buku

Faisal dan mimpi perubahan di Arab Saudi

Faisal, pemuda Arab Saudi lulusan dari sebuah universitas di Amerika, bersemangat membahas gagasan-gagasannya untuk perubahan di negaranya, hal tabu waktu itu.

31 Agustus 2019 20:30

Albalad.co berhasil mendapatkan izin dari penulis buku Saudi Bodyguard, Mark Young, untuk menerjemahkan sekaligus menerbitkan isi bukunya di Albalad.co. Seperti biasa, rubrik buku ini muncul saban Sabtu dan dimulai sejak 11 November 2017.

Albalad.co sejatinya memperoleh salinan buku Saudi Bodyguard dalam bentuk PDF tersebut langsung dari Mark Young, mantan pengawal para pangeran dan puteri di Kerajaan Arab Saudi, pada 1 September 2017. Baru ketika perkembangan dramatis terjadi saat ini di negara Kabah itu, Albalad.co memutuskan melansir terjemahan dari isi buku setebal lebih dari 400 halaman dan diterbitkan pada 2010 itu.

Mark Young, berasal dari Inggris, adalah pemegang sabuk hitam karate. Ayahnya adalah mantan anggota pasukan elite Inggris dan bekas anggota MI6, dinas intelijen Inggris.

Sejak Mei 1976, dia mulai menjadi instruktur dan membuka tiga sekolah karate. Tiga tahun kemudian, dia memulai kariernya sebagai pengawal pribadi keluarga kerajaan Arab Saudi. Tugas pertamanya adalah mengawal Pangeran Talal bin Abdul Aziz, ayah dari pemilik Kingdom Holding Company, Pangeran Al-Walid bin Talal, ditahan di Hotel Ritz Carlton di Ibu Kota Riyadh, selama November 2017-akhir Januari 2018.

Pangeran Al-Walid termasuk dalam 201 kaum elite Arab Saudi - meliputi pangeran, pejabat, dan pengusaha kakap - ditangkap atas tudingan korupsi. Penangkapan ini atas perintah Komisi Pemberantasan Korupsi, dibentuk beberapa jam sebelumnya dan diketuai oleh Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young ini bercerita dengan bahasa bertutur sebagai orang pertama mengenai pengalamannya selama menjadi pengawal pribadi keluarga Kerajaan Arab Saudi, termasuk Raja Salman bin Abdul Aziz.

*******

Faisal dan mimpi perubahan di Arab Saudi

Hal pertama saya perhatikan adalah vila milik Pangeran Muhammad bin Saud bin Abdul Aziz lebih besar ketimbang kepunyaan Pangeran Misyari bin Saud. Setiabnya kami di sana, seorang pelayan membukakan pintu mobil buat Pangeran Misyari. Nabil, sekretaris Pangeran Muhammad, menyambut kami.

Nabil orangnya setinggi 173 sentimeter dan klimis. Saya menduga dia orang Mesir dan waktu membuktikan perkiraan saya itu benar. Gaya bicaranya lembut dan santun.

Ketika kami memasuki lorong dalam rumah, Pangeran Muhammad menyambut adikya itu dengan penuh kasih sayang. Dia mengulurkan tangan menajak saya bersalaman seraya menyampaikan ucapan sselamat datang dengan bahasa Inggris fasih. Saya menjawab dengan enam ata," Saya merasa terhormat, Yang Mulia."

Pangeran Muhammad oragnya ramah tapi memiliki kuasa dan rasa percaya diri. Nabil kemudian mengarahkan kami ke ruang makan benar-benar cantik dan mewah, dihiasi lampu kristal nan indah.

Makan malam itu diseting secara resmi. Di sebelah kiri terdapat serbet dan garpu. Di sisi kanan piring makan, diletakkan sebuah pisau, dua sendok teh, satu sendok sup, dan satu garpu koktail. Agak atas terdapat piring roti dan mentega dengan satu pisau. Di kanannya diletakkan gelas kristal untuk minum. Di sebelahnya terdapat cangkir teh dan piring cawan. Tentu saja tidak ada gelas anggur.

Saat Pangeran Muhammad dan Pangeran Misyari mengobrol, Nabil mengambil kesempatan untuk berbicara dengan saya. Dia memuji Pangeran Muhammad. Dia bilang majikannya itu memiliki kemampuan omong dalam sejumlah bahasa asing secara fasih, termasuk Inggris dan Prancis. Dia bercerita Pangeran Muhammad mempunyai banyak properti di Paris dan Cannes serta tempat lainnya di dunia. Saya memang sudah tertarik dengan pribadi Muhammad.

Saya memperhatikan Pangeran Muhammad bagaimana dia berperilaku, bagaimana dia makan, bagaimana dia berbicara, sikapnya dan cara dia memperlakukan para stafnya. Saya menyimpulkan dia orang baik, beradab, dan perhatian. Tapi sungguh menarik ketika saya mengetahui dia tidak lagi terlibat dalam pemerintahan.

Saya pikir Pangeran Muhammad lebih berkarakter, berkarisma, dan berkepribadian ketimbang anggota parlemen Inggris Jinathan Aitken. Saya merasa mampu membandingkan keduanya karena saya sudah berkali-kali bertemu Aitken selama beberapa tahun.

Saya pikir pemerintah Saudi sudah membuang orang berkualitas seperti Pangeran Muhammad. Padahal dia bisa memberikan lebih untuk negaranya. Saya langsung gteringat dengan praktek nepotisme di masa Raja Fahad bin Abdul Aziz. Semua anaknya diberi posisi berpengaruh dalam pemerintahan.

Saya merasa banyak pangeran Saudi lainnya lebih mampu mengisi jabatan-jabatan dipegang oleh putra-putra dari Raja Fahad. Tapi Raja Fahad bukan satu-satunya orang menerapkan nepotisme. Praktek semacam ini sudah lumrah dalam keluarga Bani Saud.

Sehabis makan siang, kami pamit. Pangeran Misyari kembali menyetir sendiri mobilnya. Dalam perjalanan, dia mengatakan akan pelsiran sebentar. "Mark, kita akan mampir sebentar di istana Putera Mahota Abdullah bin Abdul Aziz," katanya. Ya, Tuan," jawab saya.

Saya menyukai pengalaman baru selama tidak bermalam di gurun di mana saya menjadi perhatian ribuan orang Arab Badui. Kami tiba di halaman istana dan diberitahu Pangeranb Abdullah akan datang beberapa menit lagi.

Dalam satu atau dua menit kemudian, suara sirene meraung-raung menunjukkan konvoi Putera Mahkota Pangeran Abdullah bin Abdul Aziz sudah tiba. Istana langsung ramai dengan tentara Garda Nasional, Garda Kerajaan. Pangeran Abdullah adalah komandan Garda Nasional. Dia dikenal tegas dan galak. Barangkali lantaran dia bukan termasuk Tujuh Sudairi.

Tujuh Sudairi adalah tujuh putra dari pendiri Arab Saudi, Raja Abdul Aziz dengan istri kesayangannya, Hussa Sudairi. Ketujuh anak lelakinya itu selalu mendapat posisi penting.

Tiba kembali di vila Pangeran Misyari, dia mengubah rencana. Kami akan terbang malam menuju Jeddah, tidak menginap di Riyadh. Saya lebih baik tidak menanyakan kenapa Pangeran Misyari mengubah agendanya. Para pangeran Arab Saudi memang sudah biasa mengubah-ubah jadwal. Saya tidak pernah tahu apa sedang terjadi dan apa akan terjadi.

Saya menjalani kehidupan dalam keadaan tetap siaga atau bosan. Saya tidak bisa merencanakan kapan untuk mandi, menggunakan telepon, atau bahkan kapan harus pergi ke toilet. Kadang saya duduk berjam-jam tanpa melakukan apapun. Atau kadang ketika saya tengah buang hajat, tiba-tiba pintu kamar mandi diketuk dan saya harus segera siap karena dipanggil.

Saya tadinya ingin mengetahui seluk beluk Riyadh tapi kesempatan itu lenyap. Melihat saya kecewa, Sultan berusaha menghibur saya. Dia bilang bakal mengajak saya ke lapangan untuk melihat kepala orang dipenggal.

Selama penerbangan ke Jeddah, Pangeran Misyari mengajak saya ke ruang kokpit. Saya sudah ering menerbangkan beragam pesawat. Bahkan saya pernah menerbangkan helikopter sendirian. Jadi berada di dalam kokpit pesawat tidak menarik bagi saya.

Mendekati bandar udara di Jeddah, saya melihat kota itu bermandikan cahaya. Langit bersih dan terang saat kami hendak mendekati landasan. Tidak ada seorang pun meminta saya atau Pangeran Misyari untuk kembali ke tempat duduk.

Ketika pikiran itu terlintas, Pangeran Misyari berkata, "Mark, saya kira kita harus kembali ke tempat duduk kita sekarang." Saya yakin saya barusan mendengar tanda dari kapten agar kami kembali ke tempat duduk. Ketika kami duduk, Pangeran Misyari bertanya, "Mark, apakah kamu pernah bertemu saudara lelaki dari Puteri Al-Anud?"

"Saudara lelakinya yang mana Yang Mulia?" jawab saya.
"Pangeran Khalid bin Fahad."
"Ya Tuan, saya pernah mengantar dia sekali di London," ujar saya.
"Apakah kamu ingat John, lelaki Hungaria, di London?"
"Ya, saya ingat. Dia pernah bekerja untuk Pangeran Khalid di London. Dia pernah tidak bisa menangani Pangeran Khalid dan kemudian saya menggantikan dirinya. Tapi di hari terakhir, John datang dan memberitahu berapa harga mesti dibayar oleh Pangeran Khalid. Tarif mereka kenakan terhadap Pangeran Khalid sangat mahal dan saya merasa tidak nyaman untuk menagih."

Oh, begitu," kata Pangeran Misyari. Baiklah, Mark, mungkin kamu suka mendengarnya, kita akan menginap di vila Pangeran Khalid malam ini."

Saya membayangkan resepsi seperti apa akan saya terima. Barangkali dia akan mengenakan tarif kepada saya untuk menginap semalam di vilanya.

Keluar dari pesawat, saya membawakan koper Pangeran Misyari. Para pejabat setia mengawal kami takut-takut ada yang dibutuhkan oleh sang pangeran. Ketika kami sudah dekat dengan Mercedes, saya membayangkan apakah kami akan datang ke sana.

Tidak ada yang sitimewa mengenai vila kepunyaan Pangeran Khalid. Sebagai pangeran tidak berpengaruh, dia hidup hemat di vila sederhana. Bertlak belakang dengan para pangeran berpengaruh, hidup dalam istana supermewah senilai jutaan pound sterling. Meski begitu, vila milik Pangeran Khalid memiliki perabotan bagus, bersih, dan nyaman.

Setelah memasuki vila, kedua pangeran berjabat tangan dan berpelukan. Sehabis formalitas itu ramoung, saya menyampaikan permohonan maaf kepada Pangeran Khalid lantaran telah mengenakan tarif kelewat mahal saat dia berada di London. Saya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan dia menerima permohonan maaf saya.

Pelayannya bernama Saleh memberitahu ruangan tempat saya akan tidur. Koper saya sudah dimasukkan ke dalam kamar. Saya membuka koper dan mengambil bafrang-barang diperlukan, lalu bergegas mandi. Saya kemudian mengenakan gamis dan igal lalntas melangkah ke ruang tamu.

beberapa tamu sudah muncul. Salah satunya adalah lelaki tua duduk di hadapan saya. Dia kemudia menghampiri dan mencium hidung saya seraya berkata berulang kali, "Towil umrak (semoga panjang umur)."

Kalimat ini kerap saya dengar saban kali orang Arab Saudi bertemu para pangeran. Saya memandang ke arah para pangeran dan tetamu sudah berkumpul, saya merasa terganggu. Bukan semua orang tamu pria tua itu. Saya kira mereka tengah mengolok-olok lelaki itu. Akhirnya saya tahu lelaki tua sudah rabun penglihatannya sudah salah mengira saya seorang pangeran, sehingga merasa terhormat bisa menyambut saya dengan cara biasanya.

Malam itu, saya berbicara banyak dengan seorang pemuda Saudi bernama Faisal. Dia bukan anggota keluarga kerajaan. Tingginya 188 sentimeter, bertubuh ramping dengan jenggot hitam lebat. Faisal sangat bersemangat menceritakan mengenai negaranya dan memiliki banyak gagasan bagaimana perubahan seharusnya dilakukan.

Di negara seperti Arab Saudi, saya membayangkan kalau berbicara tentang perubahan maka dia bisa menghadapi masalah. Saya sadar pemikirannya mencerahkan dan ke arah masa depan. Saya mengenal beberapa orang seperti Faisal dan berakhir di penjara. Selama mendekam, mereka disiksa dan dicambuk. Mereka dianggap sebagai pembangkang.

Saya pikir Faisal lebih baik diam. Dia termasuk warga Saudi berpendidikan dan ambisius tapi berada di jalan entah ke arah mana. Berjam-jam berbincang dengan Faisal, saya merasa nyambung.

Ketika semua tamu sudah pulang, Pangeran Misyari berbicara kepada saya. "Mark, saya lihat kamu asyik mengobrol dengan Faisal. Apa yang kalian bicarakan sehingga perbincangan itu kelihatan menarik?"

Pertanyaan itu begitu dalam. Dari nada suaranya, saya mendeteksi dia merasa terganggu. Hal itu membikin dia marah jika saya nyambung berbicara dengan orang lain. Saya menjawab secara diplomatis, "Yang Mulia, saya lihat Anda juga asyik berbincang. Saya tidak menyela atau terlibat dalam pembicaraan Anda. Sehingga saya mengobrol dengan orang duduk paling dekat dengan saya. Kalau saya tidak sengaja melecehkan Anda, saya minta maaf."

"Bukan Mark, saya cuma ingin tahu apa yang membuat kamu begitu tertarik berbicara dengan Faisal."
"Kami membahas waktu dia kuliah di sebuah universitas di Amerika Serikat dan kesulitan-kesulitan dia hadapi dengan silabus mata kuliahnya."

Pangeran Misyari tidak lagi melanjutkan pertanyaannya. Saya tahu dia tidak senang ketika saya pergi menuju kamar tidur saya. Saya sadar Arab Saudi mengontrol warga negaranya. Pangeran Khalid pernah memutus pembicaraan saya dengan pacarnya di London. Setelah kejadian itu, saya merasa diawasi. Salah bicara di saat tidak tepat, akibatnya bisa fatal.

Sehabis mandi, saya dua kali menelepon ke Inggris. Setelah selesai, ssaya naik ke tempat tidur dan langsung terlelap setelah kepala saya menyentuh bantal.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Makan malam dengan daging bayi unta

Saya sangat mengetahui beberapa pangeran Saudi terlibat pembunuhan tapi tidak dipancung. Jadi Saudi sudah bertindak tidak adil.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Berburu tikus gurun

"Saya harus mengakui kamu sedikit tergesa-gesa saat mau menangkap Jerboa tadi," ujar Pangeran Misyari seraya tertawa.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Menolak ikut makan malam di rumah Pangeran Muhammad bin Fahad

Menahan paspor, melarang memakai telepon ke luar negeri, menyensor surat kabar, majalah dan mengontrol program televisi adalah siasat pemerintah Saudi untuk mengawasi rakyatnya.

Mobil milik Pangeran Walid bin Saud bin Abdul Aziz. (Mark Young/Saudi Bodyguard)

Pelesiran sejenak di Jeddah

Terdapat sejumlah kedutaan besar di Jeddah dan suasananya lebih rileks dibanding kota-kota lain di Arab Saudi.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Makan malam dengan daging bayi unta

Saya sangat mengetahui beberapa pangeran Saudi terlibat pembunuhan tapi tidak dipancung. Jadi Saudi sudah bertindak tidak adil.

26 Oktober 2019
Berburu tikus gurun
05 Oktober 2019
Pelesiran sejenak di Jeddah
07 September 2019

TERSOHOR