buku

Isyarat Syiah sesat

Setelah tahu saya orang Islam, pertanyaan biasanya muncul adalah Sunni atau Syiah. Kalau jawabannya Sunni, senyum mereka kian lebar.

10 Januari 2015 07:04

Selama hampir dua pekan di Gaza, saya memulai hari dengan sarapan gratis disediakan hotel. Menunya tidak pernah berganti. Tiga potong khubza (roti terbuat dari gandum berbentuk bundar pipih) dilengkapi masing-masing sepiring tatak acar tomat dan mentimun, minyak zaitun, tepung merica, saus keju, seiris keju, dan secangkir teh lemon panas. Kalau makan malam, saya kerap memesan nasi campur daging kambing dalam potongan-potongan lumayan besar.

Saya memang selalu berkeliling dan baru pulang ke hotel paling cepat sehabis magrib. Awalnya saya naik taksi berupa Mercedes tua. Bedanya dengan Jakarta, di Gaza satu taksi boleh diisi penumpang berbeda tujuan. Karena saya orang asing, dikenai tarif 8-10 shekel sekali jalan. Sedangkan buat warga setempat cuma 1-2 shekel, seperti dikutip dari buku berjudul Gaza: Simbol Perlawanan dan Kehormatan karya Faisal Assegaf (terbitan Hamaslovers, Agustus 2014).

Untung saja saya akhirnya bertemu sopir taksi baik bernama Suhail. Dia rela menetapkan ongkos 20 shekel per jam. Kadang kalau belum ada receh buat kembalian, dia tidak segan meminta saya menunda bayar. Harga itu sudah termasuk menjemput dan mengantar lagi ke hotel.

Tapi biasanya kalau tidak pergi terlalu jauh, saya memilih berjalan saja. Bahkan pulang hingga menjelang larut malam pun saya lakoni dengan jalan kaki. Tidak ada yang mengganggu. Resepnya hanya satu: mengangkat tangan kanan sambil mengucapkan salam seraya tersenyum. Semua penduduk saya temui bersikap ramah dan siap menolong. Apalagi setelah mengetahui saya dari Indonesia dan seorang muslim. Reaksi bakal ditemui adalah memeluk seraya mencium pipi kanan dan kiri.

Mereka juga tidak sungkan menawarkan untuk mampir sekadar minum teh. Ini saya alami saat saya sedang berhenti buat beristirahat di sebuah simpang. Ketika sedang celingak-celinguk memilih arah ingin dituju, seorang lelaki menegur saya dan mengajak singgah. Setelah mengetahui identitas saya – nama, asal, dan agama – dia meminta saya duduk. Tidak lama kemudian, secangkir teh panas dan setoples kue kaak segera terhidang di atas meja plastik menemani kami berbincang.

Itu belum seberapa. Muhammad saya temui ketika terjebak di perlintasan Rafah rela menjemput saat saya menumpang salat di sebuah pusat kebugaran.  Ayah dua anak ini (satu masih dalam kandungan) kemudian mengajak saya mampir ke rumah mertuanya. Di sana saya disuguhi satu burger berukuran besar dan sekaleng Coca Cola. Kakak iparnya ternyata pernah menikah dengan pria Indonesia.

Saya sempat pula bertemu Salim, pengagum Soekarno berusia 80 tahun. Ayah tujuh anak berjalan dengan bantuan tongkat ini mengaku pernah dua kali bertemu Soekarno di Jakarta. Kejadiannya sekitar 1960-an. "Dia pemimpin agung. Saya sangat menghormati dia," katanya.

Kesempatan berjumpa Soekarno itu datang karena Salim adalah juara tenis meja dari Palestina. Dia juga pernah menjabat ketua Federasi Tenis Meja Palestina. "Dia (Soekarno) sangat teguh memegang prinsip. Dia berani menentang negara-negara besar," ujarnya seraya mengacungkan jempol.

Namun yang ini membuat saya terkejut. Seorang guru bahasa Inggris bernama Hiba Ziad mengajak saya ke rumahnya di kawasan Abu Albas meski baru berkenalan. Padahal dia masih gadis. Saya heran lantaran dia dengan mudahnya mengundang saya yang bukan muhrim. Saya pikir ini melanggar tradisi. Saya baru datang tiga hari kemudian.

Seperti di sejumlah negara Arab, warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat masih mengenal tradisi ‘pembunuhan demi kehormatan’. Kebiasaan ini seolah memberikan kewenangan kepada anggota keluarga untuk membunuh kerabatnya dianggap mencemari nama baik keluarga. Menurut PICHR (Komisi Independen Hak Asasi Palestina), 25 perempuan menjadi korban tradisi menyesatkan itu selama 2011-2012. Biasanya ‘pembunuhan demi kehormatan’ ini berlaku terhadap perempuan hamil di luar nikah. Sedangkan lelaki menghamili dan pembunuh melenggang bebas. Kalaupun dihukum, maksimal hanya tiga tahun penjara, seperti diatur dalam dekrit dikeluarkan Presiden Otoritas Palestina Mahmud Rida Abbas pada Mei 2011.

Hampir seratus persen warga Gaza menganut Islam bermazhab Sunni. Walau kaum muslim dominan, tapi masjid di Gaza tidak begitu banyak. Tidak seperti di Jakarta ada hampir di tiap gang. Sebab itu, saya jarang mendengar suara azan.

Ketika Dinasti Fatimah berkuasa, kebanyakan warga Gaza berpaham Syiah. Namun Sunni mulai berpengaruh di sana setelah Salahuddin al-Ayyubi menguasai wilayah itu pada 1187. Setelah tahu saya orang Islam, pertanyaan biasanya muncul adalah Sunni atau Syiah. Kalau jawabannya Sunni, senyum mereka kian lebar. Seolah isyarat Syiah itu sesat.

Anak-anak Gaza tengah bermain sepak bola di jalanan di kamp Syati, Gaza, Rabu, 24 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Perubahan tatanan global

Amerika paling getol menggunakan hak veto terhadap resolusi-resolusi mengecam Israel. Sejak 1972 hingga kini, Washington telah 42 kali memakai hak veto terkait isu Israel.

Dua bocah perempuan tengah melintas di depan tembok sebuah rumah bolong-bolong terkena peluru Israel di Jabaliya, Jalur Gaza, 27 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Sokongan Mesir dan Iran

"Iran sangat berkomitmen terhadap Hamas. Mereka membiayai sayap militer dan pemerintahan Hamas," kata Ahmad Yusuf, penasihat Ismail Haniyah.

Putra dari Jamal, nelayan di Kota Gaza, ini tengah menikmati sarapan berupa roti isi ikan sardencis kecil dan terasa pahit di sebuah pantai di Kota Gaza, Kamis, 25 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Masa depan Gaza

Ada lima faktor utama menentukan masa depan Gaza: komitmen dan soliditas Hamas, rekonsiliasi nasional, blokade Israel, sokongan Mesir dan Iran, serta perubahan tatanan global.

Seorang lelaki berjalan melewati mural pengingat peristiwa Nakbah menjelang beridirnya negara Israel di Kota Gaza, Senin, 22 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Hengkang dari Gaza

David Ben Gurion pernah bilang, "Gaza tidak akan bisa kita kuasai meski kita serbu seribu kali."





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Pelesiran ke Puerto Banus bareng Pangeran Misyari

Dekat merkusuar, terdapat Shaf, kapal pesiar milik Pangeran Salman bin Abdul Aziz (sejak Januari 2015 menjadi Raja Arab Saudi). Saya juga pernah bekerja untuk dia. Pangeran Salman juga mempunyai enam atau tujuh vila dalam sebuah kompleks besar di belakang masjid, dekat dengan vila kepunyaan Pangeran Mansur.

19 Mei 2018
Raja Khalid wafat
21 April 2018

TERSOHOR