buku

Perubahan tatanan global

Amerika paling getol menggunakan hak veto terhadap resolusi-resolusi mengecam Israel. Sejak 1972 hingga kini, Washington telah 42 kali memakai hak veto terkait isu Israel.

22 Agustus 2015 10:40

Malang benar nasib bangsa Palestina. Mereka seolah berjuang sendiri buat memperoleh kemerdekaan. Padahal di tengah tantangan global saat ini, rakyat Palestina sangat memerlukan bantuan masyarakat internasional untuk mendapatkan kembali hak-hak mereka. Namun Liga Arab, Organisasi Konferensi Islam, dan bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadi harapan ternyata impoten.

Saban kali Israel mempertontonkan kebiadaban mereka, negara-negara Arab dan negara berpenduduk mayoritas muslim cuma bisa menonton sambil menahan marah dan sedih. Tidak ada persatuan di antara mereka buat menyelesaikan masalah Palestina. Sikap semacam ini sungguh memalukan, seperti dikutip dari buku Gaza: Simbol Perlawanan dan Kehormatan karya Faisal Assegaf (terbitan Hamaslovers, Agustus 2014).

PBB mewakili masyarakat global tidak berdaya. Ibarat perempuan, wajah PBB sudah tidak sedap dipandang. Penuh parut dan bopeng karena begitu banyak kegagalan dalam menyelesaikan persoalan Palestina.

PBB gagal membantu berdirinya negara Palestina seperti diamanatkan Resolusi Majelis Umum nomor 181 pada 29 November 1947. Resolusi ini membagi dua wilayah mandat Inggris: untuk kaum Yahudi dan warga Arab. Yang terjadi, kelompok Zionis dipimpin David Ben Gurion, kemudian menjadi perdana menteri pertama, mendeklarasikan berdirinya negara Israel pada 14 Mei 1948, persis ketika mandat Inggris di sana berakhir. Amerika Serikat malamnya langsung memberi pengakuan. Uni Soviet menyusul tiga hari kemudian.

Lembaga dunia mestinya berpengaruh dan disegani ini tidak mampu mencegah Perang Enam Hari, Juni 1967. Akibatnya wilayah Israel kian luas. Mereka mencaplok Jalur Gaza dan Tepi Barat dari Yordania, Dataran Tinggi Golan milik Suriah, serta Semenanjung Sinai kepunyaan Mesir. PBB juga diam saat Israel menetapkan Yerusalem sebagai ibu kota abadi mereka dan tidak dapat dibagi dua dengan Palestina. Padahal sudah dinyatakan kota suci tiga agama – Yahudi, Nasrani, dan Islam – ini di bawah kontrol PBB.

PBB pun tidak berupaya mencegah kampanye kotor Amerika dan Israel untuk tidak mengakui kemenangan Hamas dalam pemilihan umum 25 Januari 2006. Mereka mencap kelompok anti-Israel ini sebagai organisasi teroris. Kedua negara itu malah memprovokasi Fatah sehingga pecah konflik bersenjata di antara kedua faksi.

Puncaknya, pemerintahan bersama dipimpin Perdana Menteri Ismail Haniyah bubar. Palestina terbelah, Hamas menguasai Jalur Gaza dan Fatah mengontrol Tepi Barat. Bahkan Israel kemudian mengisolasi Gaza sampai sekarang.

Impotensi PBB ini lantaran struktur dan aturan main tidak adil. Sejak berdiri pada 24 Oktober 1945, organisasi ini jelas hanya menguntungkan lima negara pemegang hak veto, yakni Amerika, Rusia, Inggris, Prancis, dan Cina. Hak istimewa ini membuat kelima negara berkekuatan nuklir itu dapat membatalkan sebuah resolusi dianggap tidak sesuai kepentingan nasional mereka.

Amerika paling getol menggunakan hak veto terhadap resolusi-resolusi mengecam Israel. Sejak 1972 hingga kini, Washington telah 42 kali memakai hak veto terkait isu Israel. Terakhir mereka gunakan pada 18 Februari 2011 atas rancangan resolusi mengutuk pembangunan permukiman Yahudi di Tepi Barat sebagai kebijakan melanggar hukum internasional.

Jangan berharap akan ada wakil dari lima negara itu menjadi sekretaris jenderal PBB karena posisi itu seperti boneka bagi mereka. Kandidat ditetapkan lewat sidang Majelis Umum harus memperoleh restu kelima anggota tetap itu. Bayangkan saja, betapa memalukan jika sekretaris jenderal PBB dari Amerika tidak berani mengutuk agresi Israel terhadap Palestina.

Namun sungguh ironis. Negara-negara Arab dan muslim masih mengandalkan PBB untuk menyelesaikan konflik Palestina. Ini pantas disebut sebagai kebodohan karena mereka terus mempercayai sistem telah berkali-kali terbukti gagal. Herannya, mereka juga tidak malu meski Israel sudah menginjak-injak martabat mereka lantaran tidak mau menghormati prinsip hak asasi dianut oleh PBB.

Jika benar-benar ingin melihat negara Palestina berdaulat mereka harus berani menuntut perubahan segera terhadap struktur PBB. Pilihannya hanya dua: menghapus hak veto atau meminta satu jatah anggota tetap Dewan Keamanan berhak veto bagi negara Arab atau muslim berdasarkan konsensus di antara mereka.

Palestina perlu sokongan nyata dan jujur dari negara-negara muslim. Kepala Biro Politik Hamas Khalid Misyaal mengakui umat Islam saat ini masih lemah dan terpecah. Tiap negara memiliki masalah sendiri dan tidak ada strategi bersama buat menghadapi penjajahan Israel. "(Tapi) kami percaya umat Islam yakin Palestina adalah prioritas dan isu sentral mereka," katanya.

Kalau tatanan global lebih adil tidak tercipta sangat mungkin kemerdekaan Palestina tidak bakal terwujud. Jangankan melihat Israel lenyap dari peta dunia seperti khayalan mantan Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad, negara Yahudi itu tetap perkasa di panggung politik global. Hanya sekadar kecaman menerpa mereka, bukan sanksi apalagi diadili sebagai penjahat perang dan kemanusiaan.

Yang terjadi sebaliknya, Palestina kian terpinggirkan. Memang benar, Sidang Majelis Umum PBB akhir November 2012 mengakui Palestina sebagai sebuah negara. Namun itu cuma di atas kertas. Kenyataannya rakyat dan wilayah Palestina masih dalam cengkeraman Israel.

Pelan atau pasti, Palestina bakal sirna dari dunia. Israel bersama Amerika, sekutu istimewa mereka, disokong para pemuka Yahudi pro-Zionis terus berupaya mewujudkan tujuan itu. Sebagai bukti, dalam skala internasional tidak pernah ada niat serius dari lima negara paling berpengaruh dan mempunyai hak veto di Dewan Keamanan merealisasikan negara Palestina merdeka dan berdaulat.

Mereka lebih mendorong ke arah perundingan untuk mencapai solusi dua negara. Sebuah gagasan hampir mustahil diraih lantaran ada tiga ganjalan utama, yakni batas wilayah, pemulangan pengungsi Palestina, dan menjadikan Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara Palestina. Alhasil, isu Palestina hanya sebuah retorika dan menjadi komoditas politik.

Ironisnya, Israel sudah mampu mengubah wajah Yerusalem Timur, kota mereka rebut selepas Perang Enam Hari 1967. Tadinya didominasi orang Palestina. Namun lewat proyek permukiman menjadi wilayah kaum Yahudi. Menurut Jewish Institute for Israel Studies, pada 2010 terdapat 64 persen warga Yahudi mendiami Yerusalem Timur. Dua tahun sebelumnya, 117.400 orang Arab bermukim di sana dan 158.900 lainnya pemukim Yahudi. Meski begitu, kawasan Kota Tua masih dikuasai orang Palestina dengan perbandingan 36.681 dan 3.847.

Sejak Israel berdiri, negara ini sudah mengganti semua nama kota dari bahasa Arab ke dalam bahasa Ibrani. Misalnya Ashkelon, awalnya bernama Al-Majdal. Sidirut menjadi Sderot dan Isdud berganti Ashdod. Bahkan mirisnya, sebagian besar telinga kaum muslim lebih akrab mendengar nama Yerusalem ketimbang Al-Quds.

Mayoritas orang Islam barangkali tidak pernah ingat lagi atau bahkan tidak tahu soal pembantaian di kamp Sabra dan Shatila, Ibu Kota Beirut, Libanon, menewaskan 762 hingga 3.500 pengungsi Palestina. Apalagi mengenai pembantaian di Deir Yasin, dekat Yerusalem, sebulan sebelum negara Israel dibentuk. Tragedi dimulai pada Jumat subuh, 9 April 1948, ini menewaskan lebih dari 200 orang, termasuk 25 wanita hamil, 52 ibu, dan 60 perempuan dari berbagai usia.

Masyarakat internasional tidak pernah memperingati An-Nakbah, yakni terusirnya sekitar 700 ribu orang Palestina saat Israel didirikan. Jumlah mereka kini diperkirakan lebih dari lima juta orang. Dunia lebih kerap mengenang Holocaust, pembantaian terhadap warga Yahudi oleh tentara Nazi Jerman selama Perang Dunia Kedua.

Frustasi kemungkinan besar mulai melanda para pendukung Palestina. Apalagi sebagian besar kaum muslim meyakini konflik Palestina-Israel tidak bakal selesai hingga kiamat. Jika ini yang terjadi, dunia tidak akan lagi perduli terhadap nasib mereka.

Situasi kian tidak menguntungkan bagi Palestina bila sudah muncul ancaman global, seperti perubahan iklim, penyakit menular flu burung, dan perlombaan memproduksi senjata nuklir serta kimia. Perhatian masyarakat internasional bakal lebih terbetot ke arah isu-isu semacam itu lantaran dapat menyebabkan kematian massal dan menghancurkan peradaban manusia.

Alhasil, mimpi Ahmadinejad akan terwujud sebaliknya. Bukan Israel terhapus dari peta dunia, tapi tidak bakal ada negara Palestina dalam atlas global.

Dua bocah perempuan tengah melintas di depan tembok sebuah rumah bolong-bolong terkena peluru Israel di Jabaliya, Jalur Gaza, 27 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Sokongan Mesir dan Iran

"Iran sangat berkomitmen terhadap Hamas. Mereka membiayai sayap militer dan pemerintahan Hamas," kata Ahmad Yusuf, penasihat Ismail Haniyah.

Putra dari Jamal, nelayan di Kota Gaza, ini tengah menikmati sarapan berupa roti isi ikan sardencis kecil dan terasa pahit di sebuah pantai di Kota Gaza, Kamis, 25 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Masa depan Gaza

Ada lima faktor utama menentukan masa depan Gaza: komitmen dan soliditas Hamas, rekonsiliasi nasional, blokade Israel, sokongan Mesir dan Iran, serta perubahan tatanan global.

Seorang lelaki berjalan melewati mural pengingat peristiwa Nakbah menjelang beridirnya negara Israel di Kota Gaza, Senin, 22 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Hengkang dari Gaza

David Ben Gurion pernah bilang, "Gaza tidak akan bisa kita kuasai meski kita serbu seribu kali."

Pendiri sekaligus pemimpin senior Hamas di Jalur Gaza Mahmud Zahar tengah memegang senapan AK-47 milik mendiang putranya, Husam, di rumahnya, Kota Gaza, Rabu, 24 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Terlahir di tengah intifadah

Dalam pertemuan malam itu, ketujuh pemimpin Al-Ikhwan mengambil keputusan bersejarah mengubah organisasi itu menjadi gerakan perlawanan disebut Harakat al-Muqawamah al-Islamiyah atau disingkat Hamas.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Rusaknya Aston Martin milik Pangeran Mansur bin Saud

"Allah telah menghukum Pangeran Mansur lantaran telah mengeluarkan pernyataan menghina kepada saya ketika saya sudah menolong korban kecelakaan di pantai," kata Mark Young.

29 September 2018

TERSOHOR