buku

Disko di tengah gurun ditemani gadis-gadis Arab Badui

Pangeran Misyari memberi amplop berisi fulus lima ribu pound sterling ketika Mark Young pulang ke Inggris.

09 Mei 2020 10:18

Albalad.co berhasil mendapatkan izin dari penulis buku Saudi Bodyguard, Mark Young, untuk menerjemahkan sekaligus menerbitkan isi bukunya di Albalad.co. Seperti biasa, rubrik buku ini muncul saban Sabtu dan dimulai sejak 11 November 2017.

Albalad.co sejatinya memperoleh salinan buku Saudi Bodyguard dalam bentuk PDF tersebut langsung dari Mark Young, mantan pengawal para pangeran dan puteri di Kerajaan Arab Saudi, pada 1 September 2017. Baru ketika perkembangan dramatis terjadi saat ini di negara Kabah itu, Albalad.co memutuskan melansir terjemahan dari isi buku setebal lebih dari 400 halaman dan diterbitkan pada 2010 itu.

Mark Young, berasal dari Inggris, adalah pemegang sabuk hitam karate. Ayahnya adalah mantan anggota pasukan elite Inggris dan bekas anggota MI6, dinas intelijen Inggris.

Sejak Mei 1976, dia mulai menjadi instruktur dan membuka tiga sekolah karate. Tiga tahun kemudian, dia memulai kariernya sebagai pengawal pribadi keluarga kerajaan Arab Saudi. Tugas pertamanya adalah mengawal Pangeran Talal bin Abdul Aziz, ayah dari pemilik Kingdom Holding Company, Pangeran Al-Walid bin Talal, ditahan di Hotel Ritz Carlton di Ibu Kota Riyadh, selama November 2017-akhir Januari 2018.

Pangeran Al-Walid termasuk dalam 201 kaum elite Arab Saudi - meliputi pangeran, pejabat, dan pengusaha kakap - ditangkap atas tudingan korupsi. Penangkapan ini atas perintah Komisi Pemberantasan Korupsi, dibentuk beberapa jam sebelumnya dan diketuai oleh Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young ini bercerita dengan bahasa bertutur sebagai orang pertama mengenai pengalamannya selama menjadi pengawal pribadi keluarga Kerajaan Arab Saudi, termasuk Raja Salman bin Abdul Aziz.

*******

Disko di tengah gurun ditemani gadis-gadis Arab Badui

Dua atau tiga menit kemudian, Pangeran Misyari bin Saud bin Abdul Aziz turun dari trailernya. Sembari melompat ke kursi belakang kemudi GMC Suburban, senyum menghiasi wajahnya. "Ayo Mark, masuk," katanya. Saya membayangkan di mana perjalanan ini akan berakhir nantinya.

Lampu mobil menyinari gurun ketika kami melintasi tanah tak bertuan itu. Saya membayangkan kami akan mendatangi sebuah tempat khusus. Apakah bakal ada kejutan nanti? Ternyata benar ada sebuah kejutan tapi bukan kami harapkan.

Berkendara dengan GMC Suburban kepunyaan Pangeran Misyari memang nyaman. Sepanjang perjalanan kami mengobrol bebas. Saya merasakan dia benar-benar girang bisa menjauh dari kungkungan kamp buat sementara waktu. Ketika kami berdua saja, saya melihat sosok lain dari Pangeran Misyari.

Dia terlihat santai, ramah, dan saya senang jalan-jalan bersama dirinya. Tapi beda kalau dia sedang bekerja atau berkumpul dengan saudara-saudara kandung lelakinya. Dia kelihatan berusaha keras buat tampil sebaik mungkin.

Makin jauh kami meninggalkan kamp, gurun kian berombak. Pangeran Misyari merasa tertantang. Dia mengemudi semakin kencang, seperti menari di atas gelombang pasir. Kami tertawa bareng-bareng saat mobil disetir Pangeran Misyari bergantian menanjak dan turun.

Hingga akhirnya GMC Suburban kami naiki terjerembab. Mobil tidak bergerak satu inchi pun. Saya keluar dari mobil dan melihat hanya dua ban belakang berputar. Pangeran Misyari kemudian mematikan mesin mobil dan saya berusaha menggali agar mobil bisa melaju lagi, namun tiddak berhasil.

Saya memandang ke arah langit dan bersyukur bulan sedang purnama. Kami tidak tahu sedang berada di mana sekarang. Saya lantas menoleh ke arah Pangeran Misyari dan bertanya, "Sekarang bagaimana bos?" Dengan kalem dia menjawab," Tenang, tidak perlu khawatir."

Dia lantas memasukkan kepalanya melalu jendela mobil terbuka dan menghidupkan mesin. Dia lantas menghidupkan lampu flash saban sepuluh detik. Beberapa menit kemudian ada respon dari lampu kendaraan lain, entah siapa. Kami masuk ke dalam mobil sambil menunggu penolong datang.

Tiap setengah menit, Pangeran Misyari menyalakan lampu flash mobil untuk memandu penolong menemukan posisi kami. Sepuluh menit berselang, sebuah jip kecil berwarna biru putih berhenti di hadapan kami. Suara mobilnya besar seperti suara mesin V8.

Pengemudinya kemudian turun dan hampir jatuh. Mualnhya saya kira kakinya terbenar ke dalam pasir, ternyata dia mabuk.

Sambil berdiri di puncak gundukan pasir, saya memandang ke arah pemabuk datang ingin membantu kami. Saya lalu menoleh ke arah Pangeran Misyari, ingin tahu bagaimana reaksinya sebagai kepala Garda Nasional un tuk Provinsi Timur.

Pemabuk itu masuk jipnya dan mulai mengulurkan kabel. Pangeran Misyari mengambil ujungnya dan mengaitkan di mobil kami. Setelah sudah tersambung, pemabuk itu mulai memundurkan mobilnya dan berhasil menarik GMC Suburban kami beberapa meter. Pemabuk itu mencoba lagi hingga akhirnya mobul kami terlepas dari jebakan pasir.

Kami berterima kasih atas bantuannya dan mengucapkan selamat tinggal. Dalam perjalanan kemudian saya berkata, "Anda tentu tahu pria tadi itu sedang mabuk?"
"Ya, tentu."
"Kenapa Anda membiarkan dia?"
"Pertama, dia sudah menolong kita. Kedua, kita sudah berada di perbatasan dengan Kuwait dan lelaki itu orang Kuwait. Ketiga dia akan bangun dengan kepala pusing besok pagi, kenapa kita harus menambah masalahnya? Lebih penting lagi, kenapa kamu menertawakan saya ketika dia sedang memundurkan mobilnya dan saya memegang kabel tautan? Saya bisa luka karena itu."
"Saya tidak tahan. Kalau Anda cedera, saya tidak mungkin tertawa. Saya akan membunuh pria itu." Saya tertawa lagi.

"Apakah kamu menikmati pengalaman malam ini, Mark?"
"Ini petulangan tidak ingin saya lupakan," jawab saya sambil berseringai.

Saya menghargai Pangeran Misyari berusaha membikin saya menikmati semua pengalaman mengunjungi negaranya. Namun uang membikin saya kuatir. Cadangan fulus di Inggris sebentar lagi habis.

Saya berpikir untuk segera pulang. Sehabis Pangeran Misyari masuk ke dalam trailernya, saya kembali ke tenda saya. Seraya duduk di ujung kasur, saya merenungi lawatan ke Arab Saudi ini. Saya benar-benar menikmati pengalaman selama di negara Kabah ini.

Pikiran saya kembali ke masalah keuangan. Tapi saya tidak akan menceritakan persoalan ini kepada Pangeran Misyari. Saya tidak akan meminta uang kepada dirinya. Barangkali ini masalah harga diri, saya tidak akan pernah bisa menuntut uang kepada seseorang. Jadi tidak ada pilihan, saya mesti kembali ke Inggris dan bekerja. Karena saya diundang datang ke Arab Saudi, saya tidak berharap untuk dibayar.

Ketika saya bangun paginya, cahaya matahari measuk melalui garis ventilasi tenda, perasaan saya enakan. Saya bangkit dari kasur, mencuci muka dan menggosok gigi, berpakaian, kemudian keluar mencari makan. Saat melangkah menuju tenda makanan, saya berhenti dan berbicara sebisa mungkin dengan siapa saja saya temui. Waktu terasa cepat berlalu, saya sebenarnya ingin tinggal lebih lama lagi di Arab Saudi.

Sinar matahari menerpa membuat saya merasa hangat dan nyaman. Padang pasir bukan lagi tempat aneh bagi saya. Dari kejauhan saya melihat Muhammad. Saya melambaikan tangan menyuruh dia mendekat. Muhammad datang menghampiri saya.
"Hai Muhammad, dari mana saja kamu? Bagaimana keadaanmu hari in?"
Seraya tersenyum, dia menjawab, "Baik, baik, Alhamdulillah."
Jawaban lain sudah tersimpan dalam otak saya adalah "Allahu Akbar."

Kalau tidak sengaja bertemu orang Arab sedang salat, saya biasanya pergi pelan-pelan. Saya takut jika kehadiran saya membikin mereka marah. Saya menghormati ajaran agama mereka.

"Pangeran (Misyari) ingin menunjukkan beberapa elang berburu nanti. Apakah hal itu menarik bagi kamu, Mark?" tanya Muhammad.
"Muhammad segelanya di sini menarik buat saya dan saya ingin melihat elang berburu."
Kamu mau pergi ke mana Mark?"
"Saya mau tahu apakah koki bisa membuatkan saya Syaksyuka."
"Mark, saya akan menemui lagi setelah kamu selesai makan."

Saya lalu meninggalkan Muhammad untuk pergi cari makan. Saya kemudian berkeliling kamp. Ketika saya melihat Sultan, dia bilang, "Saya sedang mencari kamu. Pangeran Misyari ingin kamu menemui dia di trailernya."

Persis pelayan setia, saya bergegas pergi buat menemui Pangeran Misyari. Saya melihat dia di sebelah mobil GMC miliknya.
"Selamat pagi Mark, bagaimana kabarmu hari ini? Apakah kamu sudah paham soal kegagalanmu semalam? katanya seraya berseringai ke arah saya.
Sebelum saya sempat menjawab dia menambahkan," Maukah kamu melihat perburuan elang?"
"Tentu saja saya ingin," jawab saya.

Saya membayangkan akan memotret beberapa elang pemburu itu. Perjalanan kali ini menjadi makin menyenangkan dan mengasyikkan. Saya tidak ingin pulang. Seraya masuk ke dalam mobil GMC, saya diberitahu perjalanan ini ke tempat perburuan elang cuma sebentar.

"Apakah kita akan berselancar lagi di atas gurun pasir?" tanya saya kepada Pangeran Misyari. Dia tidak menghargai candaan saya, karena itu dia tidak menjawab. Meski kami berdua saja dalam mobil jip GMC itu, itu merupakan sebuah tanda saya mesti diam.

Hingga akhirnya Pangeran Misyari berkata, "Olahraga perburuan elang sudah berusia tua dan sarang elang pemburu berada di wilayah utara dan selatan Semenanjung Arab. Mangsa favorit bagi elang pemburu adalah burung puyuh Hubara. Apakah kamu mengetahui itu, Mark?"
"Tidak Tuan, saya tidak tahu. Tapi sekarang saya mengetahuinya," jawab saya.

Kami lantas keluar dari mobil setiba di lokasi perburuan elang. Dua mobil lainna mengikuti kami. Ketua tim perburuan elang menyambut Pangeran Misyari. Di bahu kanannya, bertengger seekor elang pemburu berbadan kecil dan berbulu indah. Bulu badannya campuran biru dan abu-abu, sedangkan ekornya berwarna hitam. Di bagian perut berwarna putih dengan strip coklat muda. Kepala elang itu berwarna terang. Bulu di bawah paruhnya berwarna krem.

Sang pemburu menempatkan sebuah tudung di atas kepala elang, membikin hewan ini tidak dapat bergerak dan diam. Kami lantas berjalan ke arah sejumlah lelaki tengah berkumpul. Beberapa elang diikatkan di tiang-tiang (wakar dalam bahasa Arab) ditancapkan ke dalam tanah.

Saya meletakkan salah satu elang di lengan saya dan berfoto bareng. Saya girang betul. Dua jam kemudian, seeor burung puyuh Hubara terlihat. Elang telah dipilih untuk mengejar segera dilepas tudungnya dan langsung terbang, mengepakkan sayapnya dengan bertenaga.

Sambil bersuara ke arah buruannya, sang elang menukik dan menangkap Hubara itu dengan cakarnya. Sebuah pemandangan sangat langka.

Dalam perjalanan pulang, Pangeran Misyari menanyakan apakah saya menikmati perburuan Hubara itu. Saya mengiyakan. Merasa sekarang saatnya tepat, saya bilang kepada Pangeran Misyari saya akan kembali ke Inggris beberapa hari lagi.

"Kenapa? Apakah kamu tidak menikmati waktumu di sini (Arab Saudi)? Apakah kamu tidak mau tinggal bersama kami? Apakah ada masalah?" Pertanyaan-pertanyaan itu mengalir cepat.
Saya langsung menjawab," Yang Mulia, saya begitu senang selama berada di sini. Tidak ada persoalan. Saya ingin tinggal tapi saya tidak bisa karena saya sudah janji akan pulang ke Inggris."

Pangeran Misyari kelihatan marah. Saya merasa dia menyangka saya tidak berterima kasih atau mungkin dia merasa terhina. Saya keluar dari mobil GMC setiba di kamp dan merasakan pembicaraan tadi selama dalam perjalanan menyebabkan situasi tidak enak. Saya berjalan ke tenda saya seraya memikirkan mestinya saya lebih berhati-hati membicarakan rencana kepulangan ke Inggris.

Saya kesal karena sejatinya saya maih ingin tinggal di Arab Saudi dan saya kesal lantaran saya berpikir telah membikin marah Pangeran Misyari. Saya harus tetap tinggal di negara Kabah itu karena saya butuh uang tapi saya tidak punya pilihan lain. Saya mesti kembali ke Inggris buat mencari pekerjaan.

Ketika malam turun, saya masih berada dalam tenda dan tetap membiarkan lampu menyala. Listrik di kamp tempat kami tinggal dibangkitkan oleh generator. Saya bangkit dari kasur ketika melihat bayangan dari luar. Dua atau tiga menit kemudian, saya mendengar sebuah desiran di bawah pintu kanvas tenda. Sesuatu atau seseorang berusaha masuk.

Saya memperhatikan secara seksama tidak tahu aapa yang akan terjadi. Bisa jadi seekor kadal gurun atau Jerboa (tikus gurun), atau bahkan sejenis Jerboa? Saya tertawa saja ketika mengkhayal Jerboa itu berusaha menerbos masuk untuk membalas dendam karena teman-temannya tadi diburu.

Ketika pintu tenda terbuka, tampak wajah sudah saya kenal, yakni Pangeran Misyari. Dia mesti berlutut untuk masuk ke dalam tenda. Saya tersenyum sambil mengira apa yang akan dia katakan.

"Mark, Mark, apakah kamu sudah tidur?" tanya Pangeran Misyari.
"Belum, saya masih bangun."
"Apakah kamu kesal?"
"Ya, saya kesal," jawab saya.
"Mark, jangan kesal, kami sudah menyiapkan malam istimewa bagi kamu. Bakal ada beberapa gadis Arab Badui dan musik Michael Jakcson. Kita akan berdisko dan kamu adalah tamu kehormatan. Kamu harus datang dan bergabung dengan kami."
"kalau begitu saya akan datang," jawab saya.
"Bagus, ayo cepat berkemas. Kami akan menunggumu di tenda utama, majelis.

Setelah Pangeran Misyari pergi, saya tertawa keras. Pangeran Misyari benar-benar bersikap baik. Tentu saja dia tidak ingin ada persoalan di antara kami. Dia kerap memperlihatkan sikap lebih lunak dan sabar. Selain sebagai bos, dia telah menjadi teman.

Saya berpikir apakah ini hal baik atau buruk? Setelah bersih-berish dan berganti pakaian, saya berpikir tentang disko bakal digelar. Ini kali pertama saya tahu. Akan ada disko dengan musik Michael jackson dan gadis-gadis Arab Badui juga diundang.

Ketika saya melangkah masuk ke dalam tenda utama (majelis), saya perhatian keadaan sepi. Kemana orang-orang katanya menunggu saya sebagai tamu kehormatan? Seraya membenarkan igal saya (tali di atas kafiyah), saya menunduk dan masuk ke dalam majelis. Setelah melewati tirai, say melihat lebih dari seratus wajah memandang ke arah saya dan tidak ada satu pun perempuan. Tidak ada kelihatan gadis Arab Badui.

Pangeran Misyari duduk sendirian di atas sofa di ujung majelis dan mengisyaratkan saya untuk duduk di sebelahnya. Ketika sudah duduk, saya perhatikan tidak ada sistem tata suara buat musik. Seraya menoleh ke arah Pangeran Misyari, saya membayangkan apa yang sedang terjadi.

Pangeran Misyari tersenyum lalu mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah seorang lelaki Arab Badui berkulit coklat. Dia duduk di lantai sambil bersandar di salah satu tiang utama tenda. Setelah mendapat isyarat dari Pangeran Misyari, pria Arab baduit itu mengambil sebuah alat musik dan mulai memainkannya. Dia bernyanyi sambil memainkan alat musik itu. Saya tidak pernah mendengar tentang alat musik itu.

Berjam-jam, lelaki Arab Badui itu bernyanyi sambil bermain alat musiknya. Saya duduk terdiam di sofa karena memang tida boleh pergi. Kalau saya meninggalkan majelis, bakal dicap buruk. Saya kerap beradu pandang dengan Pangeran Misyari dan dia hanya tersenyum.

Pangeran Misyari telah mengerjai saya. Tidak ada musik Michael jackson. Tidak ada gadis-gadis. Tidak ada kesenangan. Hanya mendengar penampilan dari lelaki Arab Badui kelihatan sudah berumur seabad tengah memainkan alat musik rabab (alat musik gesek).

"Sialan Anda Pangeran," kata saya.
Anda telah membikin saya marah."
Sehabis tertawa, Pangeran Misyari menjawab, "Jika saya saja sudah menderita mendengarkan musik rabab, saya kira kamu juga harus merasakannya!"

Dua hari kemudian kami kembali ke Dammam. Sya berkuuh pada keputusan saya untuk pulang ke Inggris. Di hari keberangkatan, Pangeran Misyari melepas kepergian saya dan memberikan sebuah amplop besar. Di dalam pesawat, saya membuka amplop itu dan isinya fulus lima ribu pound sterling. Kalau tahu sebelumnya bakal dikasih duit banyak, saya lebih baik mentransfer ke rekening bank saya di Inggris dan tinggal lebih lama lagi di Arab Saudi.

Saya sangat kaget dengan kemurahan hati Pangeran Misyari. Tapi saya juga bertanya-tanya dalam hati kenapa dia tidak memberikan uang itu sebelum saya berangkat. Pertanyaan itu mengacaukan pikiran saya.

Segera setelah tiba di Inggris, saya menelepon Bill dan memberitahu saya sudah sampai di London dan siap bekerja lagi.

 

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Makan malam dengan daging bayi unta

Saya sangat mengetahui beberapa pangeran Saudi terlibat pembunuhan tapi tidak dipancung. Jadi Saudi sudah bertindak tidak adil.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Menolak ikut makan malam di rumah Pangeran Muhammad bin Fahad

Menahan paspor, melarang memakai telepon ke luar negeri, menyensor surat kabar, majalah dan mengontrol program televisi adalah siasat pemerintah Saudi untuk mengawasi rakyatnya.

Mobil milik Pangeran Walid bin Saud bin Abdul Aziz. (Mark Young/Saudi Bodyguard)

Pelesiran sejenak di Jeddah

Terdapat sejumlah kedutaan besar di Jeddah dan suasananya lebih rileks dibanding kota-kota lain di Arab Saudi.

Mark Young bersama Pangeran Misyari bin Saud bin Abdul Aziz dan istrinya, Puteri Al-Anud binti Fahad. (Mark Young/Saudi Bodyguard)

Teringat Puteri Al-Anud telanjang

Seraya tersenyum, saya teringat Puteri Al-Anud dan teman-temannya dalam keadaan telanjang, tapi di negara asalnya, dia tersembunyi di balik pagar tembok dan abaya dan jilbab serba hitam. Puteri Al-Anud benar-benar cantik dan tubuhnya sangat seksi.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

the Elephant on the River, restoran kesukaan Pangeran Fawaz di London

Suatu malam, saat kami mengunjungi klub Tramp di Jalan Jermyn, perhatian kami tertuju kepada aktor Hollywood Sylvester Stallone, juga berada di sana waktu itu.

23 Mei 2020

TERSOHOR