IQRA

Perempuan di Sarang ISIS (1)

Kenangan pahit dalam cengkeraman ISIS

"Saya dijual di Suriah. Saya tinggal sekitar lima hari bareng dua kakak perempuan saya," kata seorang gadis Yazidi.

29 Desember 2014 06:20

Gadis belia dari etnik Yazidi ini kelihatan begitu gelisah saat menceritakan cobaan berat menimpa dirinya. Dia direnggut paksa dari rumahnya oleh kaum militan ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) kemudian dijual sebagai budak di Suriah hingga akhirnya berhasil lari ke Turki.

Perempuan 15 tahun itu kini bersama keluarga tersisa - dua saudara kandung lelakinya dan beberapa kerabat jauh - tinggal dalam penampungan sementara di pinggir jalan. Lokasinya di sebuah desa kecil di utara Irak.

Dua kakak perempuannya masih dalam sekapan ISIS. Ayahnya bareng abang dan kerabatnya hilang. Nasib mereka tidak diketahui apakah masih hidup atau telah dibunuh.

Gadis itu bagian dari ratusan perempuan dan gadis Yazidi diculik milisi ISIS awal Agustus lalu setelah mereka menguasai kampung halamannya di Sinjar, kota kecil sebelah barat daya Irak. Ratusan orang tebunuh akibat serangan ISIS di sana dan ribuan lainnya mengungsi, kebanyakan ke wilayah Kurdi di utara Irak.

Kementerian Hak Asasi Manusia Irak ketika itu menyatakan militan ISIS lalu menyekap ratusan perempuan dengan alasan Yazidi adalah aliran sesat.

Kantor berita Associated Press mewawancarai gadis itu dan sejumlah perempuan muda lainnya berhasil kabur dari sekapan ISIS. Kisah mereka memang sulit untuk dibuktikan kebenarannya, namun mirip situasi dilaporkan Perserikatan Bangsa-Bangsa September lalu.

Mereka secara terpisah melukiskan gambaran serupa bagaimana militan ISIS memencarkan mereka ke wilayah-wlayah kekuasaan mereka di Suriah dan Irak. Gadis-gadis muda ini lantas dijual kepada para pejuang asing dalam ISIS atau kelompok lainnya buat dikawinkan.

Berpekan-pekan sehabis diculik dari Sinjar, gadis 15 tahun ini bareng dua kakak perempuannya dipindah dari satu tempat ke tempat lain. AP tidak menyebut identitas para korban dan gadis itu juga menolak ditulis namanya karena takut keluarganya masih dalam cengkeraman ISIS jadi sasaran balas dendam.

Saat bercerita dia menggosok-gosokkan kedua tangannya dan menghindari beradu pandang. Tapi dia berbicara tegas dan jelas, tidak pernah termangu saat ditanya. Dia meminta anggota keluarganya meninggalkan ruangan. Dia bilang lebih nyaman kalau cuma diwawancarai sendirian.

Pertama, dia dan gadis-gadis lain dibawa ke Penjara Badosh dekat Kota Tal Afar. Ketika Amerika Serikat mulai melancarkan serangan udara di sana, militan ISIS memindahkan gadis itu bareng banyak perempuan lain ke basis pertahanan terbesar mereka di Kota Mosul, utara Irak.

Dia dan dua kakak perempuannya kemudian dibawa ke Raqqah, ibu kota de facto ISIS, di Suriah. Mereka disekap dalam rumah bersama gadis-gadis lain korban penculikan. "Mereka membawa gadis-gadis ke Suriah untuk dijual," katanya malu-malu. "Saya dijual di Suriah. Saya tinggal sekitar lima hari bareng dua kakak perempuan saya. Kemudian satu kakak saya dijual dan dibawa kembali ke Mosul, sedangkan saya tetap di Suriah."

Dia menikah pertama kali dengan lelaki Palestina di Raqqah. Dia mengaku menembak mati suaminya itu. Ceritanya, suaminya berkelahi dengan orang Irak penjaga rumahnya. Kemudian pembantu itu memberikan pistol kepada dia.

Dia kabur setelah membunuh suaminya tapi tidak tahu ke mana. Dia lalu kembali ke satu-satunya tempat dia ketahui, yakni rumah di mana dia pertama kali ditawan bareng gadis-gadis lain korban penculikan ISIS.

Rupanya anggota ISIS tidak mengenali dia dan menjual kembali gadis itu seharga US$ 1 ribu kepada militan asal Arab Saudi. Dia kemudian di bawa ke rumah dihuni para anggota ISIS lainnya. "Dia bilang kepada saya, 'Saya akan mengganti nama kamu menjadi Abir sehingga ibumu tidak mengenali kamu lagi,'" ujar gadis itu. "Kamu akan menjadi orang Islam dan saya akan menikahi kamu. Tapi saya menolak menjadi muslim, karena itulah saya lari."

Sewaktu para anggota ISIS mengisap heroin, dia lantas mencampurkan bubuk haram itu ke dalam teh dan disajikan kepada pria Saudi dan anggota ISIS lainnya. Ketika mereka tertidur, dia pergi dari rumah itu.

Gadis ini berhasil bertemu seorang lelaki mau mengantarkan dia ke Turki untuk menemui abangnya. Kemudian abangnya meminjam US$ 2 ribu dari teman-temannya untuk membayar orang bisa mengajak keduanya kembali ke Irak. Perjalanan mereka berakhir di Maqluba, di pinggiran Kota Dahuk, wilayah Kurdi. Beberapa keluarga Yazidi mengungsi di sana pula.

AP juga mendapat cerita dari perempuan-perempuan Yazidi lainnya soal kondisi sulit mereka alami saat dalam sekapan ISIS. Mereka kekurangan makanan, air minum, dan bahkan tempat buat duduk. Mereka mengaku menyaksikan lusinan perempuan dan anak Yazidi masih ditawan. Masih ada keluarga mereka juga belum diketahui nasibnya.

Amsya Ali, 19 tahun, dibawa dari Sinjar ke Mosul. Usia kandungannya waktu itu sekitar enam bulan. Dia terakhir kali melihat suaminya dan kaum lelaki dalam keluarganya saat diangkut pakai truk dari Sinjar. Dia menyaksikan anggota ISIS memaksa mereka tengkurap di atas tanah dan kemudian ditembaki. Dia bersedia menyebut nama lengkapnya supaya dunia mengetahui siksaan dialami perempuan Yazidi dalam sekapan ISIS.

Amsya bersama perempuan Yazidi lainnya lalu dibawa ke sebuah rumah di Mosul. Di sana sudah banyak anggota ISIS menunggu untuk menikahi paksa mereka. "Tiap orang mengambil salah satu dari kami untuk mereka sendiri," tuturnya. Nasibnya pun sama. Bedanya dia tidak diperkosa, mungkin lantaran tengah mengandung. Tapi dia menyaksikan gadis-gadis itu diperkosa.

Setelah beberapa minggu, suatu malam Amsya berhasil kabur lewat jendela kamar mandi. Dia sebenarnya mengajak perempuan lain untuk lari dari rumah itu. "(Tapi) karena mereka begitu ketakutan, saya terpaksa meninggalkan mereka. Saya tidak tahu lagi keadaan mereka sekarang," katanya.

Seorang penduduk Mosul menemukan dia terlunta-lunta di jalan lantas membawa dia ke sebuah kota dekat wilayah Kurdi pada 28 Agustus. Amsya sekarang tinggal bersama ayah dan satu kakak perempuannya di kota kecil Syariah, di mana lima ribu pengungsi Yazidi lainnya tinggal, juga dekat Darhuk.

Amsya mengaku tidak terlalu trauma dengan pembunuhan. "Bahkan meski mereka (anggota ISIS) memaksa suami, kakak ipar, dan ayah mertua saya telungkup di atas tanah untuk dibunuh - itu menyakitkan - tapi menikahi militan hal terburuk. Itu hal paling berat bagi saya."

Pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi. Dia mengklaim sebagai khalifah setelah ISIS merebut Kota Mosul, Irak, Juni lalu. (theweek.com)

Jejak darah di sandal plastik

Hingga Juni 2014 penjara tadinya dihuni sedikitnya 23 orang berkurang menjadi tujuh tawanan.

ISIS eksekusi Alan Henning. (www.nydailynews.com)

Trio Amerika dan Inggris

Saat ISIS tengah berpacu dalam perundingan, kondisi dialami tawanan kian menyeramkan. Mereka bahkan cuma dikasih secangkir teh makanan saban hari.

Pasukan ISIS. (www.nbcnews.com)

Setelah ISIS berkuasa

Setelah berbulan-bulan menawan mereka tanpa membikin tuntutan, ISIS tiba-tiba saja membuat sebuah rencana untuk meminta uang tebusan.

Wartawan Amerika Serikat James Foley saat akan dieksekusi, Agustus 2014. (abcnews.go.com)

Mualaf bernama Abu Hamzah

Ketika para sipir membawa Alquran dengan terjemahan bahasa Inggris, James Foley menghabiskan berjam-jam untuk membaca kitab suci itu.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

30 Maret 2018
Puja emir jaya Qatar
26 Maret 2018

TERSOHOR