buku

Hidung baru Puteri Rima

Puteri Rima memiliki SIM Kuwait meski tidak pernah menjalani ujian.

10 Februari 2018 13:17

Albalad.co berhasil mendapatkan izin dari penulis buku Saudi Bodyguard, Mark Young, untuk menerjemahkan sekaligus menerbitkan isi bukunya di Albalad.co. Seperti biasa, rubrik buku ini muncul saban Sabtu dan dimulai sejak 11 November 2017.

Albalad.co sejatinya memperoleh salinan buku Saudi Bodyguard dalam bentuk PDF tersebut langsung dari Mark Young, mantan pengawal para pangeran dan puteri di Kerajaan Arab Saudi, pada 1 September 2017. Baru ketika perkembangan dramatis terjadi saat ini di negara Kabah itu, Albalad.co memutuskan melansir terjemahan dari isi buku setebal lebih dari 400 halaman dan diterbitkan pada 2010 itu.

Mark Young, berasal dari Inggris, adalah pemegang sabuk hitam karate. Ayahnya adalah mantan anggota pasukan elite Inggris dan bekas anggota MI6, dinas intelijen Inggris.

Sejak Mei 1976, dia mulai menjadi instruktur dan membuka tiga sekolah karate. Tiga tahun kemudian, dia memulai kariernya sebagai pengawal pribadi keluarga kerajaan Arab Saudi. Tugas pertamanya adalah mengawal Pangeran Talal bin Abdul Aziz, ayah dari pemilik Kingdom Holding Company, Pangeran Al-Walid bin Talal, ditahan di Hotel Ritz Carlton di Ibu Kota Riyadh, sejak Sabtu malam pekan lalu.

Pangeran Al-Walid termasuk dalam 201 kaum elite Arab Saudi - meliputi pangeran, pejabat, dan pengusaha kakap - ditangkap atas tudingan korupsi. Penangkapan ini atas perintah Komisi Pemberantasan Korupsi, dibentuk beberapa jam sebelumnya dan diketuai oleh Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young ini bercerita dengan bahasa bertutur sebagai orang pertama mengenai pengalamannya selama menjadi pengawal pribadi keluarga Kerajaan Arab Saudi, termasuk Raja Salman bin Abdul Aziz.   

*******

Hidung baru Puteri Rima

Sekitar akhir Juli 1980, Puteri Rima binti Talal bin Abdul Aziz menjalani operasi plastik untuk mempercantik hidungnya. Saya kerap memergoki dia berkaca di cermin besar, tergantung di dinding dekat meja makan. Puteri Rima memang memiliki bentuk hidung seperti kaitan khas orang Arab dan dia ingin mempunyai hidung lurus seperti kebanyakan orang Eropa.

Setelah menjalani sejumlah pemeriksaan awal, dia segera masuk ke dalam sebuah rungan di the London Clinic untuk dioperasi. Empat hari kemudian, saya menjemput Puteri Rima dan mengantar dia pulang ke rumahnya di Lowndes Close.

Perban masih melekat di wajahnya. Mukanya tampak bengkak dan memar, kedua matanya nyaris terpejam.

Saban hari saya ke rumah Puteri Rima meski dia tidak pernah minta diantar pergi. Saya biasanya cuma duduk berjam-jam tanpa ada kegiatan apapun. Tidak ada televisi atau radio buat mengusir kebosanan saya.

Akhirnya tiba hari di mana perban di wajah Puteri Rima harus dibuka. Ketika semua pegawai tengah berkumpul menunggu kedatangan sang bos, Ziad, sopir pribadi Pangeran Walid bin Saud merupakan suami dari Puteri Rima, meminta kami semua menunjukkan kekagetannya melihat bagaimana cantiknya Puteri Rima setelah menjalani operasi plastik di hidungnya.

Hasilnya memang demikian. Hidung Puteri Rima kelihatan indah. Itu setara dengan tarif operasi mesti dia bayar. Hidung barunya makin mempercantik wajah Puteri Rima.

Pada pekan pertama September 1980, memar dan bengkak di muka Puteri Rima lenyap. Dia memutuskan sekaranglah waktunya untuk menunjukkan hidung barunya kepada ibu mertuanya, Puteri Ummu Mansur di kawasan Farnham Common. Seperti sudah diduga, semua terkejut melihat hidung baru baru Puteri Rima.

Ketika akan pulang, saya memarkir Rolls Royce di pintu samping kediaman Puteri Mansur. Ketika saya akan membukakan pintu depan bagian penumpang untuk Puteri Rima, dia bilang,
"Saya akan menyetir."
"Apakah Anda memiliki surat izin mengemudi (SIM) dan asuransi?" tanya saya.
"Ya, saya punya SIM Kuwait."

Dalam perjalanan pulang dan Puteri Rima yang menyetir, saya sadar dia lebih berbahaya ketimbang apapun. Ketika kami mendekati tikungan ke kanan di jalan layang Chiswick, dia menginjak pedal gas dalam-dalam. Saya hampir terkena serangan jantung. Rolls Royce dia kendarai nyaris menabrak pagar sisi jalan.

Saya akhirnya mengetahui Puteri Rima benar-benar memiliki SIM terbitan Kuwait. Tapi kenyataannya dia tidak pernah ke Kuwait untuk menjalani ujian mengemudi. Dia mengirim seorang stafnya ke negara tersebut untuk mendapatkan SIM itu untuk dirinya.

Dalam kunjungan berikutnya ke Farnham Common sepekan kemudian, saya tidak berjumpa Bassam, sopir pribadi Puteri Ummu Mansur. Jadi saya bertanya ke mana dia pergi.   

Saya diberitahu beberapa malam sebelumnya, Bassam pergi dengan Rolls Royce milik Puteri Ummu Mansur tanpa izin. Dalam keadaan mabuk, dia menabrakkan Rolls Royce kuning kepunyaan majikannya ke bak sampah penuh dengan puing. Akibatnya bodi samping mobil rusak.

Salah satu pelat nomor 777 HRH jatuh di jalan. Dalam keadaan sempoyongan Bassam melompat keluar dari mobil dan berlari dalam kegelapan malam.

Sepekan kemudian, dia kembali bekerja untuk Puteri Ummu Mansur. Seperti saya dan orang-orang melatih saya, Bassam merasa perlu pekerjaan itu. Kami harus melindungi dan tetap loyal kepada majikan kami betapapun kelakuan mereka tidak mengenakkan.

Saya terus bekerja sepanjang waktu. Saya hanya memiliki dua jam saja saban hari untuk menghabiskan waktu bareng Sue dan anak-anak. Saya bahkan tidak bisa mengajak mereka liburan atau mengurus mobil saya. Semua kehidupan saya terpusat pada Puteri Rima.

Beruntung saya mendapat libur di hari Natal pada 1980. Walau uang kami pas-pasan, Sue dan saya pergi berbelanja untuk kebutuhan Natal di rumah. Menjelang hari Natal, saya tiba di rumah Puteri Rima membawa beragam hadiah bagi semua staf di sana.

Dari ekspresi mereka, saya bisa melihat mereka tidak senang dengan hadiah saya berikan. Mereka barangkali berpikir saya jahat dan kikir. Tapi mereka tidak tahu saya hanya digaji kecil sehingga tidak mampu membeli hadiah bagus untuk mereka.

Mereka mungkin tidak tahu pula betapa Ziad dan Michael kerap mengkhianati saya. keduanya saling menhyikut dan menjatuhkan untuk mendapatkan perhatian lebih dari Puteri Rima atau suaminya, Pangeran Walid. Bahkan mereka rela kehilangan kehormatan.

Saya pun kala itu tidak pernah menyadari Puteri Rima dan Pangeran Walid terus menggerus rasa percaya diri dan martabat saya. Saya nyaris hidup hanya untuk mengabdi kepada keduanya.  

Pangeran Misyari bin Saud bin Abdul Aziz bersama putranya, Pangeran Turki, di resor ski Megeve, Prancis. (Mark Young/Saudi Bodyguard)

Perjalanan menyebalkan bareng Juan

Saya terpaksa meminta Pangeran Misyari mengirim uang lantaran Juan membawa lari semuanya.

Syekh Khalifah bin Zayid bin Sultan an-Nahyan, sejak November 2004 menjabat Presiden Uni Emirat Arab. (Wikipedia)

Bekerja untuk putera mahkota Abu Dhabi

Ketika pendidikan dimulai, dia membayar sejumlah lelaki masing-masing 50 pound sterling hanya untuk menyemir sepatu-sepatunya saban malam.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Pangeran Arab Saudi gemar berpesta seks dengan pramugari cantik Saudia

Saya akhirnya melihat sendiri para pramugari itu berubah menjadi pelacur dan berpesta seks di kediaman pangeran-pangeran Arab Saudi.





comments powered by Disqus