buku

Budak seks anak pejabat Arab Saudi

Putra dari atase militer Arab Saudi di London menjadikan pembantunya asal Filipina sebagai budak seks.

31 Maret 2018 21:52

Albalad.co berhasil mendapatkan izin dari penulis buku Saudi Bodyguard, Mark Young, untuk menerjemahkan sekaligus menerbitkan isi bukunya di Albalad.co. Seperti biasa, rubrik buku ini muncul saban Sabtu dan dimulai sejak 11 November 2017.

Albalad.co sejatinya memperoleh salinan buku Saudi Bodyguard dalam bentuk PDF tersebut langsung dari Mark Young, mantan pengawal para pangeran dan puteri di Kerajaan Arab Saudi, pada 1 September 2017. Baru ketika perkembangan dramatis terjadi saat ini di negara Kabah itu, Albalad.co memutuskan melansir terjemahan dari isi buku setebal lebih dari 400 halaman dan diterbitkan pada 2010 itu.

Mark Young, berasal dari Inggris, adalah pemegang sabuk hitam karate. Ayahnya adalah mantan anggota pasukan elite Inggris dan bekas anggota MI6, dinas intelijen Inggris.

Sejak Mei 1976, dia mulai menjadi instruktur dan membuka tiga sekolah karate. Tiga tahun kemudian, dia memulai kariernya sebagai pengawal pribadi keluarga kerajaan Arab Saudi. Tugas pertamanya adalah mengawal Pangeran Talal bin Abdul Aziz, ayah dari pemilik Kingdom Holding Company, Pangeran Al-Walid bin Talal, ditahan di Hotel Ritz Carlton di Ibu Kota Riyadh, sejak Sabtu malam pekan lalu.

Pangeran Al-Walid termasuk dalam 201 kaum elite Arab Saudi - meliputi pangeran, pejabat, dan pengusaha kakap - ditangkap atas tudingan korupsi. Penangkapan ini atas perintah Komisi Pemberantasan Korupsi, dibentuk beberapa jam sebelumnya dan diketuai oleh Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young ini bercerita dengan bahasa bertutur sebagai orang pertama mengenai pengalamannya selama menjadi pengawal pribadi keluarga Kerajaan Arab Saudi, termasuk Raja Salman bin Abdul Aziz.   

*******

Budak seks anak pejabat Arab Saudi

Baru beberapa hari saya menghabiskan waktu bareng keluarga, tugas baru membikin saya harus kembali ke London. Suatu subuh pada April 1982, saya bergegas ke ibu kota Inggris itu untuk membantu putra dari atase militer Kedutaan Arab Saudi.

Dia mengira seseorang berusaha menculik pelayannya asal Filipina. Ketika saya tiba di rumahnya, dia mengiba kepada saya untuk mencari pembantunya itu di atas loteng. Dia bilang dia mendengar suara berisik berasal dari sana.

Dengan berhati-hati, saya menaiki beberapa anak tangga menuju loteng. Pelan-plan saya membuka pintu loteng dan masuk ke dalam. Dipenuhi kecemasan, saya menyusuri ruangan gelap tapi tidak menemukan siapapun. Lalu saya turun lagi.

Segera setelah saya berada di dekat anak dari atase militer Arab Saudi itu, dia mengatakan, "Apakah kamu tahu siapa saya? Apakah kamu tahu siapa ayah saya? Apakah kamu tahu betapa pentingnya kami?"

"Tentu saja saya tahu. Saya sudah diberitahu mengenai status Anda sebagai orang penting," kata saya berbohong. Padahal saya tidak peduli seberapa penting keluarganya. Saya hanya melaksanakan pekerjaan saya dan ingin segera menyelesaikan.

Saat dia sedang tertegun, saya melanjutkan pencarian ke lantai bawah tanah. Namun saya tidak menemukan sesuatu bermasalah di sana. Saya menyisir tiap ruangan dan lantai. Ketika kembali ke bawah, saya berbicara dengan tuan rumah dan temannya lagi.

"Apakah kamu sudah menemukan dia? Apa yang kamu perbuata terhadap dirinya? Apakah kamu telah membunuh dia? Apa yang akan kamu lakukan dengan mayatnya? tanya anak dari atase militer Saudi itu.

"Saya belum menemukan apa-apa," jawab saya seraya membayangkan betapa lelaki ini begitu mengesalkan.

Saya balik lagi ke dapur. Menyisir ke lemari piring berukuran besar hingga akhirnya saya menemukan pintu sebuah gudang dalam keadaan terkunci.

Saya menaruh kunci ke lubangnya perlahan dan memutar kunci untuk membuka pintu gudang. Jantung saya berdebar kencang, keringat membasahi kening dan dua telapak tangan.

Setelah pintu terbuka, gudang dalam keadaan gelap. Saya memicingkan kedua mata untuk melihat sekeliling sambil tangan saya meraba tembok mencari tombol penyala lampu. Ketika ditemukan, saya menahan napas sembari menekan tombol buat menyalakan lampu.

Di dalam sana terdapat pelayan Filipina itu. Dia terbaring dalam keadaan telanjang, memangis, dan ketakutan. Emosi saya meluap. Saya benar-benar marah melihat keadaan dirinya.

"Yang Mulia," kata saya. "Boleh saya berbicara dengan gadis ini berdua saja?'

"Kalau kamu bisa mencari tahu siapa berusaha menculik dia dari saya, silakan saja."

"Terima kasih Yang Mulia," ucap saya sembari menahan aamarah. Ingin rasanya meninju kepala dan mencekik tenggrokannya, tapi itu bisa mengakhiri karier saya.

Saya lantas mengambil sebuah selimut untuk menutupi tubuh telanjang gadis Filipina itu. Kemudian saya bertanya apakah kami bisa mengobrol berdua saja.

"Saya perlu mencari tahu apa yang sedang terjadi di sini," tutur saya. "Bisakah kamu memberitahu siapa namamu?"

"Nama saya Perla dan saya berasal dari Kota Dagupan di Filipina," katanya seraya terisak. "Majikan saya berpikir saya mempunyai seorang pacara berusaha menculik saya dari dirinya."

"Siapa majikanmu? Apakah kamu punya kekasih di sini," tanya saya.

"Tidak, saya tidak memiliki pacara dan majikan saya adalah pemilik rumah ini. Dia memaksa menyetubuhi saya kapan saja dia mau dan dia takut seseorang bakal merebut saya dari dia. Dia gila dan butuh pertolongan," tuturnya dan keterangan itu membuat saya kaget.

"Dia memaksa berincta dengan kamu? Apakah itu yang barusan kamu katakan kepada saya?"

"Ya, dia suka merekam adegan kami bercinta dan temannya memotret saat kami bersetubuh. Saya adalah budak seksnya. Dia melakukan apapun dia inginkan keepada saya, kemudian saya harus melaoni semua kemauannya."

Benar-benar lelaki bangsat. Saya ingin melukai dia separah mungkin. Saya lantas membawa Perla keluar dari gudang dan mendudukkan dia di atas sofa.

"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya pria itu kepada saya.

"Saya sedang membuat Perla merasa nyaman. Dia meyakinkan saya tidak ada orang mau membawa dia lari, jadi Anda tidak perlu kuatir. Saya ingin Anda mengizinkan dia menggunakan salah satu kamar tidur untuk membikin dirinya nyaman. Apakah dibolehkan?"

"Baiklah, Perla bisa beristirahat di kamar tidur mana saja," jawabnya.

Saya ingin rasanya menecederai dia separah mungkin tapi saya tidak mungkin melakukan hal itu. Kalau saya nekat, kantor Kementerian Luar Negeri bakal ikut campur. Tidak akan ada sesuatu terjadi kepada dirinya lantaran dia akan mengklaim memiliki kekebalan diplomatik.

Ini pertama kali saya menemukan kasus orang Arab Saudi mempunyai budak seks. Sang majikan merasa tidak aman dan terlalu posesif. Dia sangat ketakutan orang lain akan berhubungan seks juga dengan Perla.

Tapi Perla menegaskan bukan itu masalahnya. Tapi majikannya tidak percaya kepada dirinya sehingga terus mengurung Perla dalam gudang sehingga bisa tetap menguasai pembantunya itu. Saya yakin kalau saya meninggalkan rumah tersebut, Perla abakal dikurung lagi.

Besok paginya, saya melaporkan kejadian itu ke Kementerian Luar Negeri.Dalam perjalanan pulang ke rumah, saya terus merasa kesal terhadap perlakuan lelaki Saudi itu terhadap Perla. Tapi sebagai orang bayaran, saya tidak mampu berbuata apa-apa. Tangan saya seperti terikat.

Saya mestinya meninggalkan pekerjaan semacam itu namun saya tidak bisa melakukan itu. Tapi unttuk sementara waktu, saya akan menjauh dari orang-orang Saudi.  

    

Pangeran Misyari bin Saud bin Abdul Aziz bersama putranya, Pangeran Turki, di resor ski Megeve, Prancis. (Mark Young/Saudi Bodyguard)

Girangnya bekerja dengan Pangeran Misyari

Saudara-saudara kandung Pangeran Misyari bin Saud iri karena mereka tidak memiliki pengawal pribadi seperti saya.

Mark Young, penulis buku Saudi Bodyguard. (Twitter)

Ajari istri pangeran Arab Saudi menyetir mobil

Mark Young mengajari Puteri Al-Anud mengendarai mobil di Marbella.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Pangeran Misyari dan hobi bercinta dengan pelacur

Pangeran Misyari bin Saud bin Abdul Aziz pernah teledor. Dia memesan satu kamar di Hotel Incosol, di luar Marbella (Spanyol), atas namanya sendiri.

Pangeran Misyari bin Saud bin Abdul Aziz bersama putranya, Pangeran Turki, di resor ski Megeve, Prancis. (Mark Young/Saudi Bodyguard)

Perjalanan menyebalkan bareng Juan

Saya terpaksa meminta Pangeran Misyari mengirim uang lantaran Juan membawa lari semuanya.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Girangnya bekerja dengan Pangeran Misyari

Saudara-saudara kandung Pangeran Misyari bin Saud iri karena mereka tidak memiliki pengawal pribadi seperti saya.

08 September 2018

TERSOHOR