buku

Cincin berlian seharga US$ 2,5 juta milik Puteri Rima

Kalau lagi berbelanja, Puteri Rima bisa berada seharian dalam satu toko pakaian.

03 Februari 2018 19:36

Albalad.co berhasil mendapatkan izin dari penulis buku Saudi Bodyguard, Mark Young, untuk menerjemahkan sekaligus menerbitkan isi bukunya di Albalad.co. Seperti biasa, rubrik buku ini muncul saban Sabtu dan dimulai sejak 11 November 2017.

Albalad.co sejatinya memperoleh salinan buku Saudi Bodyguard dalam bentuk PDF tersebut langsung dari Mark Young, mantan pengawal para pangeran dan puteri di Kerajaan Arab Saudi, pada 1 September 2017. Baru ketika perkembangan dramatis terjadi saat ini di negara Kabah itu, Albalad.co memutuskan melansir terjemahan dari isi buku setebal lebih dari 400 halaman dan diterbitkan pada 2010 itu.

Mark Young, berasal dari Inggris, adalah pemegang sabuk hitam karate. Ayahnya adalah mantan anggota pasukan elite Inggris dan bekas anggota MI6, dinas intelijen Inggris.

Sejak Mei 1976, dia mulai menjadi instruktur dan membuka tiga sekolah karate. Tiga tahun kemudian, dia memulai kariernya sebagai pengawal pribadi keluarga kerajaan Arab Saudi. Tugas pertamanya adalah mengawal Pangeran Talal bin Abdul Aziz, ayah dari pemilik Kingdom Holding Company, Pangeran Al-Walid bin Talal, ditahan di Hotel Ritz Carlton di Ibu Kota Riyadh, sejak Sabtu malam pekan lalu.

Pangeran Al-Walid termasuk dalam 201 kaum elite Arab Saudi - meliputi pangeran, pejabat, dan pengusaha kakap - ditangkap atas tudingan korupsi. Penangkapan ini atas perintah Komisi Pemberantasan Korupsi, dibentuk beberapa jam sebelumnya dan diketuai oleh Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young ini bercerita dengan bahasa bertutur sebagai orang pertama mengenai pengalamannya selama menjadi pengawal pribadi keluarga Kerajaan Arab Saudi, termasuk Raja Salman bin Abdul Aziz.   

*******

Cincin berlian seharga US$ 2,5 juta milik Puteri Rima

Suatu pagi, Puteri Rima bin Talal meminta saya menyiapkan sebuah mobil. Setelah masuk ke dalam mobil, dia meminta saya mengantarkan ke the National Westminster Bank di pojokan antara Alun-alun St. james dan Jalan Charles II.

Saya memarkir mobil di garis dobel berwarna kuning, sebuah area larangan parkir, kemudian pergi menemani Puteri Rima. Dia lantas menuju kotak deposit miliknya.

Ketika keluar dari bank, dia memberikan saya sebuah kantong kecil seraya berkata, "Simpan ini." Saya lalu memasukkan gepokan uang tersbeut ke dalam kantong.

Kami terus pergi berbelanja. Saya belum pernah melihat orang berbelanja seperti dilakoni kaum supertajir seperti Puteri Rima. Dia masuk ke sebuah toko pakaian ketika buka pada pagi dan seharian di dalam sana. Bahkan, pelayan toko bersedia membuka tokonya lebih lama lagi untuk melayani pelanggan istimewa mereka itu.

Kadang dalam satu waktu, kegiatan berbelanja seharian itu berlangsung enam hari dalam sepekan selama tiga atau empat bulan. Ini membikin otak sya sakit. Sampai sekarang saya tidak tahan menemani orang berbelanja dan harus keluar masuk toko secepat mungkin.

Setelah seharisn di toko pakaian, Puteri Rima menyuruh saya mengantar ke Cartier, toko perhiasan di Jalan Old Bond. Seperti biasa, saya kembali memarkirkan mobil di garis dobel berwarna kuning. Sebab Puteri Rima tidak suka kalau mobilnya tidak diparkir tepat di depan toko.

Orang-orang seperti Puteri Rima berpikir mereka bisa melakoni apa saja mereka mau.

Saya menemani Puteri Rima masuk ke dalam toko Cartier. Seorang pelayan seolah sudah menantikan kedatangannya. Seraya menundukkan kepala, dia membuka lebar kedua tangannya.

"Yang Mulia, senang bertemu Anda lagi. Silakan masuk ke dalam ruangan konferensi."

Saya mengikuti Puteri Rima dari dekat. Pelayan toko itu berbicara dengan aksen kelas atas dan berpakaian warna hitam. Saya kira dia lebih dari sekadar pelayan toko.

"Yang Mulia, silakan duduk," kata lelaki itu. Saya memilih duduk agak jauh dari Puteri Rima. Pelayan toko tersebut kemudian meminta kepada Puteri Rima perhiasan akan dijual.  

"Tentu saja saaat ini saya hanya ingin tahu berapa harganya dan saya ingin tahu apakah bisa dijual dengan mudah," jawab Puteri Rima.

Puteri Rima menoleh kepada saya dan bilang, "Bisakah kamu kasihkan kantong saya berikan kepadamu sebelumnya?"

Saya menyerahkan kantong itu kepada Puteri Rima dan dia lalu memberikan kepada penjual perhiasan itu. Dia mengeluarkan cincin bertahtakan berlian tersebut dari dalam kantong dan mulai mengamati dengan seksama.

Dia juga membaca tulisan di sejumlah kertas diberikan oleh Puteri Rima, lalu beralih kembali ke perhiasan itu. Dia melakukan hal tersebut beberapa kali untuk memastikan ada kecocokan.

"Yang Mulia, saya yakin kami bisa mencari pembeli untuk barang berharga ini," kata penjual perhiasan itu.

Saya nyaris ketiduran di kursi tapi itu tidak berlangsung lama.

"Saya kira kami tidak ada masalah untuk menjual cincin berlian tersebut seharga US$ 2,5 juta," kata penjual perhiasan itu.

Saya kaget setengah mati. Saya tidak percaya kantong dalam saku saya itu berisi sebuah cincin berlian seharga US$ 2,5 juta. Pada 1980, fulus sebanyak itu sungguh fantastis.

Puteri Rima memberikan kembali kantong berisi perhiasan tersebut kepada saya. Saya ingat cincin emas itu bertahtakan batu berbentuk hati. Batu itu adalah sebuah berlian berwarna merah muda. Berukuran 1x1 inchi dengan ketebalan setengah inchi. Benar-benar sangat indah.

Puteri Rima menerima cincin berlian itu dari ayahnya, Pangeran Talal bin Abdul Aziz. Saya memasukkan kembali cincin berlian itu ke dalam kantong lalu menyimpan lagi ke dalam saku saya.

Kami lantas meninggalkan Cartier dan langsung pergi ke bank. Saya merasa lega sehabis cincin berlian itu disimpan kembali dalam kotak deposit.    

Pangeran Misyari bin Saud bin Abdul Aziz bersama putranya, Pangeran Turki, di resor ski Megeve, Prancis. (Mark Young/Saudi Bodyguard)

Makan siang bareng Pangeran Misyari

Pangeran Salman langsung menjatuhkan kartu dan berdiri untuk menyambut penguasa Arab datang tidak disangka. Ketika Jack mendekat, mereka sadar ternyata yang datang orang Inggris.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Terbang ke Arab Saudi atas undangan Pangeran Misyari bin Saud

Saya sekarang menyaksikan Pangeran Misyari dalam situasi berbeda. Sebelumnya, saya melihat dia sekadar sebagai playboy, penjudi, kini saya menyaksikan dirinya benar-benar dalam peran berbeda.

Pangeran Muhammad bin Fahad, putra dari Raja Arab Saudi Fahad bin Abdul Aziz (tengah). (princemohammad.org)

Skandal seks anak Raja Fahad

Kalau pangeran setuju, gadis itu akan dipanggil masuk ke ruang santai. Tahap awal, Pangeran Muhammad bakal memutuskan apakah dia menyukai gadis itu. Jika dirinya tidak sreg untuk bercinta, gadis itu diserahkan kepada salah satu lelaki hadir sebagai hadiah.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Anak Raja Fahad kena penyakit kelamin

Di kasino Knightsbridge, Pangeran Muhammad bin Fahad pergi ke toilet, kemudian berteriak lalu lari keluar dari kasino dan melompat masuk ke dalam mobilnya.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Makan siang bareng Pangeran Misyari

Pangeran Salman langsung menjatuhkan kartu dan berdiri untuk menyambut penguasa Arab datang tidak disangka. Ketika Jack mendekat, mereka sadar ternyata yang datang orang Inggris.

08 Juni 2019

TERSOHOR