buku

Berdarah Yahudi

Di Kota Netanya, Israel, terdapat alun-alun bernama Qaddafi Plaza

12 Desember 2015 10:13

Selentingan soal Muammar al-Qaddafi adalah orang Yahudi sudah lama beredar di Libya. Banyak rakyat percaya akan informasi itu. Stasiun televisi NBC pada Maret 2011 melaporkan satu dari lima pemberontak rela memerangi pemimpin telah berkuasa selama 42 tahun itu karena percaya dia masih keturunan Yahudi.

"Ibunya orang Yahudi," kata warga Tripoli bernama Saleh, 32 tahun, kepada saya. Namun cerita berkembang berbeda-beda. Ada yang bilang ibunya bernama Aisha Ben Niran masuk Islam sejak usia sembilan tahun. Tapi muncul pula kisah menyebutkan nenek dari Qaddafi orang Yahudi. Dia lari dari suami pertamanya, juga Yahudi, untuk menikah dengan seorang syekh, seperti dilansir dari buku Rahasia Muammar al-Qaddafi karya Faisal Assegaf (terbitan Hamaslovers, November 2011).

Versi kedua inilah mungkin bakal dipercaya banyak orang setelah sebuah keluarga di Netanya, sekitar 30 kilometer sebelah utara Ibu Kota Tel Aviv, Israel, menawarkan suaka kepada Qaddafi. Mereka mengaku masih memiliki hubungan kerabat dengan sang kolonel. Gita Boaron mengungkapkan neneknya dan nenek dari Qadafi masih saudara sekandung (sepupu dua kali).

"Dia (nenek dari Qaddafi) meninggalkan suaminya yang Yahudi lalu menikah dengan seorang syekh," kata Boaron dalam wawancara khusus dengan stasiun televisi Israel, Channel Two. "Putrinya itulah ibu dari sang kolonel, jadi dia seorang Yahudi menurut hukum Talmud."

Sejumlah pihak meledek klaim keluarga Boaron itu demi mendapatkan emas katanya dibawa kabur oleh Qaddafi. Namun Pedazur Benattia mempercayai pengakuan itu. "Orang-orang Yahudi dari Tripoli ingat dia pernah menghadiri sebuah pernikahan warga Yahudi pada 1960-an, jauh sebelum dia berkuasa," ujarnya. Benattia adalah pendiri Or Shalom, lembaga mempromosikan kebudayaan orang-orang Libya keturunan Yahudi di Israel.

Meski belum pernah mengunjungi Israel, jejak Qaddafi sudah ada di Netanya. Alun-alun kota ini diberi nama Qaddafi Plaza untuk mengantisipasi kedatangannya. Sekitar seratus ribu warga Yahudi keturunan Libya tinggal di kota ini. "Apapun telah dia lakukan, Israel adalah rumahnya," ujar Rachel, janda pemilik kafe di sudut Qaddafi Plaza, menyajikan masakan khas Libya. "Bagaimanapun juga, dia orang Yahudi."

Orang Yahudi sudah menetap di Libya dan wilayah Afrika Utara lainnya sejak 2.500 tahun lalu. Kerusuhan anti-Yahudi pertama kali meletus di Libya setelah berdirinya negara Israel pada 1948. Selusin warga Yahudi terbunuh dan hampir 300 rumah dirusak. Tiga tahun kemudian sekitar 30 ribu orang Yahudi meninggalkan Libya, kebanyakan menuju Israel, Italia, dan Inggris.

Eksodus terbesar selanjutnya terjadi setelah Perang Enam Hari 1967. Sebanyak empat ribu orang Yahudi kabur dari Libya karena sentimen anti-Yahudi meningkat. Dua tahun setelah Qaddafi berkuasa, tersisa hanya seratus warga Yahudi. Sehabis itu lenyap karena diusir keluar dari negara itu. Ketika itu di seantero Libya terdapat 82 sinagoge. Hotel Corinthia di Tripoli dulunya adalah kompleks pemakaman khusus warga Yahudi.

Klaim lain dipercaya sejarawan Libya, Muhammad Yusuf al-Magariaf (71 tahun), menyebutkan Qaddafi merupakan anak dari perempuan Yahudi dihamili seorang tentara Italia. Karena itu merupakan aib, bayi Qaddafi diserahkan kepada seorang kardinal dan lantas memberikan kepada sebuah keluarga Arab Badui nomaden di Sirte.

Tokoh oposisi Libya sekarang bermukim di Amerika Serikat ini mengatakan pada Desember 1984 dia bertemu Khalifah al-Muntasir, pernah menjadi duta besar Libya. Muntasir membenarkan soal surat dari dari seorang kardinal isinya menyatakan Qaddafi masih keturunan Yahudi dan Nasrani.

Khalifah al-Muntasir adalah orang diminta oleh Umar al-Mahashi untuk menerjemahkan surat berbahasa Italia dari seorang kardinal pernah bertugas di Libya saat Qaddafi lahir. Mahashi, merupakan rekan dari Qaddafi, menerima surat itu pada 1972 (ketika itu dia ketua sementara Dewan Komando Revolusioner). Mahashi baru berani membocorkan kepada publik mengenai surat kardinal itu setelah lari ke Mesir tiga tahun kemudian.

Hingga kini siapa nama kardinal itu tidak diketahui. Menurut Magariaf, seorang wartawan perempuan Italia pada 1980-an mencoba meminta konfirmasi dari Vatikan mengenai hal itu malah mendapat ancaman. "Saya akan mengingatkan Anda, Vatikan tidak mengecam kejahatan dilakukan Qaddafi."

Wartawan bernama Mary Parce tahun lalu menulis buku berjudul Rahasia Qaddafi. Menurut dia, setelah lahir, tentara Italia menghamili ibu Qaddafi (perempuan Libya) membawa bayi Qaddafi ke Venice. Dia lantas dibaptis menjadi penganut Katolik pada usia delapan atau sembilan bulan.

Kabar Qaddafi masih berdarah Yahudi diembuskan pertama kali oleh Oggi pada 1970. Koran Italia ini melaporkan dia lahir dari rahim perempuan Yahudi.

Tiga tahun kemudian, saat diwawancarai dua wartawan majalah terbitan Libya, Al-Balagh, Qaddafi mengaku memiliki beberapa sepupu orang Yahudi. Salah satunya sudah meninggal lahir dari ibu Yahudi. Dia mengatakan sepupunya satu itu sangat mirip dengan dirinya. Qaddafi meralat ucapannya ini dan soal itu tidak muncul dalam hasil wawancara. Namun Ahmad Dajjani ikut dalam wawancara itu pada 1980 membenarkan soal pernyataan Qaddafi tentang misannya orang Yahudi.

Cerita lain lama beredar di kalangan rakyat Libya, ayah Qaddafi adalah seorang pilot jet tempur Prancis pada Perang Dunia Kedua. Namanya Albert Preziosi, berasal dari Desa Vezzani, Pulau Korsika. Pesawatnya ditembak jatuh saat melintas di atas wilayah Libya. Dia lantas diselamatkan oleh sebuah keluarga Libya dan disembunyikan selama tiga pekan dari buruan pasukan Jerman. Saat itulah dia dikabarkan menjalin hubungan dengan seorang gadis Libya.

Simpang siur mengenai asal usul Qaddafi membuat hal itu tetap menjadi sebuah misteri. Bahkan para tetua suku di Libya tidak mengetahui dari suku mana dia berasal. "Tidak ada yang tahu pasti tahun berapa dan di mana dia dilahirkan. Juga tak ada yang tahu hari atau bulan apa," ujar Magariaf. "Padahal menurut tradisi kesukuan di Libya, orang dikenal melalui sepupu atau pamannya."

Namun dunia mengenal Qaddafi sebagai anti-Israel. Meski begitu, sejumlah pernyataannya menyiratkan dia memiliki hubungan emosional dengan negara Yahudi itu. Seperti artikelnya dimuat di surat kabar the New York Times pada 2009. "Yahudi dan muslim adalah sepupu dari keturunan Ibrahim. Bangsa Yahudi ingin dan berhak atas tanah air mereka."

Pada Konferensi Tingkat Tinggi Liga Arab di Ibu Kota Amman, Yordania, Maret 2001, dia mencela negara-negara Arab dan Islam berambisi membebaskan Al-Quds (Yerusalem) dan Masjid Al-Aqsa dari penjajahan Israel. "Kalian memecahkan masalah ini atau tidak, itu hanyalah sebuah masjid dan saya bisa berdoa di mana pun. Tidaklah begitu penting di mana kita tinggal...Itu (Al-Quds) juga merupakan tempat suci bagi Yahudi."

Qaddafi juga memiliki sebuah rumah mewah di kawasan permukiman Yahudi Ortodoks di Kota New Jersey, Amerika Serikat. Lokasinya di Palisade Avenue, Englewood, pinggiran Bergen County. Bangunan dikenal dengan nama "Thunder Rock" (tidak dipahami dari mana nama itu berasal) bersebelahan dengan sebuah yeshiva (sekolah seminari Yahudi) terbesar di sana.

Tidak jauh dari vila ini, dengan berjalan kaki, terdapat kediaman Rabbi Shmuley Boteach, tokoh paling vokal di kalangan komunitas Yahudi Amerika dan bekas guru spiritual Michael Jackson. Rumah mewah Qaddafi ini juga bertetangga dengan bintang film Hollywood Eddie Murphy, John  Travolta, dan penyanyi rap Lil Kim.

Thunder Rock luasnya 929 meter persegi ini berlantai tiga dan mempunyai 25 kamar tidur. Rumah peristirahatan ini menempati lahan 20 ribu meter persegi dan dibeli oleh Qaddafi US$ 1 juta pada 1982.

Vila ini tadinya dibeli untuk tempat berlibur musim panas bagi duta besar Libya dan keluarganya. Tapi sangat jarang dipakai. Sengketa hukum sempat menimpa bangunan ini. Pada 1985 pengadilan setempat akhirnya memutuskan pemerintah Libya tidak perlu membayar pajak properti untuk vila itu.

Dua tahun lalu, Qaddafi sempat menginap di Thunder Rock. Tapi bukan di dalam. Seperti biasa, dia berkemah menggunakan tenda mewahnya dia tenpatkan di halaman depan. Kehadiran Qaddafi di sana mengundang protes dari warga sekitar, termasuk Rabbi Shmuley Boteach.

Entah sebuah kebetulan atau bukan, putra kedua Qaddafi, Saiful Islam, pernah berpacaran dengan bintang opera sabun asal Israel, Orly Weinermann, meski keluarga Qaddafi membantah selentingan itu. Keduanya pertama kali bertemu di Italia. Jalinan asmara itu tampak serius setelah muncul kabar Weinermann siap menjadi mualaf sebagai syarat menikah dengan Saiful Islam. Tapi takdir berkata lain. Hubungan dibina sejak 2006 itu hanya bertahan dua tahun.

Menurut the Financial Times, perusahaan komunikasi berkantor di Manhattan (Amerika Serikat), Brown Lloyd James, pada 2008 mengatur pertemuan antara Saiful Islam dan para pemimpin Yahudi di negara adikuasa itu. Tokoh Yahudi keturunan Libya bermukim di London, Raphael Luzon, mengaku tidak terkejut dengan berita itu. "Saiful Islam bersahabat dengan banyak orang Yahudi tajir," katanya.

Sebulan setelah revolusi meletus di negaranya, menurut seorang pejabat senior Israel, Saiful Islam secara tiba-tiba melawat ke negara Zionis itu. Kepada koran Yediot Ahronot, sumber itu mengungkapkan selama dua hari kunjungannya amat rahasia, Saiful Islam meminta bantuan peralatan militer dan teknologi foto satelit. Sebagai balasan, dia berjanji meningkatkan hubungan ekonomi kedua negara.

Bahkan seperti dilaporkan surat kabar Haaretz pada 1 September 2011, Saiful Islam bersedia meneken perjanjian damai dengan Israel jika konflik di negaranya berakhir. Dia juga berjanji membantu pembebasan Gilad Shalit, serdadu Israel ditawan Hamas sejak lima tahun lalu. Dia diberitakan bersahabat dengan Menteri Luar Negeri Israel Avigdor Lieberman.

Selain karena faktor keturunan, Qaddafi memang pantas dicap sebagai agen Zionis karena perilakunya. Seperti bunyi salah satu coretan di Kota Benghazi, "Qaddafi agen Mossad".

Seorang warga Libya sedang memukuli boneka pemimpin negara itu Muammar al-Qaddafi di kompleks kediaman Qaddafi di Bab al-Aziziyah, Ibu Kota Tripoli, Libya, September 2011. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Kekayaan Muammar al-Qaddafi

Dia memiliki saham di 72 perusahaan tersebar di lebih dari 45 negara.

Foto pemimpin Libya Muammar al-Qaddafi diinjak orang melintas dan dilindas mobil. Foto ini diletakkan di gerbang Bab al-Aziziyah, kompleks kediaman Qaddafi di Ibu Kota Tripoli, 7 September 2011. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Serba nyaman dan mewah

Anak-anak Qaddafi adalah pelanggan setia Mariah Carey, Beyonce, dan Usher.

Seorang warga Libya sedang memukuli boneka Muammar Qaddafi di kompleks kediaman Qaddafi di bab al-Aziziyah, Ibu Kota Tripoli, Libya, 7 September 2011. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Pribadi eksentrik

Dia takut terbang lama (lebih dari delapan jam) dan di atas air. Dia tidak suka berada di gedung tinggi atau menaiki lebih dari 35 anak tangga.

Tidak suka pangkat jenderal

Qaddafi beralasan karena Libya diperintah oleh rakyat, jadi dia tidak memerlukan pangkat tertinggi dalam militer.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Pangeran Talal tokoh liberal

Dia mulai menarik perhatian ketika bilang tidak ada hukuman pancung dalam kasus dua perawat Inggris.

18 November 2017
Kekayaan Muammar al-Qaddafi
23 Januari 2016
Serba nyaman dan mewah
09 Januari 2016
Pribadi eksentrik
02 Januari 2016

TERSOHOR