buku

Berburu tikus gurun

"Saya harus mengakui kamu sedikit tergesa-gesa saat mau menangkap Jerboa tadi," ujar Pangeran Misyari seraya tertawa.

05 Oktober 2019 23:55

Albalad.co berhasil mendapatkan izin dari penulis buku Saudi Bodyguard, Mark Young, untuk menerjemahkan sekaligus menerbitkan isi bukunya di Albalad.co. Seperti biasa, rubrik buku ini muncul saban Sabtu dan dimulai sejak 11 November 2017.

Albalad.co sejatinya memperoleh salinan buku Saudi Bodyguard dalam bentuk PDF tersebut langsung dari Mark Young, mantan pengawal para pangeran dan puteri di Kerajaan Arab Saudi, pada 1 September 2017. Baru ketika perkembangan dramatis terjadi saat ini di negara Kabah itu, Albalad.co memutuskan melansir terjemahan dari isi buku setebal lebih dari 400 halaman dan diterbitkan pada 2010 itu.

Mark Young, berasal dari Inggris, adalah pemegang sabuk hitam karate. Ayahnya adalah mantan anggota pasukan elite Inggris dan bekas anggota MI6, dinas intelijen Inggris.

Sejak Mei 1976, dia mulai menjadi instruktur dan membuka tiga sekolah karate. Tiga tahun kemudian, dia memulai kariernya sebagai pengawal pribadi keluarga kerajaan Arab Saudi. Tugas pertamanya adalah mengawal Pangeran Talal bin Abdul Aziz, ayah dari pemilik Kingdom Holding Company, Pangeran Al-Walid bin Talal, ditahan di Hotel Ritz Carlton di Ibu Kota Riyadh, selama November 2017-akhir Januari 2018.

Pangeran Al-Walid termasuk dalam 201 kaum elite Arab Saudi - meliputi pangeran, pejabat, dan pengusaha kakap - ditangkap atas tudingan korupsi. Penangkapan ini atas perintah Komisi Pemberantasan Korupsi, dibentuk beberapa jam sebelumnya dan diketuai oleh Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young ini bercerita dengan bahasa bertutur sebagai orang pertama mengenai pengalamannya selama menjadi pengawal pribadi keluarga Kerajaan Arab Saudi, termasuk Raja Salman bin Abdul Aziz.

*******

Berburu tikus gurun

Anggapan saya terhadap Pangeran Misyari bin Saud bin Abdul Aziz berubah selama saya berada di Arab Saudi. Melihat posisinya dalam pemerintahan dan menyaksikan kekuasaannya membikin saya terkejut.

Kami kembali ke gurun dan saya membayangkan apakah saya mampu tinggal di sana. Saat kami melewati daerah gurun dekat perbatasan Kuwait, saya melihat ratusan pohon kurma, berjejer sepanjang 800 meter.

Kami kemudian memasuki tempat kemah di mana beberapa tentara Garda Nasional dan Arab Badui sudah mengelilingi kami. Mereka menyambut kedatangan Pangeran Misyari, sedangkan saya keluar dari kerumunan berdiri di satu pojokan.

Pangeran Misyari mengisyaratkan kepada Muhammad untuk megurus saya. Dia lalu mengajak saya ke seberang tenda pernah saya pakai. Ketika kami sudah dekat dengan tenda pernah digunakan Pangeran Misyari, Muhammad bilang, "Mark, kamu akan tidur di sini. Pangeran Misyari bakal tidur di trailernya."

Muhammad lantas pergi dan saya segera masuk ke dalam tenda itu. Terdapat sebuah kasur berukuran besar di lantai, dilapisi seprei putih dan beberapa selimut. Ke arah belakang tenda ada sebuah lemari es dan berisi penuh makanan serta minuman. Ada pintu kanvas lain dalam tenda itu. Setelah saya buka ternyata kamar mandi dilengkapi air pancuran panas dan dingin, serta jamban.

Saya keluar mencari Pangeran Misyari untuk berterima kasih atas kenyamanan dia berikan. Melewati bagian belakang tenda, saya melihat sebuah generator dan sebuah pompa air berukuran besar untuk melayani tenda saya. Mobil-mobil Garda Nasional berwarna abu-abu berkumpul di sekeliling perkemahan.

Beberapa api unggun dinyalakan di luar tenda Arab Badui. Mereka duduk mengelilingi api unggun sambil minum teh mint atau kopi Arab. Minum teh kedengarannya ide bagus, tapi saya harus menemui Pangeran Misyari dulu buat berterima kasih.

"Muhammad, Muhammad," panggil saya kepada Muhammad tengah berbincang dengan dua lelaki.
"Ya Mark, apa yang kau inginkan?'
Maaf mengganggumu, tapi saya perlu berbicara dengan Pangeran Misyari. Apakah kamu tahu di mana dia?"
"Saya akan mengantarmu," kata Muhammad seraya berjalan ke arah tuga truk trailer berukuran besar.

Ketiga truk trailer itu juga bercat abu-abu. Saya pikir ini pusat komando atau semacamnya. Kami berdua kemudian berhenti di bawah anak tangga menuju ke sebuah pintu di salah satu truk trailer.
"Kamu bakal menemukan Pangeran Misyari di dalam."
"Terima kasih Muhammad. Saya akan segera menemuimu dan kita bisa mengobrol sambil minum teh. Apakah kamu setuju?"
"Ya Mark, itu gagasan bagus."

Saya lalu naik menapakai anak tangga ke arah pintu. Saya lantas mengetuk pintu dan mendengar Pangeran Misyari menjawab," Silakan masuk."

Seraya membuka pintu dan melihat ke dalam, kesejukan udara langsung membekap saya. Sofa-sofa berukuran besar dan mewah tertata rapi di atas karpet khas Arab. Lampu kristan tergantung di atasnya. Meja-meja kopi dicat hitam diletakkan di sebelah sofa. Di meja-meja kecil saya melihat lampu-lampu berwwarna emas dengan bola lampu kristal.

Dekorasi dalam truk trailer itu lebih eksklusif ketimbang hotel-hotel bintang lima pernah saya inapi di seluruh dunia. Pangeran Misyari tengah duduk di atas kursi berlengan menghadap ke pintu.

"Halo Mark, masuklah, dan silakan duduk," katanya.
"Saya menyukai tinggal di gurun," ujarnya seraya menyuruh seorang pelayan menyediakan teh rasa mint buat kami berdua. Dua mobil trailer lainnya disulap bak istana bagi Pangeran Al-Anud dan anak-anak mereka, Turki dan Hala.

Saya meraa lebih senang dengan tenda menjadi jatah saya. Bahkan saya merasakan romantisme berkemping di tengah gurun. Saya lantas kembali ke tenda saya. Setelah masuk ke dalam tenda, saya melepas kafiyah, lalu mengunci pintu tenda.

Tneda saya tempati seluas sekitar 23 meter persegi. Lantainya dilapisi tumpukan karpet berwarna marun tua. Saya lalu merebahkan diri di atas kasur. Tenda ini bercoran garis kuning dan merah tua.

Saya baru terbangun ketika mendengar suara tembakan. Saya bergegas keluar tenda untuk melihat apa yang terjadi. Sandal dan kafiyah saya ketinggalan. Saya kemudian melihat Pangeran Misyari dan abangnya, Pangeran Badr. Pangeran Badr memegang pintol Colt 45 berwarna perak dan tangannya satu lagi memegang seekor burung berukuran besar. "Saya mendengar suara tembakan beberapa kali dan bertanya-tanya apa yang terjadi," ujar saya.

Sehabis dikenalkan dengan Pangeran Badr, kami lalu berjalan menunu Mercedes milik Pangeran Misyari. Majid datang dan membukakan kunci pintu mobil. Pangeran Misyari lalu memandang ke dalam. Saya menarik napas saat mengambil stok senjata otomatis dan semiotomatis. "Malam ini Mark, kita akan berburu," kata Pangeran Misyari.

Berburu! berburu! kata saya dalam hari seraya menertawakan diri saya lantaran membayangkan bakal menghujani ribuan peluru ke arah beberapa hewan tidak berdaya. Bakal terjadi pembantaian, pikir saya. "Apa yang akan kita buru, Yang Mulia,?" tanya saya.

"Jerboa Mark, kita akan berburu Jerboa."
Lutut saya gemetaran. "Maaf Yang Mulia, bukankah berlebihan memburu tikus0tikus gurun memakai senapan mesin?" tanya saya.
"Mark, kamu idiot. Saya tidak bermaksud kita akan berburu Jerboa memakai senapan mesin ini," ujar Pangeran Misyari seraya tertawa.

Sambil menyantap menu makan siang berupa nasi kabsah, saya bertanya kepada Muhammad bagaimana cara berburu Jerboa. "Mark, kita tunggu sampai malam. Kita menggunakan beberapa mobil dengan menyalakan lampu dekat. Ketika sudah menemukan satu Jerboa, kita menyalakan lampu jauh. Ini sebagai sinyal kepada yang lain, kita sudah mendapat satu Jerboa. Lalu orang-orang berusaha menangkap Jerboa itu dengan tangan dan menyayat lehernya, merupakan cara menyembelih halal. Setelah sampai di kemah, kita bakar, kemudian kita makan."

Setelah berterima kasih Muhammad atas penjelasan soal siasat berburu Jerboa, saya kembali ke tenda. Saat matahari terbena, adrenalin saya mulai naik. Membayangkan begitu asyiknya berburu Jerboa.

Tidak lama berselang, Pangeran Misyari naik dan duduk di kursi pengemudi sebuah jip berukuran besar. Pamannya, Sultan, duduk di sebelahnya. Saya duduk di belakang Pangeran Misyari dan Muhammad di samping saya.

Ketika semua orang sudah masuk ke dalam mobil jip masing-masing, Pangeran Misyari mulai menyalakan mesin mobilnya. Beberapa menit kemudian, sudah kelihatan satu Jerboa. Lampu jauh lalu menerangi sekeliling area di mana Jerboa terlihat. Saya memutuskan mengamati dulu cara menangkap Jerboa, jadi saya tahu bagaimana taktiknya. Setelah mempelajari siasatnya, saya merasa yakin dapat menangkap Jerboa.

Sekarang giliran saya menangkap Jerboa. Buruan itu pun terlihat lagi. Jantung saya berdegup kencang, adrenalin saya naik, dan keringat bercucuran di kening saya ketika jip dikendarai Pangeran Misyari mendekati Jerboa mesti saya tangkap. Saya menarik gagang pintu dan saat itulah Pangeran Misyari membelokkan jipnya dengan tajam sehingga saya terjungkal keluar.

Wajah saya jatuh menghunjam pasir dan kafuyah saya terlepas. Setengah sadar, saya akhirnya mengetahui saya gagal menangkap Jerboa menjadi giliran saya. Saya benar-benar dipermalukan. Apalagi wajah-wajah Arab itu tampak menertawakan saya. "Orang Inggris gila," kata seorang Arab Badui kepada saya.

Dengan sedikit pertolongan dari beberapa teman, saya kembali naik ke jip. Sekitar sejam kemudian, kami kembali ke kemah. Turun dari jip, kami menuju api unggun sudah disiapkan. Teh rasa mint nan manis sudah disajikan.

Saya duduk di sebelah kanan Pangeran Misyari. Beberapa Jerboa lalu dilempar ke dalam api unggun. Pangeran Misyari dan saya sama-sama memakan Jerboa itu. Dua jam berselang, Pangeran Misyari berdiri. Kami mengikuti saat Pangeran Misyari mengucapkan selamat malam. Pangeran Misyari lalu memberi isyarat suapaya saya mengikuti dia.

"Mark, apakah kamu menikmati perburuan malam ini?"
Ya Yang Mulia. Kecuali ketika saya terjatuh dari jip," jawab saya.
"Saya harus mengakui kamu sedikit tergesa-gesa saat mau menangkap Jerboa tadi," ujar Pangeran Misyari seraya tertawa.

Setelah mengucapkan selamat malam, saya kembali ke tenda. Di dalam saya langsung membuka pintu kulkas dan mengambil beberapa es krim. Sehabis menghabiskan es krim, saya naik ke kasur. Malam ini begitu dingin. Beruntung saya dikasih jubah tebal milik seorang syekh. Jubah itu saya taruh di atas selimut agar bertambah hangat. Pikiran saya melayang-ayang hingga akhirnya saya tidur lelap.





Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Menolak ikut makan malam di rumah Pangeran Muhammad bin Fahad

Menahan paspor, melarang memakai telepon ke luar negeri, menyensor surat kabar, majalah dan mengontrol program televisi adalah siasat pemerintah Saudi untuk mengawasi rakyatnya.

Mobil milik Pangeran Walid bin Saud bin Abdul Aziz. (Mark Young/Saudi Bodyguard)

Pelesiran sejenak di Jeddah

Terdapat sejumlah kedutaan besar di Jeddah dan suasananya lebih rileks dibanding kota-kota lain di Arab Saudi.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Faisal dan mimpi perubahan di Arab Saudi

Faisal, pemuda Arab Saudi lulusan dari sebuah universitas di Amerika, bersemangat membahas gagasan-gagasannya untuk perubahan di negaranya, hal tabu waktu itu.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Mengunjungi kompleks istana Raja Saud

Selepas kedua gerbang itu terdapat halaman seluas 2,6 kilometer persegi.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Menolak ikut makan malam di rumah Pangeran Muhammad bin Fahad

Menahan paspor, melarang memakai telepon ke luar negeri, menyensor surat kabar, majalah dan mengontrol program televisi adalah siasat pemerintah Saudi untuk mengawasi rakyatnya.

14 September 2019
Pelesiran sejenak di Jeddah
07 September 2019

TERSOHOR