buku

Hidup nyaman setelah berkhianat

Di kota Sderot, selatan Israel, hidup 80 keluarga pengkhianat Palestina.

21 Februari 2015 07:08

Bagi kebanyakan orang, uang mungkin segalanya. Prinsip ini juga dipegang teguh Siad, warga Jalur Gaza. Demi fulus, dia rela mengkhianati perjuangan bangsanya sendiri.

Ayah empat anak ini menjadi informan bagi pasukan Israel. Tugasnya memberitahu di mana anggota Hamas dan Jihad Islam bersembunyi. “Saya memberikan informasi ke Israel antara 1977 dan 1996,” kata Siad sambil menyeruput secangkir kopi panas di ruang tamu rumah mewahnya, seperti dikutip dari buku Gaza: Simbol Perlawanan dan Kehormatan karya Faisal Assegaf (terbitan Hamaslovers, Agustus 2014).

Selama 19 tahun menjual informasi, Siad memperoleh kenikmatan hidup. “Ketika saya minta sebatang rokok, Israel memberikan sebungkus,” ujarnya memberi tamsil. Padahal saudara sebangsanya dijajah Israel hidup serba kekurangan dan ketakutan.

Semua itu tak percuma. Sekarang Siad bersama istri dan dua putranya hidup nyaman di Sderot, kota di selatan Israel hanya satu kilometer dari perbatasan Gaza. Rumahnya berlokasi di sebuah jalan utama di Sderot berisi tiga kamar tidur dan dilengkapi perabotan mewah. Satu sedan BMW berwarna putih ada di garasi. Bisnisnya di bidang besi dan konstruksi maju pesat.

Dia pindah ke kota ini pada 1998 bersama 79 pengkhianat lainnya lantaran keselamatan keluarga mereka terancam. “Karena itulah saya kemari dan menjadi warga negara Israel. Sebab itu, mereka telah memberi saya kartu identitas,” tutur Siad.

Sayangnya, Siad tidak bisa membawa kabur semua keluarganya. Alhasil, dua putranya menjadi korban balas dendam pejuang Palestina. Seorang ditembak mati dan satu lagi dipenjara.

Namun tidak semua penduduk Sderot menyambut baik, termasuk Batya Katar bekerja di bengkel mobil. Dia tidak yakin orang seperti Siad bisa benar-benar mencintai Israel. Dia malah menuding sejak kehadiran 80 keluarga pengkhianat Palestina, tembakan roket Qassam dari Gaza makin mengenai sasaran. “Tiap kali Qassam ditembakkan, Siad menari-nari,” kata Batya.

Siad juga tinggal sekota dengan pengkhianat lainnya, Samir. Ayah sepuluh anak ini takut nama aslinya ditulis. Dia pernah menjadi mata-mata Israel selama dua dasawarsa. Dia juga merahasiakan pekerjaan itu dari istrinya. “Saya tidak menyesali jalan hidup saya,” tutur lelaki 52 tahun ini. “Saya sangat senang telah menolong negara Israel. Di sini semua teratur, ada hukum dan ada hak.”

Sebagian besar warga Sderot berusaha menjual rumah mereka dan ingin pindah ke kota lain jauh dari jangkauan roket. Namun orang-orang seperti Siad dan Samir malah menetap di sana. Selain harga properti lebih murah, banyak pengkhianat Palestina menetap di kota didirikan pada 1951 itu.

Samir tertangkap pada 1994, tahun di mana Yasir Arafat kembali ke Gaza setelah meneken Perjanjian Oslo. Seorang temannya juga masih kerabat jauh memberitahu namanya saat diinterogasi secara brutal. Dia kemudian mendekam empat tahun di penjara dan disiksa. Beruntung dia lolos dari hukuman mati. Dia membayar kebebasannya dengan seluruh uang tabungan, tanah, dan perhiasan istrinya.

Akhirnya suatu pagi di tahun 2000, dia bersama istri dan lima anak terkecil mereka berhasil kabur ke Israel. Lima anak lainnya telah menikah tetap bermukim di Gaza. Setelah meminta bantuan kepada majikannya di militer Israel, dia lantas diberi kartu izin tinggal tetap harus diperbarui saban dua tahun. Mulanya keluarga Samir menetap di Kota Haifa dan setahun kemudian pindah ke Sderot. Militer Israel membelikan dia rumah.

Kelima anaknya kini lancar berbahasa Ibrani. Mereka berpakaian seperti orang Israel dan banyak berteman dengan warga Yahudi. Bahkan seorang putranya sudah bekerja sebagai penyidik bagi militer Israel di penjara setempat. Tugasnya menginterogasi tahanan Palestina.

Kebanyakan pengkhianat ini direkrut saat Israel masih menguasai Gaza, jauh sebelum Perjanjian Oslo ditandatangani. Sebagian ditangkap karena menyelundupkan narkotik dan kejahatan lainnya. Mereka kemudian ditawari menjadi informan sebagai syarat bebas dari penjara. Sebagian lagi adalah polisi. Hanya sedikit yang memulai menjadi agen Israel demi uang.

Samir mulai bekerja buat Israel setelah kakaknya difitnah menjadi informan dan dibunuh pada awal 1970-an. Dia kemudian balas dendam dengan menyetor informasi seputar kelompok pejuang Palestina sudah salah sasaran menewaskan abangnya itu. “Karena apa yang telah mereka lakukan kepada kakak saya, saya lalu memutuskan bekerja untuk Israel,” ujarnya. Dia menyembunyikan dokumen rahasia di loteng rumahnya. Dia begitu bangga saat bercerita pengalamannya menjadi mata-mata negara Zionis.

Di bagian lain Sderot juga tinggal Subhi, bukan nama sebenarnya. Dia tiba di Sderot pada 1996 setelah dua dekade menjadi intel Israel. Dia sekarang pengusaha sukses. Tunggangannya BMW dan perhiasan emas melekat di tubuhnya, termasuk gelang bertulisan Ibrani.

Dia terpaksa meninggalkan delapan anaknya di Gaza, namun hidup mereka tidak aman lantaran Subhi ketahuan berkhianat. Putra tertuanya sempat dipenjara dan yang kedua hampir meninggal karena tertembak di bahunya. “Saya tidak menyesal terhadap apa yang telah saya lakukan tapi saya ingin anak saya keluar dari Gaza dan berkumpul bersama saya,” kata lelaki 54 tahun ini.

Menurut Natan Shrayber, pengacara para pengkhianat itu, semua kliennya memang pantas mendapatkan apa yang dimiliki sebagian besar warga Israel. “Orang-orang ini telah membantu pasukan keamanan Israel menghancurkan Hamas dan musuh-musuh lain Israel. Tanpa pertolongan mereka, kualitas intelijen Israel tidak bagus,” ujarnya.

Meski begitu, banyak pengkhianat Palestina telah menetap di Israel bernasib buruk. Dalam laporan dilansir oleh the Legal Forum for Eretz Israel Juli 2010, lebih dari enam ribu mata-mata Palestina bersama keluarga mereka tidak mendapat perhatian layak dari pemerintah negara Zionis itu. Salah satu persoalannya adalah tidak ada definisi jelas soal pengkhianat Palestina.

“Tidak ada makna resmi di Israel mengenai seorang pengkhianat dan pemerintah tidak pernah menyatakan siapa sebenarnya mereka,” kata Michael Teplow, pengacara asal Tel Aviv menyusun laporan itu dan telah menjadi kuasa hukum buat para pengkhianat Palestina sejak 1993.

Dalam laporan itu, Teplow menyebutkan ribuan pengkhianat Palestina sudah menetap lebih dari satu dekade dengan izin khusus sementara (mesti diperbarui secara berkala) dilarang bekerja dan tidak mendapat jaminan kesehatan. Banyak yang akhirnya bekerja secara ilegal dengan upah sangat rendah dan kondisi mengenaskan. “Jika tidak ada upaya buat memperhatikan para pengkhianat telah menyelesaikan tugas mereka, akan makin sulit di masa depan buat kita (Israel) merekrut orang-orang seperti ini.”

Menurut Dr. Saleh Abdil Jawad, profesor Sejarah dan Ilmu Politik dari Universitas Birzeit, dekat Kota Ramallah, Tepi Barat, ada empat macam pengkhianat Palestina:

Calo tanah

Pengkhianat jenis ini menjadi perantara antara pemukim Yahudi atau orang dari lembaga Dana Nasional Yahudi (JNF) buat membeli tanah milik rakyat Palestina kemudian diserahkan kepada mereka. Pada 1935 mufti Palestina mengeluarkan fatwa hukuman mati bagi calo tanah buat pemukim Yahudi dan mengharamkan penguburan menurut syariat Islam untuk mereka. Pengkhianat jenis ini berperan penting sebelum negara Israel terbentuk dan setelah Perang Enam Hari, Juni 1967.

Perantara

Bertugas sebagai perantara antara penjajah Israel dan bangsa Palestina. Perantara ini membantu warga Palestina mengurus surat izin dan segala dokumen untuk mempermudah kegiatan mereka. Di mata rakyat Palestina, pengkhianat semacam ini dianggap tidak berbahaya ketimbang calo tanah. Dua jenis pengkhianat ini perlahan lenyap setelah terbentuk Otoritas Palestina.

Pengkhianat bersenjata

Pengkhianat kategori ini bertindak sebagai calo tanah sekaligus perantara. Pasukan Israel kerap menjadikan mereka pemandu saat menyerbu rumah pejuang Palestina menjadi sasaran operasi. Pengkhianat jenis ini juga dikasih senjata buat berjaga-jaga dalam serbuan itu.

Informan

Mereka bertugas mengumpulkan informasi soal keberadaan pejuang Palestina masuk dalam daftar pencarian militer Israel. Informan ini juga mencari informasi seputar kegiatan kelompok pejuang Palestina, seperti markas, gudang senjata, lokasi latihan, dan tempat meluncurkan roket.

Selain itu, masih ada tiga jenis pengkhianat lagi di mana masyarakat Palestina cenderung tidak ingin membicarakan soal itu, yakni pengkhianat di bidang ekonomi, politik, dan penyusup.

Pengkhianat di sektor ekonomi bertugas mendorong masuknya produk-produk Israel ke dalam pasar Palestina dan melancarkan propaganda negatif terhadap barang-barang buatan Palestina. Pengkhianat semacam ini biasanya adalah orang-orang kaya dan kerap menjadi agen dari perusahaan Israel.

Pengkhianat di bidang politik juga berasal dari kalangan atas dan kadang memiliki jabatan dalam pemerintahan kota. Mereka kadang memperlihatkan wajah nasionalis tapi secara umum melaksanakan kebijakan politik Israel jangka panjang. Pengkhianat ekonomi dan politik tidak direkrut atau memberi informasi kepada pihak intelijen Israel, namun mereka melayani kepentingan ekonomi dan politik negara Zionis itu.

Informan adalah seseorang bisa menyusup ke dalam organisasi bangsa Palestina. Mereka tadinya merupakan anggota aktif dari organisasi tertentu. Setelah disiksa selama mendekam di penjara Israel, mereka terpaksa atau dipaksa menjadi informan sebagai syarat kebebasan.

Penduduk biasanya tidak mencurigai mereka pengkhianat karena dianggap telah berkorban dan pernah menjadi tahanan Israel. Mereka lantas masuk lagi ke organisasinya dan mulai memasok informasi dari dalam kepada pihak intelijen Israel.

Penyusup merupakan pengkhianat paling berbahaya lantaran dapat menyuplai informasi akurat bisa membahayakan nyawa pemimpin atau anggota organisasi, dan mungkin menggagalkan rencana seluruh operasi.

Dr. Saleh menegaskan munculnya para pengkhianat itu juga lantaran fenomena sosial masyarakat Palestina. “Mereka tidak memiliki tradisi tutup mulut.”

Anak-anak Gaza tengah bermain sepak bola di jalanan di kamp Syati, Gaza, Rabu, 24 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Perubahan tatanan global

Amerika paling getol menggunakan hak veto terhadap resolusi-resolusi mengecam Israel. Sejak 1972 hingga kini, Washington telah 42 kali memakai hak veto terkait isu Israel.

Dua bocah perempuan tengah melintas di depan tembok sebuah rumah bolong-bolong terkena peluru Israel di Jabaliya, Jalur Gaza, 27 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Sokongan Mesir dan Iran

"Iran sangat berkomitmen terhadap Hamas. Mereka membiayai sayap militer dan pemerintahan Hamas," kata Ahmad Yusuf, penasihat Ismail Haniyah.

Putra dari Jamal, nelayan di Kota Gaza, ini tengah menikmati sarapan berupa roti isi ikan sardencis kecil dan terasa pahit di sebuah pantai di Kota Gaza, Kamis, 25 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Masa depan Gaza

Ada lima faktor utama menentukan masa depan Gaza: komitmen dan soliditas Hamas, rekonsiliasi nasional, blokade Israel, sokongan Mesir dan Iran, serta perubahan tatanan global.

Pendiri sekaligus pemimpin senior Hamas di Jalur Gaza Mahmud Zahar tengah memegang senapan AK-47 milik mendiang putranya, Husam, di rumahnya, Kota Gaza, Rabu, 24 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Terlahir di tengah intifadah

Dalam pertemuan malam itu, ketujuh pemimpin Al-Ikhwan mengambil keputusan bersejarah mengubah organisasi itu menjadi gerakan perlawanan disebut Harakat al-Muqawamah al-Islamiyah atau disingkat Hamas.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Rusaknya Aston Martin milik Pangeran Mansur bin Saud

"Allah telah menghukum Pangeran Mansur lantaran telah mengeluarkan pernyataan menghina kepada saya ketika saya sudah menolong korban kecelakaan di pantai," kata Mark Young.

29 September 2018

TERSOHOR