buku

Memutus nasib Qaddafi di Sirte

Saat saya menyambangi lokasi itu di Umma al-Gindi, Jumat, 2 September 2011, mereka mengaku tidak memiliki komandan atau bahkan rencana untuk menyerang Sirte.

10 Oktober 2015 11:24

Dua lelaki tampak sedang duduk santai dalam sebuah ambulans. Boleh jadi mereka tidak kuat menahan sengatan matahari. Berkaca mata hitam dengan kaus kutang hitam namanya Fauzi Saad Umar (35 tahun), sedangkan di sampingnya Hafiz Abdurrahman (42 tahun) dengan seragam militer berwarna gurun.

Di sebelah ambulans terparkir sebuah mobil bak terbuka berisi bak air. Sebuah bendera tiga warna (merah, hitam, dan hijau dengan bulan sabit dan bintang di bagian tengah) berkibar-kibar ditiup angin gurun berembus kencang. Lalu di sampingnya lagi berdiri kemah seadanya. Di dalam sana dua pria sedang tidur-tiduran. Berseragam dan bertopi loreng warna hijau bernama Umar Naji (34 tahun). Satunya lagi Mundir Amin (23 tahun), seperti dikutip dari buku Rahasia Muammar al-Qaddafi karya Faisal Assegaf (terbitan Hamaslovers, November 2011).

Semua tampak berantakan, tidak teratur. Tidak ada kesan mereka tentara profesional. Jadi benar-benar di luar dugaan. Tidak ada kamp konsentrasi berisi tentara pemberontak dalam jumlah besar. Para pemberontak itu kelihatan tidak membuat persiapan benar-benar serius. Tidak ada latihan fisik dan kemampuan tempur rutin saban hari. Bahkan saat saya menyambangi lokasi itu di Umma al-Gindi, Jumat, 2 September 2011, mereka mengaku tidak memiliki komandan atau bahkan rencana untuk menyerang Sirte.

"Kami tidak punya rencana apa-apa. Kami tidak mau banyak bicara, yang penting bertindak," kata Fauzi, mengaku bekerja di pabrik keramik. Meski dengan persiapan seadanya, dia sangat yakin bisa mengalahkan pasukan Muammar al-Qaddafi terlatih. "Saya yakin seratus persen karena rakyat Libya mendukung," kata Fauzi sambil menepuk-nepuk dadanya.

Padahal mereka meyakini Qaddafi bersembunyi bersama sekitar delapan ribu pasukannya di dalam kota kelahirannya itu. Pemimpin Libya sudah berkuasa selama 42 tahun ini memang mendapat dukungan dari para kepala suku di Sirte.

Namun hingga kini tidak ada kepastian soal lokasi persembunyian Qaddafi. Sejumlah laporan menyebutkan dia sudah menyeberang ke Aljazair atau Zimbabwe. Pemerintah Aljazair hanya mengakui istri kedua Qaddafi, Safiyah, bersama Hannibal, Muhammad, dan Aisyah Qaddafi memang diberi suaka dengan alasan kemanusiaan.

Pemimpin pemberontak sekaligus Ketua Dewan Transisi Nasional (NTC) Mustafa Abdul Jalil sudah memperpanjang batas waktu dari Sabtu pekan ini hingga pekan depan. Mereka berharap Qaddafi bersama keluarga dan pengikut setianya bersedia menyerahkan diri. Namun buronan dihargai Rp 14,5 miliar itu bersumpah akan berjuang hingga penghabisan.

Fauzi mengaku tidak kecewa dengan keputusan Mustafa Abdul Jalil untuk memberi kesempatan berunding. "Kami sebenarnya lebih suka penyelesaian secara damai," ujarnya. Tapi jika negosiasi gagal, dia menegaskan milisi anti-Qaddafi siap menyerbu Sirte.

Informasi saya peroleh, pemberontak dan NATO sama-sama menghadapi dilema untuk membombardir Sirte. Sebab pasukan Qaddafi bercampur dengan warga sipil. Jadi mereka khawatir bakal banyak penduduk terbunuh. Kota ini dihuni lebih dari 75 ribu penduduk.

Harapan terjadinya solusi damai juga dilontarkan oleh Hafiz Abdurrahman. "Kami tidak ingin lagi melihat pertumpahan darah." Dia memperkirakan saat ini terdapat sekitar 20 ribu pemberontak mengepung Kota Sirte. Sekarang garis terdepan ditempati pasukan pemberontak berada di Wadi al-Hamar, sekitar 70 kilometer dari Sirte.

Di Nufulia kondisinya juga sama. Sejumlah tenda untuk berleha-leha didirikan di bawah rimbunan pepohonan. Mobil-mobil bak terbuka dilengkapi senapan mesin hilir mudik. Para pemberontak tampak duduk-duduk santai sambil mengobrol. Ada pula beberapa pemuda ikut berjuang sekadar gagah-gagahan dengan senapan serbu AK-47.

Bahkan ada kesan para pemuda ikut bertempur hanya untuk mengisi waktu luang. Ini tersirat dari pengakuan Muhammad, 23 tahun. "Di bulan Ramadan saya seharian di lapangan, kalau buka puasa pulang dan tidur. Besok baru kembali lagi ke sini."

Kegiatan boleh dibilang serius di sana cuma di bengkel perbaikan senjata. Jangan membayangkan bengkel itu berupa bangunan dengan peralatan lengkap. Yang ada hanya truk militer. Di sanalah semua jenis senjata dimiliki pemberontak dirawat dan diperbaiki. Selepas itu langsung dicoba untuk diketahui apakah sudah bisa berfungsi dengan baik.

Menurut seorang teknisi bernama Mahdi Fathiyah (26 tahun), bengkel berjalan ini kerap berpindah-pindah tempat. "Sebelumnya saya tidak tahu cara memperbaiki senjata, tapi saya belajar di sini." Manajer bengkel, Fadhil Sereti (39 tahun), mengungkapkan anak buahnya saban hari memperbaiki 10-15 senjata berat dan lusinan senjata ringan.

Situasi serupa juga ditemui di Bin Jawad dan Ras Lanuf. Para pemberontak tampak santai dan tidak membuat persiapan seperti halnya ingin menghadapi pertempuran terakhir sekaligus paling sengit. Barangkali ini wajar saja. Mereka hanya warga biasa tidak pernah mengangkat senjata. Sebut saja Umar Naji, cuma guru bahasa Inggris, atau Mundir Amin merupakan petugas paramedis.

Kita boleh saja menertawakan atau tersenyum kecut jika melihat persiapan dilakukan. Tapi satu hal penting patut diacungi jempol dan itu bisa menjadi menjadi modal paling kuat untuk mengakhiri rezim Qaddafi buat selamanya. Para pemberontak itu memiliki semangat dan keinginan kuat.

Seorang warga Libya sedang memukuli boneka pemimpin negara itu Muammar al-Qaddafi di kompleks kediaman Qaddafi di Bab al-Aziziyah, Ibu Kota Tripoli, Libya, September 2011. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Kekayaan Muammar al-Qaddafi

Dia memiliki saham di 72 perusahaan tersebar di lebih dari 45 negara.

Foto pemimpin Libya Muammar al-Qaddafi diinjak orang melintas dan dilindas mobil. Foto ini diletakkan di gerbang Bab al-Aziziyah, kompleks kediaman Qaddafi di Ibu Kota Tripoli, 7 September 2011. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Serba nyaman dan mewah

Anak-anak Qaddafi adalah pelanggan setia Mariah Carey, Beyonce, dan Usher.

Seorang warga Libya sedang memukuli boneka Muammar Qaddafi di kompleks kediaman Qaddafi di bab al-Aziziyah, Ibu Kota Tripoli, Libya, 7 September 2011. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Pribadi eksentrik

Dia takut terbang lama (lebih dari delapan jam) dan di atas air. Dia tidak suka berada di gedung tinggi atau menaiki lebih dari 35 anak tangga.

Tidak suka pangkat jenderal

Qaddafi beralasan karena Libya diperintah oleh rakyat, jadi dia tidak memerlukan pangkat tertinggi dalam militer.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Kunjungan janda Pangeran Talal

Mark Young mendapat hadiah cincin emas 18 karat dari Puteri Muna.

24 Februari 2018
Isapan ganja Puteri Dalal
17 Februari 2018
Hidung baru Puteri Rima
10 Februari 2018

TERSOHOR