buku

Rusaknya Aston Martin milik Pangeran Mansur bin Saud

"Allah telah menghukum Pangeran Mansur lantaran telah mengeluarkan pernyataan menghina kepada saya ketika saya sudah menolong korban kecelakaan di pantai," kata Mark Young.

29 September 2018 23:59

Albalad.co berhasil mendapatkan izin dari penulis buku Saudi Bodyguard, Mark Young, untuk menerjemahkan sekaligus menerbitkan isi bukunya di Albalad.co. Seperti biasa, rubrik buku ini muncul saban Sabtu dan dimulai sejak 11 November 2017.

Albalad.co sejatinya memperoleh salinan buku Saudi Bodyguard dalam bentuk PDF tersebut langsung dari Mark Young, mantan pengawal para pangeran dan puteri di Kerajaan Arab Saudi, pada 1 September 2017. Baru ketika perkembangan dramatis terjadi saat ini di negara Kabah itu, Albalad.co memutuskan melansir terjemahan dari isi buku setebal lebih dari 400 halaman dan diterbitkan pada 2010 itu.

Mark Young, berasal dari Inggris, adalah pemegang sabuk hitam karate. Ayahnya adalah mantan anggota pasukan elite Inggris dan bekas anggota MI6, dinas intelijen Inggris.

Sejak Mei 1976, dia mulai menjadi instruktur dan membuka tiga sekolah karate. Tiga tahun kemudian, dia memulai kariernya sebagai pengawal pribadi keluarga kerajaan Arab Saudi. Tugas pertamanya adalah mengawal Pangeran Talal bin Abdul Aziz, ayah dari pemilik Kingdom Holding Company, Pangeran Al-Walid bin Talal, ditahan di Hotel Ritz Carlton di Ibu Kota Riyadh, selama November 2017-akhir Januari 2018.

Pangeran Al-Walid termasuk dalam 201 kaum elite Arab Saudi - meliputi pangeran, pejabat, dan pengusaha kakap - ditangkap atas tudingan korupsi. Penangkapan ini atas perintah Komisi Pemberantasan Korupsi, dibentuk beberapa jam sebelumnya dan diketuai oleh Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young ini bercerita dengan bahasa bertutur sebagai orang pertama mengenai pengalamannya selama menjadi pengawal pribadi keluarga Kerajaan Arab Saudi, termasuk Raja Salman bin Abdul Aziz.   

*******

Rusaknya Aston Martin milik Pangeran Mansur bin Saud

Dua hari kemudian, Pangeran Turki bin Misyari bareng pengasuhnya, Elena, dan saya tengah menonton sebuah video di ruang tengah ketika Pangeran Misyari binti Saud bersama istrinya, Puteri Alanud binti Fahad bin Abdurrahman masuk. Saya segera berdiri. Keduanya lantas duduk dan meminta saya duduk kembali saat mereka tengah berbincang dengan putranya, Pangeran Turki.

Pangeran Misyari dan Puteri Alanud kerap berbicara bebas dan terbuka dengan saya mengenai beragam topik. Ketika kami membahas film televisi berjudul Death of a Princess, saya kaget dengan kejujuran mereka. Keduanya bilang semua dalam film itu adalah benar.

Ini bukan hal baru bagi saya karena Puteri Rima binti Talal pernah membahas ini dengan saya ketika saya bekerja untuk dia. Kebenaran itu saya peroleh dari mulut sejumlah anggota keluarga kerajaan Arab Saudi.

Sehabis makan siang, Pangeran Misyari dan saya pergi ke kediaman Pangeran Sattam bin Saud untuk berain kartu. Ketika kami keluar dari mobil Camaro, saya melihat seorang bocah lelaki saya selamatkan dari kembang api.

Lengannya dibalut perban mulai jemari sampai sikut. Saya bertanya apa telah terjadi dan diberitahu dia mengalami luka bakar terkena kembang api. Saya merasa gusar karena tidak seorang pun mengingatkan anak itu untuk tidak bermain kembang api atau berada di dekat benda berbahaya itu.

Saat saya berjalan dekat vila, saya melihat sebuah mobil Lincoln dua pintu berukuran besar. Seraya duduk di atas sofa, saya menyaksikan para pangeran bermain kartu sambil dudul di lantai pualam. Tidak lama kemudian, Pangeran Misyari bangkit menuju kamar mandi dan memanggil saya.

Dia berbicara dengan suara pelan, mengatakan Pangeran Mansur bin Saud tidak suka saya duduk di atas sofa. Dia bilang tidak etis kepala saya lebih tinggi dibanding para pangeran, jadi saya mesti duduk di lantai seperti mereka.

Saya kembali lalu duduk di lantai, tapi Pangeran Mansur mengatakan tidak masalah kalau saya mau duduk di atas sofa. Saya merasa kesal. Barangkali saran saya mengenai kembang api telah membuat mereka marah.

Besok sorenya, Pangeran Misyari meminta saya mengajak jalan dua saudara kandung perempuannya: Puteri Zahwa dan Puteri Syaha. Puteri Zahwa berbadan gemuk tapi berkepribadian menarik. Sedangkan Puteri Syaha penampilannya sangat mengundang selera dan banyak omong.

Diam-diam keduanya meminta saya mengantar mereka ke sebuah pantai terpencil. Setiba di sana, mereka bilang saya boleh pulang dan datang lagi menjemput mereka jam lima sore.

Keduanya berjemur menggunakan bikini dan saya bertanya pakah mereka sadar sekarang jam berapa. Keduanya lantas bangkit dan menutup bikini mereka menggunakan handuk. Mereka lalu menyuruh saya ke mobil dan bilang akan menyusul tidak lama lagi.

Saat mobil saya kemudikan melewati gerbang vila, Puteri Zahwa dan Puteri Syahwa kelihatan panik lantaran para pangeran masih asyik bermain kartu di lantai. Saya lalu menenangkan keduanya. Saya membawa mereka masuk lewat belakang rumah melewati kamar saya.

Masih berbikini dengan balutan handuk keduanya menyusup keluar dari mobil. Karena terburu-buru, barang bawaan mereka tertinggal dalam mobil.

Saya lantas naik ke lantai atas menuju kamar Puteri Syaha untuk mengantarkan barang miliknya tertinggal. Saya lalu mengetuk pintu kamar tapi rupanya pintu sedikit terbuka. Saya melihat Puteri Syaha tengah berdiri dalam kamarnya hanya memakai celana dalam.

Saya meminta maaf saat masuk melihat dia melompat sembari menutup kedua payudaranya dengan tangan. Tanpa berpikir lagi, saya bilang, "Terlambat dan indah bentuknya."

Setelah meletakkan barang-barang milik kedua puteri, saya kemudian buru-buru keluar kamar. Saya tidak dapat membayangkan kenapa saya bisa berkomentar bodoh seperti itu.

Saya tetap bungkam mengenai kejadian Puteri Zahwa dan Puteri Syaha berjemur di pantaiu menggunakan bikini. Ketika keduanya pulang ke Arab Saudi, mereka menaruh fulus 30 ribu peseta dalam kantong kemeja saya dan berterima kasih karena sudah merahasiakan peristiwa itu.

Hari terus berganti dan makin monoton. Saya tetap melanjutkan tugas dan rupanya itulah keeliruan berikutnya saya bikin.

Lagi-lagi saya mengantar Pangeran Misyari bermain kartu di Saudade, nama vila kepunyaan Pangeran Mansur. Saya duduk menunggu di sebuah ruangan kecil sambil berbincang dengan beberapa staf dan minum Coca Cola.

Patrick kemudian dipanggil menghadap para pangeran. Dia bilang disuruh menelepon. Lalu Abdullah, operator telepon di kediaman Pangeran mansur datang dengan muka marah. Mereka mulai baku hantam dan saya menikmati tontonan itu.

Abdullah murka lantaran Patrick memakai telepon tanpa meminta izin. Dia merasa itu sebuah penghinaan.

Ketika keributan antara Patrick dan Abdullah sudah berakhir, Tony, sekretaris Pangeran Mansur, bertanya apa yang saya lihat dan apa komentar saya mengenai kejadian itu. Saya bilanh itu bukan urusan saya dan dia mesti menanyakan hal ini kepada yang lain.

Dia bertanya lagi kepada saya dan saya bilang saya hanya mau membahas kalau dia bertanya secara resmi. "Saya secara resmi bertanya apa pendapatmu, sekarang apakah kamu mau berceruta apa yang sudah terjadi?" Saya ceritakan semuanya.

Dia lalu bertanya apa penilaian saya mengenai perbuatan Abdullah itu. Saya jawab kalau Abdullah melakukan itu kepada saya, akan saya pukul jatuh dia. Rupanya Abdullah mendengar komentar saya tersebut dan mengadukan hal itu kepada Pangeran Misyari.

Pangeran Misyari mendekati saya lalu memarahi saya di depan semua orang. Lalu dia menegaskan semua itu bukan urusan saya. Pangeran Misyari lalu kembali bermain kartu. Saya k=duduk lagi sambil menahan kemarahan.

Saya lantas menemui Tony dan menanyakan kenapa Pangeran Misyari saya mengetahui pernyataan saya. Dia bilang Abdullah menguping. Saya menghabiskan sore itu dengan duduk berdiam diri.

Saya meminta Tony memberitahu Pangeran Misyari saya berkomentar seperti itu karena Tony bertanya pendapat saya. Tony bilang bakal menyampaikan hal ini kepada Pangeran Misyari tapi saya tidak percaya.

Sore hampir habis dan para panegran sudah selesai bermain kartu. Saya lihat masing-masing pangeran menuju mobil mereka. "Selamat sore," sapa Pangeran Mansur ketika dia berada dekat dengan saya. Saya bergerak mau untuk mengucapkan selamat saat Pangeran Misyari bilang, " Katakan selamat sore kepada Yang Mulia."

Saya tidak mengacuhkan Pangeran Misyari. Saya lantas menyorongkan tangan saya dan bersalaman dengan Pangeran Mansur seraya mengucpakan selamat sore.  

Pangeran Misyari bilang dia akan menyetir. Sepanjang perjalanan pulang ke Casa Tam, kami tidak saling berbicara. Polisi segera membuka gerbang vila dan mobil dikemudikan Pangeran Misyari melintas masuk. Sang pangeran lalu menghentikan mobilnya.

"Apakah kamu marah kepada saya," tanya dia.
"Ya."
"Apakah karena apa yang sudah saya katakan kepada kamu di vila Pangeran Mansur?"
"Ya, memang benar saya keliru. Tapi bukankah sudah ada dalam Al-Quran jangan menilai seseorang kalau belum mendengar keterangan dari kedua pihak?"
 
Sebuah kejutan ketika Pangeran Misyari mengatakan, "Kamu benar."
"Saya tidak berkomentar sampai Tony secara resmi meminta saya. Kenyataannya, ketika pertama kali ditanya, saya bilang itu bukan urusan saya. Saya juga marah lantaran Anda memarahi saya di depan semua orang."

Pangeran Misyari kemudian mencium pipi saya sambil meengatakan, " Kamu benar dan saya bersalah." Saya lalu memutuskan untuk mempelajari Al-Quran karena hal itu bisa menolong saya saat kesulitan.

Malam sudah tiba, waktunya para pangeran berpesta di vila Pangeran Sattam. Saya pun sudah mandi dan berganti pakaian. Sebuah ketukan terdengar di jendela kamar saya. Seorang polisi bilang Pangeran Misyari dan istrinya, Puteri Alanud, sudah menunggu di luar.

Saya kemudian menuju mobil dan menyalakan mesinnya. Pangeran Misyari datang mendekat dan bilang dia mau menyetir. Saya pun duduk di jok belakang.

Rupa tempat parkir di vila Pangeran Sattam sudah penuh oleh mobil. Pangeran Misyari lantas menghentikan mobil di depan pintu masuk. Dia kemudian turun bareng istrinya, dan saya mencari tempat parkir kosong. Tidak seorang pun pengawal atau sopir boleh masuk ke dalam vila.

Kemudian saya melihat seseorang dalam mobil Aston martin kepunyaan Pangeran Mansur. Saya dapat mendengar dia menyalankan mesin mobil dan ternyata bukan Patrick berada di belakang kemudi. Berjalan di belakang saya adalah istrinya Abdurrahman dan anaknya. Mereka adalah teman dari keluarga para pangeran Arab saudi itu.

Naluri saya menyuruh saya untuk menarik mereka menajuh dari jalan bakal dilewati Aston martin tersebut. Mobil itu melaju cepat dan akhirnya menabrak sehingga menimbulkan suara sangat keras. Benuntung tidak ada seorang pun luka.

Sopir tidak dikenal itu syok. Aston Martin milik Pangeran mansur rusak berat. pecahan kaca berserakan. Oli juga tumpah. Para pengawal dan sopir para pengarean bergegas ke lokasi kejadian. Patrick satu-satunya orang diizinkan mengemudikan Aston martin itu lalu kenapa orang ini menyetir?         
 
Saya lantas berjalan memasuki vila dan berpapasan dengan Pangeran Sattam. Dia mengibaskan tangannya dan saya meminta dirinya berjalan keluar bareng saya. Ketika dia melihat kondis Aston Martin, dia menaruh kedua tangannya di atas kepala.

Dia pun balik badan masuk ke dalam vila untuk mencari Pangeran Mansur. Saat itulah Pangeran Misyari keluar. Reaksi pertamanya adalah, "Ya Allah."

Pangeran Misyari lantas bertanya kepada saya, "Apakah kamu melihat kejadiannya?'
"Ya," kata saya.

Pangeran Mansur keluar dan langsung bilang, "Kamu tidak melihat apa-apa, ingat itu," ujarnya dengan nada marah.
"Apa yang terjadi, apakah kamu melihatnya?" tanya dia.
"Saya tidak menyaksikan apa-apa," jawab saya.

Pangeran Mansur berteriak histeris ke arah sopir. Dia kemudian memukuli kepala lelaki itu. Dia mengancam akan membunun pria itu. Dia berteriak bagaimana dia bakal mengirim lelaki itu ke Arab Saudi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya tersebut.

Seorang teknisi diterbangkan ke Marbella untuk memeriksa Aston Martin itu. Dia bilang mobil ini harus dibawa langsung ke pabrik Aston Martin dan ongkos perbaikannya US$ 100 ribu.

Dalam perjalanan pulang, Pangeran Misyari bertanya bagaimana saya menyelamatkan nyawa istrinya Abdurrahman dan anaknya. Saya bilang saya tidak mengetahui hal itu.

"Istrinya Abdurrahman bercerita kepada semua orang soal bagaimana kamu menyelamatkan hidup mereka. Saya ingin mendengar mengenai hal itu."

Saya pun menceritakan kejadiannya.    
"lalu apa pendapatmu tentang kejadian malam ini?"

Saya bilang, "Allah telah menghukum Pangeran Mansur lantaran telah mengeluarkan pernyataan menghina kepada saya ketika saya sudah menolong korban kecelakaan di pantai. Allah sudah membuat dia sengsara dengan merusak salah satu miliknya berharga, Asto Martinnya."

Pangeran Misyari dan istrinya diam saja mendengar komentar saya itu.

Pangeran Misyari bin Saud bin Abdul Aziz bersama putranya, Pangeran Turki, di resor ski Megeve, Prancis. (Mark Young/Saudi Bodyguard)

Girangnya bekerja dengan Pangeran Misyari

Saudara-saudara kandung Pangeran Misyari bin Saud iri karena mereka tidak memiliki pengawal pribadi seperti saya.

Mark Young, penulis buku Saudi Bodyguard. (Twitter)

Ajari istri pangeran Arab Saudi menyetir mobil

Mark Young mengajari Puteri Al-Anud mengendarai mobil di Marbella.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Pangeran Misyari dan hobi bercinta dengan pelacur

Pangeran Misyari bin Saud bin Abdul Aziz pernah teledor. Dia memesan satu kamar di Hotel Incosol, di luar Marbella (Spanyol), atas namanya sendiri.

Pangeran Misyari bin Saud bin Abdul Aziz bersama putranya, Pangeran Turki, di resor ski Megeve, Prancis. (Mark Young/Saudi Bodyguard)

Perjalanan menyebalkan bareng Juan

Saya terpaksa meminta Pangeran Misyari mengirim uang lantaran Juan membawa lari semuanya.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Girangnya bekerja dengan Pangeran Misyari

Saudara-saudara kandung Pangeran Misyari bin Saud iri karena mereka tidak memiliki pengawal pribadi seperti saya.

08 September 2018

TERSOHOR