buku

Bakar diri di Kota Gaza

Bakar diri oleh Ihab Abu Nadir pada September 2012 adalah kasus pertama di Gaza.

24 Januari 2015 02:58

Dia tinggal bersama keluarganya di kamp Asy-Syathi dan bertetangga dengan Perdana Menteri Ismail Haniyah. Dia ingin lulus SMA agar bisa segera mencari kerja. Dia bercita-cita membeli sepeda motor dari uang tabungannya. Penggemar Real Madrid ini bermimpi bisa mencari pekerjaan di negara tetangga.

Namun angan-angan Ihab Abu Nadir, 18 tahun, hancur setelah awal 2012 dia membakar diri di tengah jalan Kota Gaza. Sebelum melaksanakan tindakan nekat itu, anak kedua dari enam bersaudara ini meminta maaf kepada ibunya lewat telepon, seperti dikutip dari buku berjudul Gaza: Simbol Perlawanan dan Kehormatan karya Faisal Assegaf (terbitan Hamaslovers, Agustus 2014)

Orang-orang melintas berupaya sebisa mungkin memadamkan api menjilati tubuh Ihab dengan air dan selimut. Mereka kemudian melarikan dia ke Rumah Sakit Syifa di seberang jalan. Ihab meninggal Ahad pagi setelah koma empat hari. Dia menderita luka bakar tingkat tiga, 85 persen tubuhnya hangus.

Bakar diri oleh Ihab ini yang pertama di Gaza. Sebab itu, sebagian orang membayangkan apakah peristiwa itu bisa meletuskan demonstrasi besar-besaran anti-Hamas seperti kasus bakar diri Muhammad Buazizi di Tunisia, Desember 2010, memicu Revolusi Arab. Di pekan yang sama setelah kasus Ihab, dua penduduk Gaza juga membakar diri, namun nyawa mereka masih bisa diselamatkan.

“Itu sebuah tragedi besar seharusnya benar-benar mampu membuka mata dunia soal situasi Gaza tengah diblokade,” kata Karl Schembri dari Oxfam cabang Kota Gaza.

Ismail Haniyah turut melayat ke rumah Sofyan dan Raida Abu Nadir, orang tua Ihab, saat tiga hari masa berkabung. Keduanya lantas diundang ke kediaman Haniyah. Selain menerima hibah US$ 1.869, mereka dijanjikan sebidang tanah dan pekerjaan buat putra sulung, Muhammad.

Sofyan tidak percaya anaknya berniat bunuh diri. “Saya merasa telah kehilangan kedua lengan dan kaki saya,” ujarnya. Uang duka dari Haniyah tidak cukup. Dia memiliki utang US$ 5 ribu dan hanya berpendapatan US$ 47 sebulan. “Fulus itu habis buat makan dan lainnya.”

Rumah ditempati Sofyan sekeluarga menyedihkan. Atapnya bocor, ruang tamu tak berjendela dan tanpa alat penghangat ruangan kala musim dingin tiba. Pompa air juga rusak. Bangunan ini hanya memiliki dua kamar tidur. Alhasil, Samah, putrinya berusia 14 tahun, terpaksa sekamar dengan dua abangnya. Kamar mandi dan dapur menjadi satu, tanpa pintu dan hanya disekat tirai.

Pada musim panas 2011, Ihab berhenti sekolah untuk mencari kerja. Namun sulitnya bukan main. Dia kemudian berjualan keripik kentang di luar masjid saban Jumat. Tapi usahanya itu terhenti. Dia tidak memiliki izin sehingga diuber-uber polisi. Selama Ramadan, dia bekerja dua hari dalam sepekan membuat falafel, kue berbentuk bola dari kacang polong, buncis, atau campuran keduanya. Makanan tradisional Arab ini diyakini berasal dari Mesir. Ihab mendapat upah US$ 5,45 untuk 14 jam kerja sehari.

“Ketika mendapat pekerjaan, dia bangun pagi dengan gembira. Dia sangat senang bekerja,” tutur ayahnya.

Selepas bulan puasa, dia menganggur lagi. Sadar tidak mudah mendapat pekerjaan, Ihab mencoba bersekolah lagi. Namun kepala sekolah menolak.

Ihab putus asa. Itu terlihat dari tampilan di layar telepon selulernya. Sebuah foto menunjukkan seorang lelaki sedang meletakkan kedua tangan di atas kepalanya. Dia memberi judul “Puncak penderitaan” dengan tulisan, “Saya bersumpah demi Allah: Kami benar-benar muak, kami sangat bosan.”

Selasa, 28 Agustus 2012. Ihab pamit ingin mencari kerja. Namun dia tidak pulang hingga larut malam. Ibunya cemas menghubungi dia lewat telepon tetangga. “Saya tidak lagi di Gaza, saya tak ada lagi di dunia ini. Dalam beberapa jam, ibu bakal mendengar berita soal saya,” kata Ihab. “Maafkan saya, ibu,” ujarnya memelas. “Saya bosan hidup. Tidak ada kerja. Maafkan saya.”

Ihab sempat bertemu tetangganya, Muhammad Jabir. “Dia membawa seplastik bensin. Saya pikir buat generator,” tutur Muhammad. Ihab lantas pergi menumpang taksi saat Muhammad meleng. “Saya tidak tahu ke mana dia pergi.”

Keluarganya berusaha mencari Ihab. Besok paginya, ibu Ihab bersama seorang tetangga mencari di Rumah Sakit Syifa. Dia menemukan jenazah anaknya terbujur kaku dalam kamar mayat.

“Saya menyalahkan penjajahan dan blokade Israel mengakibatkan kami seperti ini. Saya menyalahkan perpecahan antara Tepi Barat dan Jalur Gaza,” kata Sofyan.  Dia meminta anak-anak muda Palestina tidak mengikuti jejak putranya. “Itu sebuah kesalahan. Tetaplah mencari, terus belajar. Pendidikan satu-satunya bekal di masa depan.”

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Menolak ikut makan malam di rumah Pangeran Muhammad bin Fahad

Menahan paspor, melarang memakai telepon ke luar negeri, menyensor surat kabar, majalah dan mengontrol program televisi adalah siasat pemerintah Saudi untuk mengawasi rakyatnya.

Mobil milik Pangeran Walid bin Saud bin Abdul Aziz. (Mark Young/Saudi Bodyguard)

Pelesiran sejenak di Jeddah

Terdapat sejumlah kedutaan besar di Jeddah dan suasananya lebih rileks dibanding kota-kota lain di Arab Saudi.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Faisal dan mimpi perubahan di Arab Saudi

Faisal, pemuda Arab Saudi lulusan dari sebuah universitas di Amerika, bersemangat membahas gagasan-gagasannya untuk perubahan di negaranya, hal tabu waktu itu.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Mengunjungi kompleks istana Raja Saud

Selepas kedua gerbang itu terdapat halaman seluas 2,6 kilometer persegi.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Menolak ikut makan malam di rumah Pangeran Muhammad bin Fahad

Menahan paspor, melarang memakai telepon ke luar negeri, menyensor surat kabar, majalah dan mengontrol program televisi adalah siasat pemerintah Saudi untuk mengawasi rakyatnya.

14 September 2019
Pelesiran sejenak di Jeddah
07 September 2019

TERSOHOR