buku

Sokongan Mesir dan Iran

"Iran sangat berkomitmen terhadap Hamas. Mereka membiayai sayap militer dan pemerintahan Hamas," kata Ahmad Yusuf, penasihat Ismail Haniyah.

15 Agustus 2015 05:33

Bagi Hamas dan penduduk Jalur Gaza, Rafah di perbatasan Mesir merupakan aset sangat strategis. Ia menjadi satu-satunya pintu ke dunia luar setelah Gaza diisiolasi oleh Israel. Rafah adalah gerbang kehidupan dan masa depan Gaza.

Namun hidup dan impian itu seolah karam setelah rezim militer berkuasa di Mesir pada awal Juli 2013 – sehabis menumbangkan Muhammad Mursi, presiden sipil pertama terpilih lewat pemilihan umum – menutup perlintasan Rafah dan hampir semua terowongan. Menurut komandan tentara perbatasan Mesir Jenderal Ahmad Ibrahim, pasukan keamanan negara itu telah menghancurkan 1055 terowongan sejak Januari 2011 di tengah unjuk rasa menentang rezim Husni Mubarak, seperti dikutip dari buku Gaza: Simbol Perlawanan dan Kehormatan karya Faisal Assegaf (terbitan Hamaslovers, Agustus 2014).

Menurut satu laporan bikinan situs intelijen Amerika Serikat, Mesir telah berupaya mendeteksi keberadaan jalur-jalur bawah tanah itu sejak 2007. Setahun kemudian Amerika menyuplai militer Mesir peralatan deteksi terowongan senilai US$ 23 juta, termasuk sensor, mobil berpengendali jarak jauh, mesin pengebor, dan kamera infra merah. Program pencarian terowongan ini berlangsung selama 2008-2010. Menurut kabel diplomatik dibocorkan situs WikiLeaks pada 22 Desember 2009, operasi ini berhasil menemukan hingga tiga terowongan saban hari.

Proyek ini berhenti pada 2010 lantaran situasi keamanan memburuk di Sinai kemudian disusul tergulingnya Presiden Mubarak. Program ini dimulai lagi kurang dari sebulan setelah militer Mesir mengkudeta Presiden Muhammad Mursi. Kontrak kerja sama bernilai US$ 10 juta itu diberikan pada 28 Agustus 2013 kepada Raytheon Technologies, perusahaan teknologi keamanan berusia 90 tahun dan berpusat di Cambridge, Massachusetts, Amerika.

Terselip kisah menarik sebelum kampanye besar-besaran untuk menghancurkan terowongan di sepanjang perbatasan Rafah berlangsung: warga Gaza bisa memesan makanan cepat saji Kentucky Fried Chicken (KFC) dikirim lewat jalur bawah tanah itu. Tentu saja harganya lebih mahal, tiga kali lipat dari harga normal, yakni seratus shekel atau setara US$ 30.

Bisnis pengantaran KFC melalui terowongan ini dijalankan oleh perusahaan jasa pengantaran Al-Yamama. Pesanan itu berasal dari satu-satunya restoran KFC dibuka sejak 2011 di Kota Al-Arisy, Mesir, sekitar 56 kilometer dari Kota Gaza. Dalam tiga jam setelah menelepon Al-Yamama, pemesan bisa menikmati menu cepat saji asal Amerika Serikat itu.

Al-Yamama kebanjiran puluhan pesanan saban pekan. "Kebanyakan pemesan adalah orang biasa bepergian dan menikmati menu KFC di seluruh dunia," tutur Muhammad al-Madani, manajer keuangan Al-Yamama.

Wakil Menteri Luar Negeri Hamas Ghazi Hamad menjelaskan situasi di Gaza sungguh buruk sejak Mesir menutup perbatasan Rafah dan nyaris semua terowongan. Mereka menghancurkan 90 persen terowongan. Padahal itu satu-satunya cara bagi orang, pangan, bahan bakar, obat-obatan, dan barang lainnya lewat setelah Mesir menutup perlintasan Rafah. "Kami sekarang kehabisan bahan bakar, obat-obatan, dan bahan bangunan," katanya.

Karena bahan bakar habis, satu-satunya pembangkit listrik di Gaza sudah dua pekan terakhir tidak beroperasi. Alhasil, sebagian kecil penduduk Gaza cuma bisa menikmati listrik enam jam saban hari. Tidak adanya pasokan obat-obatan membuat rumah-rumah sakit kesulitan menangani pasien. Padahal banyak pasien membutuhkan perawatan segera.

Langkanya keperluan hidup sehari-hari menyebabkan harga melonjak antara 20 persen hingga 25 persen. Gaza juga kekurangan air bersih dan pengangguran meningkat tajam. "Kami benar-benar dalam kondisi sangat kritis dan memerlukan bantuan segera," ujar Hamad.

Mesir beralasan penutupan perlintasan Rafah dan terowongan lantaran Hamas menggunakan dua saluran itu buat mengganggu keamanan Mesir. Mereka menuding Hamas terlibat dalam sejumlah serangan terhadap pasukan keamanan negara itu di Semenanjung Sinai. Hamas juga dituduh ikut membantu membebaskan presiden terguling Muhammad Mursi dari tahanan dan menyembunyikan sejumlah pemimpin Al-Ikhwan al-Muslimun di Gaza.

Wakil Kepala Biro Politik Hamas Musa Abu Marzuq membantah sangkaan-sangkaan itu lewat opininya dalam bahasa Arab dilansir surat kabar Al-Hayat, pertengahan September 2013. Hamas berpinsip tidak akan pernah mencampuri urusan negara Arab manapun, termasuk soal krisis politik menggoyang Mesir.

Akhirnya terbukti pula semua tuduhan itu rekayasa media. Dia bercerita setelah rezim Husni Mubarak tumbang, mantan menteri Umar Sulaiman melarang Hamas bertemu pimpinan Al-Ikhwan. Meski mereka ingin, Hamas mematuhi perintah itu. Hamas bertemu semua partai kecuali Al-Ikhwan. Namun media-media Mesir kian gencar menyudutkan Hamas setelah Al-Ikhwan menang pada pemilihan presiden.

Hamas sadar netralitas berisiko lebih kecil ketimbang mencampuri urusan negara lain. "Netralitas kami sangat penting bagi gerakan (Hamas) dan telah menjadi jaminan kami tidak bakal mencampuri urusan domestik negara lain, termasuk Mesir," kata Abu Marzuq.

Hamas pastinya juga memahami sulit mengharapkan Mesir tulus membantu Gaza lantaran negara itu membina hubungan diplomatik dengan Israel. Sudah bukan rahasia lagi, Israel kerap mencurigai Hamas menjadikan terowongan-terowongan di Sinai buat menyelundupkan senjata dan amunisi. Karena itulah, sangat wajar negara Zionis ini menekan Mesir agar mengawasi ketat daerah perbatasan dengan Gaza, termasuk menutup perlintasan Rafah dan menghancurkan terowongan, seperti dilakoni rezim militer dipimpin Jenderal Abdil Fatah as-Sisi.

Bukan hanya Al-Ikhwan dianggap mengganggu stabilitas keamanan Mesir, tudingan serupa juga dialamatkan kepada Hamas. Karena itu, awal Maret 2014, pengadilan di Ibu Kota Kairo melarang semua kegiatan Hamas. Dengan kata lain, kelompok pejuang asal Palestina ini dianggap organisasi teroris. Mesir juga berencana mencabut status kewarganegaraan 13.757 orang Palestina kebanyakan anggota Hamas.

Rezim militer menguasai Negeri Piramida itu sejak 1952 memang sangat berkepentingan memelihara hubungan baik dengan Israel. Atas jasanya sebagai negara Arab pertama berdamai dengan Israel, Mesir mendapat bantuan militer dari Amerika Serikat US$ 1,5 miliar saban tahun.

Sebab itu, lumrah saja ketika Al-Ikhwan berkuasa di Mesir setelah menang pemilihan parlemen dan presiden membuat gelisah pihak militer dan Israel. Mereka cemas kelompok ini bakal memutuskan hubungan bersejarah dan kontroversial kedua negara itu. Paling ditakutkan adalah Mesir akan lengket dengan Hamas lantaran dua pihak ini memiliki ikatan ideologi.

Bukan hanya Mesir sangat penting bagi Hamas dan Gaza, sokongan Iran juga sungguh diperlukan. Kalau mau jujur, Negeri Mullah ini adalah negara paling jujur mendukung perjuangan Palestina menghadapi Israel. Iran berbeda.

Bantuan mereka berupa dana dan militer membuat bangsa Palestina memiliki harga diri, berkepala tegak karena mampu menghadapi agresi Israel. Sedangkan negara lain, terutama berpenduduk mayoritas muslim, baru mengulurkan tangan setelah banyak orang Palestina menjadi mayat serta rumah, masjid, dan sekolah-sekolah mereka hancur. Suara keras mereka tidak dibarengi tindakan tegas.

Ahmad Yusuf, penasihat Perdana Menteri Ismail Haniyah, membenarkan soal sokongan Iran itu. Dia mengungkapkan tadinya hubungan Hamas dan Iran terjalin sangat kuat. "Iran sangat berkomitmen terhadap Hamas. Mereka membiayai sayap militer dan pemerintahan Hamas," ujarnya. "Mereka melatih anggota Brigade Izzudin al-Qassam dan kami juga mendapat teknologi persenjataan dari Iran."

Namun Iran merasa dikhianati setelah Hamas menolak menyokong Presiden Suriah Basyar al-Assad buat menumpas pemberontakan di negaranya berlangsung sejak Maret 2011. Konsekuensinya, para pentolan Hamas bermukim di Ibu Kota Damaskus mesti meninggalkan Suriah. Setahun kemudian, Kepala Biro Politik Khalid Misyaal pindah ke Qatar, Musa Abu Marzuq (Wakil Kepala Biro Politik Hamas) ke Kairo, dan sisanya ke Libanon serta Gaza.

Menurut Ahmad Yusuf, Qatar menjadi pilihan Misyaal karena masalah keamanan dan negara itu mau membantu. Jika memilih Iran bakal timbul masalah bagi Hamas. Kebanyakan negara Arab dan Teluk akan memotong bantuan dan tidak mau lagi bekerja sama dengan Hamas. "Misyaal harus tinggal di negara Arab berpaham Sunni. Kami harus memelihara hubungan baik dengan negara-negara Arab dan dunia muslim."

Meski begitu, Misyaal tidak akan bermukim di Qatar selamanya. Ahmad Yusuf menegaskan sejatinya pimpinan Hamas di luar negeri ingin tinggal di Gaza sehingga bisa berjuang menghadapi penjajah Israel dari jarak dekat. Tapi semua itu baru bisa terlaksana jika seluruh negara Arab bersatu membantu perjuangan Palestina.

Hamas membayar mahal atas kebijakannya itu. Iran menyetop kerja sama militer dan memotong bahkan mungkin menghentikan pasokan dana buat Hamas. Menurut Dr Adnan Abu Amir, Iran memasok hingga 15 juta pound sterling saban bulan setelah Hamas menang pemilihan umum 2006. "Untuk mendukung revolusi di Suriah kami kehilangan sangat banyak," tutur Wakil Menteri Luar Negeri Hamas Ghazi Hamad.

Seorang diplomat Suriah di Jakarta menyesalkan keputusan Hamas itu. "Padahal seperti Iran, kami selalu mendukung tiap gerakan perlawanan anti-Israel. Hitungan politik mereka (Hamas) kali ini sangat buruk," katanya.

Akhirnya memang terbukti Hamas kehilangan sandaran-sandaran mereka. Qatar yang menjadi pegangan Misyaal berubah haluan setelah posisi Emir Syekh Hamad bin Khalifah digantikan putranya, Syekh Tamim bin Hamad. Pemimpin muda ini kelihatan tidak mau terlibat dalam konflik di kawasan. Al-Ikhwan al-Muslimun di Mesir juga tersingkir lewat kudeta.

Iran kembali menjadi harapan satu-satunya buat Hamas. Sejak Juli 2013 Hamas berupaya memperbaiki hubungan dengan Iran. Perwakilan Hamas di Libanon Ali Barakah mengungkapkan kedua pihak menggelar sejumlah pertemuan rahasia di Ibu Kota Beirut. Namun hingga sejauh itu, jalinan Hamas dan Iran belum sepenuhnya normal.

Meski memerlukan waktu lama buat mengembalikan kemesraan, pemimpin senior Hamas di Gaza Mahmud Zahar yakin hubungan Hamas dan Iran bakal membaik bahkan lebih kuat ketimbang sebelumnya. "Insya Allah hubungan kami bakal membaik lagi karena kami memiliki kepentingan bersama. Kami saling memerlukan satu sama lain," ujar Ahmad Yusuf.

Hamas memang memerlukan Iran buat melanjutkan perjuangan menghadapi Israel. Sama halnya Iran membutuhkan Hamas untuk mewujudkan impian mereka: melenyapkan negara Zionis itu. Kesadaran atas hal ini membantu mempercepat kedua pihak rujuk. Dalam tempo terbilang singkat, Zahar mengklaim hubungan Hamas dan Iran telah bergulir lagi.

Putra dari Jamal, nelayan di Kota Gaza, ini tengah menikmati sarapan berupa roti isi ikan sardencis kecil dan terasa pahit di sebuah pantai di Kota Gaza, Kamis, 25 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Masa depan Gaza

Ada lima faktor utama menentukan masa depan Gaza: komitmen dan soliditas Hamas, rekonsiliasi nasional, blokade Israel, sokongan Mesir dan Iran, serta perubahan tatanan global.

Pendiri sekaligus pemimpin senior Hamas di Jalur Gaza Mahmud Zahar tengah memegang senapan AK-47 milik mendiang putranya, Husam, di rumahnya, Kota Gaza, Rabu, 24 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Terlahir di tengah intifadah

Dalam pertemuan malam itu, ketujuh pemimpin Al-Ikhwan mengambil keputusan bersejarah mengubah organisasi itu menjadi gerakan perlawanan disebut Harakat al-Muqawamah al-Islamiyah atau disingkat Hamas.

Kepala Biro Politik Hamas Khalid Misyaal saat diwawancarai Faisal Assegaf dari Albalad.co di Ibu Kota Kuala Lumpur, Malaysia, November 2013. (faisal assegaf/albalad.co)

Menantang kuasa Hamas di Gaza

Gerakan Tamarod di Gaza gagal menggelar unjuk rasa besar-besaran anti-Hamas.

Pendiri sekaligus pemimpin senior Hamas di Jalur Gaza Mahmud Zahar tengah memegang senapan AK-47 milik mendiang putranya, Husam, di rumahnya, Kota Gaza, Rabu, 24 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Berkuasa di Gaza

Menurut seorang peneliti Jerman, Hamas tersohor di kalangan rakyat Palestina karena kerja profesional dan berintegritas.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Rusaknya Aston Martin milik Pangeran Mansur bin Saud

"Allah telah menghukum Pangeran Mansur lantaran telah mengeluarkan pernyataan menghina kepada saya ketika saya sudah menolong korban kecelakaan di pantai," kata Mark Young.

29 September 2018

TERSOHOR