buku

Tangis perdana Fadil di hari pertama invasi

Hiba Ziad melahirkan putra perdananya saat Israel menginvasi Jalur Gaza dalam perang 50 hari tahun lalu.

14 Februari 2015 07:04

Dalam perang 2014, nasib Hiba Ziad lebih mengenaskan lagi. Dia melahirkan putra pertamanya diberi nama Fadil di hari perdana invasi Israel ke Jalur Gaza. Ceritanya begini. Kamis sore, 17 Juli 2014, situasi kian mencekam.  Hiba cuma bisa berteriak histeris mendengar hujan bom seolah tidak berhenti mengguyur Jalur Gaza.

Serangan Israel makin bertubi-tubi lewat artileri, jet tempur, pesawat pengebom nirawak, dan kapal perang. Di dalam rumah mertuanya, masih di kawasan Abu Albas, Hiba tidak kuasa lagi menahan emosi. Dia meraung-raung ketakutan. Akibatnya, perutnya mengeras. Bayi dalam rahim ingin lekas keluar meski menurut perkiraan dokter baru akan dilahirkan akhir bulan itu, seperti dikutip dari buku Gaza: Simbol Perlawanan dan Kehormatan karya Faisal Assegaf (terbitan Hamaslovers, Agustus 2014).

Sungguh tidak mungkin bagi suaminya, pengacara hak asasi manusia, mengantar Hiba ke rumah sakit. Sebab pertempuran berkecamuk hebat. Dia akhirnya menelepon ambulans untuk menjemput istrinya.

Tidak sampai setengah jam ambulans tiba dan segera mengangkut Hiba ke Rumah sakit Syifa di jantung Kota Gaza. Hiba mengaduh kesakitan sepanjang perjalanan. Tim dokter langsung memutuskan dia mesti menjalani operasi Caesar buat melahirkan. “Sebab kondisi kejiwaan saya tidak stabil,” kata Hiba

Operasi berlangsung di tengah hiruk pikuk dan kesibukan luar biasa dokter-dokter di rumah sakit terbesar di seantero Gaza itu. Mereka mesti menangani korban luka datang mengalir seolah tidak berhenti akibat operasi militer bersandi Jaga Perbatasan digelar Israel sejak 8 Juli 2014.

Kondisi di Rumah Sakit Syifa juga memprihatinkan. Pasokan obat sangat menipis dan peralatan medis tidak memadai. Belum lagi jatah listrik sejak perang meletup hanya 2-8 jam sehari. Pemadaman kerap berlangsung. Kalau listrik mati, tim dokter mengoperasi pasien dengan penerangan dari lampu telepon seluler.

Untung saja operasi berjalan lancar. Hiba dan bayinya selamat. Dia menamai anak pertamanya itu Fadil, berarti keutamaan. Di tengah dentuman ledakan dan suara rentetan senjata, Fadil menangis buat perdana. Dia seolah ingin mengabarkan dunia, dia telah lahir di hari pertama invasi Israel ke Gaza.

Namun nasib malang Hiba tidak berhenti di situ. Enam hari setelah melahirkan, Hiba terpaksa mengungsi di sebuah sekolah milik UNRWA (badan Perserikatan Bangsa-Bangsa urusan pengungsi Palestina) di Jalan Nasir, Kota Gaza.  “Situasi saat itu benar-benar mencekam. Saya takut rumah kami dibom,” ujar Hiba.

Di lokasi pengungsian dia terpaksa berdesakan dengan ratusan warga Gaza lainnya, terutama kaum ibu dan anak-anak. Dia bersama bayi mungilnya tidur di atas kasur tipis dalam sebuah ruang kelas. Mereka berdua masing-masing mendapat bantuan satu selimut.

Tentu saja tidak mudah bagi Hiba melewati hari-hari menyiksa itu. Apalagi Fadil. Baru hitungan hari muncul ke dunia, dia sudah menjadi saksi kebiadaban musuh bebuyutan bangsanya itu. Fadil sulit tersenyum. Yang terjadi, dia kerap bangun tiba-tiba lalu menangis sejadi-jadinya saban kali mendengar suara ledakan keras. “Kami berdua tidak bisa tidur pulas. Sebentar-sebentar harus bangun, takut tempat kami mengungsi jadi sasaran serangan,” tuturnya.

Hiba pantas khawatir. Israel menyerang serampangan. Mereka bisa menyasar apa saja: masjid, sekolah, rumah sakit, taman bermain, dan pantai. Memasuki pekan keempat perang berlangsung, lebih dari 1.110 warga Gaza terbunuh dan enam ribu lainnya cedera.

Fadil juga tidak dapat menikmati air susu ibunya. Kondisi kejiwaan Hiba tertekan sejak amukan Israel membikin makanan utama bagi bayinya itu tidak keluar. Dia cuma mengharapkan susu kaleng dari belas kasihan orang.

Yang membuat dia kian lara adalah dalam situasi sungguh menakutkan itu sang suami tidak berada di tengah mereka. Sebab dia mesti ikut bertempur menghadapi pasukan Israel. Apalagi dia mendapat kabar suaminya cedera akibat serangan udara Israel di Shijaiyah, timur Kota Gaza.

Hiba pun baru tahu suaminya anggota Hamas ketika Israel mulai melancarkan serangan darat. Hari itu suaminya, anggota skuad peluncur roket, mendapat panggilan berjihad. Dia mesti segera masuk ke terowongan-terowongan dan lokasi rahasia buat menembakkan roket ke wilayah Israel.

Jadi selama setahun menikah Hiba cuma tahu suaminya berprofesi pengacara. Sang ibu mertua memberitahu kedok suaminya itu. “Ketika dia pergi dia hanya bilang ‘saya akan pergi dan tidak tahu kapan akan kembali. Kamu tidak bisa menelepon saya dan saya juga tidak dapat menghubungi kamu’,” tutur Hiba.

Saat malam mulai tiba, itulah waktu paling mencekam bagi Hiba dan pengungsi lainnya. Israel biasa menggempur di tengah gelap membekap Gaza. “Faisal, saya tidak mau sendirian dalam situasi seperti ini.” Sejurus kemudian tangis Hiba pun pecah.

Dua bocah perempuan tengah melintas di depan tembok sebuah rumah bolong-bolong terkena peluru Israel di Jabaliya, Jalur Gaza, 27 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Sokongan Mesir dan Iran

"Iran sangat berkomitmen terhadap Hamas. Mereka membiayai sayap militer dan pemerintahan Hamas," kata Ahmad Yusuf, penasihat Ismail Haniyah.

Putra dari Jamal, nelayan di Kota Gaza, ini tengah menikmati sarapan berupa roti isi ikan sardencis kecil dan terasa pahit di sebuah pantai di Kota Gaza, Kamis, 25 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Masa depan Gaza

Ada lima faktor utama menentukan masa depan Gaza: komitmen dan soliditas Hamas, rekonsiliasi nasional, blokade Israel, sokongan Mesir dan Iran, serta perubahan tatanan global.

Kepala Biro Politik Hamas Khalid Misyaal saat diwawancarai Faisal Assegaf dari Albalad.co di Ibu Kota Kuala Lumpur, Malaysia, November 2013. (faisal assegaf/albalad.co)

Tumbal demokrasi Palestina

Israel bersama Amerika Serikat menolak kemenangan Hamas dalam pemilihan umum 25 Januari 2006.

Anak-anak Gaza berkeliling menggunakan gerobak keledai saat perayaan Idul Adha di Kota Gaza, Jumat, 26 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Sahabat pena dari Gaza

Berbeda pandangan soal konflik Palestina dan Israel namun sama-sama menyukai karya Shakespeare.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Rusaknya Aston Martin milik Pangeran Mansur bin Saud

"Allah telah menghukum Pangeran Mansur lantaran telah mengeluarkan pernyataan menghina kepada saya ketika saya sudah menolong korban kecelakaan di pantai," kata Mark Young.

29 September 2018

TERSOHOR