buku

Membeli kalung emas di Al-Khobar

Toko-toko emas berkumpul di Lembah Emas, sebuah kawasan di Kota Tua Al-Khobar. Ke arah mana saja saya memandang, selalu tampak sebuah toko emas. Saya kira tidak ada tempat memiliki toko emas terbanyak di dunia selain di Al-Khobar.

10 Agustus 2019 09:57

Albalad.co berhasil mendapatkan izin dari penulis buku Saudi Bodyguard, Mark Young, untuk menerjemahkan sekaligus menerbitkan isi bukunya di Albalad.co. Seperti biasa, rubrik buku ini muncul saban Sabtu dan dimulai sejak 11 November 2017.

Albalad.co sejatinya memperoleh salinan buku Saudi Bodyguard dalam bentuk PDF tersebut langsung dari Mark Young, mantan pengawal para pangeran dan puteri di Kerajaan Arab Saudi, pada 1 September 2017. Baru ketika perkembangan dramatis terjadi saat ini di negara Kabah itu, Albalad.co memutuskan melansir terjemahan dari isi buku setebal lebih dari 400 halaman dan diterbitkan pada 2010 itu.

Mark Young, berasal dari Inggris, adalah pemegang sabuk hitam karate. Ayahnya adalah mantan anggota pasukan elite Inggris dan bekas anggota MI6, dinas intelijen Inggris.

Sejak Mei 1976, dia mulai menjadi instruktur dan membuka tiga sekolah karate. Tiga tahun kemudian, dia memulai kariernya sebagai pengawal pribadi keluarga kerajaan Arab Saudi. Tugas pertamanya adalah mengawal Pangeran Talal bin Abdul Aziz, ayah dari pemilik Kingdom Holding Company, Pangeran Al-Walid bin Talal, ditahan di Hotel Ritz Carlton di Ibu Kota Riyadh, selama November 2017-akhir Januari 2018.

Pangeran Al-Walid termasuk dalam 201 kaum elite Arab Saudi - meliputi pangeran, pejabat, dan pengusaha kakap - ditangkap atas tudingan korupsi. Penangkapan ini atas perintah Komisi Pemberantasan Korupsi, dibentuk beberapa jam sebelumnya dan diketuai oleh Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young ini bercerita dengan bahasa bertutur sebagai orang pertama mengenai pengalamannya selama menjadi pengawal pribadi keluarga Kerajaan Arab Saudi, termasuk Raja Salman bin Abdul Aziz.

*******

Membeli kalung emas di Al-Khobar

Beberapa jam setelah tiba di Dammam, Pangeran Misyari bin Saud bin Abdul Aziz berbicara dengan saya. "Mark besok kita akan ke Riyadh dan menginap di sana sehari semalam. Kemudian kita akan terbang ke Jeddah untuk tinggal sehari semalam lagi sebelum kembali ke Dhahran. Pastikan segala keperluanmu tidak ada yang ketinggalan," katanya. "Saya sangat senang Yang Mulia."

Dia lantas pergi menuju kediaman utamanya. Sambil memandang ke arah halaman terbuka, saya melihat beberapa orang sedang bermain kartu. Saya menghampiri dan duduk bareng mereka. Selain Majid dan Sultan, mereka sedang bermain kartu adalah Muhammad Ghassim, dan Joha.

Bergamis dan berkafiyeh, saya merasa nyaman dan mirip dengan penampilan salah satu dari mereka. Hari itu seperti sebuah hari nan indah di musim panas di Inggris. Kami duduk di tempat teduh, sedikit adem meski tidak ada angin sepoi-sepoi bertiup. Sinar matahari waktu itu sangat menyenangkan bagi saya. Normalnya, saya selalu menderita kalau musim dingin membekap Inggris.

"Mark kami mau pergi ke Al-Khobar, apakah kamu mau ikut bersama kami?" tanya Muhammad.
"Apakah tidak akan dimarahi oleh Pangeran Misyari kalau saya ikut dengan kalian?" tanya saya.
"Kami akan tanyakan kepada Pangeran Misyari, kalau dia setuju, apakah kamu ingin ikut?"
"Ya, tentu saja. Saya ingin jalan-jalan."

Ketika mereka masih melanjutkan permainan kartu, saya kembali ke kamar untuk tidur sebentar saja. Bang, bang, bang, suara ketukan terdengar keras di pintu kamar saya. Saya langsung bangun dan membuka pintu. Rasanya saya baru sekejap meletakkan kepala di atas bantal.

Sultan dan Muhammad sudah berdiri dengan paras gembira.
"Ayo Mark berkemas, Pangeran Misyari mengizinkan kamu ikut bersama kami. Cepat, kita sudah mau berangkat."
Tunggu sebentar," kata saya.

Saya kemudian ke kamar mandi dan membasuh muka dengan air dingin. Itu trik buat menghilangkan rasa kantuk.

Al-Khobar benar-benar kota menyenangkan. Saya sangat menyukai perhiasan dari sana. Toko-toko emas berkumpul di Lembah Emas, sebuah kawasan di Kota Tua Al-Khobar. Ke arah mana saja saya memandang, selalu tampak sebuah toko emas. Saya kira tidak ada tempat memiliki toko emas terbanyak di dunia selain di Al-Khobar.

Malam itu, penjual dan pembeli sibuk bertransaksi. "Muhammad, kenapa emas-emas dan perhiasan ini tidak benar-benar dijaga secara aman? Kelihatannya gila bagi saya, bagaimana kalau ada orang mencuri emas?"

Sambil mengangkat bahunya, Muhammad menjawab, "tidak masalah, penjual kehilangan kalung emas, pencuri kehilangan tangan mereka."

"Sultan, menurutmu kepana Pangeran Misyari mengundang saya datang ke Arab Saudi?"
"Mark, saya tidak tahu, mungkin dia ingin kamu memahami lebih baik tempat kami berasal dan seperti orang-orang Saudi itu. Tapi ingat, kamu sangat istimewa sehingga dapat menjadi tamunya. Itu sebuah kehormatan, nikmati saja."

"Muhammad, Muhammad, kemarin dan lihat kalung emas saya temukan. Saya ingin membelikan untuk seseorang spesial. Berapa harganya?"
Muhammad lantas berbicara dengan pelaayan toko dan menyebutkan harganya. Jujur saja, itu bukan masalah buat saya.

"Muhammad, saya tidak membawa cukup fulus. Maukah kamu membelikan buat saya?"
Muhammad lantas berbicara dengan semangat kepada pelayan toko. Saya menyaksikan dan menunggu menyelesaikan omelannya, saya merasa kasihan dengan penjaga toko emas itu. Hasilnya saya mendapat potongan harga cukup besar.

Muhammad memang dan sebuah kalung emas indah bisa saya bawa untuk seseorang istimewa ketika saya pulang ke Inggris nanti. Saya tersenyum kepada Muhammad, menepuk punggungnya seraya berterima kasih karena berhasil mendapatkan diskon untuk kalung saya inginkan.

Setelah dua jam berkeliling, Sultan memutuskan kami harus kembali karena kami harus berangkat ke Riyadh besok pagi. Saya merasa senang dengan Pangeran Misyari, keluarga, dan para pegawai mereka. Hanya beberapa bulan berselang, saya akan melihat sisi lain dari Puteri Al-Anud dan cuma menunggu waktu kesuraman bakal menghampiri saya.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Berburu tikus gurun

"Saya harus mengakui kamu sedikit tergesa-gesa saat mau menangkap Jerboa tadi," ujar Pangeran Misyari seraya tertawa.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Menolak ikut makan malam di rumah Pangeran Muhammad bin Fahad

Menahan paspor, melarang memakai telepon ke luar negeri, menyensor surat kabar, majalah dan mengontrol program televisi adalah siasat pemerintah Saudi untuk mengawasi rakyatnya.

Mobil milik Pangeran Walid bin Saud bin Abdul Aziz. (Mark Young/Saudi Bodyguard)

Pelesiran sejenak di Jeddah

Terdapat sejumlah kedutaan besar di Jeddah dan suasananya lebih rileks dibanding kota-kota lain di Arab Saudi.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Faisal dan mimpi perubahan di Arab Saudi

Faisal, pemuda Arab Saudi lulusan dari sebuah universitas di Amerika, bersemangat membahas gagasan-gagasannya untuk perubahan di negaranya, hal tabu waktu itu.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Berburu tikus gurun

"Saya harus mengakui kamu sedikit tergesa-gesa saat mau menangkap Jerboa tadi," ujar Pangeran Misyari seraya tertawa.

05 Oktober 2019
Pelesiran sejenak di Jeddah
07 September 2019

TERSOHOR