buku

Menolak ikut makan malam di rumah Pangeran Muhammad bin Fahad

Menahan paspor, melarang memakai telepon ke luar negeri, menyensor surat kabar, majalah dan mengontrol program televisi adalah siasat pemerintah Saudi untuk mengawasi rakyatnya.

14 September 2019 17:05

Albalad.co berhasil mendapatkan izin dari penulis buku Saudi Bodyguard, Mark Young, untuk menerjemahkan sekaligus menerbitkan isi bukunya di Albalad.co. Seperti biasa, rubrik buku ini muncul saban Sabtu dan dimulai sejak 11 November 2017.

Albalad.co sejatinya memperoleh salinan buku Saudi Bodyguard dalam bentuk PDF tersebut langsung dari Mark Young, mantan pengawal para pangeran dan puteri di Kerajaan Arab Saudi, pada 1 September 2017. Baru ketika perkembangan dramatis terjadi saat ini di negara Kabah itu, Albalad.co memutuskan melansir terjemahan dari isi buku setebal lebih dari 400 halaman dan diterbitkan pada 2010 itu.

Mark Young, berasal dari Inggris, adalah pemegang sabuk hitam karate. Ayahnya adalah mantan anggota pasukan elite Inggris dan bekas anggota MI6, dinas intelijen Inggris.

Sejak Mei 1976, dia mulai menjadi instruktur dan membuka tiga sekolah karate. Tiga tahun kemudian, dia memulai kariernya sebagai pengawal pribadi keluarga kerajaan Arab Saudi. Tugas pertamanya adalah mengawal Pangeran Talal bin Abdul Aziz, ayah dari pemilik Kingdom Holding Company, Pangeran Al-Walid bin Talal, ditahan di Hotel Ritz Carlton di Ibu Kota Riyadh, selama November 2017-akhir Januari 2018.

Pangeran Al-Walid termasuk dalam 201 kaum elite Arab Saudi - meliputi pangeran, pejabat, dan pengusaha kakap - ditangkap atas tudingan korupsi. Penangkapan ini atas perintah Komisi Pemberantasan Korupsi, dibentuk beberapa jam sebelumnya dan diketuai oleh Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young ini bercerita dengan bahasa bertutur sebagai orang pertama mengenai pengalamannya selama menjadi pengawal pribadi keluarga Kerajaan Arab Saudi, termasuk Raja Salman bin Abdul Aziz.

*******

Menolak ikut makan malam di rumah Pangeran Muhammad bin Fahad

Ketika menjadi tamu Pangeran Misyari bin Saud bin Abdul Aziz, saya mengalami sebuah fenomena baru. Dari menjadi pengawal, sekarang saya naik tingkat menjadi orang dilindungi. Kali ini saja saya merasakan menjadi orang selalu dikawal.

Ada sebuah hubungan sejati antara Pangeran Misyari dan saya. Dia menyebut saya sudah seperti anggota keluarganya. Saya tidak mengerti apa artinya itu. Yang saya paham kalau dia sudah marah tidak ada bedanya.

Setiba di Dhahran pada 13 Februari 1985, kami kemudian menuju istana milik Pangeran Misyari. Saya tidak tahu kenapa menyebut bangunan itu sebuah istana. Kenyataannya, dia menyewa dua rumah besar, satu untuk lelaki dan satunya lagi buat perempuan. Pemisahan berdasarkan jenis kelamin itu berlaku di Arab Saudi sampai sekarang.
\
Malamnya, Pangeran Misyari meminta saya menemani dia makan malam di kediaman Pangeran Muhammad bin Fahad bin Abdul Aziz. Tentu saja saya kenal siapa Pangeran Muhammad karena saya kerap bekerja untuk dia di London. Dia adalah pangeran pernah memukuli seorang gadis muda.

Karena tahu kelakuan buruknya, saya tidak mau menemani Pangeran Misyari makan malam di rumah Pangeran Muhammad. Saya pernah mendengar selentingan betapa liarnya kalau Pangeran Muhammad membikin pesta dan saya tidak mau terlibat dalam pesta itu.

Saya tentu tidak dapat memberitahu Pangeran Misyari soal kecemasan saya. Akhirnya saya mengarang cerita tentang burung merak dan banteng dengan harapan Pangeran Misyari membiarkan saya tidak ikut. Harapan saya terkabul.

Setelah Pangeran Misyari keluar rumah, saya langsung ke kamar. Saya mengangkat telepon dan meminta operator menyambungkan ke rumah saya. "Maaf saya tidak dapat memenuhi permintaan Anda," katanya. "Pangeran Misyari telah memberi perintah untuk tidak mengizinkan siapa saja menelepon ke negara lain."

Saya memohon sekali lagi tapi operator itu tetap menolak. Ini membuat saya marah. Saya memutuskan akan memprotes hal itu kalau Pangeran Misyari sudah pulang.

Lalu saya ingat ketika saya sampai di Arab Saudi, Pangeran Misyari meminta paspor saya tapi saya menolak. Dia bilang, "Orang datang ke Arab Saudi harus menyerahkan paspor mereka kepada sponsor mereka."

Saya menjawab, "Saya akan pegang sendiri paspor saya jika Anda tidak keberatan."
"Baiklah tapi ingat kamu memerlukan visa keluar untuk meninggalkan negara ini."

Saya merasakan nada sinis dalam komentarnya dan saya membalas. "Yang Mulia, bila saya ingin pergi dari Arab Saudi, saya bakal melakukan itu dengan atau tanpa visa keluar. Saya pulang berjalan kaki kalau perlu," ujar saya naif.

Menahan paspor, melarang memakai telepon ke luar negeri, menyensor surat kabar, majalah dan mengontrol program televisi adalah siasat pemerintah Saudi untuk mengawasi rakyatnya. Sekarang saya juga menjadi sasaran untuk dikontrol dan saya tidak suka itu.

Pangeran Misyari pulang tengah malam. Ketika Mercedesnya berhenti, saya membukakan pintu. Saya menyambut saat dia keluar dari mobil dan bertanya, "Bagaimana makan malamnya Yang Mulia? Apakah berjalan baik?"

"Ya, segalanya berlangsung bagus, bagaimana dengan kamu?" dia bertanya.
"Tidak begiu baik Tuan."
"Kenapa?"
"Karena saya ingin menelepon ke Inggris dan Anda memblokir semua panggilan internasional."
Larangan itu tidak berlaku bagi kamu," jawab Pangeran Misyari.
"Sebaiknya Tuan mengatakan itu kepada operator. Kalau saya tidak dapat menelepon ke rumah saya di Inggris, saya akan mempersingkat kunjungan saya dan pulang."

Pangeran Misyari menerima protes saya. "Jangan khawatir Mark, saya akan membereskan kesalahpahaman ini besok pagi. Sekarang saya mau mengucapkan selamat malam."
"Selamat malam Tuan."

Saat berjalan memasuki rumah, saya membayangkan apakah hal itu benar sebuah kesalahpahaman atau Pangeran Misyari sengaja lantaran saya tidak mau ikut dengan dia makan malam di rumah Pangeran Muhammad. Besok paginya, saya dibolehkan menelepon ke Inggris.

 

 

 

 

Mobil milik Pangeran Walid bin Saud bin Abdul Aziz. (Mark Young/Saudi Bodyguard)

Pelesiran sejenak di Jeddah

Terdapat sejumlah kedutaan besar di Jeddah dan suasananya lebih rileks dibanding kota-kota lain di Arab Saudi.

Mark Young bersama Pangeran Misyari bin Saud bin Abdul Aziz dan istrinya, Puteri Al-Anud binti Fahad. (Mark Young/Saudi Bodyguard)

Teringat Puteri Al-Anud telanjang

Seraya tersenyum, saya teringat Puteri Al-Anud dan teman-temannya dalam keadaan telanjang, tapi di negara asalnya, dia tersembunyi di balik pagar tembok dan abaya dan jilbab serba hitam. Puteri Al-Anud benar-benar cantik dan tubuhnya sangat seksi.

Pangeran Misyari bin Saud bin Abdul Aziz bersama putranya, Pangeran Turki, di resor ski Megeve, Prancis. (Mark Young/Saudi Bodyguard)

Makan siang bareng Pangeran Misyari

Pangeran Salman langsung menjatuhkan kartu dan berdiri untuk menyambut penguasa Arab datang tidak disangka. Ketika Jack mendekat, mereka sadar ternyata yang datang orang Inggris.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Terbang ke Arab Saudi atas undangan Pangeran Misyari bin Saud

Saya sekarang menyaksikan Pangeran Misyari dalam situasi berbeda. Sebelumnya, saya melihat dia sekadar sebagai playboy, penjudi, kini saya menyaksikan dirinya benar-benar dalam peran berbeda.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Berburu tikus gurun

"Saya harus mengakui kamu sedikit tergesa-gesa saat mau menangkap Jerboa tadi," ujar Pangeran Misyari seraya tertawa.

05 Oktober 2019

TERSOHOR