buku

Terbang ke Arab Saudi atas undangan Pangeran Misyari bin Saud

Saya sekarang menyaksikan Pangeran Misyari dalam situasi berbeda. Sebelumnya, saya melihat dia sekadar sebagai playboy, penjudi, kini saya menyaksikan dirinya benar-benar dalam peran berbeda.

01 Juni 2019 12:49

Albalad.co berhasil mendapatkan izin dari penulis buku Saudi Bodyguard, Mark Young, untuk menerjemahkan sekaligus menerbitkan isi bukunya di Albalad.co. Seperti biasa, rubrik buku ini muncul saban Sabtu dan dimulai sejak 11 November 2017.

Albalad.co sejatinya memperoleh salinan buku Saudi Bodyguard dalam bentuk PDF tersebut langsung dari Mark Young, mantan pengawal para pangeran dan puteri di Kerajaan Arab Saudi, pada 1 September 2017. Baru ketika perkembangan dramatis terjadi saat ini di negara Kabah itu, Albalad.co memutuskan melansir terjemahan dari isi buku setebal lebih dari 400 halaman dan diterbitkan pada 2010 itu.

Mark Young, berasal dari Inggris, adalah pemegang sabuk hitam karate. Ayahnya adalah mantan anggota pasukan elite Inggris dan bekas anggota MI6, dinas intelijen Inggris.

Sejak Mei 1976, dia mulai menjadi instruktur dan membuka tiga sekolah karate. Tiga tahun kemudian, dia memulai kariernya sebagai pengawal pribadi keluarga kerajaan Arab Saudi. Tugas pertamanya adalah mengawal Pangeran Talal bin Abdul Aziz, ayah dari pemilik Kingdom Holding Company, Pangeran Al-Walid bin Talal, ditahan di Hotel Ritz Carlton di Ibu Kota Riyadh, selama November 2017-akhir Januari 2018.

Pangeran Al-Walid termasuk dalam 201 kaum elite Arab Saudi - meliputi pangeran, pejabat, dan pengusaha kakap - ditangkap atas tudingan korupsi. Penangkapan ini atas perintah Komisi Pemberantasan Korupsi, dibentuk beberapa jam sebelumnya dan diketuai oleh Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young ini bercerita dengan bahasa bertutur sebagai orang pertama mengenai pengalamannya selama menjadi pengawal pribadi keluarga Kerajaan Arab Saudi, termasuk Raja Salman bin Abdul Aziz.   

*******

Terbang ke Arab Saudi atas undangan Pangeran Misyari bin Saud

Malam di 20 Januari 1985, Pangeran Misyari bin Saud bin Abdul Aziz menelepon dan bilang, "Ada sebuah tiket buat kamu di gerai Saudia (maskapai Saudi Arabian Airlines) di Bandar Udara Heathrow. Kamu perlu pergi ke Kedutaan Besar Arab Saudi untuk memperoleh visa. Saya akan menghubungi mereka untuk mengatur hal itu."

"Baik Yang Mulia. Saya bakal ke kedutaan besok pagi," jawab saya. Saya benar-benar kegirangan karena akan berkunjung ke Arab Saudi. Saya membayangkan apakah saya bakal menjadi Lawrence of Arabia selanjutnya. Saya bertanya-tanya kenapa Pangeran Misyari ingin saya datang ke Arab Saudi? Saya tidak akan mengetahui jawabannya sampai lawatan itu berakhir. Tapi saya penasaran.

Besok paginya saya tiba di Kedutaan Saudi di Belgrave Square, London. Jujur aya, saya berharap mendapat kemudahan dan perlakuan istimewa. Namun kenyataannya tidak demikian lantaran staf urusan visa merupakan orang Mesir berlaku kasar.

Hingga beberapa jam kemudian saya masih belum mendapatkan visa. Saya akhirnya pulang ke rumah. Kemudian saya menelepon istana Pangeran Misyari.
"Apakah kamu sudah dapat visa?'
"Belum Yang Mulia."
"Kenapa?"

Saya pun langsung mengatakan, "Jujur saja, saya kesal dengan perlakuan saya terima hari ini. Kalau kesan pertama sudah seperti itu, orang-orang bakal membayangkan tidak enak pergi ke Arab Saudi."

Pangeran Misyari tidak senang dengan komentar saya. "Saya ingin kamu di sini dan kamu harus datang. Jadi pergi lagi ke kedutaan besok dan minta bertemu manajer. Bilang kepada dia, saya menyuruh kamu datang lagi dan minta dia menelepon saya."

"Baik Tuan," kata saya. Perbincangan pun putus.

Besoknya, saya sudah berada di antrean pengajuan visa lagi dan akhirnya sampai di depan petugas.

"Ada apa?"
"Saya ingin bertemu manajer Anda."
"Mengapa?"
"karena Pangeran Misyari bin Saud bin Abdul Aziz ingin berbicara dengan dia, itu alasannya."

Staf itu langsung pergi. Dalam htungan menit, manajer datang menemui saya. Sebelum saya mengatakan apa-apa, dia langsung mengulurkan tangan untuk bersalaman.

"Yang Mulia sudah berbicara kepada saya pagi ini dan mengatakan untuk melayani setiap keperluan Anda. Kalau saya bisa minta paspor Anda, saya akan selesaikan semuanya segera. Silakan duduk, saya akan segera kembali."

Saya duduk menunggu, kaget dengan perubahan sikap mereka.

Pada 25 Januari, saya mengambil tiket saya di gerai Saudia di Bandar Udara Heathrow. Saya telah melihat koper saya menghilang di rantai barang menuju pesawat. Ingatan saya kembali ke masa kecil saat menonton film-film bertema Arab di televisi.

Saya mengkhayal pesawat bakal membawa saya ke Arab Saudi adalah sebuah karpet ajaib. Pengalaman menyenangkan apa akan segera saya dapatkan? Apakah saya akan berada di tengah sultan dan khalifah Arabia atau dalam perusahaan Ali Baba dan komplotan pencurinya?

Setiba di terminal keberangkatan, saya menyapu pandangan saya ke para penumpang lain. Kebanyakan orang Arab, beberapa warga India, Pakistan, dan Filipina. Hanya setengah lusin penumpang adalah orang Eropa, termasuk tiga perempuan.

Tiap penumpang kelihatan gelisah. Saya membayangkan apakah mereka juga melihat saya juga seperti itu. Saya yakin tidak akan ada anggota keluarga kerajaan duduk di tengah kami. Kalau ada, mereka akan dibawa ke ruang tunggu VIP.

Tengah malam, pesawat lepas landas saat saya mulai memejamkan mata. Ketika bangun tidur, saya berbincang dengan seorang perempuan Inggris duduk di sebelah saya.
"Saya terkejut mengetahui ada perempuan Inggris bepergian ke Arab Saudi," kata saya membuka percakapan.
"Itu rumah saya," jawabnya bersemangat dan mengagetkan saya.  

Saya tidak mengira ada perempuan Barat senang tinggal di Arab Saudi, meski aturan bagi kaum hawa sangat ketat.

"Di mana kamu tinggal?" tanya saya penasaran.
"Saya menetap di kompleks Aramco di Kota Dhahran, situasinya berbeda dengan wilayah lain di luar kompleks. Di sana seperti Amerika Mini: terdapat lapangan golf, kolam renang, sekolah, bioskop, arena bowling, dan perpustakaan.

Lingkungan di kompleks Aramco sangat tenang dan nyaman. Anda bisa sangat mengnal tetangga Anda," ujarnya. "Kalau Anda memiliki anak, sekolah-sekolah di Aramco menyenangkan dengan guru mengagumkan dan kurikulum keren jika dibandingkan sekolah negeri dan swasta di Amerika.

Bila Anda sudah menikah, istri Anda boleh menyetir mobil dalam kompleks, tapi tidak di luar. Sebab kaum hawa di Arab Saudi diharamkan mengemudi. Pemandangannya sangat indah dan ada kesempatan untuk menyelam."

"Apakah Anda aturan khusus setelah pesawat mendarat?" tanya saya.
"Setelah pesawat mendarat, kita turun dan naik bus menuju terminal. Dari sana, kita akan masuk antrean mengular di bagian pemeriksaan paspor, kemudian mengambil bagasi lalu menuju bea cukai.

"Kayaknya seperti di bandar-bandar udara lainnya," ujar saya.
"Oh tidak, mereka bakal mengecek tiap tas dan kopers secara seksama. Butuh waktu lama untuk melewati semua proses." Saya memutuskan untuk diam lantaran pesawat bersiap mendarat.

Ketika pesawat melaju menuju apron, saya membayangkan antrean panjang nantinya. Setelah pesawat berhenti, sebuah panggilan terdengar dari pengeras suara dalam pesawat: "Tuan Mark Young dipersilakan ke kabin depan dan memperkenalkan dirinya ke kru."

"Itu saya," kata saya kepada perempuan duduk di samping saya. Wanitan itu kelihatan kaget. Saya lantas maju ke bagian depan. "Halo, saya mark Young. Saya tadi dipanggil lewat pengeras suara untuk memperkenalkan diri."

Pramugari lantas menuju ke arah pintu depan pesawat sudah terbuka dan bilang, "Ada Kapten Mansur menanti Anda di bawah tangga, cukup beritahu identitas Anda."

"terima kasih banyak," jawab saya, kemudian berjalan menuruni tangga pesawat menuju Kapten Mansur dari Garda Nasional, tengah berdiri di samping sebuah Mercedes. "Halo, nama saya Mark Young," ujar saya.

Seraya mengulur tangan untuk bersalaman, Kapten Mansur menjawab dengan bahasa Inggris bagus, "Selamat datang di Arab Saudi. Silakan masuk ke dalam mobil dan saya akan memandu Anda melewati semua proses pemeriksaan."

Dua menit berselang kami sudah berjalan melewati pintu terminal kedatangan. Saya terkejut sekali melihat antrean penumpang sangat panjang di bagian imigrasi. Ada ratusan orang menunggu. Kapten Mansur mengulurkan tangan seraya berkata, "Boleh saya minta paspor Anda?" Saya segera menyerahkan paspor ke tangannya. Dia pun langsung maju ke depan melewati antrean. Saya otomatis mengikuti Kapten Mansur ketika sudah berhenti di depan petugas imigrasi.

Sambil berbicara dengan sang petugas, Kapten Mansur memberi isyarat kepada saya. Saya menganggukan kepala, saya lihat petugas itu memberi cap di paspor saya. Saya bisa merasakan tatapan marah orang-orang tengah mengantre.

Mark, bisakan kamu ikut saya untuk menunjukkan bagasimu?" Sebelum saya menjawab, Kapten Mansur sudah berjalan menuju bagian bea cukai. Saya lantas mengambil bagasi saya dan dua menit kemudian sudah berada di depan petugas bea cukai. Dia menandangi saya dan membuka koper saya. Sedetika kemudian, dia menutup kembali, tugas selesai.

"Segalanya sudah beres. Ada mobil menunggu dan akan mengantar kita ke istana Pangeran Misyari. Silakan ikuti saya," ujar Kapten Mansur. Seraya melangkah di atas lantai pualam berwarna putih menuju pintu-pintu kaca berukuran besar, saya melihat sebuah gambar berukuran gede.

"Tepat di atas saya adalah foto Raja Abdul Aziz, disebelahnya Raja Faisal, Raja Khalid, dan Raja Fahad. Gambar ayahnya Pangeran Misyari, Raja Saud, tidak ada dan saya bertanya-tanya dalam hati. Saya mencatat hal itu untuk ditanyakan kepada Pangeran Misyari.

Setelah keluar dari gedung bandar udara, Mercedes lain sedang menunggu kami. Kapten Mansur menyuruh porter untuk menyimpan barang saya di bagasi dan kemudian membukakan pintu mobil untuk saya. Saya perhatikan Kapten Mansur memiliki sikap tanpa cela. Selama perjalanan kami berbincang singkat dan saling bercerita hal-hal menyenangkan.

Setelah sopir menghentikan mobil seseorang membukakan pintu buat saya dan saya berterima kasih kepada dia. Kapten Mansur berjalan mengelilingi mobil dan sekali lagi mengulur tangan untuk bersalaman. Seraya menjabat tangannya, saya berterima kasih atas bantuan dan keramahannya.

Saya perhatian koper saya sudah dibawa melewati sebuah pintu masuk ke dalam rumah di sebelah saya. Kemudian, Pangeran Sultan, salah satu paman dari Pangeran Misyari, menyambut saya membawa saya ke ruang duduk besar. Dua meja kopi terletak di depan kursi-kursi berjejer mengelilingi dinding. Di ruang itu, juga terdapat sebuah televisi berukuran raksasa. Dekorasi ruangan dan lampunya sederhana.

Ini tidak sesuai perkiraan saya. Saya lantas bertanya kepada Pangeran Sultan, "Apakah ini istana Pangeran Misyari?"
"Untuk sementara Pangeran Misyari menyewa rumah-rumah ini. Dia sedang membangun sebuah istana baru di dekat sini." Sekarang semuanya jadi masuk akal karena saya belum pernah melihat pangeran-pangeran Arab Saudi kelilingi hal-hal sederhana.

"Pangeran Misyari sebentar lagi akan tiba, dia tengah makan malam dengan Pangeran Muhammad," kata Pangeran Sultan meruju pada Pangeran Muhammad bin fahad bin Abdul Aziz. Saya baru selesai bekerja dengan dirinya beberapa pekan sebelumnya.

Pangeran Muhammad bin Fahad sudah menjadi pelaksana tuga Gubernur Provinsi Timur pada 1984 dan menjadi gubernur speenuhnya pada 1985. Sekali lagi, saya berbicara sekadarnya dengan Pangeran Sultan seraya menunggu Pangeran Misyari datang.

Sekitar sepuluh menit berselang, Pangeran Misyari masuk ke dalam ruangan. Kami langsung berdiri untuk saling menunjukkan rasa hormat seperti biasa. Wajahnya tersenyum. "Halo Mark, selamat datang di Arab Saudi dan di rumah saya. Apakah kamu sudah diperlakukan dengan baik selama tiba di Arab Saudi?" dia bertanya.

"Ya, Yang Mulia. Saya berterima kasih atas keramahan Anda."
"Saya ingin menyambut kamu sendiri di bandar udara, tapi saya takut makan malam dengan Pangeran Muhammad akan berlangsung lebih lama dari yang saya kira." saya membayangkan apakah dia berkata jujur soal itu.

"Baiklah mark, saya hanya ingin menyambut kamu. Saya akan meminta seseorang menunjukkan kamar tidur kamu sehingga kamu bisa beristirahat. Mereka bakal mengantar kamu ke kantor saya besok pagi."

Semenit kemudian, dia balik badan dan keluar dari ruangan. Sultan mengantar saya ke kamar. Dia kelihatan senang saya ada di sana dan saya membayangkan apakah say bakal menjadi teman baiknya selama di Arab Saudi.   

Besok paginya, seorang staf Pangeran Misyari bernama Muhammad menemani saya ke ruang makan untuk sarapan. Dia mengenakan pakaian khas Arab Saudi. Tingginya sekitar 173 sentimeter dengan perut membusung. Menu sarapan pagi itu adalah Syasyuka dan saya menyukai itu. Terdiri dari telur goreng orak arik, ptongan tomat segar, bawang putih, garam , paprika, minyak samin, dan pasta tomat. Saya paling suka makan Syasyuka dengan sepotong roti.        

Setelah sarapan, Muhammad mengantar saya ke kantr Pangeran Misyari di kompleks Garda Nasional di Kota Dammam. Ketika kami sudah mendekati gerbang utama, penjaga memberi isyarat agar mobil kami berhenti. Namun setelah Muhammad berkata singkat, gerbang dibuka dan kami menuju ke arah sebuah gedung persegi panjang berukuran besar.

Segera setelah melangkah keluar dari mobil, hawa panas langsung membekap saya. berbeda saat saya memasuki pintu utama gedung Garda Nasional Arab Saudi Wilayah Timur. Udara sejuk langsung membuat nyaman. Dalam hitungan dua menit, Kapten Mansur kembali datang menyambut saya. Dia memandu saya ke lantai pertama tempat di mana kantor Pangeran Misyari berada.

Memasuki sebuah ruangan besar, saya langsung terkesima karena betapa mewahnya isi ruangan. Sofa kulit berukuran besar di tempat di mengelilingi tembok dilengkapi maje-meja kopi di depannya. Lampu kristal tergantung di plafon. Di pojok ruangan, terdapat satu meja kerja berukuran besar dengan tumpukan kertas di atasnya, dilengkapi sebuah kursi kurlit empuk.

Saya kira itu meja kerja Pangeran Misyari tapi saya salah. Kapten Mansur bilang ini ruangan kerja manajer kantor meminta saya menunggu dan menawarkan untuk minum teh atau kopi. Saya memilih teh dan semenit kemudian sajian teh mint tiba.

Saya lalu mengambil sebuah majalah bersampul glosi dari meja kopi tapi segera manruhnya kembali. Saya sadar sensor terhadap media sangat ketat membuat isi majalah itu tidak menarik buat dibaca.

Saya lebih memilih menganalisa orang-orang keluar masuk dari ruangan itu. Di depan saya kemudian duduk seorang Arab. Dia tersenyum sambil mengangguk. Dia tersenyum lagi memperlihatkan permen karet tengah dia kunyah. Matanya menatap tajam persis mata burung elang.

Saya duduk membelakangi kaca-kaca jendela beritrai hijau gelap untuk mengurangi cahaya matahari masuk ke dalam ruangan. Di kiri saya terdapat dua pintu kayu berukuran besar. Saya membayangkan apakah di balik pintu itu ruangan kerja Pangeran Misyari.

Tiba-tiba saja salah satu pintu terbuka lebar dan seorang Arab Badui muncul dari dalam sana. Dia memandangai saya sambil tersenyum membalas senyuman saya. Orang Arab duduk di hadapan saya berdiri dan kemudian diarahkan oleh salah satu staf Pangeran Misyari ke ruangan lain.

Saat duduk sendirian, saya berpikir kenapa saya merasa tidak nyaman dengan berpakaian ala Barat. Karena itu, selama saya pergi ke mana saja, penampilan saya selalu menarik perhatian.

Saya kemudian masuk ke dalam sebuah kantor megah, membuat saya merasa tengah berada di Kota Dallas. Ruang kerja Pangeran Misyari amat mewah dan menarik, menunjukkan kekayaan, peengaruh, dan posisinya. Saya sekarang menyaksikan Pangeran Misyari dalam situasi berbeda. Sebelumnya, saya melihat dia sekadar sebagai playboy, penjudi, kini saya menyaksikan dirinya benar-benar dalam peran berbeda.   

Pangeran Misyari tersenyum dan mempersilakan saya duduk di kursi kulit di depan meja kerjanya. Dia menyuruh seorang pelayannya membawakan minuman teh mint. Sata memandangi berbagai troopi dalam lemari di salah satu bagian ruangan dan penasaran piala kejuaraan apa saja. Saya tahu tidak mungkin piala itu penghargaan bagi Pangeran Misyari karena sudah memenangkan sebuah kejuaraan olahraga. Sebab dia gendut, tidak sehat dan seperti kebanyakan pangeran Arab Saudi lainnya, tidak mau melakoni kegiatan berat.

"Bagaimana Mark?" tanya Pangeran Misyari.
"Sangat mengesankan," jawab saya sembari memperhatikan potret tergantung di dinding. Yang ada foto Raja Abdul Aziz, Raja Faisal, Raja Khalid, Raja Fahad, dan Putera mahkota Abdullah. "Saya ingin tahu kenapa foto ayah Anda tidak ada di antara penguasa Arab saudi sebelumnya dan sekarang?"

Tanpa memperlihatkan keterkejutan, Pangeran Misyari menjawab: "Selama bertahun-tahun ayah saya oleh anggota keluarga kerajaan lainnya. Ada banyak alasan atas hal itu. Salah satunya lantaran pengeluarannya sangat berlebihan, a;asan lain karena kepemimpinannya buruk. Ada banyak alasan tapi saya tidak mau menjelaskan semua. Saat ini terjadi perubahan sikap terhadap ayah saya dan akan ada lebih banyak potretnya nanti."

Saya tahu sedikit tentang rputasi Raja Saud bin Abdul Aziz. CIA (dinas rahasia luar negeri Amerika Serikat) dikabarkan memasok dia dengan bocah lelaki dan dia hampir membikin Arab Saudi bangkrut selama memimpin. Dia pernah menghabiskan jutaan dolar dengan bodoh.

Dia pernah menggelontorkan US$ 10 juta buat membangun sebuah istana dan kemudian dirobohkan lagi, lalu dibangun dengan gaya lain dan menghabiskan US$ 30 juta. Dia mabuk-mabukkan saban hari, doyan bercinta dengan gadis-gadis muda. Para pelayan perempuan harus melepas pakaian mereka saat mengepel lantai istana dengan kondisi merangkak. Kalau ketahuan hamil, para pelayan itu akan mendapat gelar Puteri diikuti nama anak mereka lahirkan.

"Saya akan menyuruh seseorang mengantar kamu keluar di mana kamu bakal menunggu saya. Kemudian kita akan makan malam. Besok, Muhammad akan mengajak kamu ke pasar untuk membeli pakaian khas Arab Saudi agar kamu merasa lebih nyaman." Saya membayangkan dia telah berhasil membaca pikiran saya saat menunggu tadi.

"Satu hal Mark. Kalau polisi atau petugas lain menghentikan kamu, kamu harus bilang kepada mereka untuk mengontak saya. Saya akan menyelesaikan segala kesalahpahaman, apakah dimengerti?"

"Ya Tuan, amat dimengerti," jawab saya seraya bangkit dari kursi kulit nan mewah dan nyaman.

Saya di antar ke ruang tunggu. Sesampai di sana, saya bertemu Tony tengah duduk, pelayan Pangeran Misyari bisa bertugas sebagai apa saja, mulai dari menjadi sekretaris hingga penata rambut pangeran. Saya pikir dia pernah bekerja dengan Pangeran mansur bin Saud bin Abdul Aziz. Tapi sekali lagi, dia mempunyai reputas baik dengan banyak pangeran Arab Saudi.

Dia kerap dipanggil untuk mencukur rambut Gubernur Riyadh Pangeran Salman bin Abdul Aziz (sejak Januari 2015 menjadi raja Arab Saudi). Untuk ke sana, dia dijemput menggunakan helikopter. Tony berperawakan kurus dengan rambut hitam dan jenggot tebal berwarna hitam. Kulitnya berwarna coklat terang dengan kedua bola mata berwarna coklat gelap.

Saya juga memperhatikan dia biasa berpakaian gaya Barat, kemeja berwarna cerah beserta jas. Dia mengenakan kalung emas di leher dan lebih suka memakai sandal.

"Hai Mark, apa kabar? Saya dengar kamu sudah di sini, apakah sudah lama? Kapan kamu tiba? Bagaimana pendapatmu sejauh ini mengenai Arab Saudi?" Dia menghujani saya dengan banyak pertanyaan, tapi sebelum saya menjawab kami diminta Pangeran Misyari untuk pergi.     

Mark Young bersama Pangeran Misyari bin Saud bin Abdul Aziz dan istrinya, Puteri Al-Anud binti Fahad. (Mark Young/Saudi Bodyguard)

Teringat Puteri Al-Anud telanjang

Seraya tersenyum, saya teringat Puteri Al-Anud dan teman-temannya dalam keadaan telanjang, tapi di negara asalnya, dia tersembunyi di balik pagar tembok dan abaya dan jilbab serba hitam. Puteri Al-Anud benar-benar cantik dan tubuhnya sangat seksi.

Pangeran Misyari bin Saud bin Abdul Aziz bersama putranya, Pangeran Turki, di resor ski Megeve, Prancis. (Mark Young/Saudi Bodyguard)

Makan siang bareng Pangeran Misyari

Pangeran Salman langsung menjatuhkan kartu dan berdiri untuk menyambut penguasa Arab datang tidak disangka. Ketika Jack mendekat, mereka sadar ternyata yang datang orang Inggris.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Ditolak masuk diskotek karena tidak mau beri tip

Di dua kunjungan berikutnya ke klub malam Regine's, saya tidak memberikan uang dan di lawatan ketiga, kami dilarang masuk dengan alasan ada pesta tertutup.

Pangeran Misyari bin Saud bin Abdul Aziz bersama putranya, Pangeran Turki, di resor ski Megeve, Prancis. (Mark Young/Saudi Bodyguard)

Pangeran Misyari menjadi pelit

Pangeran Misyari meminta Mark menurunkan gajinya 30 persen dan dia setuju. Dua tahun kemudian, Mark minta kenaikan gaji tapi ditolak.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Mengunjungi kompleks istana Raja Saud

Selepas kedua gerbang itu terdapat halaman seluas 2,6 kilometer persegi.

17 Agustus 2019

TERSOHOR