buku

Suka cita Tripoli

"Saat dia masih berkuasa, kaum perempuan cantik-cantik takut keluar rumah," kata Manal, gadis tinggal di kawasan Pasar Zuma, Tripoli.

19 September 2015 07:28

Jarum jam sudah menunjuk angka delapan. Malam sudah mulai menyelimuti Tripoli, Libya. Namun jalan-jalan di sana, Kamis, 8 September 2011, malah makin macet. Mobil-mobil pribadi semua mengarah ke Midan Syuhada berada di jantung kota. Kebetulan besok hari libur tiap pekan.

Klakson kendaraan bersahutan. Semua warga Ibu Kota Tripoli, termasuk anak-anak dan gadis-gadis remaja, bergembira menyambut kemenangan revolusi bertiup sejak 17 Februari lalu. Teriakan takbir bergema, berlomba-lomba dengan lagu Ya Baladi (Wahai Negaraku) melengking dari pengeras suara banyak mobil. Lagu ini begitu populer, diputar saban hari dan besar kemungkinan semua rakyat Libya hapal, seperti dikutip dari buku Rahasia Muammar al-Qaddafi karya Faisal Assegaf (terbitan Hamaslovers, November 2011).

Midan Syuhada tadinya bernama Lapangan Hijau saat pemimpin Libya Muammar al-Qaddafi masih berkuasa. Di sanalah saban Maret dan April, lelaki duduk di puncak kekuasaan selama 42 tahun itu berpidato. Dia bisa datang kapan saja tanpa ada pemberitahuan.

Sekarang semua berubah. Giliran rakyat Libya datang ke sana saban malam. Mereka tiba dengan atribut seragam: bendera tiga warna (merah, hitam, dan hijau dengan bulan sabit dan bintang di bagian tengah). Bendera semacam ini - tidak berlaku di zaman Qaddafi - bisa ditemukan di mana saja, termasuk di pipi seorang gadis cantik berkulit putih bersih.

Namanya Manal. Dia tinggal di kawasan Pasar Zuma dikenal sebagai basis anti-Qaddafi sejak lama. Selain itu ada dua kawasan lain di Tripoli penduduknya kerap menentang sang pemimpin, yakni Faslum dan Tajura. "Saya senang kami sudah bebas dari Qaddafi. Saat dia masih berkuasa, kaum perempuan cantik-cantik takut keluar rumah," ujar perempuan lajang dibalut abaya serta jilbab serba hitam ini. Mereka bisa menjadi incaran penculikan untuk menjadi pemuas nafsu syahwat Qaddafi dan ketujuh putranya.

Meski Tripoli sudah dikuasai kaum pemberontak, penjagaan masih ketat di seantero kota. Sejumlah lokasi strategis dipasang blokade jalan dari beton. Pos-pos pemeriksaan seadanya berdiri di hampir berbagai persimpangan. Seperti di depan kediaman Aisyah al-Qaddafi, jaraknya hanya satu kilometer dari tempat tinggal adiknya, Al-Mutasim Billah al-Qaddafi.

Ada empat orang berjaga secara bergiliran, termasuk Abdallah, 18 tahun, dan Ayub Husain, 23 tahun. Mereka bersenjatakan senapan Ak-47 buatan Uni Soviet. Abdallah baru lulus SMA, sedangkan Ayub semester IX Fakultas Ekonomi di Universitas Tripoli. Kampus itu sebelumnya bernama Universitas Al-Fatah, nama ini merujuk pada kemenangan Qaddafi saat menggulingkan Raja Idris I pada 1969.

Banyaknya pos pemeriksaan ini lantaran Qaddafi bersama anak-anak dan pengikutnya belum menyerah. Mereka diyakini bertahan di Sirte (kota kelahiran Qaddafi) dan Bani Walid, sekitar dua jam perjalanan dengan mobil dari Tripoli. Pemimpin Dewan Transisi Nasional Mustafa Abdul Jalil sudah menetapkan tenggat hingga Sabtu, 10 September 2011, untuk menyerah. Jika tidak, pemberontak bakal menyerbu dua kota itu.

Menurut Saleh, 32 tahun, banyak warga sipil memiliki senjata mereka dapatkan cuma-cuma. Dia mengaku memiliki dua AK-47, pemberian pemberontak dari Misrata saat menyerbu Tripoli. "Mereka hanya membagikan kepada warga kawasan Pasar Zuma, sedangkan warga Tripoli lainnya mendapatkan dari Bab al-Aziziyah," ujar lelaki kelahiran Misrata ini.

Seorang warga Tripoli tinggal di belakang Hotel Mahari mengungkapkan cerita menarik. Di antara para penembak jitu Qaddafi terbunuh, terdapat tiga orang Indonesia. "Mereka tadinya bekerja, lantas dibayar oleh Qaddafi untuk melawan rakyat Libya." Sampai sekarang kisah itu belum dapat dipastikan kebenarannya.

Karena itu jangan heran, jika suara rentetan senjata kerap terdengar tiap hari, siang atau malam. Termasuk saat tulisan ini dibuat. Rentetan panjang terdengar jelas. Namun menurut Saleh, itu merupakan luapan kegembiraan, bukan pertempuran.

Dia mengungkapkan saat jet-jet tempur NATO membombardir kompleks kediaman Qaddafi di Bab al-Aziziyah, Tripoli, kaum perempuan bukannya menangis atau bersembunyi karena ketakutan. Mereka malah menyambut dengan teriakan kegembiraan seperti saat lagu gambus dinyanyikan. Satu telapak tangan menepuk-nepuk mulut sambil mengeluarkan suara, "Uuu……i."

Qaddafi lari dari Tripoli saja kegembiraan sudah begitu meluap. Jadi bisa dibayangkan, seperti apa suka-cita warga Tripoli bila pria 69 tahun itu tertangkap atau terbunuh.

Seorang warga Libya sedang memukuli boneka pemimpin negara itu Muammar al-Qaddafi di kompleks kediaman Qaddafi di Bab al-Aziziyah, Ibu Kota Tripoli, Libya, September 2011. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Kekayaan Muammar al-Qaddafi

Dia memiliki saham di 72 perusahaan tersebar di lebih dari 45 negara.

Foto pemimpin Libya Muammar al-Qaddafi diinjak orang melintas dan dilindas mobil. Foto ini diletakkan di gerbang Bab al-Aziziyah, kompleks kediaman Qaddafi di Ibu Kota Tripoli, 7 September 2011. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Serba nyaman dan mewah

Anak-anak Qaddafi adalah pelanggan setia Mariah Carey, Beyonce, dan Usher.

Seorang warga Libya sedang memukuli boneka Muammar Qaddafi di kompleks kediaman Qaddafi di bab al-Aziziyah, Ibu Kota Tripoli, Libya, 7 September 2011. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Pribadi eksentrik

Dia takut terbang lama (lebih dari delapan jam) dan di atas air. Dia tidak suka berada di gedung tinggi atau menaiki lebih dari 35 anak tangga.

Tidak suka pangkat jenderal

Qaddafi beralasan karena Libya diperintah oleh rakyat, jadi dia tidak memerlukan pangkat tertinggi dalam militer.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Pelesiran ke Puerto Banus bareng Pangeran Misyari

Dekat merkusuar, terdapat Shaf, kapal pesiar milik Pangeran Salman bin Abdul Aziz (sejak Januari 2015 menjadi Raja Arab Saudi). Saya juga pernah bekerja untuk dia. Pangeran Salman juga mempunyai enam atau tujuh vila dalam sebuah kompleks besar di belakang masjid, dekat dengan vila kepunyaan Pangeran Mansur.

19 Mei 2018
Raja Khalid wafat
21 April 2018

TERSOHOR