buku

Nestapa Gaza

“Kami telah akrab dengan bunyi tembakan dan ledakan sejak dalam kandungan,” kata Hiba Ziad seraya tersenyum.

17 Januari 2015 05:16

Pagi itu saya memutuskan berenang di pantai seberang Hotel Al-Mashtal. Pemandangan sangat cerah. Sinar matahari menerpa hamparan pasir putih menyilaukan mata. Biru air laut seperti ingin berlomba dengan birunya langit. Bersih.

Setelah sejam menikmati segarnya air Laut Mediterania, saya menumpang beristirahat di sebuah gubuk milik nelayan. Pemandangan indah pantai seolah dikotori gubuk-gubuk kumuh dan deretan perahu tak terurus. “Saya sudah jarang mencari ikan karena blokade Israel,” kata nelayan bernama Jamal, seperti dikutip dari buku berjudul Gaza: Simbol Perlawanan dan Kehormatan karya Faisal Assegaf (terbitan Hamaslovers, Agustus 2014).

Dia menuturkan negara Zionis itu hanya membolehkan nelayan Gaza mencari ikan paling jauh tiga mil. Lewat dari batas itu, mereka terancam ditembak tentara patroli laut Israel. “Mereka bisa menembak tanpa memberi peringatan.”

Benar kata Jamal. Percuma saja kalau nekat mencari ikan. Paling banter diperoleh ikan sardencis kecil berwarna hitam. Ukurannya hanya setengah telapak tangan orang dewasa. Rasanya pahit. Tapi Jamal terpaksa memberikan roti lapis sardencis pahit dan kecil itu sebagai sarapan putranya baru berusia tiga tahun.

Kalau saja tidak ada perang. Bila saja Israel mencabut isolasi. Gaza bakal menjadi kota pantai menarik. Pasar-pasar ikan dan restoran makanan laut bakal bermunculan, persis saya saksikan di Tripoli (Libya) usai ditinggal pergi Muammar Qaddafi lari ke Sirte.

Pantai memang lokasi paling digemari warga Gaza buat melepas ketegangan. Saban akhir pekan, suasana pantai ramai pengunjung. Maklum saja, mereka sangat kekurangan tempat hiburan.

Paling kasihan anak-anak. Mereka lebih banyak mencari kesenangan di jalanan, seperti bermain sepak bola, bersepeda, atau kejar-kejaran. Paling banter, selain pantai, empat kebun binatang masih menarik bagi mereka. Kalau pun ada yang lain, saya cuma melihat satu komidi putar di Bait Hanun. Memang benar sejak 2010 hadir tiga pusat hiburan, namun tiket masuk kelewat mahal bagi warga kebanyakan.

Anak-anak Gaza sudah terbiasa dengan perang. Senjata mainan menjadi kegemaran bocah lelaki. “Kami telah akrab dengan bunyi tembakan dan ledakan sejak dalam kandungan,” kata Hiba Ziad seraya tersenyum.

Di sebuah warung Internet di Jabaliya, saya menyaksikan anak-anak asyik bermain counter strike. Tempat ini buka dari pagi hingga malam dan menurut pemiliknya tidak pernah sepi. Perang telah membuat mereka karib dengan darah dan kekerasan.

Kelompok-kelompok pejuang di Gaza, termasuk Hamas dan Jihad Islam (dua faksi terbesar), sadar betul anak-anak adalah generasi penerus mereka. Sebab itu, beberapa tahun terakhir mereka menggelar kamp pelatihan ala militer saban musim liburan sekolah. Mereka dilatih secara fisik dan diajarkan menggunakan senjata, bahan peledak, dan menculik serdadu Israel. Persis seperti kasus penculikan Gilad Shalit. Dia ditawan lebih dari lima tahun sebelum dibebaskan akhir Oktober 2011. Pelatihan ini melibatkan pelajar berusia antara enam hingga 16 tahun.

Pada 2010 Hamas membuka 500 kamp pelatihan melibatkan seratus ribu anak-anak, sedangkan sepuluh ribu lainnya mengikuti pendidikan di 51 kamp bikinan Jihad Islam. Anak-anak ini juga belajar mengaji lima jam sehari dan berolah raga. Menurut Ahmad Nabil, pejabat Hamas, generasi tua memiliki tugas menceritakan kepada generasi muda soal sejarah dan nasib bangsa Palestina. “Kami membolehkan mereka bermain tapi juga menyampaikan sebuah pesan buat mereka. Kami tidak boleh membiarkan mereka lupa, kita ini bangsa terjajah,” katanya.

UNRWA (Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa urusan pengungsi Palestina) juga membuka kamp tandingan agar anak-anak bisa mengisi liburan dengan menyenangkan. Sebanyak 1.200 kamp bikinan mereka berhasil menggaet 250 ribu pelajar, termasuk Hasan Sidan (13 tahun). Dia mengaku hanya ingin bermain di pantai dan bersenang-senang. “Hal terburuk adalah ketika mereka memberi pelajaran,” ujarnya.

Kementerian Pendidikan Hamas sejak September 2012 meluncurkan kurikulum bernama Futuwwa. Program ini mewajibkan sekitar 37 ribu pelajar berumur 15-17 tahun mengikuti pelatihan militer dilaksanakan selama dua pekan. Mereka diajarkan mengenai pertolongan pertama, kemampuan dasar bertempur, dan bagaimana menembak dengan Kalashnikov.

“Saya sangat senang belajar memakai senjata,” tutur peserta pelatihan bernama Izzadin Muhammad, 17 tahun. “Ini penting karena kami dijajah. Saya merasa lebih kuat dan percaya diri dengan pengetahuan bisa saya gunakan buat melawan penjajah.”

Hiba Ziad, gadis 26 tahun asal Kota Gaza, membenarkan mereka memang haus akan hiburan. “Jadi wajar saja kami selalu menghadiri tiap perayaan meski sekadar ulang tahun partai, seperti Hamas dan Fatah,” ujarnya.

Dua bocah perempuan tengah melintas di depan tembok sebuah rumah bolong-bolong terkena peluru Israel di Jabaliya, Jalur Gaza, 27 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Sokongan Mesir dan Iran

"Iran sangat berkomitmen terhadap Hamas. Mereka membiayai sayap militer dan pemerintahan Hamas," kata Ahmad Yusuf, penasihat Ismail Haniyah.

Putra dari Jamal, nelayan di Kota Gaza, ini tengah menikmati sarapan berupa roti isi ikan sardencis kecil dan terasa pahit di sebuah pantai di Kota Gaza, Kamis, 25 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Masa depan Gaza

Ada lima faktor utama menentukan masa depan Gaza: komitmen dan soliditas Hamas, rekonsiliasi nasional, blokade Israel, sokongan Mesir dan Iran, serta perubahan tatanan global.

Kepala Biro Politik Hamas Khalid Misyaal saat diwawancarai Faisal Assegaf dari Albalad.co di Ibu Kota Kuala Lumpur, Malaysia, November 2013. (faisal assegaf/albalad.co)

Tumbal demokrasi Palestina

Israel bersama Amerika Serikat menolak kemenangan Hamas dalam pemilihan umum 25 Januari 2006.

Anak-anak Gaza berkeliling menggunakan gerobak keledai saat perayaan Idul Adha di Kota Gaza, Jumat, 26 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Sahabat pena dari Gaza

Berbeda pandangan soal konflik Palestina dan Israel namun sama-sama menyukai karya Shakespeare.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Rusaknya Aston Martin milik Pangeran Mansur bin Saud

"Allah telah menghukum Pangeran Mansur lantaran telah mengeluarkan pernyataan menghina kepada saya ketika saya sudah menolong korban kecelakaan di pantai," kata Mark Young.

29 September 2018

TERSOHOR