buku

Puteri Rima: Semua pangeran dan puteri Arab Saudi memuakkan

Puteri Rima menolak berbicara dengan Mark tiga pekan karena dia memanggil suaminya dengan nama depannya saja.

20 Januari 2018 22:39

Albalad.co berhasil mendapatkan izin dari penulis buku Saudi Bodyguard, Mark Young, untuk menerjemahkan sekaligus menerbitkan isi bukunya di Albalad.co. Seperti biasa, rubrik buku ini muncul saban Sabtu dan dimulai sejak 11 November lalu.

Albalad.co sejatinya memperoleh salinan buku Saudi Bodyguard dalam bentuk PDF tersebut langsung dari Mark Young, mantan pengawal para pangeran dan puteri di Kerajaan Arab Saudi, pada 1 September lalu. Baru ketika perkembangan dramatis terjadi saat ini di negara Kabah itu, Albalad.co memutuskan melansir terjemahan dari isi buku setebal lebih dari 400 halaman dan diterbitkan pada 2010 itu.

Mark Young, berasal dari Inggris, adalah pemegang sabuk hitam karate. Ayahnya adalah mantan anggota pasukan elite Inggris dan bekas anggota MI6, dinas intelijen Inggris.

Sejak Mei 1976, dia mulai menjadi instruktur dan membuka tiga sekolah karate. Tiga tahun kemudian, dia memulai kariernya sebagai pengawal pribadi keluarga kerajaan Arab Saudi. Tugas pertamanya adalah mengawal Pangeran Talal bin Abdul Aziz, ayah dari pemilik Kingdom Holding Company, Pangeran Al-Walid bin Talal, ditahan di Hotel Ritz Carlton di Ibu Kota Riyadh, sejak Sabtu malam pekan lalu.

Pangeran Al-Walid termasuk dalam 201 kaum elite Arab Saudi - meliputi pangeran, pejabat, dan pengusaha kakap - ditangkap atas tudingan korupsi. Penangkapan ini atas perintah Komisi Pemberantasan Korupsi, dibentuk beberapa jam sebelumnya dan diketuai oleh Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young ini bercerita dengan bahasa bertutur sebagai orang pertama mengenai pengalamannya selama menjadi pengawal pribadi keluarga Kerajaan Arab Saudi, termasuk Raja Salman bin Abdul Aziz.   

*******

Puteri Rima: Semua pangeran dan puteri Arab Saudi memuakkan

Selama 1979, telinga kiri saya menderita iritasi. Dua kali saya diberi resep obat untuk infeksi telinga, namun penyakit ini tidak kunjung sembuh.

Enam pekan setelah mulai bekerja dengan Puteri Rima bin Talal, masalah di kuping kiri saya kian parah. Kali ini saya dibawa ke rumah sakit untuk menjalani perawatan darurat.

Infeksi dan rasa sakitnya begitu parah sehingga saya mesti menenggak penisilin dalam dosis kuat saban enam jam, siang dan malam. Saya juga harus rutin disuntik di bagian belakang dan sakitnya luar biasa.

Sue saban hari mengunjungi saya di rumah sakit setelah kakak perempuannya datang ke rumah untuk menjaga anak-anak kami. Saya selalu menanti kedatangannya lantaran saya sangat rindu. Waktu terasa berjalan begitu lambat.

Terbaring di ranjang rumah sakit membikin saya terus merasa bersalah karena tidak bisa bekerja. Saya merasa telah mengecewakan Puteri Rima. Karena infeksi, operasi tidak dapat dilakukan segera dan memerlukan waktu lebih dari sepekan hingga infeksi itu hilang.

Dokter bedah melakukan mastoidektomi dan sehabis operasi mkedua mata saya bergerak bebas tanpa terkendali. Keseimbangan saya terganggu dan sulit untuk duduk. Saban kali berusaha duduk, saya terjatuh. Kepala saya diperban. Keadaan saya benar-benar menyedihkan. Saya tidak tahu kenapa operasi tersebut malah menyebabkan rasa sakit dan pusing begitu hebat.

Sue duduk di samping ranjang dalam keadaan cemas. Dia menanyakan kepada dokter kenapa kedua bola mata saya bergerak liar. Dia ingin tahu kenapa bisa bergerak tanpa terkendali. Dokter bedah meyakinkan Sue, kedua bola mata saya akan kembali bergerak normal seiring keseimbangan saya membaik. Tapi Sue tetap saja merasa khawatir.

Seminggu setelah dioperasi, Puteri Rima dan Bill menjenguk saya. Bill menggantikan pekerjaan saya selama saya sakit dan dalam masa pemulihan. Puteri Rima hanya datang sebentar dan keadaan saya sangat mengejutkan dia.

Kepala saya masih diperban dan darah masih merembes di perban meski rajin diganti. Keseimbangan saya belum pulih saya butuh bantuan untuk duduk di atas tempat tidur. Seraya memegang sandaran tangan di ranjang, saya mendadak duduk buat menyambut kehadiran Puteri Rima. Kepala saya terasa amat pening sehingga saya kembali rebah.

Penjenguk datang bergantian sebanyak kemauan saya untuk segera meninggalkan rumah sakit. Dua pekan setelah menjalani operasi, saya dibolehkan pulang. Perlu istirahat dua bulan lagi sebelum keseimbangan saya normal sehingga saya bisa bekerja lagi.

Saya senang tinggal di rumah dengan Sue dan anak-anak, tapi saya masih merasa sangat sakit. Saya tidak bisa berjalan tanpa bantuan. Kalau saya berusaha berjalan sendiri, saya akan menabrak kursi, meja, dan bahkan dinding. Kedua bola mata saya perlahan mulai bergerak normal. Pelan-pelan dalam beberapa pekan kemudian kondisi saya membaik.

Ziad beberapa kali menelepon saya untuk menanyakan kapan saya akan bekerja kembali. Saya merasa tidak enak. Karena tertekan, saya memutuskan bekerja lagi lebih cepat dari yang seharusnya.

Sekarang pertengahan Maret 1980 dan dalam dua pekan setelah pulang dari rumah sakit, saya sudah bekerja lagi. Saya menikmati ketika saya makan burger McDnald's sambil duduk di dalam Rolls Royce Corniche turing. Orang-orang lewat pasti akan melihat dua kali ketika mereka melihat pelat nomor mobil itu 3HRH.

Saya merasa sedang melakukan magang bernilai. Saya mempelajari bagaimana para pangeran Arab Saudi bisa menjadi pemarah. Mereka memiliki mentalitas berbeda. Mereka akan sangat menyelamatkan kehormatan mereka dan akan melakukan apa saja untuk menghindari konfrontasi.

Mereka selalu menggunakan pihak ketiga untuk menjalankan pekerjaan kotor mereka. Bahkan kalau mereka mempunyai perusahaan pun, mereka biasanya bersembunyi di belakang para pentolan perusahaan.

Saling sikut antar pekerja mereka bukan hal mengejutkan. Contohnya persaingan antara Ziad dan Micahel, sopir Pangeran Walid bin Saud. Ada banyak isu lain saya hadapi selama bekerja dengan Puteri Rima.

Pada suatu malam, saya mengantarkan Puteri Rima mengunjungi ibu mertuanya, Puteri Ummu Mansur, mantan istri dari Raja Saud bin Abdul Aziz. Dia adalah ibu dari Mansur, putra kesayangan Raja Saud.

Puteri Ummu Mansur kala itu sedang berlibur di Inggris. Dia memiliki sebuah rumah di Farnham Common, sekitar 48 kilometer dari Ibu Kota London. Kunjungan ke Puteri Ummu Mansur menjadi perjalanan rutin karena dia tinggal lebih lama di Inggris.

Dalam sebuah perjalanan pulang ke London larut malam, Puteri Rima berbincang dengan saya. Dia bilang seluruh pangeran dan puteri Arab Saudi begitu memuakkan. Dia menyampaikan pandangannya itu dengan jelas.

Dia menambahkan tidak ada satu pun lebih baik di antara yang lain. Semua anggota keluarga kerajaan sama bejatnya.

Sepuluh hari kemudian, saya membikin kesalahan karena memanggil Pangeran Walid dengan nama depannya saja. Lantaran kekeliruan itu, Puteri Rima tidak mau berbicara dengan saya selama tiga pekan. Dia hanya mau omong dengan saya setelah saya meminta maaf. Omong kosong banget, pikir saya.

Pekerjaan sebagai sopir pribadi Puteri Rima mempengaruhi fisik dan mental saya, tapi saya bertahan. Saya terlalu setia untuk kebaikan saya sendiri. Tapi saya tidak akan pernah melakoni omong kosong itu sekarang.

Suatu sore di akhir Maret 1980, Pangeran Walid meminta saya mengambil sebuah rekaman musik dari kotak sarung tangan di mobilnya. ketika sedang mencari, saya menemukan sebuah amplop dalam keadaan terbuka berisi uang sangat banyak. Saya mengambil amplop itu dan rekamannya dan memnyerahkan kepada Pangeran Walid. Dia tidak menyadari hal itu. Kemudian menceritakan kepada Ziad apa yang terjadi.

"Itu bisa saja sebuah ujian. Keluarga kerajaan kerap mengetes stafnya dengan cara ini."
"Itu baik buat mereka, mungkin saya juga kadang harus menguji mereka?" kata saya.
Ada uang empat ribu pound sterling dalam amplop itu, apakah kamu tahu?" tanya Ziad.
"Saya tidak tahu."

Ketika disuruh mencari sesuatu lagi dalam mobil beberapa hari kemudian, saya menemukan sebuah pistol revolver 38 dan beberapa linting ganja. Saya membiarkan kedua benda tersebut. Beberapa tahun berselang, Pangeran Walid dan salah satu abangnya, Pangeran Masyhur, diadili karena penyelundupan narkotik.

Kabar ini tidak mengagetkan saya. Pangeran Masyhur akhirnya dipenjara setelah terjadi perundingan antara Kementerian Luar Negeri Inggris dan pemerintah Arab Saudi mengenai status diplomatiknya. Raja Saud mencabut status diplomatik Pangeran Masyhur sebagai contoh bagi para pangeran muda. Setelah bebas dari penjara, Pangeran Masyhur segera kembali ke Arab Saudi.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Pelesiran ke Puerto Banus bareng Pangeran Misyari

Dekat merkusuar, terdapat Shaf, kapal pesiar milik Pangeran Salman bin Abdul Aziz (sejak Januari 2015 menjadi Raja Arab Saudi). Saya juga pernah bekerja untuk dia. Pangeran Salman juga mempunyai enam atau tujuh vila dalam sebuah kompleks besar di belakang masjid, dekat dengan vila kepunyaan Pangeran Mansur.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Berlatih tarung dengan Pangeran Faisal

Saya kemudian mengangkat kaki kiri saya dan melakukan setengah lusin tendangan ke beragam arah.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Bualan karate Pangeran Faisal

Setelah semua bagasi dibereskan, John memperkenalkan saya dengan kedua pangeran itu: Pangeran Faisal bin Yazid dan Pangeran Misyari bin Saud. Saya ditugaskan mengawal ibu dari Pangeran Faisal.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Liburan musim panas Pangeran Faisal

Saya jadi yakin Marbella dalam bahasa Inggris dieja "FULUS!"





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Pelesiran ke Puerto Banus bareng Pangeran Misyari

Dekat merkusuar, terdapat Shaf, kapal pesiar milik Pangeran Salman bin Abdul Aziz (sejak Januari 2015 menjadi Raja Arab Saudi). Saya juga pernah bekerja untuk dia. Pangeran Salman juga mempunyai enam atau tujuh vila dalam sebuah kompleks besar di belakang masjid, dekat dengan vila kepunyaan Pangeran Mansur.

19 Mei 2018
Raja Khalid wafat
21 April 2018

TERSOHOR