, Yordania, dan Arab Saudi merumuskan sebuah rencana komprehensif soal sokongan dana, politik, dan logistik. Di masa ini juga berdiri beragam asosiasi buat membantu Palestina. Pada akhir 1985, Komite Palestina membikin badan khusus dinamai Jihaz Filastin bertanggung jawab mengkoordinasi kegiatan seluruh lembaga dibentuk Al-Ikwan Palestina di pelbagai negara dan mengawasi jika perlu dibentuk institusi baru lagi.

Syekh Yasin menetapkan 17 November 1987 untuk meluncurkan kampanye jihad. Dia menunjuk Salah Syihadah buat membentuk Al-Mujahidun al-Filastiniyun (Mujahidin Palestina). Misi utama organisasi militer ini menyerang tentara dan pemukim Yahudi di Jalur Gaza. Dia juga menugaskan Yahya as-Sinwar dan Rauhi Mustaha membikin organisasi keamanan disebut Majd (Kejayaan). Bertugas menahan, mengusut, dan menghukum mati orang-orang Palestina bekerja bagi Israel. Prestasi kedua organisasi ini tidak begitu membanggakan.

*******

Masa depan Gaza berarti masa depan Hamas. Bukan sekadar komitmen menentukan, soliditas Hamas juga menjadi faktor sangat penting. Hamas akan sulit mencapai tujuan kalau persatuan dan kesatuan internal mereka lemah.

Kesolidan sangat diperlukan Hamas dalam memerintah di Gaza. Tanpa poin ini, rezim Hamas tidak berwibawa di mata penduduk dan bahkan mudah diadu domba oleh mata-mata Israel. Apalagi Hamas bukan satu-satunya kelompok perlawanan bersenjata di Gaza.

Memang pernah beredar sejumlah laporan menyebutkan ada gesekan dalam tubuh Hamas. Pemimpin senior Hamas di Gaza Mahmud Zahar pada 2012 dikabarkan mengecam dua keputusan sepihak Kepala Biro Politik Hamas Khalid Misyaal lantaran tanpa berkonsultasi dengan Dewan Syura, yakni berdamai dengan Fatah untuk membentuk pemerintahan persatuan serta deklarasi Hamas akan meninggalkan perlawanan bersenjata dan beralih ke perlawanan rakyat tanpa kekerasan.

Insiden lain berlangsung pada Januari 2010. Dengan langkah terburu-buru dan wajah memerah, komandan Brigade Izzudin al-Qassam Ahmad al-Jabari bersama anak buahnya menerobos masuk ke dalam kantor Perdana Menteri Ismail Haniyah di Kota Gaza. Sambil mencerca Haniyah, dia menuntut uang pemberian George Galloway, mantan anggota parlemen Inggris.

Haniyah menuruti perintah Jabari dan menyerahkan peti kas berisi US$ 1 juta. Jabari mengambil US$ 600 ribu dan mengembalikan sisanya kepada Haniyah. Sebelum pergi dia berpesan, "Kami (Brigade Al-Qassam) akan memakai fulus ini buat mengatur urusan kami sekarang. Anda jangan lupa, bagian kami seharusnya lebih besar dari kalian. Apa yang Anda peroleh dari masyarakat sudah cukup."

Dalam artikelnya berjudul Internal Conflicts within Hamas, C. Jacob menyebutkan perpecahan antara pimpinan Hamas di Gaza dan geng Khalid Misyaal telah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan sejak Syekh Ahmad Yasin masih hidup.

Ahmad Yusuf, penasihat Ismail Haniyah, membantah ada perpecahan antara kubu ideologis dipimpin Mahmud Zahar dengan kelompok Khalid Misyaal yang pragmatis. Dia menuding isu semacam ini sengaja diangkat oleh media-media Barat buat melemahkan Hamas.

Dia mengakui kadang ada perbedaan pendapat, namun persoalan itu diselesaikan lewat Dewan Syura. "Mereka memutuskan semua perbedaan pendapat dan masalah. Kami semua wajib mematuhi keputusan Dewan Syura."

Pada akhirnya, masa depan Gaza seperti persoalan dilematis bagi Hamas. kebijakan garis keras Hamas terhadap Israel harus dibayar mahal oleh penduduk sipil. Militer Israel kerap menjadikan Gaza daerah latihan perang dan ladang pembantaian. Warga Gaza sering dibayangi ketakutan sekaligus kelaparan. Namun haluan ini jauh lebih bijak ketimbang Hamas bekerja sama dengan musuh bebuyutannya itu.

Kalau pilihan kedua diambil, Hamas mesti melucuti seluruh senjata mereka. Hamas juga wajib mengakui keberadaan negara Israel. Akibatnya, Hamas bakal menjadi macan ompong dan itu sama saja membiarkan Israel terus menjajah warga Gaza. Bahkan bisa saja mereka kembali ke sana setelah Perdana Menteri Israel Ariel Sharon pada 2005 membuat keputusan kontroversial: menarik semua pasukan dan pemukim Yahudi dari Gaza.

Alhasil, sulit bagi penduduk Gaza mendambakan masa depan cerah. Ingin sejahtera dan nyaman berarti mereka harus berada di bawah kontrol Israel. Artinya menjadi bangsa terjajah dan itu sebuah nista. Terus melawan konsekuensinya mesti siap diselimuti ketakutan dan kelaparan. Meski begitu, ini jauh lebih mulia.

Dua bocah perempuan tengah melintas di depan tembok sebuah rumah bolong-bolong terkena peluru Israel di Jabaliya, Jalur Gaza, 27 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Sokongan Mesir dan Iran

"Iran sangat berkomitmen terhadap Hamas. Mereka membiayai sayap militer dan pemerintahan Hamas," kata Ahmad Yusuf, penasihat Ismail Haniyah.

Kepala Biro Politik Hamas Khalid Misyaal saat diwawancarai Faisal Assegaf dari Albalad.co di Ibu Kota Kuala Lumpur, Malaysia, November 2013. (faisal assegaf/albalad.co)

Tumbal demokrasi Palestina

Israel bersama Amerika Serikat menolak kemenangan Hamas dalam pemilihan umum 25 Januari 2006.

Anak-anak Gaza berkeliling menggunakan gerobak keledai saat perayaan Idul Adha di Kota Gaza, Jumat, 26 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Sahabat pena dari Gaza

Berbeda pandangan soal konflik Palestina dan Israel namun sama-sama menyukai karya Shakespeare.

Abdul Ghani, putra dari mendiang Syekh Ahmad Yasin, di rumahnya di Kota Gaza, 24 Oktober 2012, menunjukkan jubah dipakai saat Syekh Yasin tewas terkena hantaman peluru kendali Israel. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Jasa Israel dalam pembentukan Hamas

Negara Bintang Daud ini meyakini Syekh Yasin hanya mengajarkan soal Al-Quran, bukan mengajak warga Gaza melawan Israel.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Rusaknya Aston Martin milik Pangeran Mansur bin Saud

"Allah telah menghukum Pangeran Mansur lantaran telah mengeluarkan pernyataan menghina kepada saya ketika saya sudah menolong korban kecelakaan di pantai," kata Mark Young.

29 September 2018

TERSOHOR