buku

Makan siang bareng Pangeran Misyari

Pangeran Salman langsung menjatuhkan kartu dan berdiri untuk menyambut penguasa Arab datang tidak disangka. Ketika Jack mendekat, mereka sadar ternyata yang datang orang Inggris.

08 Juni 2019 18:20

Albalad.co berhasil mendapatkan izin dari penulis buku Saudi Bodyguard, Mark Young, untuk menerjemahkan sekaligus menerbitkan isi bukunya di Albalad.co. Seperti biasa, rubrik buku ini muncul saban Sabtu dan dimulai sejak 11 November 2017.

Albalad.co sejatinya memperoleh salinan buku Saudi Bodyguard dalam bentuk PDF tersebut langsung dari Mark Young, mantan pengawal para pangeran dan puteri di Kerajaan Arab Saudi, pada 1 September 2017. Baru ketika perkembangan dramatis terjadi saat ini di negara Kabah itu, Albalad.co memutuskan melansir terjemahan dari isi buku setebal lebih dari 400 halaman dan diterbitkan pada 2010 itu.

Mark Young, berasal dari Inggris, adalah pemegang sabuk hitam karate. Ayahnya adalah mantan anggota pasukan elite Inggris dan bekas anggota MI6, dinas intelijen Inggris.

Sejak Mei 1976, dia mulai menjadi instruktur dan membuka tiga sekolah karate. Tiga tahun kemudian, dia memulai kariernya sebagai pengawal pribadi keluarga kerajaan Arab Saudi. Tugas pertamanya adalah mengawal Pangeran Talal bin Abdul Aziz, ayah dari pemilik Kingdom Holding Company, Pangeran Al-Walid bin Talal, ditahan di Hotel Ritz Carlton di Ibu Kota Riyadh, selama November 2017-akhir Januari 2018.

Pangeran Al-Walid termasuk dalam 201 kaum elite Arab Saudi - meliputi pangeran, pejabat, dan pengusaha kakap - ditangkap atas tudingan korupsi. Penangkapan ini atas perintah Komisi Pemberantasan Korupsi, dibentuk beberapa jam sebelumnya dan diketuai oleh Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young ini bercerita dengan bahasa bertutur sebagai orang pertama mengenai pengalamannya selama menjadi pengawal pribadi keluarga Kerajaan Arab Saudi, termasuk Raja Salman bin Abdul Aziz.   

*******

Makan siang bareng Pangeran Misyari

Bersama seorang staf kantor, saya dan Tony keluar menunggu di bagian gedung berukuran luas di atas lobi. Dari lantai atas itu saya dapat melihat pintu utama berukuran besar menuju kantor Pangeran Misyari bin Saud bin Abdul Aziz. Dua tentara Garda Nasional menjaga pintu masuk. Keduanya langsung siaga ketika Pangeran Misyari keluar kantornya dan memasuki koridor gedung.  

Berjalan ke arah kami, Pangeran Misyari memancarkan rasa percaya diri dan pengaruh. Dia berhenti sebentar dan berbicara dengan Tony sebelum lanjut turun tangga menuju lobi. Sekali lagi, Pangeran Misyari berhenti, kali ini berbicara dengan Kapten Mansur.

Beberapa prajurit Garda Nasional bersiap dan memberi hormat ketika Pangeran Misyari melintas. Dia kemudian berjalan keluar lobi menuju limusin Mercedes 560 SEL sedang menunggu. Mobil ini hadiah dari Wakil Gubernur Provinsi Timur Pangeran Fahad bin Salman, salah satu putra dari Gubernur Riyadh Pangeran Salman bin Abdul Aziz (sedari Januari 2015 menjadi raja Arab Saudi). Saya memperhatikan dengan seksama dan menyadari untuk pertama kali betapa pentingnya posisi Pangeran Misyari.

Di depan Mercedesnya terdapat sebuah Chevrolet Amerika berwarna putih. Di kedua pintu depannya ada simbol Garda Nasional berukuran besar dan strip berwarna biru di kedua sisi mobil Lampu sirene merah dan biru terdapat di atap mobil. Kendaraan ini  mengingatkan saya pada mobil polisi Amerika. Saat saya berjalan ke arah Chevrolet itu, Kapten Mansur menghentikan saya.

"Mark, Yang Mulia ingin Anda bepergian bersama dia dalam mobilnya," kata Kapten Mansur, lalu membuka pintu pnumpang di bagian belakang. Saya sudah banyak pelesiran bareng Pangeran Misyari tapi kali ini situasinya sangat berbeda.

Majid, sopirnya, pindah mengendarai mobil pengawalan saat para tentara memberi hormat kepada Pangeran Misyari. Ketika mobil kami mendekati gerbang utama, serdadu-serdadu itu meyetop lalu lintas dua arah agar kami bisa keluar dengan cepat, aman, dan mudah.

Tentara-tentara itu kembali memberi hormat kepada Pangeran Misyari ketika mobil dia kendarai melintas. Saya melihat ini lazim bagi mereka namun bagi saya itu pengalaman baru. Dengan lampu sirene menyala di mobil pengawalan, kami beriringan menuju lokasi makan siang.

Sekitar setengah jam kemudian, kami tiba di sebuah desa kecil. Biasanya saya turun dan membukakan pintu bagi Pangeran Misyari, tapi kali ini tugas itu dilakukan oleh Majid, sedangkan kapten Mansur membukakan pintu buat saya. Saya berterima kasih kepada dia namun perasaan saya agar kurang nyaman dengan status ini.

Beberapa orang sudah berdiri berjejer untuk menyambut Pangeran Misyari. Saya perhatikan beberapa dari mereka memandangi saya, tentu membayangkan siapa orang Barat kafir ini. Sultan, paman dari Pangeran Misyari berdiri di dekat saya dan ketika saya memperhatikan dirinya, saya masih merasa tidak nyaman.

Berdiri di antara Sultan, Majid, dan Muhammad, saya berharap dapat merasa nyaman. Tapi kurang beruntung. Kapten Mansur datang dan bilang Pangeran Misyari ingin saya mengikuti dia ke dalam majelis di mana tempat berkumpul kaum lelaki.

Di atas sofa besar mengelilingi dinding ruangan, tampak sekitar 50 pria sedang duduk. Hampir semua kursi terisi ketika saya ke arah tempat duduk Pangeran Misyari. Saat saya mau duduk, Pangeran Misyari mengatakan, "Mark, bukan di sini, cari tempat duduk lain cepat."

Beruntung punggung saya belum bersandar dan saya langsung maju ke depan meski saya ingin berbicara dengan Pangeran Misyari. Dari posisi itu, saya lalu berdiri dan berjalan ke arah tempat duduk dekat pintu.

Saya duduk di sana beberapa menit saja, kemudian keluar bergabung dengan Sultan dan yang lain. Mereka tengah menikmati teh mint panas. Sultan segera menuangkan segelas teh untuk saya. Saya langsung menghirup seteguk. Sebelum saya menghirup sekali lagi, Kapten Mansur duduk di sebelah saya tertawa.

"Mark, Pangeran Misyari ingin kamu kembali ke majelis dan Mark, ingat hanya pangeran duduk di sofanya sendiri. Itu protokol, Mark."
"Saya berharap seseorang memberitahu saya sebelumnya, saya merasa seperti orang bodoh sekarang."
Apa itu Mark?" tanya Kapten Mansur.
"Saya akan beritahu Anda nanti tapi saat ini saya lebih baik kembali ke majelis sebelum membikin kesalahan lain."
"Kamu sudah membuat kesalahan Mark. Kamu meninggalkan ruangan sebelum pangeran dan tidak meminta izin. Itu bisa dianggap penghinaan."
"Oh sialan, saya seperti penggorengan di atas api."

Ketika saya balik ke majelis, saya menempatkan tangan kanan saya di depan dada dan membungkukkkan kepala saya sebagai tanda meminta maaf. Semua mata langsung tertuju kepada saya ketika saya duduk di sofa.

Hampir sejam kemudian, Pangeran Misyari berdiri dan kami semua segera bangkit dari tempat duduk. Dia duluan menuju sebuah ruangan besar di mana begitu banyak makanan tersji di atas karpet berornamen Arab. Saya melihat Pangeran Misyari duduk bersila di atas karpet.

Semua lelaki mengikuti Pangeran Misyari ke dalam ruangan itu. Saya duduk di samping Sultan dan nyaris berhadapan dengan Pangeran Misyari. Di tengah karpet terhidang Al-Kabsah, nasi campur daging. Di atasnya terdapat seekor domba matang. Juga tersaji khubza, hummus, falafil, kibbah, kofta, syawarma, dan salad begitu menggoda selera.

Pangeran Misyari memberikan saya semangkuk daging. Seraya tersenyum, dia mengisyaratkan agar saya makan menggunakan tangan. Rasanya enak tapi alot.
"Sultan, daging apa ini?" Benar-benar alot."
"Oh Mark, itu daging unta," jawabnya. Saya pikir itu bukan daging unta, rasanya tidak enak dan seperti mengunyah permen karet.

Terjadi onrolan mengasyikkan antara Pangeran Misyari dan kaum lelaki hadir. Apakah yang dibicarakan pentin atau tidak, saya tidak paham. Saat duduk bersila, saya berusaha agar alas sepatu saya tidak menghadap ke muka orang karena itu berarti penghinaan.

Saya bertanya kepada Sultan, "Apakah makan siang ini memiliki makna tertentu? Atau terkait dengan sebuah hal atau sekadar kumpul-kumpul saja?"

"Bisa jadi keduanya. Siapa saja memiliki keluhan dapat melapor kepada Pangeran Misyari dan dia bakal memberi saran. Yang lain barangkali ingin bergabung dalam diskusi itu atau sekadar ingin bertemu pangeran. Mereka semua dipersilakan datang dan ini bentuk dari hubungan baik dengan masyarakat," katanya.

Ketika makan siang selesai, Pangeran Misyari berdiri. Semua orang bergegas berdiri. Dia lantas menuju pintu keluar diikuti semua orang. Setelah bersalaman dan mengucapkan salam perpisahan, Majid membukakan pintu Mercedes. Sebelum masuk ke dalam bil, Pangeran Misyari memanggil Muhammad. Dia berbicara singkat dengan Muhammad.

Kemudian Pangeran Misyari bilang," Mark, saya sudah katakan kepada Muhammad untuk mengantar kamu ke pasar dan membeli beberapa pakaian untuk mu."
"Ya Tuan," jawab saya.
"Saya akan menemuimu kemudian di rumah."
Ya Yang Mulia, hati-hati," kata saya saat dia masuk ke dalam mobil.

Kapten Mansur masuk ke kursi penumpang di samping Majid. Senyum dan lambaian tangan dari para lelaki melepas kepergian Pangeran Misyari ketika Mercedes itu melaju. Debu beterbangan saat jalanan berpasir dilindas roda-rda Mercedes itu.

Setelah pangeran Misyari pergi, saya bisa sedikit santai. Muhammad dan saya tertawa dan bercanda dalam perjalanan menuju pasar.

Di pasar, saya menemukan keanehan melihat kaum perempuan berjilbab, berabaya, dan bercadar serba hitam. Saya membayangkan apakah itu membantu mereka tetap merasa sejuk atau menyembunyikan diri mereka. Apakah kaum adam Saudi merasa perempuan itu berwajah jelek sehingga harus menutupi seluruh tubuh mereka.

Kenyataannya, saya tahu banyak perempuan Saudi berwajah cantik dan saya membayangkan apakah ini alasan sebenarnya mereka berbaya, berjilbab, dan bercadar serba hitam?.

Muhammad mengatakan kepada pelayan toko barang apa kami cari dan kemudian saya berdiri ketika sorban dan gamis dijajal ke tubuh saya. Di toko itu juga dijual banyak igal (pengikat kepala tradisional berwarna hitam).

Saya jadi ingat dan tidak ingin mengulangi kesalahan dibuat teman saya bernama Jack. Ketika menjadi tamu Gubernur Riyadh, saya memilih menggunakan igal berwarna hitam, sedangkan jack memakai igal warna menyolok dengan bordir berwarna emas.

Dengan igal itu, Jack tiba di istana Pangeran Salman bin Abdul Aziz di Riyadh dan melangkah keluar dari mobil. Dia melihat Raja Fahad bin Abdul Aziz, Putera Mahkota Pangeran Abdullah bin Abdul Aziz, Menteri Pertahanan Pangeran Sultan bin Abdul Aziz, dan Menteri Dalam Negeri Pangeran Nayif bin Abdul Aziz tengah bermain kartu.

Pangeran Salman langsung menjatuhkan kartu dan berdiri untuk menyambut penguasa Arab tidak disangka. Ketika Jack mendekat, mereka sadar ternyata yang datang orang Inggris. Pangeran Salman lalu memerintah Jack ke ruang ganti untuk mengubah igalnya.

Saat Jack melangkah, dia mendengar Raja Fahad yang pangeran-pangeran lain tertawa terbahk-bahak. Apa yang tidak sadari oleh jack adalah igal emas itu cuma dipakai para pemimpin negara Arab. Perubahan terjadi setelah pembunuhan Raja Faisal bin Abdul Aziz oleh keponakannya, Pangeran Faisal bin Musaid pada 25 Maret 1975. Meski begitu, anak-anak kadang masih menggunakan igal warna menyolok saat perayaan Idul Fitri.  






 

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Makan malam dengan daging bayi unta

Saya sangat mengetahui beberapa pangeran Saudi terlibat pembunuhan tapi tidak dipancung. Jadi Saudi sudah bertindak tidak adil.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Menolak ikut makan malam di rumah Pangeran Muhammad bin Fahad

Menahan paspor, melarang memakai telepon ke luar negeri, menyensor surat kabar, majalah dan mengontrol program televisi adalah siasat pemerintah Saudi untuk mengawasi rakyatnya.

Mobil milik Pangeran Walid bin Saud bin Abdul Aziz. (Mark Young/Saudi Bodyguard)

Pelesiran sejenak di Jeddah

Terdapat sejumlah kedutaan besar di Jeddah dan suasananya lebih rileks dibanding kota-kota lain di Arab Saudi.

Mark Young bersama Pangeran Misyari bin Saud bin Abdul Aziz dan istrinya, Puteri Al-Anud binti Fahad. (Mark Young/Saudi Bodyguard)

Teringat Puteri Al-Anud telanjang

Seraya tersenyum, saya teringat Puteri Al-Anud dan teman-temannya dalam keadaan telanjang, tapi di negara asalnya, dia tersembunyi di balik pagar tembok dan abaya dan jilbab serba hitam. Puteri Al-Anud benar-benar cantik dan tubuhnya sangat seksi.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Makan malam dengan daging bayi unta

Saya sangat mengetahui beberapa pangeran Saudi terlibat pembunuhan tapi tidak dipancung. Jadi Saudi sudah bertindak tidak adil.

26 Oktober 2019
Berburu tikus gurun
05 Oktober 2019
Pelesiran sejenak di Jeddah
07 September 2019

TERSOHOR