buku

Tawaran seks dari Puteri Sita

Puteri Sita, anak dari mendiang Raja Saud bin Abdul Aziz, menawarkan seks kepada pengawal pribadinya tapi ditolak.

26 Januari 2019 22:43

Albalad.co berhasil mendapatkan izin dari penulis buku Saudi Bodyguard, Mark Young, untuk menerjemahkan sekaligus menerbitkan isi bukunya di Albalad.co. Seperti biasa, rubrik buku ini muncul saban Sabtu dan dimulai sejak 11 November 2017.

Albalad.co sejatinya memperoleh salinan buku Saudi Bodyguard dalam bentuk PDF tersebut langsung dari Mark Young, mantan pengawal para pangeran dan puteri di Kerajaan Arab Saudi, pada 1 September 2017. Baru ketika perkembangan dramatis terjadi saat ini di negara Kabah itu, Albalad.co memutuskan melansir terjemahan dari isi buku setebal lebih dari 400 halaman dan diterbitkan pada 2010 itu.

Mark Young, berasal dari Inggris, adalah pemegang sabuk hitam karate. Ayahnya adalah mantan anggota pasukan elite Inggris dan bekas anggota MI6, dinas intelijen Inggris.

Sejak Mei 1976, dia mulai menjadi instruktur dan membuka tiga sekolah karate. Tiga tahun kemudian, dia memulai kariernya sebagai pengawal pribadi keluarga kerajaan Arab Saudi. Tugas pertamanya adalah mengawal Pangeran Talal bin Abdul Aziz, ayah dari pemilik Kingdom Holding Company, Pangeran Al-Walid bin Talal, ditahan di Hotel Ritz Carlton di Ibu Kota Riyadh, selama November 2017-akhir Januari 2018.

Pangeran Al-Walid termasuk dalam 201 kaum elite Arab Saudi - meliputi pangeran, pejabat, dan pengusaha kakap - ditangkap atas tudingan korupsi. Penangkapan ini atas perintah Komisi Pemberantasan Korupsi, dibentuk beberapa jam sebelumnya dan diketuai oleh Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young ini bercerita dengan bahasa bertutur sebagai orang pertama mengenai pengalamannya selama menjadi pengawal pribadi keluarga Kerajaan Arab Saudi, termasuk Raja Salman bin Abdul Aziz.   

*******

Tawaran seks dari Puteri Sita

Sata berharap bisa menghabiskan lebih banyak waktu dengan Pangeran Misyari bin Saud selama tugas kali ini, tapi itu tidak mungkin. Tugas saya kali ini termasuk menjaga anak-anaknya, jadi saya selalu sibuk.

Saya tidak pernah lagi menemani Pangeran Misyari mengunjungi saudara-saudara kandung lelakinya. Tentu saja, hal ini membikin hubungan saya dengan Pangeran Misyari menjadi jauh.

Saban pagi, saya mengerjakan pekerjaan sudah ditetapkan Pangeran Misyari. Tiap pukul tiga sore, Pangeran Turki bin Misyari, Puteri Hala binti Misyari, Elena, Hudda, dan saya pergi ke taman hiburan di pusat kota. Puteri Al-Anud biasanya menyusul ke sana jam lima hingga 17:30. Kemudian paling lambat jam enam atau pukul tujuh malam, kami kembali ke Casa Tam.

Dari pukul sembilan malam, kami pergi ke Puerto Banus di mana Pangeran Misyari sekeluarga, minus Puteri Hala, makan malam. Pangeran Turki kerap tertidur di meja makan dan saya akan membopong dia pulang. Sedangkan Puteri Hala tinggal di vila bersama pengasuhnya, Hudda dan Zainub.

Sehabis memulangkan Pangeran Turki, saya biasanya harus kembali ke Puerto Banus untuk bertemu Pangeran Misyari dan Puteri Al-Anud. Alhasil, saya harus cepat ke sana kemari agar semua acara berjalan lancar.

Lalu suatu hari, saudari kandung perempuan dari Pangeran Misyari datang. Namanya Puteri Sita binti Saud. Dia menginap di Hotel Puente Romano, terletak di seberang jalan dari Casa Tam. Hotel ini dekat dengan diskotek Regine's, tempat di mana Pangeran Misyari dan istrinya, Puteri Al-Anud, biasa menghabiskan malam-malam mereka.

Pangeran Misyari sering menghibur beberapa gadis muda di Regine's dan beberapa kali hampir ketahuan oleh Puteri Al-Anud. Meski begitu, saya selalu terlibat masalah dan membereskan hal itu.

Suatu waktu, Pangeran Misyari memanggil saya ke pintu utama Casa Tam. Dia bilang, "Puteri Al-Anud sedang menunggu di kamar hotel Puteri Sita. Pergilah ke sana, bilang saya menyuruh kamu. Tunggulah di sana bersama mereka, saya segera menyusul."

Saya lalu mengetuk kamar Puteri Sita dan pembantunya, perempuan Filipina membuka pintu dengan perlahan. Puteri Sita berdiri di belakang dia. Puteri Sita lantas meminta saya masuk dan mengatakan, "Kamu bisa duduk dan tunggu di sini."

Saya kemudian masuk dan duduk di sebuah sofa. Puteri Sita lalu bertanya, "Apakah kamu mau minum?"
"Ya, Yang Mulia. Segelas Coke."

Pembantu Puteri Sita lalu mengambil sekaleng Coke. Saya mendengarkan perbincangan antara Puteri Sita dan Puteri Al-Anud.

Lalu terdengar suara ketukan di pintu. Saya bangkit untuk membukakan pintu. Tampaklah Pangeran Misyari berdiri di luar. Ketika melihat saya, paras wajahnya berubah. "Apa sedang kamu lakukan di sini," tanya dia.

"Menunggu Anda seperti Anda minta."
"Tunggulah di mobil," katanya.  

Saya langsung keluar. Saya bisa mendengar Pangeran Misyari memberitahu Puteri Al-Anud dan Puteri Sita, dirinya menyuruh saya datang ke san. Saya cuma tertawa mendengar Pangeran Misyari bersikap bermuka dua.  

Sekitar sepuluh menit berselang, Pangeran Misyari, Puteri Sita, dan Puteri Al-Anud muncul. Ketiga tersenyum. Saya lalu mengantar mereka ke Puerto Banus. Setelah memarkirkan mobil, saya menemani mereka menuju restoran di mana mereka bakal bertemu anggota keluarga lainnya.

Sehabis makan malam, kami menuju klub malam Ra-Ra's, di mana kami menghabiskan malam hingga pagi. Lalu saya mengantar ketiganya ke vila di El Vicari. Saya kira tugas sudah sudah selesai, ternyata keliru.

Sebelum memasuki pintu utama vila, Pangeran Misyari berbalik arah dan mengatakan, "Kalau Puteri Sita sudah muncul, antarkan dia ke kemar hotelnya."

Saya lantas ke kamar tidur saya dan menelepon salah satu polisi sedang berjaga. "Pablo, kalau Puteri Sita sudah keluar, maukah kamu memberitahu saya?"
Ya, tidak masalah," katanya dalam bahasa Inggris.

Saya masuk kemar tidur, mencopot sepatu lalu berbaring di ranjang. Tidak lama kemudian pintu kamar saya diketuk. Ketika saya melihat jam tangan, belum setengah jam sepulang dari klub malam. Saya lalu menuju mobil dan tersenyum ke arah Puteri Sita ketika saya membukakan pintu mobil untuk dirinya.

Dua menit berselang, saya sudah tiba di depan kamar Puteri Sita lalu emngetuk pintu. Setelah pintu dibuka, Puteri Sita melangkah masuk dan berkata kepada saya, "Silakan masuk. Saya ingin berbicara dengan mu."

Saya ikut masuk dan membayangkan apa yang bakal diktakan abangnya tentang hal ini.
"Apakah kamu mau minum?"

Ini seperti pengulangan, lalu saya katakan, "Sebuah Coke saja." Pembantu asal Filipina kemudian membawakan saya sekaleng Coke dan seraya tersenyum memberikan kepada saya.

Setelah satu kali mengisap Coke, Puteri Sita bilang, "Tunggu saya sebentar." Dia lalu masuk ke kemar tidurnya. Melihat ekspresi perempuan Filipina itu, saya sadar saya telah memasuki perangkap singa betina. Hal itu terbukti tidak lama kemudian.

Puteri Sita muncul dengan gaun putih berdada rendah. Seraya memandang ke arah Puteri Sita dan pembantunya, saya membayangkan jika ini sebuah kejadian biasa.

Meski begitu, saya merasa sedang ditarik ke sarang laba-laba. Saya sudah pernah bercumbu dengan puteri-puteri kerajaan Arab Saudi. Kali ini saya tidak ragu, Puteri Sita ingin mengajak saya masuk ke kamar tidurnya. Ketika dia menyuruh pembantunya pergi ke kamar sebelah, kecurigaan saya terbukti.

"Apakah ini mengganggu kamu karena berduaan dengan saya setelah sebelumnya kamu dimarahi Pangeran Misyari?"
Apakah saya harus merasa terganggu?" jawab saya.
Apakah kamu tidak takut kalau mereka menemukan kamu sedang berduaan dengan saya?"
Saya lalu menjawab, "Saya sudah besar dan bisa mengurus diri sendiri."
       
"Apakah kamu menykai daster saya pakai? Saya rasa kamu belum pernah melihat seorang puteri kerajaan berdaster sebelumnya?" ujar Puteri Sita seraya tertawa.

"Belum, saya harus bilang ini kali pertama saya melihatnya tapi saya pernah beberapa kali melihat puteri kerajaan memakai pakaian renang. Beberapa di antara mereka kelihatan seksi," kata saya seraya tersenyum.

Setengah jam kemudian, saya sudah bercumbu dengan Puteri Sita. Sebelum saya sadar, saya tertegun saat Puteri Sita bertanya, "Maukah kamu menginap bersama saya?"

Saya tahu saya harus segera pergi. Setelah berterima kasih atas keramahannya, saya berdiri dan berkemas. Puteri Sita ikut berdiri. Saya lau mendekat dan mencium lembut pipi Puteri Sita. Saya lalu membuka pintu dan mengucapkan selamat malam kepada Puteri Sita.

Diam-diam saya menuju mobil dan segera pergi dengan hasrat tengah menggebu. Saya rasa itu keputusan benar demi istri saya dan keluarga kerajaan. Karena penolakan tersebut, Puteri Sita tidak pernah mau berbicara dengan saya lagi.

Dalam perjalanan kembali ke vila, saya tertawa mengingat momen barusan. Saya pikir mungkin saya harus bercinta dengan Puteri Sita sebagai bayaran atas semua perilaku brengsek saya terima dari keluarga kerajaan Arab Saudi.     

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Mengunjungi kompleks istana Raja Saud

Selepas kedua gerbang itu terdapat halaman seluas 2,6 kilometer persegi.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Membeli kalung emas di Al-Khobar

Toko-toko emas berkumpul di Lembah Emas, sebuah kawasan di Kota Tua Al-Khobar. Ke arah mana saja saya memandang, selalu tampak sebuah toko emas. Saya kira tidak ada tempat memiliki toko emas terbanyak di dunia selain di Al-Khobar.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Kaum gay dalam keluarga kerajaan Arab Saudi

Di Ibu Kota Riyadh, muncul selentingan terdapat tiga klub gay di sana. Saya tahu salah satu saudara kandung lelaki dari Pangeran Misyari meninggal karena AIDS.

Mark Young bersama Pangeran Misyari bin Saud bin Abdul Aziz dan istrinya, Puteri Al-Anud binti Fahad. (Mark Young/Saudi Bodyguard)

Teringat Puteri Al-Anud telanjang

Seraya tersenyum, saya teringat Puteri Al-Anud dan teman-temannya dalam keadaan telanjang, tapi di negara asalnya, dia tersembunyi di balik pagar tembok dan abaya dan jilbab serba hitam. Puteri Al-Anud benar-benar cantik dan tubuhnya sangat seksi.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Mengunjungi kompleks istana Raja Saud

Selepas kedua gerbang itu terdapat halaman seluas 2,6 kilometer persegi.

17 Agustus 2019

TERSOHOR