buku

Menyusuri jalan sepanjang perbatasan hingga Benghazi

Euforia kemenangan revolusi tampak di mana-mana. "Libya hurrah (Libya merdeka)," teriak seorang pemuda penjaga perbatasan sambil mengacungkan jari membentuk huruf V (kemenangan).

05 September 2015 05:51

Meski konflik bersenjata sedang meletup di Libya, namun situasi perbatasan di kedua negara tenang. Tidak tampak pengamanan diperketat. Yang ada hanya sebuah mobil lapis baja di pos perbatasan bagian Mesir.

Jarum jam sudah tepat menunjuk ke angka enam saat saya tiba di pos perbatasan Salum, antara Mesir dan Libya, Kamis pagi, 1 September 2011. Suasana masih sepi, baru ada dua mobil di pos bagian Mesir. Suara azan subuh juga baru berkumandang. Hari masih gelap dan cuma terdengar anjing menggonggong, seperti dikutip dari buku Rahasia Muammar al-Qaddafi karya Faisal Assegaf (terbitan Hamaslovers, November 2011).

Setelah mengisi formulir keberangkatan bagi warga non-Mesir dan menyerahkan paspor, urusan tidak selesai begitu saja. Saya bersama Nail al-Bassi, pemuda asal Benghazi berpaspor Amerika Serikat, dipanggil oleh komandan perbatasan. Dia ingin memastikan apakah saya benar-benar wartawan.

Selepas itu, saya semobil dengan enam warga Benghazi, termasuk sang sopir, harus menunggu di gedung pelayanan belum dibuka. Pos perbatasan ini mengingatkan saya pada tempat serupa di perbatasan Libanon-Suriah, baik dari tata letak atau bentuk gedung.

Bangunan itu kusam dan lantainya kotor. Sampah tercecer di mana-mana meski tempat pembuangan tersedia di dalam dan di luar gedung. Tiga orang tampak sedang tertidur di bangku panjang karena datang kepagian. Setelah menunggu hingga pukul delapan, seorang warga benghazi tidak tahan menanti meminta semua paspor kami. Dia yakin dengan menyuap petugas perbatasan, cap diperlukan bakal segera keluar.

Hanya sepuluh menit berselang, enam paspor kami sudah berisi stempel keluar dari pihak imigrasi Mesir. "Fii fulus khalas (ada uang semua masalah selesai)," kata Nail al-Bassi seraya tersenyum. Dia menambahkan sudah menjadi aturan tidak tertulis segala urusan di negeri Nil itu bisa selesai dengan duit. Persis seperti di Indonesia.

Perjalanan dilanjutkan ke pos wilayah Libya. Euforia kemenangan revolusi tampak di mana-mana. Bendera tiga warna (merah, hitam, dan hijau dengan bulan sabit dan bintang di bagian tengah) berkibar dan dilukis di dinding-dinding. "Libya hurrah (Libya merdeka)," teriak seorang pemuda penjaga perbatasan sambil mengacungkan jari membentuk huruf V (kemenangan).

Lagi-lagi saya di sini terjegal sedikit masalah. Mereka menanyakan soal surat penerimaan dari NTC (Dewan Transisi Nasional), sebagai tanda persetujuan untuk meliput ke negara itu. Malum saja, Kedutaan Besar Libya di Jakarta tidak melayani permohonan visa terkait situasi negara mereka. Setelah diwawancara, akhirnya cap itu pun keluar.

Sehabis tertahan tiga jam di pos perbatasan Salum, antara Mesir dan Libya, perjalanan panjang dan melelahkan dimulai selama kurang lebih enam jam menuju Benghazi. Di awal-awal memasuki wilayah Libya, lukisan bendera tiga warna berdampingan dengan Umar al-Mukhtar kelihatan di mana-mana. Gambar itu mendominasi tembok rumah, bangunan kosong, bedeng pos pemeriksaan, restoan, dan pompa bensin.

Namun setelah itu hanya gambar bendera tiga warna tampak di mana-mana. Perjalanan menyusuri jarak sekitar 483,7 kilometer itu terasa membosankan. Di kanan kiri terlihat cuma gurun pasir. Kadang ada sekumpulan unta dan sapi mencari makan. Hawa di luar amat panas (suhu udara mungkin 40 derajat Celcius) dan angin bertiup kencang.

Apalagi lebih banyak trek lurus dilahap dengan kecepatan rata-rata 140 kilometer per jam. Kalau dihitung-hitung, ada 14 polisi tidur sepanjang perbatasan hingga Benghazi, kota terbesar kedua setelah Ibu Kota Tripoli. Pos-pos pemeriksaan dari yang kosong hingga ada petugasnya masih berdiri di jalur perbatasan sampai Benghazi. Dibuat dari kayu dan atap plastik hingga seng dan peti kemas, atau memakai bangunan kosong. Semua berhiaskan gambar bendera tiga warna.

Kamal Ahmad, sopir kami, punya resep jitu untuk menghindari kecurigaan para pemberontak menjaga lebih dari 20 pos pemeriksaan itu. Ucapkan salam atau memberitahu mereka orang Libya. Di tengah perjalanan kami bertemu sebuah sedang berisi tentara pemberontak mengacungkan tanda V kepada kami.

Menurut Muhammad, pemuda Benghazi, kehidupan secara umum di wilayahwilayah sudah dikuasai pemberontak berangsur normal. "Kami mulai berbenah sekarang," ujar lelaki baru pulang ke kampung halamannya ini setelah menyelesaikan kuliah program master di Universitas perugia, Italia.

Setelah bosan menanyakan berapa lama lagi bakal sampai, kami akhirnya memasuki pinggiran Kota Benghazi. Tampak antrean di dua pompa bensin. Bendera tiga warna berukuran kecil dipasang di tiang-tiang lampu jalan. Dalam perjalanan darat ini, kami melewati Tobruk dan Triana, juga pernah menjadi lokasi pertempuran antara pasukan pemberontak dan tentara setia kepada pemimpin Libya Muammar al-Qaddafi.

Suasana dalam kota masih sepi karena warga Benghazi masih libur Idul Fitri hingga Jumat. Sama seperti pengumuman pemerintah Indonesia, rakyat Libya kebanyakan merayakan lebaran pada Rabu, 31 Agustus 2011.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Menolak ikut makan malam di rumah Pangeran Muhammad bin Fahad

Menahan paspor, melarang memakai telepon ke luar negeri, menyensor surat kabar, majalah dan mengontrol program televisi adalah siasat pemerintah Saudi untuk mengawasi rakyatnya.

Mobil milik Pangeran Walid bin Saud bin Abdul Aziz. (Mark Young/Saudi Bodyguard)

Pelesiran sejenak di Jeddah

Terdapat sejumlah kedutaan besar di Jeddah dan suasananya lebih rileks dibanding kota-kota lain di Arab Saudi.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Faisal dan mimpi perubahan di Arab Saudi

Faisal, pemuda Arab Saudi lulusan dari sebuah universitas di Amerika, bersemangat membahas gagasan-gagasannya untuk perubahan di negaranya, hal tabu waktu itu.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Mengunjungi kompleks istana Raja Saud

Selepas kedua gerbang itu terdapat halaman seluas 2,6 kilometer persegi.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Menolak ikut makan malam di rumah Pangeran Muhammad bin Fahad

Menahan paspor, melarang memakai telepon ke luar negeri, menyensor surat kabar, majalah dan mengontrol program televisi adalah siasat pemerintah Saudi untuk mengawasi rakyatnya.

14 September 2019
Pelesiran sejenak di Jeddah
07 September 2019

TERSOHOR