buku

Murka lantaran Death of a Princess

Puteri Rima bin Talal bersorak keras saat Death of a Princess ditayangkan dan berlari dari satu ruangan ke ruangan lain karena saking kegirangan.

27 Januari 2018 23:55

Albalad.co berhasil mendapatkan izin dari penulis buku Saudi Bodyguard, Mark Young, untuk menerjemahkan sekaligus menerbitkan isi bukunya di Albalad.co. Seperti biasa, rubrik buku ini muncul saban Sabtu dan dimulai sejak 11 November lalu.

Albalad.co sejatinya memperoleh salinan buku Saudi Bodyguard dalam bentuk PDF tersebut langsung dari Mark Young, mantan pengawal para pangeran dan puteri di Kerajaan Arab Saudi, pada 1 September lalu. Baru ketika perkembangan dramatis terjadi saat ini di negara Kabah itu, Albalad.co memutuskan melansir terjemahan dari isi buku setebal lebih dari 400 halaman dan diterbitkan pada 2010 itu.

Mark Young, berasal dari Inggris, adalah pemegang sabuk hitam karate. Ayahnya adalah mantan anggota pasukan elite Inggris dan bekas anggota MI6, dinas intelijen Inggris.

Sejak Mei 1976, dia mulai menjadi instruktur dan membuka tiga sekolah karate. Tiga tahun kemudian, dia memulai kariernya sebagai pengawal pribadi keluarga kerajaan Arab Saudi. Tugas pertamanya adalah mengawal Pangeran Talal bin Abdul Aziz, ayah dari pemilik Kingdom Holding Company, Pangeran Al-Walid bin Talal, ditahan di Hotel Ritz Carlton di Ibu Kota Riyadh, sejak Sabtu malam pekan lalu.

Pangeran Al-Walid termasuk dalam 201 kaum elite Arab Saudi - meliputi pangeran, pejabat, dan pengusaha kakap - ditangkap atas tudingan korupsi. Penangkapan ini atas perintah Komisi Pemberantasan Korupsi, dibentuk beberapa jam sebelumnya dan diketuai oleh Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young ini bercerita dengan bahasa bertutur sebagai orang pertama mengenai pengalamannya selama menjadi pengawal pribadi keluarga Kerajaan Arab Saudi, termasuk Raja Salman bin Abdul Aziz.   

*******

Murka lantaran Death of a Princess

Pada 9 April 1980, stasiun televisi BBC asal Inggris menayangkan film dokumenter berjudul Death of a Princess.

Film ini bercerita mengenai pelaksanaan hukuman mati terhadap seorang puteri Saudi dan pacarnya berlangsung di depan umum. Pemerintah Arab Saudi berupaya mencegah aagar film itu tidak jadi disiarkan dan melarang dokumenter tersebut diimpor ke Arab Saudi.

Namun film itu berhasil diselundupkan dan ditonton di Arab Saudi dalam 24 jam setelah ditayangkan di Inggris. Deat of a Princess mengangkat kisah nyata tentang eksekusi mati atas Puteri Misyaal binti Fahad bin Muhammad dan kekasihnya, Khalid Mahallal, dilakukan pada Juli 1977.

Dramatisasi soal ekskusi mati ini memicu kemarahan internasional. Pemerintah Saudi melakukan segala usaha untuk menekan pemerintah Inggris untuk menyensor atau memblokir pemutaran film tersebut di Inggris. Mereka bahkan mengancam membatalkan kontrak bernilai jutaan pound sterling kalau Death of a Princess jadi ditayangkan.

Sekitar sepuluh juta warga Inggris menonton film kontroversial tersebut. Puteri Rima bin Talal merekam film dokumenter itu dan membagikan rekaman videonya kepada teman-temannya. Dia bersorak keras saat Death of a Princess ditayangkan dan berlari dari satu ruangan ke ruangan lain karena saking kegirangan.

Film dokumenter itu memperlihatkan kondisi kaum hawa di Arab Saudi: bercadar dan terpisah. Film ini menceritakan bagaimana perempuan di negara Kabah tersebut dilarang mengemudi atau mencblos dalam pemilihan umum. Bahkan diceritakan pula bagaimana perempuan Saudi tidak bisa menikah tanpa izin dari anggota keluarga lelaki.

Pada 11 April 1980, Kedutaan Besar Arab Saudi di Ibu Kota London, Inggris, menyebut Death of a Princess sebagai sebuah serangan mendasar terhadap agama Islam dan 600 juta penganutnya, serta atas cara hidup di Arab Saudi merupakan jantung dari dunia Islam.

Seluruh warga Arab Saudi kemudian berhenti mengunjungi Inggris dan berakibat para pekerja musiman menganggur. Saya beruntung gaji saya tetap mengalir.

Pada 23 April 1980, pemerintah Arab Saudi meminta Duta Besar Inggris James Craig dipulangkan dari Jeddah. Selama berpekan-pekan setelah Death of a Princess tayang di Inggris, pembatasan visa diberlakukan bagi para eksekutif perusahaan Inggris beroperasi di Arab Saudi. Negara Dua Kota Suci ini memberikan tekanan lebih besar lagi dengan memerintahkan sebuah perusahaan konstruksi besar asal Amerika Serikat tidak memberi subkontrak kepada perusahaan Inggris.

Pesawat supersonik juga dilarang terbang di wilayah udara Arab Saudi sehingga menghapus laba rute penerbangan Concorde dari London ke Singapura.

Beberapa anggota parlemen dan pejabat Inggris mengecam BBC karena menayangkan Death of a Princess. Mereka menuntut pemerintah Inggris meminta maaf kepada pemerintah Saudi dan keluarga kerajaan atas film tersebut.

Pada akhir Mei 1980, Lord Peter Carrington, kemudian menjabat menteri luar negeri Inggris, menyatakan dokumenter BBC itu benar-benar sebuah penghinaan dan mestinya tidak ditayangkan. Ketika ditanya apakah ucapannya itu merupakan permohonan maaf, Lord Carrington bilang itu sebuah pernyataan dari apa yang dipikirkan pemerintah Inggris.  

Pada Juli 1980, Duta Besar Inggris untuk Arab Saudi James Craig kembali bertugas di Jeddah. Dalam beberapa bulan kemudian, keistimewaan biasa diberikan kepada bisnis Inggris berlaku lagi.

Bagi saya, segalanya berjalan normal. Hampir saban hari saya bekerja untuk Puteri Rima hingga dini hari dan itu berlaku enam hari dalam seminggu. Mereka bahkan juga suka memanggil saya di hari Minggu. Kondisi saya membikin saya tidak akan menolak permintaan mereka.

Namun perlahan kepercayaan dan rasa hormat saya tergerus. Seperti banyak orang bekerja untuk orang Saudi, saya pun tidak dihargai oleh mereka. Tidak ada pembagian tugas jelas karena ketika Anda mulai bekerja untuk mereka, Anda diminta melakukan semua hal. Anda pada dasarnya menjadi budak mereka meski dibayar.  

Sue ingin saya berhenti. Kami jarang menghabiskan waktu bersama dan anak-anak merindukan saya. Dia juga menyadari banyak pengorbanan saya lakukan karena bekerja untuk waktu lama. Dia mengingatkan betapa saya jarang tersenyum dan dia mencemaskan rasa percaya diri saya.

Saya meyakini inilah awal bagi saya untuk berhenti bekerja dengan Puteri Rima dan Pangeran Walid bin Saud. Saya tidak dapat lagi menerima klaim mereka: tidak mampu menaikkan gaji saya. Padahal mereka benar-benar tajir.

Pangeran Misyari bin Saud bin Abdul Aziz bersama putranya, Pangeran Turki, di resor ski Megeve, Prancis. (Mark Young/Saudi Bodyguard)

Makan siang bareng Pangeran Misyari

Pangeran Salman langsung menjatuhkan kartu dan berdiri untuk menyambut penguasa Arab datang tidak disangka. Ketika Jack mendekat, mereka sadar ternyata yang datang orang Inggris.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Terbang ke Arab Saudi atas undangan Pangeran Misyari bin Saud

Saya sekarang menyaksikan Pangeran Misyari dalam situasi berbeda. Sebelumnya, saya melihat dia sekadar sebagai playboy, penjudi, kini saya menyaksikan dirinya benar-benar dalam peran berbeda.

Pangeran Muhammad bin Fahad, putra dari Raja Arab Saudi Fahad bin Abdul Aziz (tengah). (princemohammad.org)

Skandal seks anak Raja Fahad

Kalau pangeran setuju, gadis itu akan dipanggil masuk ke ruang santai. Tahap awal, Pangeran Muhammad bakal memutuskan apakah dia menyukai gadis itu. Jika dirinya tidak sreg untuk bercinta, gadis itu diserahkan kepada salah satu lelaki hadir sebagai hadiah.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Anak Raja Fahad kena penyakit kelamin

Di kasino Knightsbridge, Pangeran Muhammad bin Fahad pergi ke toilet, kemudian berteriak lalu lari keluar dari kasino dan melompat masuk ke dalam mobilnya.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Makan siang bareng Pangeran Misyari

Pangeran Salman langsung menjatuhkan kartu dan berdiri untuk menyambut penguasa Arab datang tidak disangka. Ketika Jack mendekat, mereka sadar ternyata yang datang orang Inggris.

08 Juni 2019

TERSOHOR