buku

Blokade Israel

"Gagasannya adalah memaksakan diet kepada rakyat Palestina, tapi bukan untuk membuat mereka mati kelaparan."

08 Agustus 2015 07:27

Tiga bulan setelah Hamas mengambil alih Jalur Gaza, kabinet Israel dipimpin oleh Perdana Menteri Ehud Olmert pada September 2007 memutuskan memperketat pembatasan terhadap lalu lintas orang dan barang keluar masuk Gaza.

Keputusan kabinet itu menyatakan, "Lalu lintas barang ke Jalur Gaza akan dibatasi, pasokan gas dan listrik bakal dikurangi, dan pembatasan juga berlaku bagi lalu lintas orang keluar masuk Gaza." Semua ekspor dari Gaza akan dilarang. Namun seluruh pembatasan ini bakal dievaluasi buat menghindari krisis kemanusiaan di wilayah itu, seperti dikutip dari buku Gaza: Simbol Perlawanan dan Kehormatan karya Faisal Assegaf (terbitan Hamaslovers, Agustus 2014).

Untuk melaksanakan putusan kabinet ini, pada Januari 2008 kantor Koordinator Kegiatan Pemerintah di Wilayah Jajahan (COGAT/Coordinator of Government Activities in the Territories) Kementerian Pertahanan Israel membuat panduan diberi nama Food Consumption in the Gaza Strip – Red Lines. Dokumen ini berisi daftar barang diizinkan dan dilarang masuk ke Gaza.

Dokumen itu juga memuat jumlah minimal kalori dibutuhkan oleh tiap usia dan jenis kelamin penduduk Gaza. Kalkulasi ini dipakai untuk menentukan jumlah makanan mesti dikirim ke Gaza saban hari, termasuk berapa truk diperlukan buat mengangkut kebutuhan itu. Dari hasil penghitungan, tiap orang memerlukan rata-rata 2.279 kalori per hari dan bisa dipenuhi oleh 1.836 gram makanan atau 2.575,5 ton pasokan makanan bagi seluruh penduduk Gaza. Untuk mengangkut keperluan ini dibutuhkan 170 truk per hari dalam lima hari kerja saban pekan.

Dov Weisglass, penasihat Ehud Olmert, menggambarkan isolasi terhadap Gaza dengan nada mengejek. "Gagasannya adalah memaksakan diet kepada rakyat Palestina, tapi bukan untuk membuat mereka mati kelaparan."

Menurut pengamatan ahli Timur Tengah Juan Cole, diet ala Israel itu telah mengakibatkan sekitar sepuluh persen anak Palestina berusia di bawah lima tahun kekurangan gizi. Anemia menyebar luas menjangkiti lebih dari dua pertiga bayi, 58,6 persen pelajar, dan sepertiga ibu hamil.

Dengan alasan keamanan, Israel telah menyulap Gaza menjadi penjara ruang terbuka raksasa. Bukan hanya Hamas dan kelompok pejuang lainnya terkena hukuman, blokade darat, laut, dan udara juga mengorbankan penduduk sipil. Jaringan Hak Asasi Eropa-Mediterania menekankan blokade terhadap Gaza melanggar hak-hak dasar warganya, termasuk hak atas hidup, kesehatan, pendidikan, makanan, air, kehidupan standar, dan tempat tinggal.

Ketika Israel mencaplok Jalur Gaza dan Tepi Barat sehabis menang Perang Enam Hari, pada 1972 Israel mengeluarkan aturan membebaskan warga di kedua wilayah itu keluar masuk Israel dan Yerusalem Timur. Penduduk Gaza dan Tepi Barat juga boleh saling mengunjungi. Namun dua tahun setelah pecah intifadah pertama, Israel memberlakukan kartu magnetik di Gaza. Hanya pemilik kartu itu boleh keluar Gaza.

Otoritas keamanan Israel tidak memberikan kartu itu bagi tahanan dibebaskan, mantan tahanan administrasi, atau bahkan orang Palestina ditahan atau dilepaskan tanpa tuduhan. Pada Januari 1991, Israel mewajibkan tiap warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat mendapat izin keluar khusus untuk mengunjungi Israel dan Yerusalem Timur.

Lalu lintas orang dan barang di Gaza mulai membaik melalui AMA (Agreement on Movement and Access), perjanjian diteken Israel dan Otoritas Palestina pada November 2005. Perlintasan Rafah dibuka lagi dengan pengawasan dari Palestina dan Uni Eropa. Hanya warga berpaspor Palestina atau orang asing dengan pengecualian atau kategori tertentu, boleh keluar masuk Gaza. Semua barang keluar masuk Gaza harus melalui perlintasan Karem Shalom atau Karni di bawah kontrol Israel.

Dalam opininya My Visit to Gaza, the World’s Largest Open-Air Prison, Noam Chomsky menulis kesannya sehabis melawat ke salah satu wilayah tersumpek sejagat dengan tingkat hunian lebih dari 4.500 orang tiap kilometer persegi itu akhir Oktober 2012. "Bahkan menginap semalam saja dalam penjara (di Gaza) sudah cukup buat merasakan hidup di bawah kontrol total kekuatan asing."

Paling mengerikan, isolasi itu telah membikin warga Gaza merasa tidak berdaya dan tanpa harapan. Rasa ini mampu membunuh semangat kemudian berujung pada frustasi.

Sangat kecil kemungkinan Israel mengakhiri blokade. Negara Zionis itu bakal terus membiarkan Jalur Gaza dan Tepi Barat terpisah, melanggengkan konflik antara Hamas dan Fatah. Sebab, Israel tidak bakal pernah mengharapkan bangsa Palestina bersatu.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Rusaknya Aston Martin milik Pangeran Mansur bin Saud

"Allah telah menghukum Pangeran Mansur lantaran telah mengeluarkan pernyataan menghina kepada saya ketika saya sudah menolong korban kecelakaan di pantai," kata Mark Young.

Pangeran Misyari bin Saud bin Abdul Aziz bersama putranya, Pangeran Turki, di resor ski Megeve, Prancis. (Mark Young/Saudi Bodyguard)

Girangnya bekerja dengan Pangeran Misyari

Saudara-saudara kandung Pangeran Misyari bin Saud iri karena mereka tidak memiliki pengawal pribadi seperti saya.

Mark Young, penulis buku Saudi Bodyguard. (Twitter)

Ajari istri pangeran Arab Saudi menyetir mobil

Mark Young mengajari Puteri Al-Anud mengendarai mobil di Marbella.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Pangeran Misyari dan hobi bercinta dengan pelacur

Pangeran Misyari bin Saud bin Abdul Aziz pernah teledor. Dia memesan satu kamar di Hotel Incosol, di luar Marbella (Spanyol), atas namanya sendiri.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Rusaknya Aston Martin milik Pangeran Mansur bin Saud

"Allah telah menghukum Pangeran Mansur lantaran telah mengeluarkan pernyataan menghina kepada saya ketika saya sudah menolong korban kecelakaan di pantai," kata Mark Young.

29 September 2018

TERSOHOR