buku

Korupnya anak Raja Fahad

Koran-koran Inggris menulis anggota parlemen Jonathan Aitken sebagai pemasok pelacur bagi para pangeran Saudi.

04 Juli 2020 21:42

Albalad.co berhasil mendapatkan izin dari penulis buku Saudi Bodyguard, Mark Young, untuk menerjemahkan sekaligus menerbitkan isi bukunya di Albalad.co. Seperti biasa, rubrik buku ini muncul saban Sabtu dan dimulai sejak 11 November 2017.

Albalad.co sejatinya memperoleh salinan buku Saudi Bodyguard dalam bentuk PDF tersebut langsung dari Mark Young, mantan pengawal para pangeran dan puteri di Kerajaan Arab Saudi, pada 1 September 2017. Baru ketika perkembangan dramatis terjadi saat ini di negara Kabah itu, Albalad.co memutuskan melansir terjemahan dari isi buku setebal lebih dari 400 halaman dan diterbitkan pada 2010 itu.

Mark Young, berasal dari Inggris, adalah pemegang sabuk hitam karate. Ayahnya adalah mantan anggota pasukan elite Inggris dan bekas anggota MI6, dinas intelijen Inggris.

Sejak Mei 1976, dia mulai menjadi instruktur dan membuka tiga sekolah karate. Tiga tahun kemudian, dia memulai kariernya sebagai pengawal pribadi keluarga kerajaan Arab Saudi. Tugas pertamanya adalah mengawal Pangeran Talal bin Abdul Aziz, ayah dari pemilik Kingdom Holding Company, Pangeran Al-Walid bin Talal, ditahan di Hotel Ritz Carlton di Ibu Kota Riyadh, selama November 2017-akhir Januari 2018.

Pangeran Al-Walid termasuk dalam 201 kaum elite Arab Saudi - meliputi pangeran, pejabat, dan pengusaha kakap - ditangkap atas tudingan korupsi. Penangkapan ini atas perintah Komisi Pemberantasan Korupsi, dibentuk beberapa jam sebelumnya dan diketuai oleh Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young ini bercerita dengan bahasa bertutur sebagai orang pertama mengenai pengalamannya selama menjadi pengawal pribadi keluarga Kerajaan Arab Saudi, termasuk Raja Salman bin Abdul Aziz.

*******

Korupnya anak Raja Fahad

Hanya enam hari setelah Pangeran Fawaz bin Abdul Aziz kembali ke Arab Saudi, kantor menelepon saya lagi. Bill bilang Pangeran Saud bin Nayif, putra dari Menteri Dalam Negeri Arab Saudi Pangeran Nayif bin Abdul Aziz, akan datang ke Inggris.

Saya senang sekarang sudah mulai banyak pekerjaan. Rekening bank saya kini lebih sehat, terutama setelah mendapatkan suntikan uang tunai dari Pangeran Misyari bin Saud bin Abdul Aziz.

Pangeran Saud biasanya berkunjung ke Inggris menemani abang iparnya, Pangeran Muhammad bin Fahad bin Abdul Aziz. Saya tidak pernah melihat keduanya berpisah. Saya heran kenapa saat ini Pangeran Saud datang sendirian.

Pangeran Saud tinggal Cleve Lodge, permukiman elite di Hyde Park Gate, jantung Ibu Kota London. Rumah sangat indah dan menempati lahan luas ini dilengkapi beberapa lapangan tenis namun saya tidak pernah melihat Pangeran Saud atau Pangeran Muhammad bermain tenis. Pangeran Saud menyewa tempat tinggal ini seharga tujuh juta pound sterling untuk tujuh tahun.

Terdapat empat penjaga pada siang dan empat orang waktu malam bertugas di kediaman Pangeran Saud. Jose, kepala pelayan lelaki, dan istrinya, Maria merupakan pengurus rumah tangga, tinggal di sebuah paviliun di sebelah bangunan induk. Keduanya orang Portugis. Mereka mengurus keperluan semua orang, ramah, dan terhormat.

Peter, Tony, Brummie, dan saya kebagian jatah jaga malam. Peter sangat doyan perempuan dan suka berselingkuh. Dia berasal dari timur London dan lajang sangat percaya diri. Sedangkan Tony sebaliknya. Dia pendiam, sopan, dan profesional. Tony berdarah campuran dan sangat fasih berbahasa Spanyol. Saya belum mengenai Brummie dan tidak mengetahui dari mana kantor menemukan dia.

Ketika sedang jaga malam, kami mendengar Pangeran Muhammad bin Fahad bertengkar dengan Pangeran Fahad bin Salman bin Abdul Aziz (putra dari Raja Salman saat ini). Pangeran Muhammad adalah Gubernur Provinsi Timur dan Pangeran Fahad adalah wakilnya. Pangeran Fahad kemudian berhenti karena merasa dicurangi oleh Pangeran Muhammad. Ini menjadi alasan kenapa Pangeran Muhammad mesti tetap tinggal di Arab Saudi. Dia tidak bisa meninggalkan negara Kabah itu selama belum memiliki wakil lagi.

Hal tidak lazim adalah biasanya perselisihan dalam keluarga kerajaan Arab Saudi tidak pernah sampai terdengar ke masyarakat. Tapi kali ini berbeda. Keduanya saling melempar tudingan di depan publik.

Kami juga mendengar Pangeran Fahad dituduh menipu bank dan para likuidator dari Bank BCCI mengklaim kembali utang sebesar US$ 397 ribu. Skandal ini menyebar luas ke semua anggota keluarga kerajaan dan kelihatannya bakal makin buruk.

Tanpa alasan saya ketahui, Peter suatu malam membawa sebuah pistol kejut listrik. Waktu itu, senjata ini belum dilarang di Inggris. Segera setelah Brummie melihat pintol itu, dia seperti anak kecil merajuk ingin memiliki namun ditolak oleh Peter.

Brummie akhirnya mengajukan tawaran menggiurkan untuk membeli pistol kejut listrik itu sehingga Peter untung seratus pound sterling. Setelah mengantongi fulus dari hasil penjualan pistol kejut listrik kepada Brummie, dia mulai mencari tahu besok balapan kuda mana paling menarik untuk ikut taruhan.

Kemudian di malam itu Brummie menghilang. Kami mencari ke sekeliling kompleks kediaman Pangeran Saud tapi tidak ketemu. Tony akhirnya mengecek ke mobilnya. Dia kembali seraya tertawa dan bilang kepada saya dan Peter untuk mengikuti dia. Hampir mendekati mobil Brummie, kami bertiga merunduk lalu mengintip dari balik jendela. Brummie kaget dan hampir pingsan lantaran Tony menodongkan senjata tepat di keningnya. Kami lantas tertawa bareng.

Malam itu, saya dan Peter memasuki bangunan utama di kediaman Pangeran Saud untuk berganti giliran menjaga pintu gerbang dengan Brummie. Ketika kami sedang melewati lorong dalam rumah, kami melihat Brummie tengah tidur lelap beralaskan bantal di atas karpet sutra buatan Cina.

Peter kesal melihat hal itu dan langsung menendang tubuh Brummie. Dia terbangun dalam keadaan kaget. Dia protes dibangunkan dengan cara itu, namun Peter beralasan sungguh beruntung Brummie tidak dibunuh.

Malam itu berlalu tanpa kejadian tidak diinginkan. Jam tujuh pagi tugas kami menjaga rumah Pangeran Saud rampung dan saya langsung pulang. Setelah tidur, mandi, dan berganti pakaian, saya kembali lagi ke London.

Tiba di Cleve Lodge, kediaman Pangeran Saud, saya membayangkan apa yang akan teradi malam ini. Tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan jawaban. Tony rupanya sedang cekcok dengan anggota parlemen Inggris bernama Winston Churchill karena dia memarkir mobil Jaguarnya di lahan parkir menjadi jatah kami. Dia adalah cucu dari mediang Perdana Menteri Inggris Wincton Churchill. 

"Maaf Tuan, Anda tidak bisa parkir di sana. Kami kerap bolak balik dan sebentar lagi akan ada mobil masuk parkir di sana."
Churchill menjawab, "Saya cuma beberapa menit saja, anak muda."
Tony kesal dipanggil dengan sebutan anak muda. "Saya tidak peduli berapa lama Anda parkir di sana, segera pindahkan kendaraan Anda."

Khawatir keadaan kian tidak terkontrol, saya bergegas mendekati Tony. Jadi saya bisa menenangkan dia kalau memang diperlukan. Saya telah mengenal Winston Churchill dan tertawa dalam hati. Saya tidak habis pikir bagaimana bisa ada dua anggota parlemen Inggris berada di rumah sama dan kedua-duanya sama-sama menjalin asmara dengan Soraya Khashoggi.

"Apakah kamu tidak mengetahui siapa saya?" tanya Churchill. Tentunya itu bukan pernyataan ingin didengar oleh Tony.
"Saya tidak peduli siapa Anda. Pindahkan segera mobilnya atau saya akan memindahkannya!"

Winston Churchill akhirnya mengalah dan memindahkan Jaguarnya.

Tidak lama sebelum Churchill tiba di rumah Pangeran Saud, anggota parlemen Jonathan Aitken datang duluan dengan seorang gadis muda dan cantik. Dia diduga memasok para pelacur ke pangeran-pangeran Saudi. Menurut laporan berbagai surat kabar, Aitken akan melakoni apa saja buat menyenangkan para pangeran dari negara Kabah itu.

Sejam kemudian, Said Ayas tiba. Dia adalah sekretaris sekaligus asisten pribadi Pangeran Saud, serta menjadi mafia bagi Victoria, putri dari Jonathan Aitken.

"Mark, saya akan melihat dua apartemen bakal dijual di sebelah. Maukah kami menemani saya?"
Ya, Tuan," jawab saya.

Kedua apartemen itu sangat luas dan dilengkapi perabotan mewah. Lampu kristal bikinan Prancis tergantung di masing-masing lobinya. "Bagaimana menurut kamu, Mark?" tanya Said Ayas.
"Sangat berkelas, Tuan," jawab saya.

Said Ayas sangat terkesan dan lalu membeli kedua apartemen itu. Dia selalu sopan, tenang, dan bersikap layaknya seorang pria. Tapi kalau urusan bisnis, Said Ayas atau Pangeran Saud, mirip seekor hiu. Anda tidak akan pernah mau bertemu mereka lagi.

Ketika kami sedang berdiri di lorong Cleve Lodge, kami mendengar Fahad al-Athal, rekan bisnis Pangeran Saud, bercerita soal pengalamannya baru-baru ini berbisnis dengan Said Ayas. Dia membeli sebuah lahan luas dengan satu supermarket di Amerika Serikat. Dia mengubah tanah itu menjadi tempat parkir dan menjual ke supermarket. Dia untung besar dalam waktu singkat.

Para pangeran Saudi menghormati Said Ayas. Dia membuat mereka menjadi tajir, menjadikan dirinya kaya, dan juga membikin Jonathan Aitken berharta melimpah. Sehingga semua orang merasa menjadi pemenang. Tapi tidak selalu begitu.

Jonathan Aitken sebenarnya akan meraih sukses besar di dunia politik, namun hubungannya dengan Pangeran Muhammad dan Said Ayas menyebabkan dirinya jeblok. Aitken mendekam dalam penjara delapan bulan karena bersumpah palsu. Said Ayas juga diadili tapi dakwaan terhadap dirinya dicabut lantaran hal itu sejalan dengan kepentingan pemerintah Inggris.

Namun ketika Said Ayas dipanggil ke Riyadh untuk menemui Pangeran Muhammad, dia langsung dikenai tahanan rumah. Dia akhirnya berhasil kabur ke Uni Emirat Arab dengan menyamar menjadi perempuan.

Laporan beragam surat kabar Inggris kemudian menuding Aitken memasok pelacur bagi para pangeran Arab Saudi di Inglewood Health Farm di Berkshire. Aitken berbohong dengan mengaku sebagai pemilik Inglewood untuk menyembunyikan identitas para pangeran Saudi datang.

Aitken juga diduga membuat sebuah rencana untuk memberikan kesempatan bagi para investor Saudi mengontrol stasiun televisi TV-am. Dia menyembunyikan hubungannya saat menjabat Menteri Urusan Pembelian Persenjataan dengan sebuah dealer senjata Libanon saat penandatanganan kontrak penjualan senjata oleh perusahaan Inggris kepada pemerintah Libanon.

Koran-koran Inggris menulis Aitken menggantungkan keuangannya kepada para pangeran Arab Saudi termasuk Pangeran Muhammad bin Fahad, putra dari Raja Fahad bin Abdul Aziz.

Saya tahu Pangeran Muhammad, Said Ayas, dan Jonathan Aitken telah mendapat komisi dalam junmlah sangat besar dari perusahaan-perusahaan senjata Inggris, ditransfer melalui sebuah rekening bank di Swiss. Aitken mendapatkan komisi-komisi itu ketika menjabat Menteri Urusan Pembelian Persenjataan.

Said Ayas bertugas merundingkan nilai komisi bakal diperoleh dengan perusahaan-perusahaan Inggris itu. Dari satu kontrak penjualan senjata itu, mereka memperoleh komisi 50 juta pound sterling.

Sekali lagi terbukti korupsi mewabah dalam keluarga Bani Saud merupakan penguasa Arab Saudi dan tentu saja melibatkan rajanya. Saya pikir Aitken ditunjuk menjadi Menteri Urusan Pembelian Persenjataan karena kedekatannya dengan keluarga kerajaan Saudi.

Pangeran Saud bin Nayif bin Abdul Aziz dan Pangeran Muhammad bin Fahad bin Abdul Aziz dikelilingi oleh orang-orang suruhan mereka di garis depan, yakni Jonathan Aitken, Said Ayas, Peter Custer, Fahad al-Athal, dan Roger Kraillion. Aitken atau Said Ayas bisa memiliki posisi sama lantaran mereka mengurusi kepentingan kedua pangeran itu.

Tentu saja Pangeran Muhammad bin Fahad dianggap sebagai salah satu orang paling korup dalam keluarga Bani Saud. Dia meraup banyak fulus dari katering dan perumahan bagi pasukan Amerika ditempatkan di Arab Saudi untuk melindungi negeri Dua Kota Suci itu selama Perang Teluk Pertama.

Dari bisnis itu saja, Pangeran Muhammad meraup laba US$ 14 juta. Dia membangun perumahan tentara Amerika itu dari tanah negara dia rampas menjadi milik sendiri. Orang lebih tamak dari Pangeran Muhammad adalah ayahnya sendiri, Raja Fahad.

 

 

 

 

Mark Young, penulis buku Saudi Bodyguard. (Twitter)

Pengintaian terakhir sebelum liburan musim panas bareng keluarga Pangeran Misyari

Sekitar 13 Juni 1985, saya berhenti menekuni pekerjaan mengintai seseorang.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Pangeran Fawaz dapat kompensasi dari negara setelah rumahnya di Inggris kemalingan

Ketika Mercedes kami tumpangi makin mendekati jet pribadi itu, saya melihat seorang awak kabin berdiri di bawah tangga pesawat untuk menyambut Pangeran Fawaz.

Mark Young bersama Pangeran Misyari bin Saud bin Abdul Aziz dan istrinya, Puteri Al-Anud binti Fahad. (Mark Young/Saudi Bodyguard)

the Elephant on the River, restoran kesukaan Pangeran Fawaz di London

Suatu malam, saat kami mengunjungi klub Tramp di Jalan Jermyn, perhatian kami tertuju kepada aktor Hollywood Sylvester Stallone, juga berada di sana waktu itu.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Pangeran Fawaz dicopot dari jabatannya sebagai gubernur Makkah karena doyan mabuk

Pangeran Fawaz bin Abdul Aziz juga senang bermain dengan pelacur saban berlibur ke Paris.





comments powered by Disqus