buku

Tidak ada masa depan di Gaza

Ternyata di Gaza juga ada pelacur.

31 Januari 2015 08:14

Beginilah pemandangan saban hari di Jalan Umar Mukhtar, salah satu jalan utama di Distrik Rimal, Kota Gaza. Mobil pribadi, taksi, tuk tuk, dan pedati ditarik keledai berseliweran. Toko-toko buka. Orang-orang lalu lalang sibuk dengan urusan masing-masing.

Nama jalan ini merujuk pada Umar Mukhtar, tokoh pejuang kemerdekaan Libya saat menghadapi Italia. Dia meninggal di tiang gantungan pada 1931 dalam usia 73 tahun. Jalan Umar Mukhtar membentang dari Alun-alun Palestina hingga Pelabuhan Gaza, seperti dikutip dari buku berjudul Gaza: Simbol Perlawanan dan Kehormatan karya Faisal Assegaf (terbitan Hamaslovers, Agustus 2014).

Dari jendela kantornya di lantai empat sebuah gedung, Hiba Ziad siang itu memandang ke arah Jalan Umar Mukhtar. “Saya ingin keluar dari Gaza. Tidak ada masa depan di sini,” kata gadis berabaya dan berkerudung serba hitam ini. Karena itu, dia memutuskan tidak ingin menikah.

Dia kembali ke meja kerjanya, berkutat lagi di depan komputer. Hobinya berselancar di dunia maya. Dari sana dia mendapat banyak teman dan menjalin persahabatan dengan dunia luar. Anak-anak muda di Gaza memang keranjingan Facebook. Banyak dari mereka memakai media sosial ini buat mencari jodoh.

Sarjana bahasa Inggris lulusan Universitas Al-Azhar, Kota Gaza, ini tidak ingin menyulitkan anak-anaknya lantaran belum ada perdamaian di Gaza. Dia tak mau anak-anaknya kerap hidup serba ketakutan serta kekurangan, sulit ke sekolah, dan tidak bisa bermain. Dia tidak tega lantaran tidak bisa merencanakan masa depan bagi mereka. Hiba lebih tertarik melanjutkan kuliah ke Amerika atau Eropa ketimbang mencari pendamping hidup. Padahal kebanyakan perempuan Gaza seusianya telah memiliki paling tidak dua anak. Menikah di usia dini merupakan hal lumrah di sana.

Menurut Bakar Azzam, pengacara spesialis kasus syariah, dari 17 ribu pasangan menikah pada 2012, sepertiga pengantin perempuan masih berusia di bawah 17 tahun. Seperempat dari 2.700 kasus perceraian di tahun itu melibatkan istri masih remaja. Dalam beberapa kasus, terutama keluarga miskin, ayah sang gadis memaksakan putri mereka masih belum cukup umur menikah buat mengurangi beban keluarga.

Kalau ketuaan bisa tidak laku. Seperti kebiasaan orang Arab, pacaran dilarang dan menikah biasanya lewat perjodohan. Namun sulit bagi perempuan Gaza mencari calon suami. Kebanyakan pemuda Gaza menganggur. Pekerjaan sulit lantaran blokade Israel. Apalagi mahar berlaku bagi calon mempelai pria sangat tinggi.

“Rata-rata US$ 7 ribu bagi kaum kelas menengah,” ujar anak kedua dari lima bersaudara ini. Alhasil, pernikahan bukan sebuah ibadah mengikuti sunnah nabi, tapi mengarah ke perbuatan dosa lantaran tradisi. Saya jadi teringat kisah Ali bin Abi Thalib saat menikahi Fatimah az-Zahra. Maharnya cuma baju perang. “Banyak yang mencari pinjaman buat mahar. Setelah menikah, semua cincin, gelang, dan kalung menjadi mas kawin dijual lagi untuk membayar utang.”

Hari sudah sore. Setelah pamit dari kantor Hiba, saya menyusuri Jalan Umar Mukhtar kian ramai. Saya mampir di depan sebuah toko komputer. Di sana saya mengobrol dengan tiga lelaki. Satu orang bernama Muhammad mengaku tertekan tinggal di Gaza. Untuk mengurangi stres, dia kerap mengisap ganja. “Tidak ada kehidupan di Gaza, semua karena Israel,” tuturnya.

Bagi warga Gaza mengalami depresi, mereka hanya memiliki dua pilihan: bergabung dengan kelompok pejuang Hamas atau Jihad Islam, atau menjadi pecandu obat terlarang. Meski kadang ada juga yang bunuh diri, jumlah orang mengambil dua pilihan pertama terus meningkat sebab kehidupan kian sulit.

Para pecandu ini mengonsumsi Tramadol, pil pembunuh rasa sakit dengan akibat seperti narkotik. Dengan satu tablet berdosis 200 miligram, pemakainya dapat tidur seharian. Bahkan seorang pengguna mengaku tubuhnya seperti dibungkus selimut tapi menggigil. Pabrik obat memperingatkan maksimal penggunaan Tramadol tidak boleh lebih dari 300 miligram per hari.

Harga satu strip Tramadol berisi sepuluh tablet sekitar 3,40 pound Mesir. Barang haram masuk melalui perbatasan Rafah ini mudah diperoleh di toko-toko obat. Bahkan banyak dijual di jalan-jalan. Beberapa di antara mereka memakai pil ini untuk meningkatkan kemampuan bertarung di atas ranjang.

Menurut Hasan Shaban Ziyada, ahli kejiwaan dari Program Kesehatan Mental Masyarakat Gaza (GCMHP), banyak orang menjadi pecandu Tramadol karena situasi sulit akibat isolasi Israel, perpecahan Hamas dan Fatah, serta perang.

Saya terus menyusuri Kota Gaza dan akhirnya tiba di Jalan Jamal Abdul Nasir. Suasana kian riuh lantaran toko-toko mulai menyalakan genset mereka diletakkan di trotoar. Kota Gaza rutin terkena pemadaman listrik bergilir saban pagi dan menjelang magrib. Alhasil, orang-orang miskin tidak mampu membeli genset harus melalui malam dalam keadaan gelap gulita.

Tiba-tiba seorang penjual telepon seluler bekas sedang asyik mengobrol dengan saya menunjuk ke arah tiga perempuan berambut pirang dan berkaus ketat dengan celana jins pendek. Ketiganya tidak berjilbab, tak seperti semua perempuan Gaza tampil di muka umum. Mereka buru-buru masuk ke dalam  sebuah mobil terparkir buat menghindari perhatian banyak orang. “Mereka itu pelacur,” ujarnya.

Awalnya sungguh terkejut. Selama ini saya belum pernah mendengar ada pelacur beroperasi di Gaza. Namun saya sadar, naluri seksual tidak mengenal tempat dan waktu.

Suhail, sopir taksi langganan saya, juga mewakili getirnya kehidupan di Gaza. Ayah sembilan anak ini mengeluhkan sungguh sulit membiayai keluarganya. Apalagi kerjanya cuma sopir taksi dengan penghasilan tidak menentu. Dalam perjalanan pulang ke hotel, dia berdoa seraya menangis. “Ya Allah, berikanlah saya pekerjaan lewat Faisal. Jadikanlah Faisal jalan keluar saya dari kesulitan ini.”

Dua bocah perempuan tengah melintas di depan tembok sebuah rumah bolong-bolong terkena peluru Israel di Jabaliya, Jalur Gaza, 27 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Sokongan Mesir dan Iran

"Iran sangat berkomitmen terhadap Hamas. Mereka membiayai sayap militer dan pemerintahan Hamas," kata Ahmad Yusuf, penasihat Ismail Haniyah.

Putra dari Jamal, nelayan di Kota Gaza, ini tengah menikmati sarapan berupa roti isi ikan sardencis kecil dan terasa pahit di sebuah pantai di Kota Gaza, Kamis, 25 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Masa depan Gaza

Ada lima faktor utama menentukan masa depan Gaza: komitmen dan soliditas Hamas, rekonsiliasi nasional, blokade Israel, sokongan Mesir dan Iran, serta perubahan tatanan global.

Pendiri sekaligus pemimpin senior Hamas di Jalur Gaza Mahmud Zahar tengah memegang senapan AK-47 milik mendiang putranya, Husam, di rumahnya, Kota Gaza, Rabu, 24 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Terlahir di tengah intifadah

Dalam pertemuan malam itu, ketujuh pemimpin Al-Ikhwan mengambil keputusan bersejarah mengubah organisasi itu menjadi gerakan perlawanan disebut Harakat al-Muqawamah al-Islamiyah atau disingkat Hamas.

Kepala Biro Politik Hamas Khalid Misyaal saat diwawancarai Faisal Assegaf dari Albalad.co di Ibu Kota Kuala Lumpur, Malaysia, November 2013. (faisal assegaf/albalad.co)

Menantang kuasa Hamas di Gaza

Gerakan Tamarod di Gaza gagal menggelar unjuk rasa besar-besaran anti-Hamas.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Girangnya bekerja dengan Pangeran Misyari

Saudara-saudara kandung Pangeran Misyari bin Saud iri karena mereka tidak memiliki pengawal pribadi seperti saya.

08 September 2018

TERSOHOR