buku

Berteman dengan sopir Pangeran Talal

Pangeran Talal marah karena pengamanan berlebihan dilakukan untuk menyambut kedatangannya di Athena.

09 Desember 2017 23:32

Albalad.co berhasil mendapatkan izin dari penulis buku Saudi Bodyguard, Mark Young, untuk menerjemahkan sekaligus menerbitkan isi bukunya di Albalad.co. Seperti biasa, rubrik buku ini muncul saban Sabtu dan dimulai sejak 11 November lalu.

Albalad.co sejatinya memperoleh salinan buku Saudi Bodyguard dalam bentuk PDF tersebut langsung dari Mark Young, mantan pengawal para pangeran dan puteri di Kerajaan Arab Saudi, pada 1 September lalu. Baru ketika perkembangan dramatis terjadi saat ini di negara Kabah itu, Albalad.co memutuskan melansir terjemahan dari isi buku setebal lebih dari 400 halaman dan diterbitkan pada 2010 itu.

Mark Young, berasal dari Inggris, adalah pemegang sabuk hitam karate. Ayahnya adalah mantan anggota pasukan elite Inggris dan bekas anggota MI6, dinas intelijen Inggris.

Sejak Mei 1976, dia mulai menjadi instruktur dan membuka tiga sekolah karate. Tiga tahun kemudian, dia memulai kariernya sebagai pengawal pribadi keluarga kerajaan Arab Saudi. Tugas pertamanya adalah mengawal Pangeran Talal bin Abdul Aziz, ayah dari pemilik Kingdom Holding Company, Pangeran Al-Walid bin Talal, ditahan di Hotel Ritz Carlton di Ibu Kota Riyadh, sejak Sabtu malam pekan lalu.

Pangeran Al-Walid termasuk dalam 201 kaum elite Arab Saudi - meliputi pangeran, pejabat, dan pengusaha kakap - ditangkap atas tudingan korupsi. Penangkapan ini atas perintah Komisi Pemberantasan Korupsi, dibentuk beberapa jam sebelumnya dan diketuai oleh Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young ini bercerita dengan bahasa bertutur sebagai orang pertama mengenai pengalamannya selama menjadi pengawal pribadi keluarga Kerajaan Arab Saudi, termasuk Raja Salman bin Abdul Aziz.   

*******

Berteman dengan sopir Pangeran Talal

Pintu pesawat terbuka dan Pangeran Talal bin Abdul Aziz as-Saud muncul, berdiri dengan berwibawa  di puncak tangga dengan bergamis. Posturnya besar, lelaki kekar dengan tinggi hampir 1,8 meter, berhidung khas Arab dan berkumis hitam. Dia memancarkan aura kekayaaan dan pengaruh. Dengan sorotan mata tajam, dia tampak berwibawa.

Segera setelah Pangeran Talal menjejakkan kakinya di landasan, dia disambut para pejabat Arab Saudi dari kedutaan besar. Dia kemudian memberitahu komandan polisi untuk berkoordinasi dengan tim keamanannya sendiri.

Sekarang, untuk pertama kali, saya mendengar langsung suara keras dan khas pernah diceritakan rekan-rekan setim. Saya menilai Pangeran Talal marah karena nada suaranya cukup untuk menggambarkan secara jelas perasannya. Pandangannya tajam ke arah mata komandan polisi.

Sang komandan lalu meminta maaf lantaran menunjukkan pengamanan berlebihan saat menyambut kedatangannya, ketika dia siap membuka pintu Mercedes siap mengangkut Pangeran Talal.

Kami lantas menuju lobi VIP bandar udara untuk mengurus paspor, imigrasi, dan bea cukai sebagai formalitas. Sehabis itu, kami segera mengebut menuju hotel telah kami inapi.

Dua anggota tim sudah berkeliling memeriksa hotel baru. Kami memperkirakan setiba di sana, akan ada penjelasan singkat mengenai keadaan hotel.

Kami lalu menuju Arion Astir Palace Hotel, berjarak 25 kilometer dari bandar udara atau 22 kilometer di dari Ibu Kota Athena, Yunani. Hotel itu menghadap Teluk Saronik.

Saya dalam keadaan siap siaga untuk menghadapi bahaya bisa saja datang dari balik semak dan pepohonan. Situasi ini membikin adrenalin saya meningkat, jantung saya seolah berdetak lebih keras. Penugasan sebenarnya menghasilkan emosi berbeda ketimbang saat menjalani pelatihan.

Kami melewati lobi menuju elevator. Pangeran Talal berjalan bareng tiga anaknya: Turki, Sarah, dan Nura, manajer hotel, Reg, serta saya.

Pintu lift tertutup dan bukannya bergerak naik, malah turun. Jantung saya berdebar kencang, adrenalin saya terpompa cepat. Saya membayangkan kami bakal menghadapi sergapan di lantai bawah tanah.

Kening saya berkeringat dan kedua lutut saya bergetar. Saya menarik napas panjang perlahan, berusaha untuk menguasai keadaan. Elevator lantas berhenti dan pintu terbuka. Di depan lift enam atau tujuh orang beridir di hadapan saya. Saya nyaris mati di tempat, saya kemudian membuat sebuah gerakan. Saya memandang ke arah sebuah cermin besar.

Hotel tersebut dirancang dengan lbi berada di lantai teratas dan lantai-lantai di bawahnya ke arah Teluk Vouliagmeni. Untungnya, saya mampu mengontrol diri saya. Reaksi saya mengingatkan saya mengenai kerentanan saya, sebuah pelajaran sulit baru dipelajari.

Saya kerap mengingat insiden itu dengan keceriaan, mengenang betapa masih 'hijaunya saya di penugasan pertama.

Reg memanggilku. "Apakah kamu berpikir kedatangannya tidak berlangsung baik?" tanya dia. Saya menjawab, "Saya pikir semuanya berjalan bagus."

Reg lantas bertanya, "Kami seorang perenang andal kan?"
"Ya, kenapa?"
"Karena saya akan menugaskan kamu untuk mengawasi Pangeran Talal ketika dia berenang di pagi hari," katanya.

Tentu saja ketika saya mengawasi Pangeran Talal, Reg bakal memantau saya. Tekanan akan datang lagi.

Satu hal membikin saya cemas adalah karena Pangeran Talal berbadan besar. Saya membayangkan dia akan tenggelam. Saya tidak akan mampu menolong dia namuan saya akan mencoba.

Besok paginya Pangeran Talal muncul dan semua orang di sekelilingnya, termasuk saya, segera menarik perhatiannya. Dia memakai pakaian handuk dan celana renang pendek, serta membawa sebuah handuk. Saya membayangkan bagus sekali kalau sang pangeran bisa berenang.

Serombongan orang menemani Pangeran Talal dan Reg kemudian menemani saya. Setiba di kolam renang, saya menyimpan seluruh barang berharga dalam kantong jaket dan meletakkan jaket itu di atas lengan. Saya siap menjatuhkan jaket tersebut kalau memang keadaan darurat dan diperlukan.

Saya tersenyum seraya memperhatikan sekeliling. Reg dan saya berdiri di sisi kolam sedangkan sebagian anggota rombongan pangeran berdiri di belakang kami.

Saya lantas bertanya kepada Reg, "Apakah Pangeran Talal dapat berenang?"
"Kita akan segera mengetahui?" jawabnya. "Hanya untuk memastikan kami siap ketika dia masuk ke kolam dan tiba-tiba dia tenggelam."

Sambil berdiri lebih dekat dengan kolam, saya berbisik kepada Tuhan, meminta pertolongan'Nya agar pangeran tenggelam. Saya tertegun ketika dia mulai menyelam. Dia memasuki kolam dengan lompatan sempurna, seperti sebuah torpedo.

Saya yakin pangeran bisa berenang. Meski begitu, saya terus mengawasi dia secara ketat namun pikiran saya bilang tugas sudah selesai.

Setelah selesai berenang dan berjemur, dia kembali ke kamarnya. Sedangkan Pangeran Turki meencoba paralayang dengan sebuah kapal cepat di sekitar teluk. Dia mulai naik ke atas dan menunjuk ke arah Pangeran Talal. Dia menjadi gusar dan berteriak dalam bahasa Arab.

"Yang Mulia, Turki akan baik-baik saja. Dia memiliki pengawal berbahasa Inggris dan seorang polisi Yunani bersama dia!"

Ini  tidak cukup untuk membuat Pangeran Talal tenang. Dia lalu memerintah reg dalam bahasa Inggris, "Saya ingin Turki segera kembali ke kamar dalam sepuluh menit."

Semua anggota rombongannya segera berlari ke segala arah. Saya tidak bisa memastikan apakah mereka berlari ke arah Turki atau untuk menjauh dari Pangeran Talal. Polisi-polisi Yunani berusaha mengontak kolega-kolega mereka di atas perahu, begitu juga kami. Tapi tidak ada yang menjawab.

Saya kemudian meminta izin kepada Reg untuk ke pinggir teluk, siapa tahu ada yang bisa saya lakukan. Ketika saya tiba di lokasi pendaratan, saya melihat Turki baru saja keluar dari perahu cepat.

Sebagai remaja muda, tubuhnya sudah mulai menunjukkan dia sedang melalui masa pubertas. Rambutnya hitam dan tubuhnya ramping. Saya menebak tingginya 1,7 meter.

"Turki, ayahmu memerintahkan kamu untuk ke kamarnya dalam sepuluh menit," kata saya.

Dia tersenyum dan segera menuju ke hotel. Saya segera balik badan dan tiba di hotel sebelum Turki sampai. Seraya berjalan menuju Reg, saya bilang, "Saya sudah menhyuruh dia kembali dan dia sedang berjalan kemari sekarang. Apakah kita perlu memberitahu Pangeran Talal?"

Reg menjawab," Saya tidak akan mengganggu dia." Kelihatannya tidak ada seorang pun berani mengetuk pintu kamar pangeran, mereka memilih tunggu di luar dengan kepala tertunduk.

Saya dengan nekat mengetuk pintu kamar Pangeran Talal. Dia berteriak, "Masuk."
"Yang Mulia, saya sudah berbicara kepada Pangeran Turki. Dia sedang datang kemari setelah saya beritahu," ujar saya.
"Terima kasih," jawabnya.
 
Saya membalikkan badan lalu keluar kamar. Turki ttiba di depan kamar ayahnya ketika saya melintas di koridor.

Kami menunggu dengan perkiraan akan ada kemarahan besar, tapi tidak terjadi sesuatu. Pintu terbuka dan kami mendengar Pangeran Talal berbicara kalem dalam bahasa Arab, mungkin meminta Turki lebih berhati-hati lain kali. Seraya memperhatikan sekeliling selsar dan kamar-kamar lainnya, saya terkejut melihat bagaimana begitu banyak orang menunggu pemberian dari pangeran.

Malam itu kami makan di sebuah restoran makanan laut di Pelabuhan Piraeus, berjarak 25 kilometer dari hotel. Kami duduk di sebuah meja dekat Pangeran Talal dan rombongannya duduk. Kami memperhatikan sekeliling dan orang-orang di sekitarnya.

Keluar dari restoran, pangeran memutuskan ingin berjalan-jalan di dermaga. Malam itu suasana menyenangkan. Langit cerah, temperatur hangat, dan bintang berkilauan. Di ujung dermaga, tampak sebuah kapal pesiar mengkilap disewa Pangeran Talal untuk berlayar malam ke pulau-pulau sekitar. Hanya Terry, sopirnya, dan para pengawalnya dibolehkan menemani pangeran ddan keluarganya jalan-jalan malam itu.

Dari hasil obrolan dengan terry, saya mendapat banyak informasi mengenai Pangeran Talal dan keluarganya: kebiasaan, kesukaan, hal-hal dibenci, dan banyak lagi. Saya menghormati Terry karena mau berbagi informasi. Dia senang memandu saya menuju jalan tepat untuk menjadi pengawal keluarga kerajaan Arab Saudi.     


Pangeran Misyari bin Saud bin Abdul Aziz bersama putranya, Pangeran Turki, di resor ski Megeve, Prancis. (Mark Young/Saudi Bodyguard)

Makan siang bareng Pangeran Misyari

Pangeran Salman langsung menjatuhkan kartu dan berdiri untuk menyambut penguasa Arab datang tidak disangka. Ketika Jack mendekat, mereka sadar ternyata yang datang orang Inggris.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Terbang ke Arab Saudi atas undangan Pangeran Misyari bin Saud

Saya sekarang menyaksikan Pangeran Misyari dalam situasi berbeda. Sebelumnya, saya melihat dia sekadar sebagai playboy, penjudi, kini saya menyaksikan dirinya benar-benar dalam peran berbeda.

Pangeran Muhammad bin Fahad, putra dari Raja Arab Saudi Fahad bin Abdul Aziz (tengah). (princemohammad.org)

Skandal seks anak Raja Fahad

Kalau pangeran setuju, gadis itu akan dipanggil masuk ke ruang santai. Tahap awal, Pangeran Muhammad bakal memutuskan apakah dia menyukai gadis itu. Jika dirinya tidak sreg untuk bercinta, gadis itu diserahkan kepada salah satu lelaki hadir sebagai hadiah.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Anak Raja Fahad kena penyakit kelamin

Di kasino Knightsbridge, Pangeran Muhammad bin Fahad pergi ke toilet, kemudian berteriak lalu lari keluar dari kasino dan melompat masuk ke dalam mobilnya.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Makan siang bareng Pangeran Misyari

Pangeran Salman langsung menjatuhkan kartu dan berdiri untuk menyambut penguasa Arab datang tidak disangka. Ketika Jack mendekat, mereka sadar ternyata yang datang orang Inggris.

08 Juni 2019

TERSOHOR