buku

Isapan ganja Puteri Dalal

Pangeran Al-Walid bin Talal mengamuk di lobi Hotel Dorchester setelah dua lelaki Amerika mengira istri dan adiknya adalah pelacur sedang mencari pelanggan.

17 Februari 2018 23:55

Albalad.co berhasil mendapatkan izin dari penulis buku Saudi Bodyguard, Mark Young, untuk menerjemahkan sekaligus menerbitkan isi bukunya di Albalad.co. Seperti biasa, rubrik buku ini muncul saban Sabtu dan dimulai sejak 11 November 2017.

Albalad.co sejatinya memperoleh salinan buku Saudi Bodyguard dalam bentuk PDF tersebut langsung dari Mark Young, mantan pengawal para pangeran dan puteri di Kerajaan Arab Saudi, pada 1 September 2017. Baru ketika perkembangan dramatis terjadi saat ini di negara Kabah itu, Albalad.co memutuskan melansir terjemahan dari isi buku setebal lebih dari 400 halaman dan diterbitkan pada 2010 itu.

Mark Young, berasal dari Inggris, adalah pemegang sabuk hitam karate. Ayahnya adalah mantan anggota pasukan elite Inggris dan bekas anggota MI6, dinas intelijen Inggris.

Sejak Mei 1976, dia mulai menjadi instruktur dan membuka tiga sekolah karate. Tiga tahun kemudian, dia memulai kariernya sebagai pengawal pribadi keluarga kerajaan Arab Saudi. Tugas pertamanya adalah mengawal Pangeran Talal bin Abdul Aziz, ayah dari pemilik Kingdom Holding Company, Pangeran Al-Walid bin Talal, ditahan di Hotel Ritz Carlton di Ibu Kota Riyadh, sejak Sabtu malam pekan lalu.

Pangeran Al-Walid termasuk dalam 201 kaum elite Arab Saudi - meliputi pangeran, pejabat, dan pengusaha kakap - ditangkap atas tudingan korupsi. Penangkapan ini atas perintah Komisi Pemberantasan Korupsi, dibentuk beberapa jam sebelumnya dan diketuai oleh Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young ini bercerita dengan bahasa bertutur sebagai orang pertama mengenai pengalamannya selama menjadi pengawal pribadi keluarga Kerajaan Arab Saudi, termasuk Raja Salman bin Abdul Aziz.   

*******

Isapan ganja Puteri Dalal

Suatu malam di Januari 1981, Puteri Rima binti Talal bin Abdul Aziz menyuruh saya menjemput Puteri Dalal binti Saud, saudari ipar Puteri Rima, dan teman perempuannya untuk menemani dia di rumah. Waktu itu jam sebelas malam. Langit terlihat cerah dan bintang-bintang berkilauan.

Puteri Dalal tinggal di rumah ibunya, Puteri Ummu Mansur di kawasan Farnham Common, kalau berlibur ke Inggris. Perjalanan ke sana sekitar sejam tapi saya ingin-ingin buru karena mau pulang ke rumah. Selain itu, saya juga tahu Puteri Dalal dan teman perempuannya sangat menarik.

"Selamat malam Yang Mulia," kata saya. "Malam indah untuk mengemudi di bawah langit bertabur bintang," ujar saya blak-blakan.

"Selamat malam," jawab Puteri Dalal seraya melangkah masuk ke dalam mobil. Selama di dalam mobil Puteri Dalal dan temannya menyalakan rokok ganja. Dalam hitungan menit, mobil sudah dipenuhi asap ganja. Saya seolah mengemudi menembus kepulan asap. Malam berkabut.

Kecanduan narkotik dan minuman beralkohol sudah melanda keluarga kerajaan Arab Saudi. Saya tidak merokok tapi saya juga ikut mengisap asap ganja itu. Puteri Dalal dan temannya sudah mulai tertawa genit.

Sehabis menyelesaikan selinting ganja, mereka menyalakan lagi seterusnya hingga saya pun ikut merasa senang. Mulanya saya tidak mau menjemput mereka  namun saya akhirnya merasa baik-baik saja. Meski saya tidak belajar bahasa Arab kala itu, namun saya memahami kegembiraan mereka.

suami dari Puteri Dalal adalah Pangeran Al-Walid bin Talal bin Abdul Aziz, orang terkaya keempat di dunia versi majalah Forbes pada 2004. Pernikahannya dengan Puteri Dalal nyaris hancur. Selama kunjungannya, Puteri Dalal bakal bertemu suaminya untuk menyelesaikan perselisihan mereka.

Saya kala itu mengemudikan Rolls Royce Wraith berwarna perak menuju kediaman Puteri Rima, tapi apakah saya berkendara dengan baik itu persoalan lain. Itu satu-satunya pengalaman saya rasakan soal narkotik ilegal ketika anggota keluarga kerajaan Saudi menggunakannya.

Selama perjalanan, Puteri Dalal dan temannya mengisap ganja bergantian. Hingga akhirnya kami dihentikan oleh beberapa polisi. Ketika saya keluar mobil asap ganja pun ikut terbang dan tercium oleh mereka.

Setelah berunding, kami pun diizinkan melanjutkan perjalanan sampai ke rumah Puteri Rima tanpa hambatan lagi. Setelah menurunkan mereka, saya pulang ke rumah.

Besoknya, saya kembali ke Belgravia bareng Puteri Rima. Dalam sepekan, kami kembali mengunjungi Puteri Ummu Mansur di Farnham Common. Berjam-jam saya di sana.

Menghabiskan waktu bersama Bassam, sopir pribadi Puteri Ummu Mansur, bisa menghilangkan kebosanan. Kadang setelah bermain menembak, kami membersihkan mobil dan mengobrl apa saja.

Rolls Royce kepunyaan Puteri Ummu Mansur dipoles dengan cat hijau metalik dengan maskot Flying Lady berlapis emas. Kelihatan spektakuler. Pelat nomornya 777 HRH.

Ketika saya sedang mengagumi perbaikan atas Rolls Royce itu setelah menabrak bak sampah, saya spontan menutup pintu sopir dengan keras. Saya tidak sadar tangan Bassam terjepit. Saya berlari sambil tertawa. Beruntung Bassam tidak marah.

Dua hari kemudian, Puteri Rima dan saya keluar dari rumah di Belgravia untuk mengunjungi Puteri Dalal, kini menginap di Hotel Dorchester bersama suaminya, Pangeran Al-Walid bin Talal, abang dari Puteri Rima.

Lawatan kali ini terbukti lebih menarik. Ketika kami memasuki lobi hotel, Puteri Dala sudah menunggu di sana. Segera saja kedua puteri kerajaan tersebut mulai berbincang.

Saya memberi isyarat kepada Puteri Rima, saya akan duduk di bangku di seberang lobi. Puteri Dalal tersenyum ke arah saya. Saya tidak tahu keduanya sedang menunggu Pangeran Al-Walid balik ke hotel.

Saat Puteri Rima dan Puteri Dalal sedang mengobrol, dua lelaki melangkah dan menarik perhatian saya. Insting saya menyebutkan bakal terjadi sesuatu. Saya bangkit dari kursi dan berjalan melintasi lobi. Puteri Rima memandang ke arah saya dengan raut kaget ketika Pangeran Al-Walid datang dalam keadaan marah.

Pangeran Al-Walid menyerang satu dari dua pria itu. Dia melempar sebuah asbak ke lelaki satunya lagi. Pecahan beling berserakan di lantai. Satu asbak lagi melayang di dalam lobi dan saya masuk ke tengah-tengah mereka. Mencekik kerah baju kedua lelaki itu dan mendorong mereka keluar.

Ketika kedua pria tersebut sudah di luar, Pangeran Al-Walid bin Talal menubruk punggung saya saat di keluar pintu lobi untuk mengejar dua lelaki itu. Saya memaksa kedua pria ini untuk masuk ke dalam sebuah taksi. Bahkan sebelum mereka masuk ke dalam taksi, sebuah asbak melayang lagi dan jatuh di dekat taksi.

Beruntung limusin Lincoln berwarna putih milik Pangeran Al-Walid tidak terkena pecahan beling asbak.  

Saya kembali masuk ke dalam hotel bareng Pangeran Al-Walid. Dia menggerutu. Di dalam lobi, staf penitipan barang, penjaga pintu hotel, dan tukang angkat barang kaget betul dengan apa yang barusan terjadi. Namun Pangeran Al-Walid gusar sehingga tidak memperhatikan mereka.

Saya menemani Pangeran Al-Walid bareng Puteri Rima dan Puteri Dalal naik ke kamarnya dan mereka kemudian terlibat dalam pembicaraan serius. Tidak lama berselang, kedua puteri itu keluar dari kamar untuk makan malam.

Dia dalam lift mereka tertawa cekikikan mengenai insiden tadi. Puteri Rima dan Puteri Dalal bilang kepada saya, kedua lelaki itu mengira mereka pelacur sedang mencari pelanggan.

Saya melihat dengan jelas ketika Pangeran Al-Walid masuk ke dalam hotel. Dia benar-benar buas. Karena egonya, dia telah kehilangan muka. Dia berpikir bisa berbuat sesukanhya. Saya merasa malu untuk mengatakan tidak seorang pun sanggup menghentikan kemarahannya.

Beberapa tahun kemudian, Pangeran Al-Walid kian berpengaruh dalam sektor bisnis dan keuangan. Dia membeli saham di beberapa perusahaan di seluruh dunia. Satu waktu, dia membeli 4,85 persen saham bank terbesar kedua di Amerika Serikat, Citicorp, senilai US$ 585 juta.

Dia bahkan menolak fulus US$ 30 juta dari biaya kartu kredit dikenakan Citcorp terhadap keluarga dan teman-temannya di Arab Saudi. Meski begitu, dia tetap menjadi salah satu orang paling tajir di planet ini.

Dua hari sehabis kejadian di Hotel Dorchester, Pangeran Al-Walid dan istrinya pulang ke Arab Saudi. Mereka bercerai tidak lama kemudian.   

   

Pangeran Misyari bin Saud bin Abdul Aziz bersama putranya, Pangeran Turki, di resor ski Megeve, Prancis. (Mark Young/Saudi Bodyguard)

Bekerja lagi untuk Pangeran Misyari

Mark Young tidak bisa merayakan Natal bersama keluarganya pada 1982 karena harus menemani Pangeran Misyari membeli vila di Marbella.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Senangnya bekerja untuk Pangeran Misyari

Namanya Puteri Al-Anud. Dia cerdas, pandai berdandan, dan sangat menggoda dengan pakaian renang.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Cekcok Pangeran Mansur di klub malam Oscar's

Pangeran Mansur bin Saud bin Abdul Aziz menjadi beringas lantaran menenggak minuman beralkohol terlalu banyak.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Pelesiran ke Puerto Banus bareng Pangeran Misyari

Dekat merkusuar, terdapat Shaf, kapal pesiar milik Pangeran Salman bin Abdul Aziz (sejak Januari 2015 menjadi Raja Arab Saudi). Saya juga pernah bekerja untuk dia. Pangeran Salman juga mempunyai enam atau tujuh vila dalam sebuah kompleks besar di belakang masjid, dekat dengan vila kepunyaan Pangeran Mansur.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Bekerja lagi untuk Pangeran Misyari

Mark Young tidak bisa merayakan Natal bersama keluarganya pada 1982 karena harus menemani Pangeran Misyari membeli vila di Marbella.

09 Juni 2018

TERSOHOR