buku

Sisa-sisa revolusi di Ajdabiya

Di Bin Jawad, setengah dari penduduk di kota itu mendukung pemberontak. Sisanya pro-Qaddafi.

03 Oktober 2015 06:38

Setidaknya ada lima pos pemeriksaan sepanjang jalan dari Benghazi menuju Ajdabiya. Semua dijaga cukup ketat, minimal ada satu orang bersenjata. "Untuk jaga-jaga kalau ada loyalis Qaddafi menyusup," kata Abdallah, sopir taksi mengantar saya ke Bin Jawad, Jumat, 2 September 2011.

Bin Jawad berjarak sekitar 200 kilometer dari Sirte, menjadi basis pertahanan pasukan Muammar al-Qaddafi. Kubu pemberontak meyakini di kota kelahirannya itulah dia bersembunyi. Ketua Dewan Transisi Nasional (NTC) Mustafa Abdul Jalil sudah memperpanjang batas waktu penyerahan diri buat keluarga Qaddafi, dari besok menjadi Sabtu pekan depan, seperti dikutip dari buku Rahasia Muammar al-Qaddafi karya Faisal Assegaf (terbitan Hamaslovers, November 2011).

Namun Qaddafi kembali menolak tawaran itu. Melalui pesan audio disiarkan sebuah stasiun televisi swasta Suriah, pemimpin sudah berkuasa selama 42 tahun ini bersumpah akan bertempur hingga penghabisan.

Seperti di Benghazi, simbol-simbol kemenangan milisi anti-Qaddafi juga tampak di dalam Kota Ajdabiya. Lukisan bendera tiga warna (merah, hitam, dan hijau dengan bulan sabit dan bintang di bagian tengah) bertebaran di pelbagai tempat, seperti dinding toko, rumah, dan bangunan lainnya. Bendera tiga warna inilah dipakai semasa pemerintahan Raja Idris I, sebelum diganti Qaddafi dengan warna hijau polos.

Lantaran masih libur Idul Fitri, suasana sepi. Banyak toko tutup dan jarang warga berkegiatan di luar rumah. Meski begitu, di pinggiran kota terdapat antrean panjang di sebuah pompa bensin. Menurut Abdallah, hal itu wajar karena sedang libur. Tradisi di Libya, libur nasional Idul Fitri berlangsung selama tiga hari.

Keluar dari Ajdabiya menuju Brega, cukup banyak bangkai kendaraan hangus terbakar dihantam roket. Mereka teronggok di sisi kiri dan kanan jalan berupa gurun. Kebanyakan mobil bak terbuka. Ada juga kendaraan lapis baja. "Itu milik pasukan Qaddafi," ujar Abdallah seraya menunjuk ke arah dua tank berada di sebelah kanan jalan. Pertempuran di Ajdabiya berlangsung Maret lalu.

Secara otomatis, pikiran saya terbang ke Indonesia. Kalau saja bangkai-bangkai kendaraan itu adanya di tanah air, tentu tidak akan lama terserak di sembarang tempat. Sudah pasti bakal banyak pemulung berebutan karena rangkanya bisa dijual dengan hitungan per kilogram.

Seperti rute Benghazi-Ajdabiya, jalan ke arah Bin Jawad juga sepi. Paling tidak perlu 10-15 menit untuk berjumpa kendaraan lain searah atau datang dari lajur berlawanan. Jalur dilalui juga didominasi trek lurus. Alhasil, Abdallah bisa memacu mobil pabrikan Amerika Serikat dia beli sekitar Rp 12,9 juta itu hingga 140 kilometer per jam atau bahkan lebih jika mau.

Rute sejauh 483,7 kilometer itu ditempuh sekitar lima jam. Dari sekian tanda petunjuk jalan, hanya satu yang unik, yakni bergambar unta. Jumlahnya cuma ada lima dalam perjalanan antara Benghazi sampai Bin Jawad. "Ini menjadi peringatan, unta bisa menyeberang kapan saja," kata Abdallah.

Selepas simpang Brega, dari kejauhan tampak asap hitam cukup tebal mengepul dari kilang minyak Sirte. Abdallah mengungkapkan tentara Qaddafi mengebom kilang itu bulan lalu.

Sejumlah mobil bak terbuka berisi tentara pemberontak melaju menuju Benghazi. Ada pula yang ke arah Bin Jawad. Menurut Abdallah, ada semacam pembagian jadwal. "Mereka diberi waktu pulang masing-masing 3-4 hari, lalu balik lagi ke Bin Jawad."

Di Bin Jawad saya menemukan kenyataan ironis. Seorang pemberontak cuma bersedia menyebut namanya dengan panggilan Abu Hasyim mengungkapkan setengah dari penduduk di kota itu mendukung pemberontak. Sisanya pro-Qaddafi. Walau begitu, dia memastikan tidak ada bentrokan di antara kedua kelompok itu.

Salah satu pendukung Qaddafi itu adalah Muhammad Isbali, sekarang tinggal sendirian. Istri dan sembilan anaknya sudah mengungsi ke Sirte. Sedangkan penyokong pemberontak lari ke gurun untuk menghindari serbuan tentara Qaddafi.

Isbali menyatakan mendukung stabilitas dan bukan politik. "Saya butuh kerja dan untuk itu perlu keadaan damai," ujarnya. Dia tidak mau terlalu banyak bicara meski Abu Hasyim menegaskan berkali-kali Isbali sudah bersumpah akan terus mendukung Qaddafi.

Mark Young bersama Pangeran Misyari bin Saud bin Abdul Aziz dan istrinya, Puteri Al-Anud binti Fahad. (Mark Young/Saudi Bodyguard)

the Elephant on the River, restoran kesukaan Pangeran Fawaz di London

Suatu malam, saat kami mengunjungi klub Tramp di Jalan Jermyn, perhatian kami tertuju kepada aktor Hollywood Sylvester Stallone, juga berada di sana waktu itu.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Pangeran Fawaz dicopot dari jabatannya sebagai gubernur Makkah karena doyan mabuk

Pangeran Fawaz bin Abdul Aziz juga senang bermain dengan pelacur saban berlibur ke Paris.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Disko di tengah gurun ditemani gadis-gadis Arab Badui

Pangeran Misyari memberi amplop berisi fulus lima ribu pound sterling ketika Mark Young pulang ke Inggris.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Makan malam dengan daging bayi unta

Saya sangat mengetahui beberapa pangeran Saudi terlibat pembunuhan tapi tidak dipancung. Jadi Saudi sudah bertindak tidak adil.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

the Elephant on the River, restoran kesukaan Pangeran Fawaz di London

Suatu malam, saat kami mengunjungi klub Tramp di Jalan Jermyn, perhatian kami tertuju kepada aktor Hollywood Sylvester Stallone, juga berada di sana waktu itu.

23 Mei 2020
Berburu tikus gurun
05 Oktober 2019

TERSOHOR