buku

Bekerja untuk putera mahkota Abu Dhabi

Ketika pendidikan dimulai, dia membayar sejumlah lelaki masing-masing 50 pound sterling hanya untuk menyemir sepatu-sepatunya saban malam.

04 Agustus 2018 21:56

Albalad.co berhasil mendapatkan izin dari penulis buku Saudi Bodyguard, Mark Young, untuk menerjemahkan sekaligus menerbitkan isi bukunya di Albalad.co. Seperti biasa, rubrik buku ini muncul saban Sabtu dan dimulai sejak 11 November 2017.

Albalad.co sejatinya memperoleh salinan buku Saudi Bodyguard dalam bentuk PDF tersebut langsung dari Mark Young, mantan pengawal para pangeran dan puteri di Kerajaan Arab Saudi, pada 1 September 2017. Baru ketika perkembangan dramatis terjadi saat ini di negara Kabah itu, Albalad.co memutuskan melansir terjemahan dari isi buku setebal lebih dari 400 halaman dan diterbitkan pada 2010 itu.

Mark Young, berasal dari Inggris, adalah pemegang sabuk hitam karate. Ayahnya adalah mantan anggota pasukan elite Inggris dan bekas anggota MI6, dinas intelijen Inggris.

Sejak Mei 1976, dia mulai menjadi instruktur dan membuka tiga sekolah karate. Tiga tahun kemudian, dia memulai kariernya sebagai pengawal pribadi keluarga kerajaan Arab Saudi. Tugas pertamanya adalah mengawal Pangeran Talal bin Abdul Aziz, ayah dari pemilik Kingdom Holding Company, Pangeran Al-Walid bin Talal, ditahan di Hotel Ritz Carlton di Ibu Kota Riyadh, sejak Sabtu malam pekan lalu.

Pangeran Al-Walid termasuk dalam 201 kaum elite Arab Saudi - meliputi pangeran, pejabat, dan pengusaha kakap - ditangkap atas tudingan korupsi. Penangkapan ini atas perintah Komisi Pemberantasan Korupsi, dibentuk beberapa jam sebelumnya dan diketuai oleh Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young ini bercerita dengan bahasa bertutur sebagai orang pertama mengenai pengalamannya selama menjadi pengawal pribadi keluarga Kerajaan Arab Saudi, termasuk Raja Salman bin Abdul Aziz.   

*******
Bekerja untuk putera mahkota Abu Dhabi

Saya akhirnya lebih banyak bekerja untuk Martin. Selain memata-matai orang, dia memberikan saya banyak tugas, termasuk mengantarkan dokumen ke rumah seseorang atau kantornya. Meski tidak banyak uang saya peroleh tetapi itu cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Kadang saya ke rumah orang meminta kartu kredit mereka, lalu saya gunting agar tidak bisa digunakan lagi. Saya kadang bekerja dengan perusahaan lain, sebagian tidak begitu terkenal.

Kemudian di awal Maret 1983, saya bekerja untuk keluarga penguasa Abu Dhabi. Ini kali pertama saya bekerja dengan putera mahkota Abu Dhabi. Rumahnhya di London bersebelahan dengan Richmond Park. Runmah supermewah itu menempati lahan sangat luas. Saya dipiih untuk mengawal Syekh Khalifah bin Zayid bin Sultan an-Nahyan, kini menjabat Presiden Uni Emirat Arab.

Bukan sebuah kejutan bagi saya mengetahui Syekh Khalifah, sekarang berumur 70 tahun, ternyata pecandu minuman beralkohol. Ketika dia tidur, saya mesti menunggu di luar pintu kamarnya. Lantai rumah supermewah milik Syekh Khalifah di London dilapisi karpet tebal. Sehabis berjalan di atas karpet tebal itu, engkel saya selalu terasa sakit.  

Syekh Khalifah juga memiliki senapan serbu berlapis emas. Dia begitu menikmati menembak ke arah para penjaga rumahnya sedang berpatroli. Para penjaga ini tidak terlalu senang dan mereka memprotes perlakuan itu kepada bosnya.

Mereka kemudian disuruh untuk bersembunyi di belakang pohon kalau ada Syekh Khalifah, sebab dia selalu muncul dalam keadaan mabuk.

Suatu hari, ketika saya sedang duduk santai bareng Peter, kami mendengar suara benturan keras. Sebuah ledakan dahsyat.

Saya berteriak kepada para penjaga di luar kamar Syekh Khalifah untuk tetap siaga. Anggota tim lainnya langsung mengambil posisi, sedang saya dan Peter menyelidiki ke sumber suara ledakan.

Peter dan saya lalu menuju ke garasi mobil, berada dekat jalan. Pada malam, jalan di depan kediaman Syekh Khalifah dalam keadaan sunyi, gerbang ke Richmond Park juga ditutup.

Kami melihat sebuah mobil dalam kecepatan tinggi melaju di samping garasi telah melempar sebuah pipa besi dan menyebabkan bunyi sangat keras. Dua lelaki duduk di jok depan. Mereka berusaha memutar arah untuk kabur namun sopir tidak bisa mengendalikan mobilnya. Saya menduga sang sopir teler berat. Barangkali dia ada hubungannya dengan Syekh Khalifah.

Saya berusaha membuka pintu bagian penumpang tapi dikunci. Kami berteriak meminta mereka berhenti, tapi mereka berupaya lari. Peter kemudian kehilangan kendali.

Dia menendang kaca samping sopir namun dia tidak sadar kaca jendela pengemudi terbuka penuh, sehingga kakinya tersangkut hingga paha. Beruntung saat mobil berbalik arah, kaki Peter berhasil dikeluarkan dari jendela mobil.

Ketika mobil itu pergi, kami mencatat pelat nomornya dan menghubungi polisi. Mobil itu akhirnya dihentikan dan pengemudinya ditahan. Selain harus membayar kerusakan karena sudah melempari garasi rumah Syekh Khalifah, sopir itu didenda karena mengemudi dalam keadaan mabuk.

Syekh Khalifah hanya tinggal di London selama sepekan. Segera setelah dia kembali, kami mulai bekerja mengawal putranya, Syekh Sultan, tinggal di apartemennya di kawaasan Hans Crescent, Kinghtsbridge. Dia masih berusia 20 tahun.

Kami diberitahu, Syekh Sultan sangat menyukai kuda dan balapan kuda. Dia juga penggemar berat mobil-mobil supermahal. Saya segera menyadari perbedaan keluarga kerajaan Uni Emirat Arab dengan Saudi. Para pangeran Emirat lebih beradab dan peduli, tentu saja saat mereka sedang tidak mabuk.

Syekh Sultan datang ke Inggris untuk mengikuti pelatihan perwira di Royal Military Academy di Sandhurst. Ketika pendidikan dimulai, dia membayar sejumlah lelaki masing-masing 50 pound sterling hanya untuk menyemir sepatu-sepatunya saban malam.

SEcara fisik, dia terbukti tidak layak untuk mengikuti pelatihan miluter dan bahkan dia tidak kuat berlari jarak jauh. Namun dia mendapat kemurahan hati karena alasan diplomatik.

Bukan hal mengagetkan bagi kami: banyak perwira asing, terutama para pangeran, tidak memenuhi standar tapi dapat mengikuti pendidikan di Royal Military Academy. Saya membayangkan Syekh Sultan dalam satu atau dua tahun ke depan sudah berpangkat kolonel atau jenderal.

Ketika mendapat cuti pertamanya, dia kembali ke Hans Crescent. Para pengawalnya ditempatkan di luar apartemen dan saya memanfaatkan kesempatan ini untuk menikmati udara segar.

Ketika melangkah keluar, saya melihat sebuah Aston martin Lagouda tengah melaju. Saya mengenali pengawal duduk di jok penumpang. Dia juga melihat ke arah saya.

Kami saling mengenal. Dia adalah mantan anggota satuan khusus dan pernah bekerja untuk Saladin, perusahaan memasok personel keamanan terlatih kepada pemerintah Inggris. Dia sedang mengawal Menteri Perminyakan Uni Emirat Arab Syekh Mana al-Utaibah.

Setelah sang menteri masuk ke dalam apartemen Syekh Sultan, saya mengobrol dengan pengawalnya, Terry. Tidak lama kemudian, menteri keluar. Dia dan Terry pun pergi.      

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Royal Military Academy, Syekh Sultan bersiap untuk kembali ke negaranya. Dua hari setelah kepergiannya, sebuah bom meledak di luar pusat belanja Harrods. Ledakan ini merusak apartemen milik Syekh Sultan. Puing-puing berserakan hingga ke tempat saya biasa berdiri berjaga di luar apartemen Syekh Sultan.

Beberapa hari kemudian, saya pergi ke London dan berbelanja di Harrods. Ketika saya keluar ke jalan, saya melihat ada percekcokan di seberang Harrods. Sebuah Lamborghini Countach diparkir di area garis berwarna kuning dan polisi memaksa untuk memindahkan mobil itu.

Polisi sudah merusak kunci pintu tapi mobil tidak dapat dibuka. Saya mengenali Pangeran Turki, salah satu saudara kandung Pangeran Walid, tengah berdebat dengan polisi. Saya menghampiri untuk membantu. Saya tegaskan Lamborghini itu memakai pelat diplomatik..

Pangeran Turki meminta saya pergi ke Kedutaan besar Arab Saudi. Seorang pejabat Kedutaan Saudi bergegas ke lokasi dan kompromi dicapai. Saya bilang kepada Pangeran Turki untuk membawa mobilnya ke dealer Lamborghini dekat rumah saya untuk diperbaiki.

Pangeran Turki memberikan kunci Lamborghininya kepada saya dan menyuruh saya membawa mobil itu ke dealer. Saya senang sekali menyetir Lamborghini. Polisi telah merusak kunci pintu karena menyentak pintu mobil keluar. Mereka tidak tahu pintu mobil Lamborghini dibuka ke atas.

Beberapa hari berselang, polisi mengirim surat permohonan maaf dan sebuah cek untuk membayar kerusakan Lamborghini kepunyaan Pangeran Turki.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Lemparan sekaleng bir ke arah Puteri Munirah

Dia adalah istri dari Pangeran Faisal bin Fahad.

Kiri ke kanan: Mark Young, Pangeran Misyari bin Saud dan istrinya Puteri Al-Anud. (Mark Young/Saudi Bodyguard)

Liburan tiga bulan Pangeran Misyari sekeluarga

Selama tiga bulan, Pangeran Misyari bin Saud dan keluarga berlibur di Spanyol dan Prancis.

Pangeran Misyari bin Saud bin Abdul Aziz bersama putranya, Pangeran Turki, di resor ski Megeve, Prancis. (Mark Young/Saudi Bodyguard)

Fulus judi Pangeran Misyari

Pangeran Misyari bin Saud menyuruh pengawalnya, Mark Young, memisahkan antara uang hasil menang berjudi dengan fulus biasa dia bawa.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Rusaknya Aston Martin milik Pangeran Mansur bin Saud

"Allah telah menghukum Pangeran Mansur lantaran telah mengeluarkan pernyataan menghina kepada saya ketika saya sudah menolong korban kecelakaan di pantai," kata Mark Young.





comments powered by Disqus