buku

Kaum gay dalam keluarga kerajaan Arab Saudi

Di Ibu Kota Riyadh, muncul selentingan terdapat tiga klub gay di sana. Saya tahu salah satu saudara kandung lelaki dari Pangeran Misyari meninggal karena AIDS.

27 Juli 2019 20:16

Albalad.co berhasil mendapatkan izin dari penulis buku Saudi Bodyguard, Mark Young, untuk menerjemahkan sekaligus menerbitkan isi bukunya di Albalad.co. Seperti biasa, rubrik buku ini muncul saban Sabtu dan dimulai sejak 11 November 2017.

Albalad.co sejatinya memperoleh salinan buku Saudi Bodyguard dalam bentuk PDF tersebut langsung dari Mark Young, mantan pengawal para pangeran dan puteri di Kerajaan Arab Saudi, pada 1 September 2017. Baru ketika perkembangan dramatis terjadi saat ini di negara Kabah itu, Albalad.co memutuskan melansir terjemahan dari isi buku setebal lebih dari 400 halaman dan diterbitkan pada 2010 itu.

Mark Young, berasal dari Inggris, adalah pemegang sabuk hitam karate. Ayahnya adalah mantan anggota pasukan elite Inggris dan bekas anggota MI6, dinas intelijen Inggris.

Sejak Mei 1976, dia mulai menjadi instruktur dan membuka tiga sekolah karate. Tiga tahun kemudian, dia memulai kariernya sebagai pengawal pribadi keluarga kerajaan Arab Saudi. Tugas pertamanya adalah mengawal Pangeran Talal bin Abdul Aziz, ayah dari pemilik Kingdom Holding Company, Pangeran Al-Walid bin Talal, ditahan di Hotel Ritz Carlton di Ibu Kota Riyadh, selama November 2017-akhir Januari 2018.

Pangeran Al-Walid termasuk dalam 201 kaum elite Arab Saudi - meliputi pangeran, pejabat, dan pengusaha kakap - ditangkap atas tudingan korupsi. Penangkapan ini atas perintah Komisi Pemberantasan Korupsi, dibentuk beberapa jam sebelumnya dan diketuai oleh Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young ini bercerita dengan bahasa bertutur sebagai orang pertama mengenai pengalamannya selama menjadi pengawal pribadi keluarga Kerajaan Arab Saudi, termasuk Raja Salman bin Abdul Aziz.

*******

Kaum gay dalam keluarga kerajaan Arab Saudi

Saban hari saya melihat Pangeran Turki, putra dari Pangeran Misyari bin Saud bin Abdul Aziz. Dia berumur lima atau enam tahun waktu itu. Seperti pangeran muda lainnya, dia kadanag mengganggu: berteriak dan berbuat sesukanya. Satu waktu di Marbella, dia meludahi wajah saya dan bertanya kenapa dia makan bareng para pelayan saat dia duduk di meja kami untuk makan siang.

Di lain waktu, dia dapat menjadi seorang malaikat benar-benar menyenangkan. Suatu hari, sehabis saya berbicara dengan Pangeran Misyari dan Puteri Al-Anud di ruang keluarga, Pangeran Turki ingin menunjukkan kepada saya salah satu mobilnya.

Kami berdua kemudian menuju ke sebuah minibus Chevrolet Day. Mobil ini telah dicat warna biru dan perak metalik dan dikrom sekelilingnya. Di bagian dalam terdapat sebuah televisi dan perekam videom serta semua jok berwarna biru gelap. Chevrolet itu juga dilengkapi penyejuk udara sedingin es. Saya berpikir begitu beruntungnya Pangeran Turki.

Malamnya, Pangeran Misyari ikut bergabung dengan kami di ruang santai. "Mark, apakah kamu ingin menginap di gurun?" katanya. "Saya mau sekali Tuan," jawab saya. "Bagus besok kita akan pergi ke padang pasir dan tinggal di sana untuk dua hari."

Saya merasa bakal menjadi Lawrence of Arabia baru. Besok paginya, saya menunggu dengan perasaan girang sekali. Apa yang akan kamu lakukan pertama ketika tiba di gurun, Lawrence?" saya bertanya kepada diri saya sendiri. Mendirikan tenda dan mulai membuat api unggun, jawab saya sendiri.

Dalam hitungan jam kami sudah sampai di tujuan dengan menaiki Chevrolet 4x4. Lusinan tentara Garda nasional serta Arab Badui mulai mendirikan tenda-tenda. Muhammasd kemudian bilang akan menjaga saya. Jangan khawatir, kata saya dalam hati. Saya menatap ke arah padang pasir. Sejauh mata memandang rata seperti sebuah meja biliar.

Sambil memperhatikan beragam tenda sudah dibangun saya bertanya tenda mana berfungsi sebagai toilet. "Apa maksudmu Mark?" "Di mana toiletnya? Fain al-Hammam?" saya mengulangi pertanyaan itu memakai bahasa Arab.

Muhammad kemudian membentangkan kedua tangannya. Dia bilang sejauh mata memandang, dari timur hingga barat, gurun itulah menjadi toiletnya. Saya membayangkan apakah saya mampu bertahan dua hari hidup di tengah padang pasir.

Saya kemudian menuju tenda bagian komunikasi radio dan mulai mengobrol dengan dua operator. Bahasa Inggris mereka tidak terlalu bagus, begitu pula bahasa Arab saya. Akhirnya kami berbincang dengan bantuan bahasa isyarat tangan.

Kedua operator itu bernama Talal dan Munir. Mereka adalah gay dan berusaha memancing saya tapi saya tidak merasa terganggu. Saya tidak kaget menjumpai beberapa kaum homoseksual lantaran Arab Saudi menerapkan pemisahan ketat antara lelaki dan perempuan. tentu saja hal ini buat saya akan memicu terjadinya hubungan sesama jenis.

Di Ibu Kota Riyadh, muncul selentingan terdapat tiga klub gay di sana. Saya tahu salah satu saudara kandung lelaki dari Pangeran Misyari meninggal karena AIDS. Saya juga mengetahui Pangeran Humud bin Abdul Aziz, adik bungsu dari Raja Fahad bin Abdul Aziz, juga seorang gay.

Pangeran Humud pernah merayu saya untuk bercinta di rumahnya di Stanmore, utara Ibu Kota London, namun tidak berhasil. Saya akan selalu berkukuh hanya doyan kepada perempuan. Tapi sekarang dan sekali lagi seorang gay berusaha membujuk saya agar mau berhubungan seksual. Banyak pangeran Arab Saudi berlaku seperti perempuan.

Melihat api unggun sudah menyala, saya meninggal tenda operator komunikasi radio dan bergabung dengan Arab-Arab Badui di sekeliling api unggun. Semua orang asli Saudi saya temui adalah kaum Arab Badui. Mereka sangat baik dan ramah.

Seraya duduk di tepi api unggun, saya mencoba mengobrol dengan mereka dalam bahasa Arab. Tapi Arab-Arab badui itu malah tertawa. Saya tidak tahu apakah mereka menertawakan bahasa Arab Saya atau sikap saya.

Saya perhatikan Arab-Arab Badui itu melempar sejumlah tikus ke dalam api unggun. Mereka memberikan saya seekor tikus. Saya bertanya apa yang mesti saya lakukan. Seorang Arab badui mengambil tikus matang itu dari bara api dan mulai mengunyah. Sialan, mereka ingin saya memakan tikus. Kalau saya menolak bisa dianggap menghina.

Jadi saya mulai menggigit daging hewan pengerat itu. Saya sebenarnya tidak mau dan mencuci daging tikus itu dengan beberapa cangkir gahwa (kopi dalam bahasa Arab).

Setelah berhasil keluar dari lingkaran Arab badui, saya bergegas menemui Muhammad. Saya perlu tahu binatang pengerat apa baru saja saya makan. "Muhammad, Muhammad, mereka menyuruh saya memakan seekor tikus kecil. Apakah saya akan meninggal?"

Muhammad langsung tertawa terbahak-bahak. "Mark, Mereka makan sesuatu tidak berbahaya untuk dimakan."
"Katakan kepada saya Muhammad, kenapa mereka makan tikus?"
"Mark, yang mereka kunyah bukan tikus tapi Jerboa. Kami memburu mereka kemudian disembelih sesuai syariat Islam, kemudian dimasak dan dimakan."

Saya ingat, Jerboa dalam bahasa Inggris berarti tikus gurun. "Sialan, saya baru saja makan seekor tikus."

Setelah dua hari di sana, kami meninggalkan gurun. Dalam perjalanan pulang ke Dammam, saya mengobrol dengan Pangeran Misyari di dalam Chevrolet 4x4 membawa kami. "Mark, apakah kamu menikmati kunjunganmu ke padang pasir? Apakah kamu senang dengan pengalamanmu itu? Apakah orang-orang Arab Badui itu berbuat baik kepada kamu?" tanya Pangeran Misyari.

Saya bilang, "Yang Mulia, itu benar-benar pengalaman menyenangkan dan bakal saya kenang selamanya. Kalau ada toilet, saya pasti mau tinggal lebih lama lagi di gurun."

"Bagus, sangat bagus, kita akan kembali ke gurun untuk tinggal di sana selama dua pekan," kata Pangeran Misyari.

Jantung saya serasa mau copot. Saya bertanya dalam hati apakah dia bercanda dengan ucapannya itu. Melalui kaca gelap jendela mobil, saya melihat hamparan gurun berkilo-kilo meter, rata, dan tandus. Sangat sering pula melihat unta dan penggembalanya. Saya membayangkan bagaimana mereka bisa hidup dalam kondisi sangat sulit.

Saya melihat ada kontradiksi di padang pasir: alamnya tidak bersahabat tapi orang-orangnya ramah.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Mengunjungi kompleks istana Raja Saud

Selepas kedua gerbang itu terdapat halaman seluas 2,6 kilometer persegi.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Membeli kalung emas di Al-Khobar

Toko-toko emas berkumpul di Lembah Emas, sebuah kawasan di Kota Tua Al-Khobar. Ke arah mana saja saya memandang, selalu tampak sebuah toko emas. Saya kira tidak ada tempat memiliki toko emas terbanyak di dunia selain di Al-Khobar.

Mark Young bersama Pangeran Misyari bin Saud bin Abdul Aziz dan istrinya, Puteri Al-Anud binti Fahad. (Mark Young/Saudi Bodyguard)

Teringat Puteri Al-Anud telanjang

Seraya tersenyum, saya teringat Puteri Al-Anud dan teman-temannya dalam keadaan telanjang, tapi di negara asalnya, dia tersembunyi di balik pagar tembok dan abaya dan jilbab serba hitam. Puteri Al-Anud benar-benar cantik dan tubuhnya sangat seksi.

Pangeran Misyari bin Saud bin Abdul Aziz bersama putranya, Pangeran Turki, di resor ski Megeve, Prancis. (Mark Young/Saudi Bodyguard)

Makan siang bareng Pangeran Misyari

Pangeran Salman langsung menjatuhkan kartu dan berdiri untuk menyambut penguasa Arab datang tidak disangka. Ketika Jack mendekat, mereka sadar ternyata yang datang orang Inggris.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Mengunjungi kompleks istana Raja Saud

Selepas kedua gerbang itu terdapat halaman seluas 2,6 kilometer persegi.

17 Agustus 2019

TERSOHOR