buku

Pangeran Misyari menjadi pelit

Pangeran Misyari meminta Mark menurunkan gajinya 30 persen dan dia setuju. Dua tahun kemudian, Mark minta kenaikan gaji tapi ditolak.

22 Desember 2018 17:26

Albalad.co berhasil mendapatkan izin dari penulis buku Saudi Bodyguard, Mark Young, untuk menerjemahkan sekaligus menerbitkan isi bukunya di Albalad.co. Seperti biasa, rubrik buku ini muncul saban Sabtu dan dimulai sejak 11 November 2017.

Albalad.co sejatinya memperoleh salinan buku Saudi Bodyguard dalam bentuk PDF tersebut langsung dari Mark Young, mantan pengawal para pangeran dan puteri di Kerajaan Arab Saudi, pada 1 September 2017. Baru ketika perkembangan dramatis terjadi saat ini di negara Kabah itu, Albalad.co memutuskan melansir terjemahan dari isi buku setebal lebih dari 400 halaman dan diterbitkan pada 2010 itu.

Mark Young, berasal dari Inggris, adalah pemegang sabuk hitam karate. Ayahnya adalah mantan anggota pasukan elite Inggris dan bekas anggota MI6, dinas intelijen Inggris.

Sejak Mei 1976, dia mulai menjadi instruktur dan membuka tiga sekolah karate. Tiga tahun kemudian, dia memulai kariernya sebagai pengawal pribadi keluarga kerajaan Arab Saudi. Tugas pertamanya adalah mengawal Pangeran Talal bin Abdul Aziz, ayah dari pemilik Kingdom Holding Company, Pangeran Al-Walid bin Talal, ditahan di Hotel Ritz Carlton di Ibu Kota Riyadh, selama November 2017-akhir Januari 2018.

Pangeran Al-Walid termasuk dalam 201 kaum elite Arab Saudi - meliputi pangeran, pejabat, dan pengusaha kakap - ditangkap atas tudingan korupsi. Penangkapan ini atas perintah Komisi Pemberantasan Korupsi, dibentuk beberapa jam sebelumnya dan diketuai oleh Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young ini bercerita dengan bahasa bertutur sebagai orang pertama mengenai pengalamannya selama menjadi pengawal pribadi keluarga Kerajaan Arab Saudi, termasuk Raja Salman bin Abdul Aziz.   

*******

Pangeran Misyari menjadi pelit

Saya memandang ke sekeliling Bandar Udara Malaga, pertengahan musim panas 1984. Saya memelototi monitor jadwal kedatangan pesawat lalu ke arah bagian bea cukai. Beberapa menit kemudian, Puteri Al-Anud binti Fahad bin Abdurrahman dan anak-anaknya (sekarang sudah dua: lelaki dan perempuan) muncul di lorong menuju terminal kedatangan. Kesibukan tugas membikin suaminya, Pangeran Misyari bin Saud, masih berada di Arab Saudi.

Waktu sudah lama berlalu sejak terakhir kali saya bertemu keluarga Pangeran Misyari. Selama itu pula saya beberapa kali berbicara dengan dia melalui telepon. Dia kerap meminta dikirimi sesuatu. Selain bekerja untuk keluarga Pangeran Misyari, saya juga biasa bekerja dengan anggota keluarga kerajaan Arab Saudi lainnya.

Ketika sedang menunggu kedatangan Puteri Al-Anud, saya ingat Pangeran Misyari pernah meminta saya mengirimkan resep obat dari dokter untuk penyakit Zovirax saya derita.

"Mark, saya tidak tahu kalau Anda menderita herpes," kata dokter. Saya pun mengakui juga tidak mengetahui bila mengalami penyakit itu. Sang dokter kemudian memberikan resep obat herpes kepada saya.

Saya kemudian menelepon Pangeran Misyari dan bilang, "Saya tidak terlalu girang karena saya hampir didagnosa menderita herpes."

Pangeran Misyari tidak terlelau terkesan dengan hal itu. Dia baru menanggapi serius ketika saya katakan saya harus membeli obat itu dengan uang sendiri.

Saat saya melihat keluarga Puteri Al-Anud sudah tiba di terminal kedatangan, saya perhatian Pangeran Turki, anak lelakinya, sudah besar. Seperti biasa, Puteri Al-Anud berdandan seperti model fesyen. Dua stafnya, Elena dan Joha berjalan di belakangnya penuh dengan barang-barang keperluan Pangeran Turki.

Kuli angkut lalu datang membawa sejumlah troli dan langsung terisi dengan koper-koper Louis Vuitton. Saya lantas memberi tanda kepada sopir truk barang untuk segera mengangkut semua bagasi milik Puteri Al-Anud sekeluarga.

Kami kemudian menuju Mercedez baru berwarna merah marun sudah menunggu di luar dan Audi 200 Turbo untuk ditumpangi dua staf. Saya lantas melaju cepat menuju vila milik keluarga Pangeran Misyari, Casa Tam.   

Dalam hitungan jam, saya mengetahui Puteri Al-Anud terlalu irit dalam mengeluarkan fulus, sebuah hal bisa membikin saya terlibat dalam masalah selama kunjungannya.

Dua hari berselang, Pangeran Misyari tiba. Saya menjemput dia di bandar udara. Bukannya langsung menemui keluarganya, dia meminta diantar ke Puerto Banus. Saya lantas menurunkan dia di gerbang dan mencari lokasi parkir.

Setelah sejam, Pangeran Misyari minta saya untuk mengambil mobil. Ketika saya mendekati portal parki, saya membuka tas saya untuk mengambil uang buat bayar parkir tapi tidak cukup. Saya kembali menghadap Pangeran Misyari dan meminta uang untuk membayar tiket parkir.

Dia marah dan menyalahkan saya. Saya bilang Puteri Al-Anud tidak akan memberikan saya uang untuk membayar tiket parkir. Pangeran Misyari cuma mengangkat bahunya.

Dalam beberapa pekan ke depan, saya berulang kali dipermalukan karena saya mesti meminta uang hanya untuk membayar tagihan paling kecil, yakni ongkos cuci pakaian. Mobil-mobil milik keluarga pun harus sampai di tanda merah sebelum Puteri Al-Anud memberikan uang untuk mengisi bensin.

Bahkan koki di vila berhenti karena dia tidak bisa membuat makanan dengan uang belanja diberikan. Pangeran Misyari meminta saya menurunkan gaji saya 30 persen dan seperti orang bodoh, saya menuruti permintaan itu.

Dua tahun berselang, saya minta kenaikan gaji. Pangeran Misyari menolak dengan alasan kondisi keuangannya sedang sulit. Namun stafnya memberitahu saya, dia baru saja membangun sebuah istana baru di Arab Saudi. Saya benar-benar kesal.

Setelah posisinya naik di Garda Nasional, gaji Pangeran Misyari meningkat dramatis. Saya merasa kasihan, dia berlibur di vila seharga jytaan dolar dan mengendarai Ferrari tapi membuat kaum miskin menangis.

Tidak lama setelah koki keluar, pelatih renang Pangeran Turki juga berhenti. Dia tidak tahan karena Pangeran Turki tidak mematuhi instruksinya, sering menangis dan bermain. Elena berusaha keras membujuk Pangeran Turki agar menuruti pelatih renangnya.

Kepolisian Nasional Spanyol, yang memberikan penjagaan statis juga mengeluahkan banyak persalan, sesuatu yang tidak pernah terdengar sebelumnya. Suatu sore, ketika saya sedang menunggu di vila, Elena menelepon saya dan bertanya, "Apakah Pangeran Turki sedang berada bersama saya?"
"Tidak."
"Kami kehilangan dia tapi jangan beritahu Pangeran Al-Anud," ujarnya.

Saya harus memberitahu Puteri Al-Anud. Sambil melangkah di anak tangga terbuat dari granit, saya mempersiapkan diri untuk memberi kabar mengagetkan itu.  Saya lihat dia tengah berbaring di sofa saat saya tiba dan dia langsung duduk tegak. Saya sadar saya sudah melanggar aturan karena masuk ke dalam kamarnya tapi situasi gawat memaksa saya melakukan hal itu.

Seraya berlutu di lantai di sampingnya, saya memberitahu drengan suara pelan: "Yang Mulia, Elena menghubungi saya dan mengatakan mereka kehilangan Pangeran Turki."

Saya bilang akan segera pergi dan mengatakan, "Jangan khawatir, saya akan membawa dia kembali." Pangeran Al-Anud meminta saya menyiapkan mobil karena akan ikut saya.

Kami langsung keluar menuju jalan utama dari vila. Setiba di persimpangan, Audi berbelok ke arah El Vicario. Joha yang mengemudi tersenyum kepada kami. Mereka telah menemukan Pangeran Turki.

Tugas saya berubah hari itu. saya sekarang juga bertanggung jawab terhadap keamanan dan keselamatan kedua Pangeran Misyari. beberapa hari kemudian, Puteri Al-Anud bertanya kepada saya, "Mark, berapa banyak duit dihabiskan Pangeran Turki sore itu di tempat balapan?"

"termasuk mesin, minuman, es krim dia nikmati bersama kedua staf dan adiknya, Puteri Hala, sekitar lima ribu peseta," tutur saya. Atau sekitar US$ 40 dan itu membuat dia gusar sekali.

Saya ceritakan mesin permainan itu membuat duit banyak keluar dan sudah untuk menyuruh Pangeran Turki berhenti bermain.

Puteri Al-Anud mengambil dua ribu peseta untuk sore itu dan memberitahu Pangeran Turki, dia hanya boleh menghabiskan tiga ribu peseta sehari. Kalau sudah habis, dia mesti pulang.



Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Jam tangan Cartier hadiah dari Pangeran Misyari

"Saya tidak dapat menghitung lagi sudah berapa banyak dia bercinta dengan gadis-gadis muda."

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Lemparan sekaleng bir ke arah Puteri Munirah

Dia adalah istri dari Pangeran Faisal bin Fahad.

Kiri ke kanan: Mark Young, Pangeran Misyari bin Saud dan istrinya Puteri Al-Anud. (Mark Young/Saudi Bodyguard)

Liburan tiga bulan Pangeran Misyari sekeluarga

Selama tiga bulan, Pangeran Misyari bin Saud dan keluarga berlibur di Spanyol dan Prancis.

Pangeran Misyari bin Saud bin Abdul Aziz bersama putranya, Pangeran Turki, di resor ski Megeve, Prancis. (Mark Young/Saudi Bodyguard)

Fulus judi Pangeran Misyari

Pangeran Misyari bin Saud menyuruh pengawalnya, Mark Young, memisahkan antara uang hasil menang berjudi dengan fulus biasa dia bawa.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Jam tangan Cartier hadiah dari Pangeran Misyari

"Saya tidak dapat menghitung lagi sudah berapa banyak dia bercinta dengan gadis-gadis muda."

15 Desember 2018
Fulus judi Pangeran Misyari
27 Oktober 2018

TERSOHOR