buku

Doa saja tidak cukup

“Sejak dalam kandungan, kami sudah terbiasa mendengar ledakan bom Israel, tapi kami manusia biasa. Saya takut sekali Faisal.”

07 Februari 2015 07:17

Raungan jet tempur F-16 Israel terdengar jelas meski lewat telepon. “Rasanya seperti terbang di atas kepala kami,” kata Hiba Ziad, 26 tahun, warga Abu Albas, Kota Gaza, saat dihubungi Rabu malam.

Suaranya tercekat menahan takut, matanya sembab lantaran memeras air mata. Dalam hitungan detik, tangis gadis yatim ini pecah mengoyak jiwa. “Faisal berdoalah untuk kami, berdoalah buat kami.” Lamat-lamat suara renyah anak kedua dari lima bersaudara ini menghilang, berganti dengan dentuman ledakan dan raungan burung-burung besi negara Zionis itu, seperti dikutip dari buku berjudul Gaza: Simbol Perlawanan dan Kehormatan karya Faisal Assegaf (terbitan Hamaslovers, Agustus 2014).

Israel malam itu tengah mengamuk. Negara Bintang Daud ini membombardir Kota Gaza dengan alasan buat membumihanguskan basis-basis teroris Hamas. Menurut militer Israel, seharian itu mereka menyasar lebih dari seratus lokasi dicurigai sebagai tempat meluncurkan roket. Sorenya, Israel berhasil menewaskan komandan Brigade Izzudin al-Qassam (sayap militer Hamas) Ahmad al-Jabari.

Hiba muncul kembali dalam tiga helaan napas. Dia menceritakan tidak tidur semalaman sebab serangan udara Israel berlangsung seperti guyuran hujan. Hiba sekeluarga berkumpul di lantai dua flat hunian mereka. Dia berpelukan erat dengan ibu dan adik perempuannya masih duduk di sekolah menengah atas.

Situasi kian mencekam lantaran mati lampu. Kondisi macam ini memang biasa terjadi di Kota Gaza hanya memiliki satu pembangkit listrik dengan bahan bakar kiriman Israel semaunya. “Kami tidak bisa keluar buat membeli apapun. Rasanya tidak ada tempat aman lagi meski di dalam rumah,” ujarnya.

Hiba sekeluarga memang sudah terbiasa hidup susah. Sudah tiga generasi mereka mengontrak flat seharga US$ 200 saban bulan. Ayahnya, mendiang Ziad Muhammad asy-Syarif, terbunuh dalam serangan Israel beberapa tahun lalu. Ziad aslinya dari Kota Ashkelon (dalam bahasa Arab disebut Al-Majdal) kini menjadi wilayah Israel. Buyutnya termasuk dalam sekitar 700 ribu warga Palestina terusir dari tanah kelahiran mereka ketika negara Yahudi itu berdiri 64 tahun lalu.

Sejak kehilangan ayahnya, sarjana lulusan bahasa Inggris dari Universitas Al-Azhar ini menjadi sandaran keluarga. Kakak sulungnya hanya bekerja sebagai pelayan restoran dan penghasilannya cuma cukup buat dirinya sendiri. Tiga adiknya masih sekolah. Hiba banting tulang mengajar bahasa Inggris di sejumlah tempat kursus.

Hiba berusaha keras menahan tangis. “Sejak dalam kandungan, kami sudah terbiasa mendengar ledakan bom Israel, tapi kami manusia biasa. Saya takut sekali Faisal.”

Hubungan telepon terputus. Namun satu kalimat dari Hiba masih terngiang hingga kini. “Doa saja tidak cukup buat menolong kami.”

Putra dari Jamal, nelayan di Kota Gaza, ini tengah menikmati sarapan berupa roti isi ikan sardencis kecil dan terasa pahit di sebuah pantai di Kota Gaza, Kamis, 25 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Masa depan Gaza

Ada lima faktor utama menentukan masa depan Gaza: komitmen dan soliditas Hamas, rekonsiliasi nasional, blokade Israel, sokongan Mesir dan Iran, serta perubahan tatanan global.

Kepala Biro Politik Hamas Khalid Misyaal saat diwawancarai Faisal Assegaf dari Albalad.co di Ibu Kota Kuala Lumpur, Malaysia, November 2013. (faisal assegaf/albalad.co)

Tumbal demokrasi Palestina

Israel bersama Amerika Serikat menolak kemenangan Hamas dalam pemilihan umum 25 Januari 2006.

Pendiri sekaligus pemimpin senior Hamas di Jalur Gaza Mahmud Zahar tengah memegang senapan AK-47 milik mendiang putranya, Husam, di rumahnya, Kota Gaza, Rabu, 24 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Kenangan Perang Gaza

Waktu perang meledak tahun lalu, kediaman Zahar rata dengan tanah akibat gempuran udara Israel.

Abdul Ghani, putra dari mendiang Syekh Ahmad Yasin, di rumahnya di Kota Gaza, 24 Oktober 2012, menunjukkan jubah dipakai saat Syekh Yasin tewas terkena hantaman peluru kendali Israel. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Jasa Israel dalam pembentukan Hamas

Negara Bintang Daud ini meyakini Syekh Yasin hanya mengajarkan soal Al-Quran, bukan mengajak warga Gaza melawan Israel.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Bekerja lagi untuk Pangeran Misyari

Mark Young tidak bisa merayakan Natal bersama keluarganya pada 1982 karena harus menemani Pangeran Misyari membeli vila di Marbella.

09 Juni 2018

TERSOHOR